Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 94 Usai Honeymoon


__ADS_3

Delapan hari terlalui penuh dengan sukacita kebahagiaan, tawa, dan canda. Besok pagi setelah breakfast mereka akan pulang ke Indonesia. Jadi malam itu setelah dinner Raka dan Mardo mulai membereskan barang-barang mereka.


Mardo membawa alat yang bisa membuat pakaian menjadi pres. Alat penekan agar muatan menjadi lebih banyak dan mudah di kepak dalam koper.


Dengan sangat santai Raka dan Mardo satu demi satu membereskan barang-barang mereka.


Koper-koper penuh dengan belanjaan, semula tidak muat tetapi dengan alat pres baju, menjadi mudah serta muat dua kali lipat dibanding dengan tidak menggunakan alat pres.


Satu demi satu koper yang telah penuh dan terkunci diletakkan di dekat pintu. Tiga koper besar itu penuh dengan belanjaan, serta barang-barang miliki Mardo.


Ada dua tambahan tas barang besar yang juga memuat belanjaan Mardo. Kerepotan itu adalah demi oleh-oleh untuk semua yang disayangi di Indonesia.


Raka sudah berbaring di tempat tidurnya, menunggu Mardo yang masih memberesi pernak-pernik, membuka, menutup lemari. Mengambil yang boleh di bawa pulang.


"Mi, yuk bobo sekarang, istirahat."


"Sebentar Pi, mimi tinggal masukkin kosmetik ke tas tangan mimi,"


"Hemmm cepatan sih Mimi, ini adek kecil dah nggak sabaran Mi."


"Kebiasaan pipi ichhh, adek kecil suruh buru-buru trus deh."


Mardo lantas naik ke atas tempat tidur, mengecilkan lampu tidur yang sudah sangat temaram. Perempuan itu menaiki tubuh suaminya, seperti biasa, Mardo mengambil posisi di atas, memeluk dada Raka dan pria idola terbuai dan memeluk tubuh istrinya.


"Bismillah Mi semoga Raka kecil atau Mardo kecil tercipta di negara Korea ini ya Mi, biar nanti ganteng kayak pria aktor kegemaran Mimi itu yang namanya Leminho yah Mi."


"Aamiin, nanti dikira anak Leminho dong Pi he he he. Ganteng dan setia kayak pria idola aja Pi dan cantik, cerdas seperti mimi ya kalau perempuan."


"Oia benar juga Mimi, ngapain mirip si Leminho ya, ha ha ha..."


Keduanya menghabiskan malam terakhir di hotel Seoul dengan bercinta dan berharap tercipta buah cinta dari keduanya. Tengah malam baru keduanya tertidur nyenyak.


Dan pagi-pagi sekali setelah breakfast rombongan honeymoon menuju bandara segera


pulang ke Indonesia. Semua ceria dan bahagia. Juga terjalin persahabatan denga sesama peserta paket Honeymoon, mereka janji akan terus saling berhubungan dan tidak membubarkan grup Wa mereka.


Sore harinya, mereka semua berlompatan dan bersorai sebab telah tiba dan menghirup udara Indonesia. Horeee!!! kita telah sampai.

__ADS_1


"Hai Raka! Mardo! sampai jumpa lagi yaa honeymoon berikutnya, kita bisa janjian lagi nantinya!"


Grace dan Hansen, menyalami erat tangan Raka dan Mardo. Yang lain juga melakukan hal yang sama.


Yup, sampai jumpa yaa


Dan satu persatu mendapatkan barang-barang mereka dan menaro serta menyusun di troly, kemudian membawa keluar serta memesan taxi.


Raka yang selama ini masih tinggal di rumah orang tuanya, segera memberikan alamatnya pada pengemudi taxi. Sepanjang jalan keduanya tersenyum dan tersipu. Rindu sekali pada tanah kelahiran dan rumah.


"Hemmm, cuman seminggu tapi udah rindu yaa sama suasana Indonesia. Rindu rumah, Papi dan Mami, juga yang lain, ingin jumpa mereka semua."


"Iya Mi, rindu rumah, orang tua dan teman-teman."


Hingga akhirnya mereka memasuki pekarangan rumah yang luas, pak satpam membukakan pintu pagar, dan menyambut senang kepulangan Raka dan Mardo.


Kebetulan Papi dan Mami ada di rumah juga, jadilah mereka menyambut Raka dan Mardo dengan kegembiraan yang hangat.


"Pantas Papi dan Mami tak berangkat ke kantor hari ini ternyata kalian pulang. Papi pikir baru besok kalian pulangnya ternyata hari ini."


"Iya Pi, alhamdulillah penerbangannya lancar."


Raka dan Mardo saling pandang, " Lancar Pi, mudah-mudahan Pi, oia bagus loh Pi tempat-tempat di Korea, Papi dan Mami bulan madu juga lah ke Korea, ajak besan sekalian."


"Oh berkesan ya di sana? boleh deh daftarin kita semua, ajak Daddy Ben juga, biar tambah seru."


"Siapa Pi, Daddy Ben?"


Raka dan Mardo menatap Papi.


"Itu, orang tuanya Laura, teman dekatnya Richi."


"Oh, yang Papi-Mami cerita waktu itu ya?"


"Alhamdulillah Richi akan menikah juga pada akhirnya, aku dan Mardo ikut senang mendengarnya."


"Semoga mereka berjodoh, seperti kalian, Papi dan Mami udah merasa cocok ya kan Mi?"

__ADS_1


Papi Bramantyo menolehi Mami yang sedang memberesi minuman hangat untuk anak dan mantunya. Mami mengangguk-anggukkan kepalanya dengan senyum.


"Raka, Mardo minuman hangatnya, terus istirahat, perjalanannya pasti melelahkannya."


"Iya Mi, mau istirahat dulu, nantilah bongkar-bongkarnya, ada ginseng korea, Raka beliin buat Papi dan Mami."


Sementara dua orang pelayan dibantu pak satpam membawai koper-koper dan barang bawaan dari Korea.


"Oleh-olehnya banyak sekali ini bos, sampai


tiga koper dan ada dua tas besar lagi.Semoga ada buat kita juga ya."


Pelayan pelayan saling berbisik-bisik ketika melihat banyaknya koper dan barang-barang bawaan Bos mereka.


"Sudah pasti lah, kan biasanya juga begitu. Setiap kali bos bepergian pasti membawa oleh-oleh untuk kita juga, sabar menunggu aja."


"Sippp, kita menunggu yuk di belakang."


Pelayan-pelayan tersenyum merasa yakin akan mendapatkan oleh-oleh dari Bos meraka.


Sementara Mardo dan Raka memasuki Kamar mereka, merupakan bagian yang besar, karena dulu aktifitas Raka yang bermain musik, tempat kumpul dengan teman-temannya, sekaligus tempat menyimpan alat olah raga dan berbagai barang koleksi yang tertata rapi. Sebuah kamar namun besar bak sebuah rumah. Setiap hari dua orang pelayan membersihkan ruangan demi ruangan beserta benda-bendanya.


Karena Mardo sudah pernah mendiami kamar bagaikan rumah tersebut, maka ia tak merasa asing lagi. Ia menikmati kebersamaan dengan Raka di tempat itu.


"Pi, mandi dulu sana, biar segar dan enak bobonya."


Mardo memberikan handuk pada Raka yang sudah terbaring di karpet berbulu tebal. Menghidupkan chanel kesukaannya.


"Oh iya, enaknya mandi dulu ya Mi, ok deh."


Raka bangun dan membuka baju serta celananya, "Mandi bareng yuk Mi, punggung Pipi minta di gosok, yuk Mi."


Raka menarik istrinya ke kamar mandi dan perempuan muda itu tak bisa menolaknya, hanya terkekeh kegelian oleh tangan Raka yang menyentuh pinggangnya.


Tapi Mardo menjadi gugup, ini belum pernah mereka lakukan. "Pi, mimi nggak ikut mandi ya, Mimi gosok punggung Pipi aja."


Raka setuju, ia hanya ingin digosok punggungnya saja kok, sedikit pemijitan leher serta sedikit di kepalanya. Rasanya pasti nikmat. Ternyata betapa indahnya memiliki seorang istri. Segala kebahagian, kesulitan, atau masalah apa pun ada tempat berbagi. Raka merasa sangat beruntung. Ia sekarang punya tempat bermanja-manja, merajuk, dan tempat mencurahkan perasaan.

__ADS_1


Terima kasih untuk pembaca, dukungannya


Bersambung


__ADS_2