Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 169. Cinta Terkembang


__ADS_3

Prita dan Rakasiwi meninggalkan gedung tempat pernikahan. Mereka sudah berjanji akan pulang ke kota tempat mereka menuntut ilmu secepatnya. Rakasiwi bersikeras mengantar Prita terlebih dahulu ke Semarang baru lanjut ke Yogyakarta.


Sebelumnya Rakasiwi memberanikan diri membawa Prita ke rumah. Memang sebelumnya Prita sudah tidak asing lagi di rumah itu, sebab Prita dulu adalah guru les Tria dan Dode. Tetapi berikutnya Rakasiwi ingin memberitahu kepada ayah dan bundanya bahwa ia dan Prita saat ini memiliki hubungan yang khusus.


Kebetulan ayah Raka dan Bunda Mardo ada di rumah. Sedang bercengkrama dengan Cindy, Tria, dan Dode. Ketika Prita dan Rakasiwi muncul dihadapan mereka, sedikit tercekat. Prita cantik sekali mengenakan gaun pesta. Berbeda sekali dengan sosoknya selama ini yang mengenakan jeans dan kemeja.


Semua terpesona dan sangat senang oleh kebersamaan Prita dan Rakasiwi. Kata Rakasiwi mereka baru saja menghadiri undangan pernikahan seorang teman. Lantas pulangnya mampir kesini, dia bilang Priti kangen dengan Tria dan Dode.


Cindy memandangi kakaknya itu dengan senyum simpul. Ia bisa melihat kalau Rakasiwi dan Prita


saling jatuh cinta. Ia berjalan menghampiri Prita dan menarik gadis itu ke ruang keluarga. Tria dan


Dode juga berlari memeluk pinggang gadis itu.


"Kak Prita!!!"


"Dikira tadi bukan kakak Prita, ternyata kakak, wah! senangnya."


"Ayah, Bunda, kak Rakasiwi sudah memiliki pacar, ini orangnya."


Rakasiwi mengarut-garut kepala yang tak gatal, apaan sih Bikin malu aja, tapi tak urung ia merasa senang sebab, Cindy sedikit menolongnya.


Prita menyalami Mardo dan Raka, "Benar nih Prita? kalian sudah pacaran?"


Mardo membesarkan matanya. Bibirnya tersenyum, sejak semula ia sangat menyukai gadis itu. Teryata doanya terkabul, Rakasiwi juga menyukai gadis cantik, lembut namun bisa naik motor gede.


"Kalau begitu, kita merayakan hari jadian kalian ya, makan-makan, kebetulan bunda masak banyak nih."


"Maaf bunda, bukannya menolak, Prita harus pulang nanti sore, karena


seninnya ada ujian, hanya mampir sebentar, lain waktu Prita ke sini lagi


ya Bun, ayah."


Prita mohon maaf yang sedalam-dalamnya, sebab hanya mampir sebentar saja. Ia menaro kedua jemarinya di dada, pertanda menyesal tak bisa lama di antara keluarga yang hangat itu.


Prita lantas pamit diantar Rakasiwi, Mardo dan Raka saling pandang, kenapa Prita terburu-buru sekali, keduanya tak mengerti.


"Ayah, Bunda, Rakasiwi juga pulang malam ini. Ada kelas hari senin."


Orang tua Rakasiwi terpaksa mengijinkan anaknya pergi. Mereka semua mengantar pasangan itu hingga ke depan.


"Maaf ya ayah, bunda."


Rakasiwi memeluk ayahnya dan ibunya juga. Rasanya waktu selalu berjalan cepat sekali, sejak anaknya itu besar. Jarang sekali mereka


berkumpul dan bercengkrama.


Sementara Prita juga sudah pamit pada ibunya. Ia hanya tinggal mengganti gaunnya dengan pakaian yang simpel. Mengambil tasnya dan berangkat.


Gadis itu sudah bilang kepada Rakasiwi bahwa ia tidak perlu mengantarnya itu hanya akan merepotkan laki-laki itu. Bahkan membuatnya lelah. Tetapi Rakasiwi tetap memaksa akan mengantarkan Prita hingga ke tempat kosnya. Barulah ia berangkat ke kota


tempat ia menetap untuk study.

__ADS_1


Lepas magrib keduanya telah berada di atas kereta. Hujan rintik-rintik sejak mereka memasuki stasiun. Beberapa saat Prita telah mengantuk oleh suasana yang tenang dan dingin. Ia memegang lengan Rakasiwi dan seperti gadis kecil bersandar di lengan ibunya. Nyaman sekali.


Sesekali Rakasiwi menoleh pada Prita yang tertidur lelap.  Berdegup dadanya, gadis ini seolah memasrahkan


keamanan dirinya pada Rakasiwi. Laki-laki itu lantas melepaskan lengannya dan memberanikan diri


memeluk pundak gadis itu dengan tangannya. Rakasiwi juga mengantuk dan perlahan jatuh ke tidur yang


lelap.


***


Yunna baru saja keluar dari kamar mandi setelah membukai baju pengantin yang membuatnya pegal.


Ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Sekarang ia telah tinggal bersama


suaminya. Sekarang ia sendirian. Tidak bersama sahabat, keluarga. Ada perasaan cemas, serta ketakutan


menghadapi kehidupan yang baru.


Gadis itu menyisir rambutnya yang sebahu dan tadi lengket oleh hairspray untuk menata rambutnya.


Sekarang ia mengenakan gaun tidur berwarna hitam yang kontras dengan kulitnya yang langsat, terasa


lembut di kulitnya. Hingga ia menyadari suaminya Jaelani belum juga masuk ke kamar tidur mereka.


Yunna menggigit bibirnya, apa yang akan terjadi?  dia tak bisa membayangkan saat mendebarkan itu.


Ia merasa cemas, takut sekaligus penasaran. Bagaimanakah rasa malam pertama itu? indah seperti


Beberapa saat Yunna menunggu Jaelani, tapi hingga kantuk datang laki-laki yang ditunggu belum


muncul. Perempuan itu melirik tempat tidur yang sudah memanggil-manggil. Matanya sudah


beberapa kali menutup, tak tertahankan lagi. Apa kah salah, jika ia lebih dahulu tidur dari suaminya?


Tapi ini sudah tengah malam. Kenapa laki-laki itu belum juga masuk. Apa teman-teman bisnisnya


tidak tau ini adalah malam pertama Jae. Kenapa tamu-tamu itu belum juga pulang?


Lelah dan mengantuk akhirnya membuat Yunna bergerak ke atas tempat tidur dan akhirnya


ia membaringkan tubuhnya di pembaringan yang lembut dan nyaman. Sekejap saja Yunna


sudah terlelap. Napasnya menghembus dengan teratur.


 


Sementara ayah Jae, masih bersama tamu-tamu teman dekatnya. Mereka ada yang baru


datang dikarenakan kesibukkan. Pertemuan sesama sahabat yang jarang terjadi sehingga


kesempatan itu mereka gunakan untuk mengobrol dan bercengkrama. Ayah Jae menemani

__ADS_1


teman-temannya menikmati makanan yang disediakan serta memesan minuman. Sedikit


bercanda serta menggoda mempelai pria yakni Ayah Jae.


"Ini malam pertama loh, kita jangan lama-lama di sini, wanitanya sudah menunggu."


Salah satu temannya mengerling dan menatapi yang lain sembari tersenyum jahil.


"Ah, malam pertama apa? ha ha ha!"


Mereka sama-sama tertawa, saling mengetahui kartu masing-masing. Tahun-tahun yang


mereka lewati tentu saja dengan gadis-gadis cantik setiap malam. Bisnis mereka melibatkan


gadis-gadis muda yang menarik dan menggoda hidung belang. Dan biasanya sebelum


bekerja di rumah hiburan, mereka bos-bos lebih dahulu mencicipi kemudaan serta keranuman


gadis-gadis tersebut.


Ayah Jae tentu saja tak buru-buru dan tak terlalu perduli dengan malam pertama, ia sudah


melakukannya puluhan tahun yang lalu. Bertemu teman-teman bisnis yang sehati jauh


lebih menyenangkan dan membahagiakan. Sedikit minum-minum dan mabuk mengakhri


malam bersama teman-temannya.


"Jae, pelan-pelan saja! istrimu itu masih perawan tulen ha ha ha!"


Mereka semua tertawa terkekeh lalu melambaikan tangan sebagai tanda berpisah malam


itu. Jaelani hanya mesem. Mereka semua memang sudah memiliki keluarga dan juga


anak-anak. Sekarang gilirannya.


Jaelani menatapi teman-temannya yang berjalan menuju keluar, setelah mereka tak tampak


lagi barulah ia beranjak untuk ke kamarnya. Ia menyusuri koridor, setelah sebelumnya  keluar


dari  lift. Merogoh kantongnya mengambil kartu untuk membuka kamar.  Ia dan Yunna memiliki


kartu kamar tersebut.


Laki-laki itu melihat tubuh Yunna yang tergolek di tempat tidur. Ia mengacuhkannya dengan


berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Bibirnya tersenyum, pengaruh alkohol


masih menguasainya. Ia teringat pada tubuh Yunna yang terbaring di tempat tidur. Ia mempercepat


pekerjaannya.


 

__ADS_1


 


Bersambung


__ADS_2