
Raffa memarkirkan kenderaannya di tempat dia biasa menaronya. Lantas keluar dari mobil dan menghempaskan kenderaannya. Sejenak dia berdiri menatap gedung dua tingkat di depannya.
Setahun yang lalu dia mendapatkan gedung tersebut. Tidak mudah untuk menjadi kepercayaan di sebuah perusahaan yang besar. Ratusan pesaing yang ingin mendapatkan sebuah tempat usaha untuk ia kelola sendiri bersama team yang ia miliki.
Dia sudah mencapai target demi target hingga akhirnya dipromosikan menjadi di Manager di salah satu milik perusahaan PI grup. Jika ia bisa mengembangkan usaha tersebut, maka dia bisa memiliki tempat itu dengat syarat dan persyaratan. Sehingga pegawai di perusahaan bisa menjadi pemilik usahanya sendiri. Tidak melulu selamanya menjadi pegawai.
Raffa sekarang menjadi pemilik gedung di depannya setelah berjuang selama empat tahun. Perusahaan memberikan tempat itu setelah memberikan kontribusi yang besar dan melebihi target. Tetapi ia terikat perjanjian dengan perusahaan, untuk bahan baku cafe serta ikatan kerja selamanya.
"Pagi Bos!"
Para pegawainya yang berjumlah sekitar 30 orang sudah siap mengawali kerja hari ini. Cafe siap di buka dengan minuman segar, hangat, panas dengan tambahan makanan ringan, sedang hingga berat.
Saat sedang briefing, tiba-tiba seseorang masuk dengan tergesa-gesa dan segera bergabung dengan pegawai-pegawai yang lain.
Setiap pagi sebelum bekerja, Raffa mengharuskan semua melakukan briefing. Saat itu Raffa selaku pemilik menyampaikan hal-hal penting tentang sikap ramah dan pelayanan terbaik pegawainya. Ia benci dengan pegawai yang tak disiplin apa lagi pegawai yang terlamnat
Beberapa yang melihat hal itu menyayangkan gadis itu. Sekarang mereka semua akan mendengar kemarahan Bos mereka.
Mata laki-laki muda itu membesar ke arah pegawainya yang terlambat.
"Jam berapa Seharusnya kamu datang? kamu ini mau bekerja atau hanya bermain dan menganggap bahwa di sini sebagai batu loncatan saja?"
Perempuan itu tu tampak sangat menyesal ia terlihat ketakutan dan malu di marahi di depan teman-temannya. Kepalanya menunduk untuk meminta maaf.
"Maafkan saya pak. Hal ini tidak akan terulang. Saya berjanji akan datang lebih pagi."
"Hari ini sebagai hukuman keterlambatanmu, pulang belakangan dan bersihkan cafe lantai satu dan dua."
__ADS_1
Gadis muda itu tak bisa menolak kecuali mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Baik pak Bos."
Selanjutnya Raffa kembali memimpin briefing. Dia menekankan sekali lagi bahwa tidak boleh ada pegawai yang terlambat. Sebab keterlambatan adalah kegagalan! begitu menurutnya.
Tentu saja semua pegawainya menganggukkan kepala mereka. Tidak ada yang berani mengucapkan sepatah kata pun. Atau dia akan mendapatkan umpatan serta berondong kata yang memerahkan kuping.
Raffa kembali menyampaikan apa yang ia inginkan dari pegawai-pegawainya. Bahwa Dia memerlukan angka yang tinggi bagi cafe miliknya. Lagi pula hal itu berpengaruh pada bonus mereka juga.
Jadi Raffa meminta pada seluruh pegawai bekerja lebih bersemangat, kerja keras, smart. Buka cafe lebih awal dan tutup lebih akhir.
Briefing itu lalu ditutup dengan doa bersama semoga usaha mereka akan selalu dimudahkan dan dilancarkan. Semua mengucapkan aamiin. Setelah selesai briefing semua pegawai kembali pada pekerjaannya masing-masing.
Raffa sendiri masuk ke ruangannya. Ia menaro tas kerjanya dan membuka jasnya. Lantas duduk di kursi kebesarannya. Ia mengambil handphonenya dan memeriksa. Tidak ada yang penting. Anak muda itu berhenti sebentar. Berusaha memulai dari mana.
'Emm, Cindy, dia sangat cantik dan menarik. Bagaimana aku bisa membalaskan sakit hati ini kepadanya? Aku justru berdebar saat melihat dan berdekatan dengannya.'
'Aku akan ke kantor pusat untuk bertemu dengannya.'
Laki-laki muda itu menaro gelasnya di atas meja, mengenakan jasnya dan menyambar kunci mobil. Tak lama ia sudah berada di jalan yang menuju ke kantor pusat. Dia memang tidak memiliki alasan ke sana. Tetapi tidak ada yang melarang siapa pun ke kantor tersebut. Di sana segalanya berpusat.
Ia bisa bertemu teman-teman seangkatannya. Lima tahun yang lalu sebuah perusahaan membuka lowongan pekerjaan untuk anak-anak muda yang kreatif, tangguh serta dinamis. Diantara anak-anak muda itu terdapat dirinya yang baru saja datang dari kota Medan.
Sosoknya yang tinggi tegap dan kekar juga sangat perhatian dan perduli membuat Raffa terlihat mencolok. Ia segera menarik perhatian Deni dan Sammy. Selain penampilannya yang easy to look at, Raffa memiliki banyak ide, kata-kata serta homor yang menghidupkan suasana.
Jadilah Rafa bekerja di perusahaan Pria Idola yang lebih dikenal oleh publik sebagai PI grup. Ketika itu Raffa belum menjabat sebagai pimpinan cabang sebuah kantor melainkan dia mengawali dari pegawai rendahan. Lalu naik menjadi kepala pramusaji. Rekomendasi diberikan kepadanya di tahun berikutnya, hingga akhirnya ia memiliki tempat usahanya tersendiri. Sistem di perusahaan itu memang berbeda dengan yang lain. Semua pegawainya bisa memiliki gedung usaha jika mereka mau. Raffa dan beberapa anak anak muda lainnya menjadi contoh keberhasilan berkarier di PI grup.
__ADS_1
Raffa mampir di sebuah toko bunga dan membeli sekuntum yang terindah. Bibirnya tersenyum mengingat seorang gadis yang akan menerima bunga itu.
Raffa memasuki gedung perkantoran megah didepannya. Seperti gedung perkantoran lainnya ada satpam yang menjaga dan mengawasi orang yang keluar dan masuk.
Di sebelah kanan merupakan cafe Pria Idola milik perusahaan. Tempat pegawai, tamu dan siapa saja yang ingin menikmati minum, makan serta suasana santai dengan musik lembut dan ceria.
Ada ruangan khusus atm Bca, beserta ruangan atm bank lainnya. Di belakang pos satpam ada deretan toilet perempuan dan laki-laki. Urutan berikutnya barulah empat lift yang berhadap-hadapan. Raffa berjalan ke salah satu ke lift yang terbuka dan masuk ke dalamnya.
Laki-laki muda itu memencet sebuah nomer. Tak lama lift berhenti dan laki-laki itu melangkah keluar. Ia berjalan beberapa meter dan terhadang oleh meja seperti bar yang biasa dijaga oleh sekretaris. Di dalam terdapat ruangan Raka, Deni dan Sammy.
Raffa melihat perempuan sekretaris tersebut sedang berada di tempatnya. Ia menunggu hingga memiliki kesempatan meletakkan bunga tersebut tanpa sepengetahuan sang sekretaris .
Dia sudah menulis bahwa bunga itu ditujukan kepada Cindy. Agak lama karena perempuan itu sedang asyik menulis sesuatu. Tak lama perempuan itu masuk ke ruangannya. Raffa buru-buru berlari dan menaro sekuntum bunga di atas meja sang sekretaris. Wajahnya ia tenggelamkan kedalam topi dan ia memakai masker hingga sulit mengenalinya. Setelah menaro bunga tersebut ia pergi.
Tak lama terdengar suara langkah-langkah yang keluar dari ruangan. Ternyata Cindy bersama ayahnya yang akan pergi ke restoran. Sejak pengangkatannya menjadi pimpinan, gadis itu dan ayahnya setiap pagi pergi ke perusahaan.
Cindy melihat ruangan sekretaris yang kosong juga melihat ada sekuntum bunga mawar terletak diatas meja sang sekretaris. Cindy memeriksa bunga itu dan ia melihat ada namanya di kartu. ' For Cindy '
"Ayah, lihat ada yang memberiku sekuntum bunga mawar tapi tidak ada nama pemberinya."
Cindy mengambil bunga tersebut dan memperlihatkannya pada Raka. Laki-laki tampan tersebut hanya tersenyum.
"Agaknya pemuja rahasia."
Kata Raka, keduanya berjalan dan melewati ruangan Deni dan Sammy. Cindy menawari dua pria itu keluar untuk istirahat dan makan siang.
Tara!!! Kisahnya masih berlanjut ya reades, karena belum juga mencapai level yang othor inginkan, semoga ketekunan dan kerja keras othor juga penulis lainnya mendapat perhatian. Semangat.
__ADS_1
Bersambung