
Raka mengetuk pintu, Sarah Lee membukakan untuk Raka. Mereka melihat Mardo yang tertidur nyenyak.
Sangat nyenyak sehingga ia tak terbangun oleh apa pun. Panggilan namanya oleh Raka dan Sarah Lee juga tak tersahuti. Ia seperti pingsan. Tapi kata dokter ia hanya tertidur untuk memulihkan perasaan trauma yang mencekam jiwanya.
"Sarah Lee, kalau kau mau istirahat sebentar silahkan, biar aku menungguinya."
Sarah Lee, tersenyum. Ia memang ingin mandi sebentar dan mengganti bajunya.
"I-iya kak, badanku lengket, aku ke kamarku dulu, nitip nona Mardo."
"Cepatlah, aku takut dia terbangun dan menjadi trauma melihatku di kamarnya.".
Sarah Lee, tak menjawab lagi, ia segera keluar dan pergi ke kamarnya.
Raka menghidupkan tivi dan menonton, pikirannya menerawang. Apakah ia memberitahu Mangara kakak gadis ini atau menunggu? ia tak bisa menjawab pertanyaannya sendiri. Menurut dokter Mardo akan bangun. Apakah trauma seperti itu? Mardo tadi membisu lantas tubuhnya melemas tak bertenaga. Penyakit yang aneh.
Raka menghampiri tempat tidur tempat Mardo terbaring dan terlelap.
Ia menatap wajah gadis itu, ada keringat di dahinya. Bibirnya terbuka sedikit, dan napasnya terdengar
halus, teratur keluar dan masuk. Ia juga melihat botol minyak kayu putih tergeletak di dekat bantal. Raka
mengambil botol minyak kayu putih itu, ia membuka dan ingin mencium baunya.
Ia juga menuangkan sedikit ke tangan. Menggosok-gosok hingga wangi kayu putih menyebar.
Raka mengambil jemari Mardo dan mengosok-gosoknya dengan lembut. Ia menggenggam dan menyentuh jemari tersebut. Jemari yang lentuk dan lentik. Ia memborehi dengan kayu putih berharap Mardo bangun.,
'Hacisss!'
Raka terkejut saat tubuh yang tadi tergolek diam itu bersin dan bergerak.
Mardo membuka matanya, dan melihat Raka yang sangat dekat.
"Aaaaaaaaa!"
Mardo menjerit sekuat tenaganya.
Raka kelabakkan, ia mau mendekap mulut gadis itu tapi justru takut membuatnya lebih trauma. Yang ia takutkan terjadi. Kenapa Sarah Lee belum datang.
"Do, jangan takut. Kak Raka hanya menjagamu saja."
Aaaaaaaaaa!
Mardo mengulangi jeritannya.
"Kamu pingsan Do, kak Raka hanya menjagamu, suer Do."
Aaaaaaaaa!
"Ok, baiklah, kak Raka keluar!"
Raka melihat gadis itu akan menjerit lagi, ia bergegas keluar dan memanggil-manggil Sarah Lee.
Tapi Gadis itu tak juga muncul. Richi dan teman-temannya juga belum kelihatan. Raka panik, ia ingin masuk untuk melihat apakah Mardo baik-baik saja.
"Kak Raka! kenapa?"
Sara Lee muncul di pintu dengan handuk di kepala. Ia sudah memakai baju yang baru.
"Cepat! dia sudah bangun!"
"Dia menjerit melihatku."
Raka menceritakan dengan cepat.
__ADS_1
Segera Sarah Lee ke kamar Mardo. Ia melihat gadis itu duduk di atas tempat tidurnya.
"Do, kau sudah bangun?
Mardo menoleh dan menatap Sarah Lee.
"Kenapa kak Raka tadi di kamarku Lee? dia di samping tempat tidurku."
Mardo agak sengit dan marah.
Sarah Lee menghampiri dan tersenyum manis, "Untunglah kau bangun Do, aku senang sekali."
"Kau tak menjawab pertanyaanku, kenapa kak Raka di kamarku?"
"Tenang ya Do, rileks, tarik napas dan lepaskan. Tarik lagi dan lepaskan."
Sarah Lee terlebih dulu menenangkan sahabatnya, lantas menceritakan kejadian demi kejadian.
Mardo mengerut-ngerutkan keningnya. Ia merasa heran, karena ia merasa tidak mengalami seperti yang diceritakan oleh Sarah Lee.
"Ja-Jadi aku pingsan ketika di pantai itu? dan kita bertiga pulang lebih dahulu?"
"Itu yang terjadi Do, Kak Raka yang membawamu pulang,"
Mardo terdiam, ia lantas turun dari tempat tidur. Ia bilang Sarah Lee bisa kembali ke kamarnya. Tak perlu mengkhawatirkan dirinya. Ia sudah merasa baik dan kuat.
Semula Sarah Lee meragukannya, namun Mardo turun dari tempat tidur dan mendorongnya keluar.
"Aku mau mandi, kemudian makan malam, aku lapar sekali, bisakah kau membelikannya untukku?"
"Baiklah, pergi mandi dan mengganti baju. Aku akan mencari makan malam hemmm.:"
Sarah lee segera keluar dari kamar gadis itu.
"Hei, Sarah Lee apa dia baik-baik saja?"
"Dia minta dibelikan makan malam, aku akan ke bawah kak."
Sarah Lee tersenyum lepas betapa dia sangat bahagia.
"Biar aku belikan buat kalian, tunggu saja di sini."
Sarah Lee, ingin membantah tapi Raka menaro jarinya sendiri dimulut, pertanda diam.
"Ok, aku hanya merasa tak enak, merepoti kak Raka."
Sarah Lee bergumam sembari melihat tubuh kak Raka yang menjauh.
"Sayang, aku sedikit pun nggak naksir padamu kak Raka. Aku merindukan pria bule yang putih kemerahan kulitnya dan tampan, ia pasti datang dalam kehidupanku."
Sarah Lee tersenyum, ia masuk ke kamarnya untuk menyisir rambutnya.
Sesaat teringat Halima Haremba, ia pasti kesepian tanpa dia, heh! Halima selama ini sangat tergantung padanya. Ia tadi juga ingin ikut, Tapi Kak Raka bilang hanya Sarah Lee saja. Kelihatan wajah Halima yang kecewa.
"Di mana Halima Haremba, kenapa belum sampai?"
Ternyata kenderaan mereka mogok di tengah-tengah pantai. Bannya tiba-tiba kempes.
Terpaksa mereka menikmati suasana malam hari di Pantai. Lumayan indah karena bintang-bintang
di langit bermunculan. Memberi penerangan alami. Gadis-gadis kembali menyentuh air laut.
Anak laki laki membantu Mas Arif mengganti ban.
Rupanya mereka telah sampai di pantai Lampu Satu. Terlihat bangunan tinggi yang bercahaya. Itu adalah mercusuar yang hanya ada di pantai Lampu satu. Gadis-gadis berjalan mendekati bangunan itu. Ada susunan batu yang menjorok ke tengah laut juga.
"Sayang sekali, kita melewatkan sunset di sini. Kalian tahu, pemandangan sunset di atas laut Arafura sangat menakjubkan, unik dan berbeda dengan pantai lainnya. Penyebabnya karena saat sunset air laut arafura itu surut hingga mencapai dua kilometer, sehingga efek dari pantulan pasir itu memancarkan cahayanya, di situ unik, cantik dan juga keajaibannya yang hanya ada di di laut Arafura."
__ADS_1
"Hah! torang tau dari mana Zamzam?"
Semua terperangah oleh ulasan Zamzam.
"Dikasih tau sama Mas Irawan dong."
Zamzam senyum sumringah. Membuat yang lain gemes.
"Wah, dia sudah punya kekasih di kelas tiga esempe, ruar biasa."
Betty menggeleng gelengkan kepala, kagum sekaligus mengejek.
"Jangan jealous ya."
Zamzam mengedipkan mata.
"Mau kawin usia dini ya Zam?."
"Iya, memang kenapa?kawin usia dini enak."
Semua menyoraki dan mengejar Zamzam yang berlarian di pantai.
Tak terduga ternyata banyak pengunjung berdatangan hanya untuk berjalan-jalan di pantai.
Beberapa motor yang beriringan muncul di ujung pantai pintu masuk. Mereka ada yang berboncengan.
Ramai sekali. Agaknya sebuah kumpulan yang akan makan malam di bawah remang bintang-bintang serta hembusan angin pantai.
Orang-orang itu mencari tempat tempat yang strategis serta nyaman.
Langit berwarna jingga kemerahan. Laut dan langit terlihat seperti bersatu. Katanya karena posisi matahari benar benar turun di garis horizontal.Jadi kelihatan sangat dekat. Posisi daerah Merauke yang datar juga menjadi salah satu yang membuat sunset terlihat jelas saat senja.
Akhirnya puluhan motor tersebut mendapatkan tempat, ada lampu di dekat itu.
Tikar-tikar di bentangkan, dan makanan di taro di tengah. Suara-suara mereka dan bercandaan terdengar hingga jauh.
Perlahan dan pasti matahari bergerak pelan seperti tenggelam ke dalam laut Arafura. Semua berdebar menyaksikan ke indahan dan kecantikkannya. Berlangsung hanya beberapa menit namun sangat memuaskan karena kedekatan dan kejelasannya yang sangat indah.Subhanallah!!! terdengar gumam pengunjung mengagumi ciptaan Allah yang tiada tara.
Itulah suasana sunset yang sempat terekam, dan dikirimkan ke Zamzam oleh mas Irawan yang seringkali
datang ke pantai itu.
Gadis-gadis tak terlalu memperhatikan Zam-zam, karena sekarang teralihkan pada pengunjung pantai yang baru datang, ada bau yang enak, oh! mereka membuat ikan bakar. Semua menelan ludah, sedap sekali baunya. Mereka belum lagi makan malam.
Sedangkan waktu bergerak terus, gadis gadis berjalan ke dekat bis, alhamdulillah. Wiliam sedang menyimpan ban yang kempes.
Kata Richi mereka langsung pulang ke hotel untuk istirahat. Makan malam diantar ke kamar masing masing.
Oh, terima kasih ya Richi yang baik hati, tampan, kaya raya dan tidak sombong.
Begitu kata hati cewe cewe.
Yang Richi dengar sih hanya terima kasihnya he he he.
Sepanjang jalan setelah melewati hutan, kemudian pemukiman nelayan. Ternyata sepanjang jalan banyak sekali yang berjualan makanan. Juga souvenir. Para nelayan membuat pasar malam untuk uang tambahan. Segala sesuatu dari laut mereka jual di sepanjang jalan keluar dan masuk menuju Pantai.
Mereka memilih pulang, lain kali mereka bisa ke tempat itu untuk membeli souvenir dan cindera mata.
Tubuh sudah lelah dan mata mengantuk. Mereka juga memikirkan Mardo.
Terima kasih sudah mampir
Bersambung
__ADS_1