
Malam itu Richi sangat gelisah. Wajah cantik Laura terbayang-bayang terus. Saat dia membuka kemejanya, ada mata yang berbulu lentik milik Laura. Saat melepas celananya, ada bibir merah muda yang tersenyum. Ketika ia menyambar handuk untuk menutupi bagian perut kebawah, ada lirikkan jenaka gadis itu. Semua tempat ada Laura. Bahkan di balik pintu. Di mana-mana wajah dan mimik gadis itu, suara manja dan desah lembutnya.
Ia benar-benar mengalami apa yang disebut 'Di dadaku
ada kamu'
'Di dha dha ku adha cenyummu, adha cintamu, adha hasratmu ada kumismu, ada kupingmu di dalam dadaku ada kamu
Di hatiku kusimpan wajahmu tersimpan marahmu dan juga tangismu...semakin ku tunggu semakin menggebu ingin kumiliki semua yang ada di dirimu.
Oh kekasihku bimbinglah aku menuju cinta yang bahagia, peluklah diriku hadirkan cinta berjuta hasratmu hasratku
Di dha dha ku ada cenyummu, ada chintamu, ada hasratmu, ada kumisku ada kupingmu
di dalam dadaku ada kamu
Semakin ku tunggu semakin menggebu ingin kumiliki semua yang ada di dirimu.'
Richie dulu pernah mengalami hal seperti ini. Ketika itu gadis yang selalu ia ingat adalah Mardo, tapi sekarang Mardo perlahan sirna dari pikirannya, dan kini dipenuhi oleh wajah cantik Laura.
Tak bisa menahan keinginan untuk melihat wajah Laura. Ia lantas beranjak keluar dari kamarnya. Kebetulan Papi dan Mami akan makan malam. Papi menyuruhnya turun ke restoran.
Siapa yang menyangka sedang memikirkan Laura tiba-tiba gadis itu ada di depan mata. Namanya pucuk dicinta ulam tiba.
Saat menunggu di depan lift tiba-tiba muncul Laura dan keluarganya. Gadis itu memanggilnya terlebih dahulu. "Hello Richi, kamu akan ke bawah? kami juga.
ingin dinner."
"Oh, Iya benar saya juga akan dinner dengan Papi dan Mami. Mmm bagaimana kalau uncle and auntie dinner bersama kami?
Papi dan Mami sudah menunggu di restoran."
"Wauuu! undangan dinner, hemmm, gimana?"
Pria bule ayah Laura tersenyum lebar. Memandangi istri dan anak-anaknya, menyerahkan persoalan itu pada mereka.
__ADS_1
Ada sedikit tidak enak pada kebaikkan Richi dan keluarganya.
Sampai lift terbuka dan mereka semua masuk ke dalamnya. Richi langsung menekan tombol lantai satu tempat restoran dan lobby.
"Sebenarnya tante pernah ke kota Merauke ini. Tapi waktu itu tante masih kecil sekali, kira-kira umur lima atau enam tahun. Tante sudah lupa, kemana saja dan di mana waktu itu."
"Oh, Auntie pernah ke Merauke!"
"Hemmm, kapal laut yang tante tumpangi singgah selama tiga hari, jadi kami berjalan-jalan setiap hari, dan saat sore kembali ke kapal."
Mereka keluar dari lift, wajah semuanya ceria mendengarkan cerita Yola, yakni mami Laura. Richi memandu tamu-tamu hotel tersebut menuju restoran.
Di sana Papi dan Mami sudah menunggu. Mami melamba-lambai kepada Richie dan agak surprise karena Richi bersama keluarga Laura.
Hello!!!
"Kami bertemu dengan Richie di depan lift dan akhirnya sama-sama turun ke sini untuk makan malam."
Yola menyapa pak Bramantyo dan ibu.
"Ohh, tetapi aku, suamiku dan anak-anak menjadi tidak enak. Kalian sudah banyak membantu, kami tak mau merepotkan loh."
"No, tidak ada yang direpotkan, kami senang sekali memiliki teman, ayo
Laura dan Gerry, kalian cantik dan ganteng sekali, senang melihat kalian, ayo pesan makanannya cantik dan ganteng."
Oleh sikap bersahabat serta ramah yang tulus akhirnya keluarga Taylor bersedia memenuhi undangan makan malam itu.
Bramantyo memberitahu bahwa kalau ke Merauke haruslah merasakan olahan daging rusa karena kota Merauke terkenal atau disebut juga dengan kota Rusa. Kalau tidak menikmati daging rusa namanya tidak ke Merauke dan dijawab oleh keluarga Taylor dengan menganggukkan kepala dan ber oh! oh!
Ben, sedikit terbengong ia tidak tau hewan apa itu rusa, ia berbisik ke telinga istrinya, apa itu rusa? Yola tersenyum dan menatap pada Bramantyo, rusa itu semacam kambing namun lebih kecil. Hidup di hutan.
Apakah rasanya enak?
Ben bertanya lagi.
__ADS_1
"I-ya enak sekali, seperti daging sapi."
"Aduh Daddy cerewet sekali deh, nanti tunggu saja daging rusanya datang terus Papi cicipi enak atau tidak!"
Laura membuat pria bule Daddynya menutup mulut. Dan mereka semua tertawa oleh sikap yang lucu dari Ben, Laura, dan Gerry.
Dalam waktu yang tidak lama. Makanan berdatangan dan diletakkan diatas meja diantaranya ada makanan yang diolah dari daging rusa.
Richi sering sekali menatap pada Laura, gadis itu benar-benar mengalihkan semua dunianya. Dia kadang pemalu, tak lama menjadi pemarah dan penengah. Ia terlihat sering menegur kakak laki- lakinya yang agak bandel serta usil. Juga tak segan segan menegur Dadnya mengomeli sebab sikap Dad yang naif. Sebel oleh tidaktahuan Dedi yang baginya itu memalukan.
Dan laki-laki bule tersebut justru senang mengganggu anak perempuannya itu. Ia sengaja membuatnya mengomel, dan kemudian dia akan tertawa kesenangan hingga nanti anak perempuannya datang dan memukuli punggungnya dan ia akan berteriak, "Hore dapat pijat gratis pijat gratis ha ha ha.
Pak Bramantyo senang sekali melihat Laura dan ayahnya. Dia pernah merindukan anak perempuan, tetapi dia dianugerahi dua anak laki-laki sehingga melihat kedekatan Laura dan ayahnya, keinginan itu kembali muncul. Ia merasa sedikit cemburu dengan kebahagiaan Ben dan putrinya.
sementara anak laki-laki Ben dan Yola juga memiliki kedekatan dengan mommynya. Gerry sering merajuk dan menarik-narik rok atau lengan Mommy untuk mendapatkan keinginannya.
Usai makan malam para orang tua agaknya masih senang bercengkerama sementara Laura dan Gerry sudah mulai bosan. Richie melihat hal itu ia kemudian menawari untuk berjalan-jalan ke mall yang ada disebelah hotel.
"Oh, mall? ayolah dari pada ikut berbincang-bincang dengan orang tua, nanti ikutan tua."
"Yeah, kamu benar saudara perempuanku, lebih baik mencuci mata," Sambar Gerry, sembari keluar dari bangkunya.
Richi, teringat masa ia bersama sahabat-sahabatnya. Ada yang marah saat ia ke mall bersama Halima Haremba dan Sarah Lee. Richi tersenyum, 'Kalian semua di mana sekarang? menghilang seperti tertelan bumi. Aku sekarang di sini di hotel yang sama seperti delapan tahun yang lalu. Aku merindukan kalian dan aku sekarang mengenang kebersamaan kita dahulu. Saat ini aku bersama seorang gadis dan saudara laki-lakinya. Kami dipertemukan di saat dan waktu yang tepat. Di kota ini.'
"Richi,"
Laura membuyarkan lamunannya.
"Di sini! "
Mata yang indah itu melihat sebuah pintu kaca yang besar ia melihat ke dalam dan tahu bahwa itu adalah mall yang dimaksud.
"Oh sorry, iya itu pintu masuk ke mall. Saya melamun barusan he he he."
"Uh, melamunkan pacar ya?"
__ADS_1
Richi menolehi wajah cantik yang tersenyum padanya, mereka bertatapan.Jantung Richi berdebar. Uch..