
Sesampainya di hotel, mereka semua masuk kamar masing-masing. Mardo menaro barang-barang belanjaannya.
Ia berpikir akan membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Mengganti baju dengan kimono barulah ia merapikan oleh-oleh yang ia beli tadi. Selanjutnya menonton tivi dan tidur. Tiba-tiba telpun berbunyi dari monitor, katanya ada telpun dari kota Eksotik.
"Mamiii!"
Mardo suprise, karena mami menelpunnya. "Bagaimana liburannya? apakah menyenangkan?"
Senang sekali mendengar suara Mami, seminggu lebih ia meninggalkan rumah, kangen sekali dengan keluarga.
"Liburanku menyenangkan sekali Mi, banyak sekali tempat-tempat yang indah dan menakjubkan, aku membuat foto-foto, nanti Mami lihat sendiri deh.'
"Adikmu kangen loh, ini coba ngomong sama Pat."
Terdengar suara adiknya yang cempreng, " Kak, aku kangen sama kakak, terus aku tidur di tempat kakak he he he, tempat tidur kakak harum deh, aku pokoknya tidur di kamar kakak sampai balik ya."
Mardo pura-pura marah pada adiknya, "Wah! tempat tidur kakak berantakkan dong!, jangan ngompol yaa!"
"Dih! aku sudah gede, mana mungkin ngompol, kakak ada ada aja."
Hi hi hi, ternyata adiknya malah ngobrol tentang tempat tidur, bukan minta oleh-oleh. Kangen sekali sama adiknya yang manis itu. Ingin memeluk dan ia akan berteriak dan meronta-ronta. lama sekali mereka mengobrol di telpun. Mami kebagian hanya sedikit.
Tiba-tiba Mami menanyakan Vana, apakah baik-baik saja? Mardo menjawab bahwa Vana nggak ada masalah. Sampai Mardo teringat kejadian di kapal, namun Mardo memutuskan tidak menceritakannya.
"Papi Vana ke rumah, waktu kalian baru sehari berangkat. Vana tak bilang pergi berlibur ke Merauke."
Oh, Mardo mendengarkan cerita Mami.
"Mami bilang pasti barengan sama Mardo, Richi, Betty dan yang lain-lain."
"Terus gimana lagi Mi?"
"Nggak ada lagi, cuman menanyakan Vana saja, tapi kelihatannya ia seperti memikirkan sesuatu."
Kemudian Mami memutuskan telpun. Mardo sempat tercenung. Pasti Vana sedang marah pada papinya sehingga tak ijin pergi berlibur ke Merauke.
Tiba tiba denting gitar mengalihkannya. Mardo memandang ke balkon. Ia bergegas ke jendela dan mengintip lewat gorden. Raka dan teman-temannya sedang bercengkrama sambil bermain gitar. Sesekali Raka menatap ke arah kamarnya. Ups, Mardo buru-buru berbalik. Ia takut bayangannya terlihat oleh laki-laki itu. Mardo mengelus-ngelus dadanya, menenangkan debaran-debaran tak karuan.
Sementara Betty mengenakan gaun malam yang cantik. Ia ada sesuatu malam ini. Zamzam dan Rose memaksa ikut. Mereka tak bisa tidur. Di hotel ada pertunjukkan musik, Betty telah minta ijin pada Richi dan Raka agar boleh menyanyi dihadapan tamu-tamu. Richi ternyata senang, ia langsung menelpun koordinator musik dan mengatakan tentang temannya yang berbakat. Dan orang itu dengan senang hati akan memberikan kesempatan pada Betty.
Dan waktunya adalah malam ini, Zamzam, Rose juga sudah memakai baju mereka yang terbagus. Ketika keluar dari kamar, Zamzam bilang mengajak Halima dan Sarah Lee. Betty mengiyakan. Halima langsung ramai dan berteriak-teriak, "Kenapa mendadak? kitong belum pakai baju cantik seperti kalian."
Sarah Lee dengan tenang menarik Halima, " Biar mereka pergi duluan, kitong menyusul."
"Ta-tapi, kitong tidak punya undangannya mo."
"Udah, tenang, mari kitong dandan," Sarah Lee merosotkan dasternya di depan Halima yang hanya melongo.
"Sarah Lee, itu buah dada sudah besar mo, hik hik."
Halima menutup mulutnya terkikik geli melihat Sarah Lee telanjang di depannya.
"Torang mau ikut ndak? bukannya cepat ganti baju sana."
Barulah Halima buru-buru membuka bajunya, ia juga tak malu-malu lagi.
Sulaiman menunggu Betty di lobby, Richi sudah bilang kalau Betty akan menyanyi malam ini.
Yang ingin melihat Betty datang saja. Sulaiman mengagumi Betty. Menurutnya Betty fokus pada impiannya
Setiap kesempatan tidak akan terlewatkan seperti malam ini. Sulaiman ingin memberi dukungannya. Perasaan itu tiba-tiba saja datang. Betty sangat menarik dan manis. Suaranya berat dan tinggi.
__ADS_1
"Betty! Zamzam! Rose!"
Sulaiman menyongsong ketika melihat gadis-gadis keluar dari lift.
Mereka barengan menuju pertunjukkan musik, terdengar nada-nada yang sedang dimainkan. Baru akan dimulai.
Dan koordinator bilang, Betty mendapat giliran agak pertengahan. "Tak masalah," Jawab Betty.
Meja-meja yang berbentuk bulat beberapa telah penuh dengan para undangan. Tinggal lagi dua atau tiga yang kosong. Sulaiman membimbing teman-temannya ke sebuah meja. Menarikkan kursi untuk semuanya.
"Makasih Sulaiman, torang baik sekali malam ini, jangan-jangan ada udang dibalik bakwan."
Zamzam meledek, karena baru sekali ini ia ada perhatian sama gadis-gadis.
"Aku mendukung penyanyi berbakat temanku, Zam, aku bangga kalau ia bisa menjadi penyanyi terkenal."
Zamzam akhirnya tersenyum. "Ok Sulaiman, aku dan Rose juga mendukungnya."
Host mulai bicara di atas panggung. Lantas mempersembahkan beberapa lagu untuk penonton.
Kemudian tiba giliran Betty, host memanggilnya sebagai gadis bersuara merdu dari kota eksotik. Tepuk tangan bergemuruh. Betty berjalan anggun serta antusias. Ia menganggukkan kepala dan tersenyum, "Selamat malam, semoga terhibur."
Musik ceria dan gembira menyelusupi ruangan, tamu-tamu menggoyangkan kaki dan badannya. Suara merdu Betty mengalun.
'Ada sebuah kisah, tentang dara jelita
Hidup slalu penuh desa dan siksa
Datang sebuah berita tentang adanya pesta
Pangeran mencari permaisuri
Cinderella pun tiba, dengan kreta kencana
Sepatu kaca hiasi kakinya
Semua mata terpana akan kedatangannya
Pangeran pun jatuh cinta padanya.
Waktu terus berganti
Dentang jam pun berbunyi
Cinderella pun pergi.
Cinderella! Cinderella!
Cinderella pun tiba, dengan kreta kencana
Sepatu kaca hiasi kakinya
Semua mata terpana akan kedatangannya
Pangeran pun jatuh cinta padanya.
Oh hou houu houu'
Wah, lagu itu mengubah suasana. Menjadi ceria dan ramai. Beberapa orang bergerak maju dan menari.
Terpaksa lagunya diulang dua kali, agar yang menari puas. Wau! Betty keren. Sulaiman mengangkat dua jempolnya.
__ADS_1
Kemudian sebuah lagu lagi. Saat itu Halima dan Sarah Lee memasuki ruangan. Mereka pelan dan tak bersuara duduk di dekat Zamzam serta Rose. Saking tak bersuaranya hingga kedua gadis itu terkejut melihat Sarah lee dan Halima. Sarah Lee mencubit dan menepuk sebal Zamzam yang selalu memperlakukanya seperti itu.
Sulaiman memberikan tempat untuk gadis-gadis itu. Ia melihat Richi datang dan duduk di sebuah sudut.
"Betty keren!"
Mereka semua menyambut Betty. Sarah lee menyodorkan minuman.
"Minum dulu say, biar nggak serak."
"Makasih Sarah Lee."
Mereka lalu beranjak dari tempat itu, Richi mengajak ke lobby dan mengobrol.
Richi bilang lusa mereka kembali. Jadi masih ada waktu dua hari berlibur di Merauke.
"Berarti, waktu liburan kita hanya sehari lagi Rich?"
"Iya, kalau menunggu kapal Watam pone masih sepuluh hari lagi. Masih lama berlabuh di Surabaya."
"Kita kembali dengan kapal yang lain?"
"Iya, tapi tak perlu cemas, kapalnya sama besarnya kok."
"Bukan masalah kapal Rich, masih betah di Merauke hu hu hu."
"Sepuluh hari lagi mau?"
Mereka semua terdiam, sekolah sudah segera dimulai kok.
Husen, dan Wiliam muncul dari luar, agaknya mereka baru saja berjalan-jalan.
Mereka melebarkan mata melihat gadis-gadis berpakaian pesta.
"Oh, ada pesta toh? mereka tak ajak ajak kitong."
"Pestanya sudah berakhir, kalian berdua juga pergi entah kemana nggak bilang-bilang."
Sesaat berdebat kecil-kecilan yang diakhiri dengan tawa dan canda.
"Halima, kita berdansa yuk, sayang bajunya."
"Huh! kitong sudah berdansa tadi dengan pria tampan."
Husen langsung cemberut, dan Halima Haremba tak perduli.
Sementara Mardo sedang menuliskan pengalamannya hari itu.Tentang keriangan bersama teman temannya tadi siang. Kemudian menutup bukunya dan menyimpan dalam tasnya. Ia menyadari kenapa begitu sunyi. Sementara ia belum mengantuk. Mardo berjalan ke Balkon, membuka pintu dan bersandar menikmati udara malam yang dingin.
Buk! jantungnya serasa copot, saat pintu di sebrang terbuka dan tertutup.
Sosok itu! Mardo terkesiap. Sinar penerangan cukup membuat keduanya saling melihat.
Mardo buru buru membalikkan badannya dan menutup pintu. Raka hanya mendesah kemudian masuk ke kamarnya juga.
Bersambung
__ADS_1