Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 22. Gara-Gara Naik Kuda


__ADS_3

Kedua sahabat Raka yang sejak siang menghilang rupanya sudah sampai juga di bagian pantai yang terjauh.


Deni dan Sammy sempat heran ketika melihat Raka dan Mardo tiba-tiba berkuda berdua.


Mereka pikir, keduanya sudah jadian. Lalu merayakannya dengan berkuda, berpelukkan.


Keduanya sangat iri dengan keberuntungan Raka.


Semula memang keduanya ingin memanggil Raka untuk ikut berpesta makan ikan. Namun keduanya membatalkannya. Raka pasti tak ingin mereka mengganggu keberduaan itu.


Apa lagi setelah turun dari kuda, berpelukkan lagi dan berpelukkan lagi.


So sweet banget mereka.


Lantas keduanya kembali ke balik semak-semak. Di sana mereka menemukan danau kecil berair tawar.


Banyak ikan berenang. Deni dan Sammy sempat mencari kayu dan menombak ikan-ikan. Mereka baru berhenti ketika dua ikan yang besar menggelepar-gelepar.


Selanjutnya mereka menghidupkan api dan membakarnya.


Agak lama juga Raka dan Mardo di tempat itu, hingga mereka kesal dan mulai menakut-nakuti.


Usaha mereka berhasil. Raka dan juga Mardo ketakutan.


"He he, dasar penakut."


Kedua pria itu lantas berlarian menuju jalan pulang. Mereka tadi siang berjalan kaki.  Akhinrya


pulangnya pun jalan kaki. Tak mengapalah, mereka memiliki badan yang besar dan sehat. Berlari-lari di atas pasir pantai yang pemandangannya indah tak menjadi masalah.


Betapa berdebar rasanya, memeluk tubuh yang lembut dan wangi. Raka membiarkan rambut Mardo menerpa wajah dan hidungnya. Ia juga merasakan jemari yang menggenggam kuat lengannya di perut. Raka mengambil lengannya dan balik menggenggam lengan gadis itu. Keduanya membisu. Berkuda berduaan saling memeluk dengan suasana senja serta sunset yang mulai berproses sungguh merupakan sensasi sendiri.


Hingga mereka berpapasan dengan pemilik kuda dan Richi. Raka mengabaikan mereka. Ia terus berkuda ke tempat semula.


"Mardo, kamu nggak apa-apa kan?"


Richi berteriak, lantas membalikkan kudanya dan mengejar.


Si tukang kuda terkejut, tiba-tiba Richi bisa mengendalikan kudanya.


"Lah, ternyata bisa membawa kudanya berlari kencang."


Si pemilik kuda geleng-geleng kepala.


Akhirnya tepat saat terjadi sunset, Raka sampai di tempat semula.


Semua menyambut mereka. Sangat mengkhawatirkan Mardo.


"Do, nggak apa-apa ya, untunglah!"


Semua memeluk gadis itu erat, mereka takut sekali Mardo mengalami  kecelakaan.


Gadis-gadis itu juga memandang takjub pada kak Raka yang sudah menyelamatkannya. Mereka memandang kak Raka yang sedang berjalan menuju mobilnya.


Sementara Mas Arif juga tengah bersiap-siap memanaskan mesin mobil.


Semua sudah kelelahan dan stres oleh kejadian tadi.


Sarah Lee, membawakan minuman untuk Mardo, ia menepuk-nepuk punda gadis itu.


"Semua baik-baik saja kan?"


"I-iya terima kasih ya Lee."


Mardo duduk di pasir dan memeluk kakinya. Ia merasa lemas.

__ADS_1


"Mardo!, Do! kamu nggak apa-apa?"


Richi melompat dari kuda. Ia menghampiri gadis itu.


Mereka berpandangan, Mardo mengangguk-angguk, " aku baik-baik aja kok Richi."


Raka melihat pemandangan mengharukan itu, ia memutar mobilnya.


Menunggu Deni dan Sammy membuatnya kesal.


Ia menoleh lagi pada Mardo, agaknya gadis itu trauma.


Laki-laki itu akhirnya turun dan mendekati adiknya dan Mardo.


"Apa kalian masih lama?, Mardo masih ketakutan, sebaiknya cepat pulang."


Richi menolehi abangnya, "Kami akan pulang, segera,"


"Biar Mardo ikut denganku, kalian tunggu Deni dan Sammy."


Richi kembali menolehi Raka.


"Do, kau ikut dengan kak Raka kah?"


Mardo membisu, ia merasa sangat lemas dan tak bertenaga, ia terhuyung.


"Oh, Biar dia ikut denganku, dia trauma!"


Raka langsung menggendong gadis itu ke mobilnya, Richi tak bisa menolaknya.


Ia juga takut terjadi sesuatu.


Sarah Lee berlari membawa air minuman dan minyak gosok.


"Ok, baiklah, tolong jaga Mardo ya Lee,"


Akhirnya Sarah Lee bersama Mardo yang tak bersuara, terbaring di jok.


Raka menyelimuti dengan jaketnya.


Mereka harus melewati jalan yang lumayan jauh. Raka berharap Mardo baik-baik saja.


"Apakah tubuhnya panas?"


Raka menanya Sarah Lee.


"Tidak, agak dingin."


"Tolong kau pijiti dan gosok, kuharap dia membaik begitu tiba di hotel."


"Ok, baiklah."


Hari sudah mulai gelap, gadis-gadis gelisah karena sudah terlalu lama menunggu.


Kemana sih kak Deni dan Sammy. Mereka semua sudah menunggu di dalam mobil. Hingga akhirnya dua sosok mereka muncul dari gelap.


Richi memanggil mereka dan mengatakan Raka sudah pergi dengan Mardo.


Kedua cowo itu saling pandang. Rak tega mencampakkan mereka setelah mendapakan kekasih.


Lantas keduanya bersungut-sungut masuk ke dalam mini bis.


"Berangkat kita sekarang?'


Mas Arif  menolehi ke belakang.

__ADS_1


"Besok aja mas, kita nginap aja."


Huuuuu!


"Berangkat sekarang mas Arif, masa besok."


He he he...


Di dalam mobil terjadi keceriaan lagi.


Sementara Raka, sebentar-bentar menanyakan keadaan Mardo.


"Mardo agaknya hanya kelelahan kak Raka, napasnya sudah teratur, Mardo tertidur kak."


Kata Sarah Lee.


"Oh, syukurlah."


Hingga akhirnya mereka sampai di hotel. Mardo masih terbaring.


"Do bangun, kita sudah sampai di hotel."


Tapi Mardo membisu. Tangannya terkulai lemah.


"Biar aku gendong ke kamarnya. Tolong pergilah buka pintunya."


Kata Raka sembari  bersiap menggendong  gadis itu.


Sarah Lee, lantas bergegas lebih duluan. Ia membuka pintu dan menyiapkan bantal untuk Mardo.


Pegawai-pegawai kantor melihat Raka yang menggendong seorang gadis,


Mereka bertanya-tanya, tapi kemudian melupakannya.


"Oh, kamu manja atau trauma sih?"


Raka tak habis pikir, kenapa begini kejadiannya.


Semula memang ia berencana membawa lari gadis itu dengan berpindah ke kuda Mardo. Tapi belum lagi sempat ia melaksanakan rencana itu, ia mendengar Richi berteriak. Kuda gadis itu tiba-tiba


berlari kencang membawa Mardo yang belum mahir berkuda. Hanya keberuntungan yang membuat gadis itu tak jatuh dari kuda.


Sarah Lee, sudah membukakan pintu kamar. Raka masuk dan membaringkan Mardo dengan lembut.


Ia mengusap rambut dan wajahnya.


"Sarah Lee, kuharap kamu menjaganya, aku mencari dokter."


"Iya Kak, aku di sini menjaga Mardo."


Sarah Lee memandangi Mardo, ia agak keheranan. Mardo sosok yang kuat, bersemangat dan ceria. kenapa tiba-tiba membisu dan tubuhnya melemah. Tapi memang kejadian tadi sangat menakutkan. Jika ia yang mengalami mungkin tak sekuat Mardo. Ia bisa jadi sudah jatuh terseret-seret kuda, bahkan bisa mematahkan tubuhnya.


Sarah Lee sangat mengerti. Ketakutan itu bisa jadi membuat Mardo trauma.


Gadis itu dengan telaten merawat Mardo. Ia melap wajah Mardo dengan air hangat. melepaskan sepatu dan tasnya. Ia singkirkan semua yang membuat Mardo sesak. Lalu memberinya selimut.


Ketika dokter datang bersama Raka, dokter memeriksa dan mengatakan karena terkejut dan mengalami trauma.


Dokter memberi obat dan akan menunggu besok untuk pemeriksaan lanjutan.


Raka, sangat cemas.


 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2