
Bunyi handphone milik Prita call, gadis itu melihatnya tertulis di sana Beibebkuh. Ia mengambil handphone tersebut sembari bergegas ke pintu.
"Iya, iya aku datang!"
Barulah handphone tersebut berhenti memanggil. Rakasiwi menoleh ke dalam gang dan melihat sosok ramping yang mendekat ke arahnya. Pria muda itu menyambut Prita, ia keluar dari dalam mobil dan mendahului Prita menuju pintu sebelah.
"Silahkan cantik."
"Terima kasih."
Rakasiwi menutup pintu dan bergegas memasuki mobil. Ia segera meluncur ke arah Ancol. Sesaat bisu. Seluruh kata-kata yang sudah dipersiapkan hilang tak berbekas. Tenggorokan Raka serasa ada yang mengganjal. Ia berdehem-dehem berusaha mengeluarkan sesuatu yang serasa menyumbat.
"Kenapa? keselek ya?"
"Hem, hem, to-tolong ambilkan permen pelega tenggorokanku dong."
Rakasiwi menunjuk kotak permen di sebuah tempat. Prita mendapatkan dan memberikannya pada pria muda yang tengah menahan napasnya.
"Terima kasih ya."
Prita mengangguk. Ia memandangi suasana kota Jakarta yang temaram. Kenderaan tiada hentinya, dan orang-orang semakin malam kian ramai saja. bertambah gelap maka transaksi pun makin ramai.
"Malam minggu, malamnya anak muda, wakuncar kata orang mah."
Rakasiwi memecahkan kesunyian.
"Kok wakuncar, itu sih istilah kakek dan nenek kita dulu, wajib kunjung pacar he he he."
"Jaman kita namanya ngedate atau berkencan."
Keduanya saling menoleh dan tersenyum.
"Bagaimana pekerjaanmu? hari sabtu bekerja juga?"
"Sebenarnya libur, tapi ada beberapa bagian yang tetap buka. Dan aku ada laporan yang mesti diselesaikan, jadi aku lembur tadi."
"Oh gitu."
"Makanya aku heran tadi pagi, kok hari sabtu kerja."
"Aku lupa juga tadi ngasih tahu."
Tak lama akhirnya mereka memasuki lokasi tempat makan malamnya. Rakasiwi memarkir kenderaannya lantas ia mengajak Prita ke sebuah tempat di tepi pantai.
"Foto dulu yuk, pemandangannya sih dah gelap, tapi tenang saja, nanti di edit jadi terang he he he."
"Oh gitu ya."
"Iya, jaman sekarang sih hal seperti itu mudah say."
Sambil berbincang keduanya sampai juga ke tempat yang Rakasiwi maksudkan. Prita melihat tempat itu, yang memang dibuat untuk berswafoto.
__ADS_1
Rakasiwi menarik tangan gadis itu ke tempat spot yang cantik untuk foto romantis. Seseorang yang memang bertugas di sana membedikkan beberapa foto. Mas petugas itu tidak hanya membuat foto, tetapi juga mengatur posisi Rakasiwi dan Prita. Sehingga menjadi pose-pose yang alami dan romantis.
Setelah selesai ia memperlihatkannya pada Rakasiwi foto-foto tersebut. Pria muda itu mengangguk dan tersenyum.
"Ok, bagus."
Selanjutnya Rakasiwi mengajak Prita menuju restoran yang berada di lantai sembilan. Tak sabar rasanya mengajak gadisnya ke tempat yang telah ia booking dua hari yang lalu. Beberapa langkah lagi Rakasiwi menahan Prita.
"Tutup matanya sebentar dong."
Rakasiwi meminta agar gadis di sebelahnya menutup mata. Dan ia menuntun Prita memasuki ruangan yang sudah di desain khusus untuk dinner romantis antara Rakasiwi dan Prita Pujaningrum.
Gadis itu menurut, ia memejamkan mata. Ia dengan sabar menunggu kejutan apa yang akan Rakasiwi berikan.
"Ok, buka pelan-pelan matanya."
Rakasiwi berbisik di dekat telinga Prita. Gadis itu pelan-pelan membuka matanya, ia membesarkan matanya, dan menutup mulutnya yang terbuka oleh rasa takjub.
"Oh, so sweet. Indah sekali tempat ini Ka, ya ampun."
Prita tercekat oleh pemandangan di depannya. Seluruh ruangan terhampar bunga mawar merah yang segar. Raka sengaja memesan bunga mawar merah segar banyak sekali. Memperlihatkan cintanya sebanyak dan semerah mawar itu pada Prita. Tetapi ia ingat bahwa Prita suka sekali dengan warna kuning kecoklatan, Ia melihat barang-barang Prita, mulai dari baju-baju, tas, sepatu dan kerudungnya banyak sekali yang berwarna keemasan begitu.
Maka desain sekitar meja makan mereka berwarna gold mewah. View laut dan sebagian lampu-lampu serta gedung kota Jakarta tampak di balik kaca. Sangat indah dan menakjubkan.
"Ayo duduk."
Rakasiwi menarikkan kursi dan menunggu gadis itu duduk di tempatnya. Barulah ia juga menghenyakkan tubuhnya di depan Prita.
Koki mengantarkan sop buntut dalam mangkok besar. Ia juga membawa dua mangkok kecil dan menghidangkannya untuk keduanya.
"Itu kesukaanmu, sop hangat coba cicipi yuk."
Rakasiwi menyeruput kuah sop yang rasanya membuatnya terkesima. Enak dan pas sekali bumbunya. Prita melakukan hal yang sama dan menyukai makanan pembuka itu. Mereka berdua menikmati dan meresapi betapa rasa makanan itu memang membuat tak bisa berhenti.
Ketika sedang asyik menyuap dan melahap potongan daging ikan beserta potongan sayur, tiba-tiba muncul dua orang yang bermain musik di dekat mereka. Rakasiwi dan Prita saling pandang disertai senyum. Diantara dentingan gitar tersebut mengalir syair-syair indah yang diucapkan salah satu diantara mereka.
Bertemu dengan kamu bukan sesuatu yang aku rencanakan
Melainkan bertemu dengan kamu adalah takdir dari maha kuasa
Jatuh cinta kepadamu tidak aku rencanakan
Dan aku tidak memilih dengan siapa aku jatuh cinta
Melainkan jatuh cinta kepada kamu adalah anugerah dari sang
pemilik Cinta.
Malam ini adalah keindahan tak terkira
Berdua denganmu menghabiskan malam
__ADS_1
Tak bisa mengungkapkan ribuan kata di dalam hatiku
Sebab kamu sangat istimewa bagi hatiku. Tetapi ribuan kata itu
menjelma menjadi satu untuk ribuan kata
Aku mencintaimu kamu.
Saat malam menjelang
Jantungku berdegup kencang
Demikian sulit menerjemahkan isi pikiranku
Bahwa semua adalah tentang kamu
Tentang cinta
Cintaku kepada kamu.
Rakasiwi yang akhirnya mengatakankannya, bukan lagi si pemain gitar dan temannya. Rakasiwi meraih gitar dan memetiknya, lalu mengucapakan cinta yang mendalam, Prita terhanyut oleh keromantisan yang diciptakan oleh pria tampan dan manis itu.
"Oh So sweet, aku juga jatuh cinta yang pertama dan terakhri kepada kamu Rakasiwi, kamu calon imamku
pembelaku, pelindungku yang membawaku ke surga..."
Prita mendekat dan meraih jemari Rakasiwi. Keduanya saling bertatatapan, namun Prita lebih dulu menundukkan wajahnya. Matanya tergenang oleh air mata kebahagiaan.
"Aku mencintaimu juga sangat banyak."
Bisik Prita hampir tak terdengar. Kedua pria yang tadi sudah meninggalkan mereka saat Rakasiwi mengambil gitar dan mengucapkan syair-syair miliknya sendiri. Rakasiwi mendekatkan dirinya menggenggam jemari Prita.
"Seribu kali I love you Prita."
Prita tersenyum, "Seribu kali I love you too Rakasiwi."
Cups.
Sebuah kecupan di kening Prita mendarat. Gadis itu tercekat, tubuhnya seperti tersetrum. Untungnya Rakasiwi
lantas menarik dirinya dan mengajak Prita meneruskan acara makan malam mereka. Di luar sudah gelap dan hanya bintang-bintang yang redup di langit dan juga menampakkan bayangannya di laut. Malam yang indah sekali.
Bersambung.
Tara!!! Sudah Episode 225 nih. Othor mengucapkan banyak terima kasih atas dukungannya. Tetap jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote n bintang lima. Othor sangat berterima kasih sekali.
__ADS_1