Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 133. Kenangan Masa Lalu Mardo Dan Raka


__ADS_3

Prita bersiap untuk pergi mengajar les privat di rumah Raka Bramantyo dan Mardo.


Gadis itu senang sekali karena anak-anak les privatnya berhasil. Tria sekarang


sudah tidak takut lagi pada matematika. Dia sudah tau rahasianya. Prita telah


memberikan rumus ajaibnya. Agaknya Tria nanti lebih siap menghadapi pelajaran


matematika di sekolah. Prita telah membekalinya banyak sekali.


Begitu juga Dode, si bungsu ini sebenarnya tidak memiliki masalah dengan


pelajarannya, matematikanya bagus begitu juga yang lain. Ibunya ingin Dode


menemani kakaknya Tria belajar. Itu saja sebenarnya. Prita juga melihat


bahwa Dode memang pintar dan berbakat. Pekerjaan Prita menjadi sangat


ringan. Sebab hanya mengawasi Tria mengerjakan soal-soal.


Tepat jam tujuh ia sudah sampai di rumah megah tersebut. Seperti biasa pak satpam


menemaninya masuk dan terdengar ramai sekali di ruang tamu. Ketika Prita masuk


semua anggota keluarga lengkap berkumpul di ruang keluarga, dan sedang menonton


beramai-ramai.


Prita memandang keluarga yang bahagia tersebut dan pria muda itu menolehinya dan


sedikit terkesiap. Prita juga terkejut  membesarkan matanya.


"K-kau?"


Keduanya sama terkejut dalam pandangan semua mata anggota keluarga. Segera


Mardo memanggil Prita ke ruang keluarga tersebut.


"Prita sini, tante kenalkan dengan kakak-kakaknya Tria dan Dode, juga kebetulan


ada bapak Raka Bramantyo nih."


Prita segera melangkah dan menundukkan kepalanya kepada Mardo dan Raka.


"Pi, ini Prita guru lesnya Tria dan Dode. Tria senang sekali belajar matematika


sama mba Prita ini."


"Oh, begitu ya. Terima kasih ya,  mba Prita sudah membantu Tria di dalam


pelajarannya."


Raka tersenyum pada gadis itu.


"Dan sepertinya kakak Rakasiwi sudah kenal ya? jangan-jangan teman satu


kampus?"


"Bukan bunda, saya kuliahnya di Semarang. Waktu itu ketemu di stasiun,"


Prita tersenyum sembari melirik pada Rakasiwi yang masih terbengong karena


telah beberapa kali bertemu namun hanya selintasan.


"Prita duduk dulu aja, santai nggak buru-buru kan? minum dan makan kue-kue


dulu, tadi teman bunda  yang bekerja di toko roti membawakan banyak  sekali


kue, sebentar bunda suruh mba buatkan teh ya."


Gadis itu akhirnya duduk bersama anggota keluarga, bercengkrama sesaat.


"Prita, kenapa ya. bunda seperti sudah pernah mengenalmu sebelumnya. Apa


Prita ingat pernah ketemu bunda?"


Semua melihat pada gadis itu, yang tersenyum sambil mengingat-ingat.


"Emmm, Prita memang tinggal tidak jauh dari sini Bunda, dan waktu kecil


sekolahnya di taman kanak-kanak Permata Bunda yang tidak jauh dari


sini, mungkin memang pernah ketemu di jalan, atau di sekolah Bun."


"Prita dulu di tk Permata Bunda? ya ampun! kamu gadis kecil yang


pemberani itu?"


Mardo setengah hesteris mengingatnya. Dia tak akan melupakan seorang


gadis kecil yang ramah yang menyapa semua orang dan temannya


dengan senyum serta mata yang bersinar ceria. Gadis kecil yang berlari


lari sambil mengayunkan tas kecilnya pulang dan berangkat selalu


sendiri.


"Ya Tuhan! itu kamu."

__ADS_1


"Kakak Rakasiwi, Prita adalah teman sekolah taman-kanak-kanakmu!"


Mardo merasa takjub. Prita adalah gadis kecil yang unik, dan sangat


berbeda dengan yang lain, dia bersemangat dan paling sering menunjuk


tangannya. Saat temannya menangis karena ditinggal oleh orang tua


dia menghiburnya.


Kadang Mardo melihatnya terlambat, tetapi dengan berani ia mengetuk


pintu dan mengatakan ibunya sakit sehingga ia terlambat. Ia akan duduk


di kursinya dan mendengarkan guru dengan serius.


Rakasiwi berulang kali menolehi Prita yang duduk di sebrangnya. Ia tiba-tiba


pergi ke kamarnya dan mengambil sebuah pigura foto perpisahan di taman


kanak-kanak.


"Apa kamu juga memiliki foto ini? semua anak-anak mendapatkannya."


Raka memperlihatkan pigura serta foto semua anak-anak berpose


di depan sekolah.


"Kamu yang mana?"


Rakasiwi  mendekatkan foto tersebut pada Prita, ia mendadak tak sungkan


pada Prita mengingat mereka adalah teman masa kecil. Gadis itu tak mau


menjawabnya, sehingga Mardo yang mengambil pigura tersngaebut dan


meneliti satu demi satu bocah yang semua tersenyum.


"Ini kan? coba lihat mirip ha ha ha, bulu matanya sudah lentik dan bagus


ketika taman kanak-kanak."


Prita tak bisa mengelak lagi, gadis yang berdiri paling tengah adalah


dirinya dengan senyum yang selalu tersungging.


"Dari kecil sudah galak Bun, sekarang masih  tetap galak! gadis yang


aku ceritakan pada bunda dan ayah itu, ya dia!"


"Hah! jadi kalian yang bertabrakan di stasiun itu, sampai jidat kakak Rakasiwi


benjol sebesar telur puyuh ha ha ha."


di bandara Zepman saat cinta pertama keduanya dimulai.


Prita menunduk dan tersenyum-senyum, ia malu pada tingkah buruknya, ternyata


pria muda yang ia marah-marahi itu adalah putra seorang konglomerat.


"Prita! Rakasiwi!, kalian tahu tidak? dulu saat seusia kalian, ayah  Raka dan


bunda bertabrakan di bandara. Habis ayah Raka bunda marahi, tanpa bisa


membalas. ha ha ha."


"Sepertinya bunda Mardo galaknya sama seperti dirimu sekarang Prita!"


Raka menambahi, "Ayah Raka saat itu sangat terkejut dan terbengong, dia


bilang ayah Raka ceroboh! matanya di pake! ha ha ha!"


"Dih, bunda sama ayah dulu kenalannya begitu ya, tabrakan dulu. so


sweet deh kwa-kwa kawa."


Cindy, Tria dan juga Dode ikutan gembira saat kedua orang tua mereka


terkenang masa lalu.


"Sebenarnya kenapa coba bunda waktu itu  marah sekali pada ayah?"


Mardo menatapi wajah Raka, dan anak-anaknya, sementara Mardo


tersenyum malu-malu.


"Kenapa Bun, ayah pasti meleng ya?"


Cindy menebak, Mardo menggeleng.


"Pipi bunda kena cium ayah ha ha ha."


Dode menebak asal-asalan, Mardo  masih menggelengkan kepalanya.


Ha ha ha, tiba-tiba Raka tertawa dan tersenyum mesem.


"Hanya ayah dan bunda yang tau ah."


Potong Raka masih tertawa geli. Membuat Mardo penasaran.

__ADS_1


"Memang Pipi tau? kenapa bunda sangat marah?"


"Ya tau, masa Pipi nggak tau sih ha ha ha."


Pria yang masih sangat tampan itu masih menyisakan tawanya.


"Kalau Pipi tau, apa coba?"


Mardo sudah bergerak ke pria tersebut dan bergelayut di tangannya.


"Waktu itu Mimi masih remaja, dan sedang bertumbuh begitulah, jadi


saat bertabrakan itu tak sengaja tangan Pipi mengenai tubuh bunda


kalian, hal itu yang membuat bunda sangat marah iya kan?"


"Iihhh kok ayah kalian tau ya?"


"Wah, ha ha ha tabrakan asyik dong bagi ayah?"


Mereka semua tertawa membayangkan kejadian ayah mereka Raka Bramantyo


dengan Bunda Mardo Prameswari. Ternyata begitulah awalnya hingga mereka


berempat lahir ke dunia.


"Kalau mba Prita sangat marah ke Rakasiwi kenapa? apakah sama juga?"


Prita sangat malu sekali, hal yang sama telah terjadi. Dan kemarahan itu


selalu datang tiap kali ia melihat pria muda itu.


"Maafkan Rakasiwi ya mba Prita, tidak ada maksud anak bunda seperti itu,


terjadi begitu saja."


Prita tersenyum, "Iya nggak apa-apa kok Bun, oh iya Tria dan Dode sudah


siap belajarnya? ayo."


Prita lantas mengajak Tria dan Dode ke tempat biasa mereka les privat.


"Prita, kalau sudah jam sembilan disudahi saja ya. Biar pulangnya


nggak kemalaman."


"Iya bunda, terima kasih."


Prita segera beranjak ke tempat les privat yang tak jauh dari rung tamu.


Ia teringat cerita bunda Mardo tentang kejadian lalu mereka. Dan anehnya


kenapa terulang kepada anak laki-lakinya Rakasiwi dan dia.


Prita tak sadar menyentuh bagian dadanya yang  telah membesar, saat itu


sakit sekali terkena lengan Rakasiwi, kemarahannya terjadi begitu


saja. Dan apakah Rakasiwi pura-pura tidak terjadi sesuatu seperti ayah


Raka yang menyimpan rahasianya dan baru terkuak tadi.


"Prita!"


Tiba-tiba Rakasiwi telah berdiri tak jauh darinya, "Maafkan kejadian itu ya


aku tak sengaja."


Gadis itu bertemu pandang dengan mata Rakasiwi yang lembut sekali


menatapnya, Prita tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Iya, lupakan saja."


Prita masuk ke ruangan tempat le privat, menunggu Tria dan Dode yang


mengambil tasnya di kamar mereka di lantas dua.


"Kakak Rakasiwi, ngapain di situ memang kakak mau les privat juga?"


Tria dan Dode, menatap keheranan pada kakak mereka .


"Nggak, mau ngucapin selamat les pada kalian hemmm."


Raka lantas bergegas pergi ke kamarnya. Malam ini ia pasti dilanda


kegelisahan yang amat sangat, karena teman taman kanak-kanaknya


telah tertabrak di dadanya, dan itu membuatnya jatuh cinta yang


pertama sekali.


 


 


Bersambung


Jangan lupa loh, beri like komen dan vote

__ADS_1


author sangat berterima kasih atas


dukungannya.


__ADS_2