
Prita bersiap untuk pergi mengajar les privat di rumah Raka Bramantyo dan Mardo.
Gadis itu senang sekali karena anak-anak les privatnya berhasil. Tria sekarang
sudah tidak takut lagi pada matematika. Dia sudah tau rahasianya. Prita telah
memberikan rumus ajaibnya. Agaknya Tria nanti lebih siap menghadapi pelajaran
matematika di sekolah. Prita telah membekalinya banyak sekali.
Begitu juga Dode, si bungsu ini sebenarnya tidak memiliki masalah dengan
pelajarannya, matematikanya bagus begitu juga yang lain. Ibunya ingin Dode
menemani kakaknya Tria belajar. Itu saja sebenarnya. Prita juga melihat
bahwa Dode memang pintar dan berbakat. Pekerjaan Prita menjadi sangat
ringan. Sebab hanya mengawasi Tria mengerjakan soal-soal.
Tepat jam tujuh ia sudah sampai di rumah megah tersebut. Seperti biasa pak satpam
menemaninya masuk dan terdengar ramai sekali di ruang tamu. Ketika Prita masuk
semua anggota keluarga lengkap berkumpul di ruang keluarga, dan sedang menonton
beramai-ramai.
Prita memandang keluarga yang bahagia tersebut dan pria muda itu menolehinya dan
sedikit terkesiap. Prita juga terkejut membesarkan matanya.
"K-kau?"
Keduanya sama terkejut dalam pandangan semua mata anggota keluarga. Segera
Mardo memanggil Prita ke ruang keluarga tersebut.
"Prita sini, tante kenalkan dengan kakak-kakaknya Tria dan Dode, juga kebetulan
ada bapak Raka Bramantyo nih."
Prita segera melangkah dan menundukkan kepalanya kepada Mardo dan Raka.
"Pi, ini Prita guru lesnya Tria dan Dode. Tria senang sekali belajar matematika
sama mba Prita ini."
"Oh, begitu ya. Terima kasih ya, mba Prita sudah membantu Tria di dalam
pelajarannya."
Raka tersenyum pada gadis itu.
"Dan sepertinya kakak Rakasiwi sudah kenal ya? jangan-jangan teman satu
kampus?"
"Bukan bunda, saya kuliahnya di Semarang. Waktu itu ketemu di stasiun,"
Prita tersenyum sembari melirik pada Rakasiwi yang masih terbengong karena
telah beberapa kali bertemu namun hanya selintasan.
"Prita duduk dulu aja, santai nggak buru-buru kan? minum dan makan kue-kue
dulu, tadi teman bunda yang bekerja di toko roti membawakan banyak sekali
kue, sebentar bunda suruh mba buatkan teh ya."
Gadis itu akhirnya duduk bersama anggota keluarga, bercengkrama sesaat.
"Prita, kenapa ya. bunda seperti sudah pernah mengenalmu sebelumnya. Apa
Prita ingat pernah ketemu bunda?"
Semua melihat pada gadis itu, yang tersenyum sambil mengingat-ingat.
"Emmm, Prita memang tinggal tidak jauh dari sini Bunda, dan waktu kecil
sekolahnya di taman kanak-kanak Permata Bunda yang tidak jauh dari
sini, mungkin memang pernah ketemu di jalan, atau di sekolah Bun."
"Prita dulu di tk Permata Bunda? ya ampun! kamu gadis kecil yang
pemberani itu?"
Mardo setengah hesteris mengingatnya. Dia tak akan melupakan seorang
gadis kecil yang ramah yang menyapa semua orang dan temannya
dengan senyum serta mata yang bersinar ceria. Gadis kecil yang berlari
lari sambil mengayunkan tas kecilnya pulang dan berangkat selalu
sendiri.
"Ya Tuhan! itu kamu."
__ADS_1
"Kakak Rakasiwi, Prita adalah teman sekolah taman-kanak-kanakmu!"
Mardo merasa takjub. Prita adalah gadis kecil yang unik, dan sangat
berbeda dengan yang lain, dia bersemangat dan paling sering menunjuk
tangannya. Saat temannya menangis karena ditinggal oleh orang tua
dia menghiburnya.
Kadang Mardo melihatnya terlambat, tetapi dengan berani ia mengetuk
pintu dan mengatakan ibunya sakit sehingga ia terlambat. Ia akan duduk
di kursinya dan mendengarkan guru dengan serius.
Rakasiwi berulang kali menolehi Prita yang duduk di sebrangnya. Ia tiba-tiba
pergi ke kamarnya dan mengambil sebuah pigura foto perpisahan di taman
kanak-kanak.
"Apa kamu juga memiliki foto ini? semua anak-anak mendapatkannya."
Raka memperlihatkan pigura serta foto semua anak-anak berpose
di depan sekolah.
"Kamu yang mana?"
Rakasiwi mendekatkan foto tersebut pada Prita, ia mendadak tak sungkan
pada Prita mengingat mereka adalah teman masa kecil. Gadis itu tak mau
menjawabnya, sehingga Mardo yang mengambil pigura tersngaebut dan
meneliti satu demi satu bocah yang semua tersenyum.
"Ini kan? coba lihat mirip ha ha ha, bulu matanya sudah lentik dan bagus
ketika taman kanak-kanak."
Prita tak bisa mengelak lagi, gadis yang berdiri paling tengah adalah
dirinya dengan senyum yang selalu tersungging.
"Dari kecil sudah galak Bun, sekarang masih tetap galak! gadis yang
aku ceritakan pada bunda dan ayah itu, ya dia!"
"Hah! jadi kalian yang bertabrakan di stasiun itu, sampai jidat kakak Rakasiwi
benjol sebesar telur puyuh ha ha ha."
di bandara Zepman saat cinta pertama keduanya dimulai.
Prita menunduk dan tersenyum-senyum, ia malu pada tingkah buruknya, ternyata
pria muda yang ia marah-marahi itu adalah putra seorang konglomerat.
"Prita! Rakasiwi!, kalian tahu tidak? dulu saat seusia kalian, ayah Raka dan
bunda bertabrakan di bandara. Habis ayah Raka bunda marahi, tanpa bisa
membalas. ha ha ha."
"Sepertinya bunda Mardo galaknya sama seperti dirimu sekarang Prita!"
Raka menambahi, "Ayah Raka saat itu sangat terkejut dan terbengong, dia
bilang ayah Raka ceroboh! matanya di pake! ha ha ha!"
"Dih, bunda sama ayah dulu kenalannya begitu ya, tabrakan dulu. so
sweet deh kwa-kwa kawa."
Cindy, Tria dan juga Dode ikutan gembira saat kedua orang tua mereka
terkenang masa lalu.
"Sebenarnya kenapa coba bunda waktu itu marah sekali pada ayah?"
Mardo menatapi wajah Raka, dan anak-anaknya, sementara Mardo
tersenyum malu-malu.
"Kenapa Bun, ayah pasti meleng ya?"
Cindy menebak, Mardo menggeleng.
"Pipi bunda kena cium ayah ha ha ha."
Dode menebak asal-asalan, Mardo masih menggelengkan kepalanya.
Ha ha ha, tiba-tiba Raka tertawa dan tersenyum mesem.
"Hanya ayah dan bunda yang tau ah."
Potong Raka masih tertawa geli. Membuat Mardo penasaran.
__ADS_1
"Memang Pipi tau? kenapa bunda sangat marah?"
"Ya tau, masa Pipi nggak tau sih ha ha ha."
Pria yang masih sangat tampan itu masih menyisakan tawanya.
"Kalau Pipi tau, apa coba?"
Mardo sudah bergerak ke pria tersebut dan bergelayut di tangannya.
"Waktu itu Mimi masih remaja, dan sedang bertumbuh begitulah, jadi
saat bertabrakan itu tak sengaja tangan Pipi mengenai tubuh bunda
kalian, hal itu yang membuat bunda sangat marah iya kan?"
"Iihhh kok ayah kalian tau ya?"
"Wah, ha ha ha tabrakan asyik dong bagi ayah?"
Mereka semua tertawa membayangkan kejadian ayah mereka Raka Bramantyo
dengan Bunda Mardo Prameswari. Ternyata begitulah awalnya hingga mereka
berempat lahir ke dunia.
"Kalau mba Prita sangat marah ke Rakasiwi kenapa? apakah sama juga?"
Prita sangat malu sekali, hal yang sama telah terjadi. Dan kemarahan itu
selalu datang tiap kali ia melihat pria muda itu.
"Maafkan Rakasiwi ya mba Prita, tidak ada maksud anak bunda seperti itu,
terjadi begitu saja."
Prita tersenyum, "Iya nggak apa-apa kok Bun, oh iya Tria dan Dode sudah
siap belajarnya? ayo."
Prita lantas mengajak Tria dan Dode ke tempat biasa mereka les privat.
"Prita, kalau sudah jam sembilan disudahi saja ya. Biar pulangnya
nggak kemalaman."
"Iya bunda, terima kasih."
Prita segera beranjak ke tempat les privat yang tak jauh dari rung tamu.
Ia teringat cerita bunda Mardo tentang kejadian lalu mereka. Dan anehnya
kenapa terulang kepada anak laki-lakinya Rakasiwi dan dia.
Prita tak sadar menyentuh bagian dadanya yang telah membesar, saat itu
sakit sekali terkena lengan Rakasiwi, kemarahannya terjadi begitu
saja. Dan apakah Rakasiwi pura-pura tidak terjadi sesuatu seperti ayah
Raka yang menyimpan rahasianya dan baru terkuak tadi.
"Prita!"
Tiba-tiba Rakasiwi telah berdiri tak jauh darinya, "Maafkan kejadian itu ya
aku tak sengaja."
Gadis itu bertemu pandang dengan mata Rakasiwi yang lembut sekali
menatapnya, Prita tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Iya, lupakan saja."
Prita masuk ke ruangan tempat le privat, menunggu Tria dan Dode yang
mengambil tasnya di kamar mereka di lantas dua.
"Kakak Rakasiwi, ngapain di situ memang kakak mau les privat juga?"
Tria dan Dode, menatap keheranan pada kakak mereka .
"Nggak, mau ngucapin selamat les pada kalian hemmm."
Raka lantas bergegas pergi ke kamarnya. Malam ini ia pasti dilanda
kegelisahan yang amat sangat, karena teman taman kanak-kanaknya
telah tertabrak di dadanya, dan itu membuatnya jatuh cinta yang
pertama sekali.
Bersambung
Jangan lupa loh, beri like komen dan vote
__ADS_1
author sangat berterima kasih atas
dukungannya.