
Sore berganti malam. Suasana kota gelap karena sedang ada perbaikan listrik. Para penduduk
menyalakan obor di halaman masing-masing. Sehingga kota menjadi remang-remang. Meski listrik mati
sejak satu minggu yang lalu keadaan kota tersebut tetap ramai dan riuh. Apa lagi malam minggu
seperti saat ini. Muda-mudi saling mengunjungi. Suara motor anak-anak muda terdengar mondar-mandir
di depan rumah.
Gadis-gadis yang akan ke pesta sejak sore sudah bersiap-siap. Baju yang akan digunakan malam
itu sudah dikeluarkan dan dicoba. Terutama kakak sepupu, ini merupakan pertemuan pertama
dengan pemuda yang bertemu di sungai. Jangan sampai pertemuan itu tidak berlanjut karena
buruknya penampilan. Kak Kana sudah berusia tiga puluh tahun, Tania dua puluh sembilan, begitu juga
Sumirah, Rama-rama,dan Siti. Mereka sedang menantikan jodoh. Sangat berharap salah satu atau
mereka semua menemukan jodohnya. Malam itu mereka semua tampil beda. Gaun yang mereka
pakai melekat di tubuh yang indah. Rambut di bentuk sanggul, ada yang diurai hanya diberi jepit
pemanis. Gadis-gadis itu keren dan cantik.
Sementara Riza sudah berada di rumah sejak sore. Ia sudah memeriksa mobil, dan
membersihkannya. Menyemprotkan pewangi ke sudut. Pokoknya mobil keluarga itu
sudah bersih dan wangi.
"Khairani!, jam berapa kalian berangkat? ini sudah malam!"
Ayah mengingatkan anaknya dan gadis-gadis supaya segera pergi, agar pulangnya
tidak terlalu malam. Selain itu rupanya ayah juga ingin berduaan dengan Inang. Sudah
seminggu ayah tidak mengeluarkan sesuatu dalam dirinya. Sejak sore ayah sudah
memberikan kode pada Inang supaya bersiap. Membuat Inang sebel, senang betul.
Ayah juga berbisik-bisik dengan Riza, agar mengawasi Khairani dan Yulia. Jangan sampai
kedua anaknya itu berdekatan dengan laki-laki. Juga Mardo karena gadis itu
asing dan tidak tau tentang tempat itu.
Siap Pak Ci!
Sahut Riza, bersemangat.
Hingga gadis-gadis keluar menuju ke mobil. Mardo mengenakan dress abu-abu yang sederhana
namun tetap terlihat mewah dan cantik. Lengan baju yang agak lebar di bawahnya
memperlihatkan lengannya yang bulat halus dengan hiasan gelang mutiara dan jam. Mardo
memilih duduk di depan, bersama Yulia. Di jok belakang gadis-gadis bisa bertiga. Memang
sebuah mobil keluarga. Memuat banyak penumpang.
"Jangan pulang malam-malam!"
Iya, ayah, Nantulang, pak Cik.
Mereka semua membalas laki-laki itu. Hanya dimulut saja, sebenarnya mereka baru akan
pulang jika telah puas bertemu kekasih masing-masing. Bahkan Yulia tersenyum-senyum
karena jauh-jauh hari telah janjian dengan Thoni kekasihnya. Yulia meremas-remas
jemarinya, harap-harap cemas.
Bukan hanya Yulia yang harap-harap cemas, tetapi gadis-gadis sepupu juga. Sehingga
Riza menggoda mereka.
__ADS_1
"Alah, mobil mogok kak, bagaimana ini?"
Riza berpura-pura membuat mobill terguncang-guncang.
Betapa panik dan terkejutnya gadis-gadis, mereka menjerit dan hesteris.
"Riza! Riza! kamu jangan bikin kita semua panik, kamu sudah periksa sebelumnya
kamu sudah tune up, mana mungkin!."
"Sebentar kak, kuperiksa dulu."
Riza keluar dan membuka kap mobil, ia mengotak-atik sesuatu.
"Mesti di dorong ini kak, kurasa akinya lemah."
Gadis-gadis itu saling menatap, tak percaya. Semua keberatan turun untuk
mendorong, mereka sudah memakai gaun dan dress yang terbagus, sudah memakai
kosmetik serta lipstick.
"Cari orang saja yang mendorong, masa perempuan mendorong mobil!"
Mardo memecahkan suasana heboh itu.
"Ta-tapi tak ada orang kak."
Riza menahan geli, dan terus berpura-pura sibuk.
Pada saat itulah, Azhar muncul bersama Donny. Cahaya mobil mereka menerpa
mobil yang tengah mogok.
"Bukannya itu mobil Khairani? sepertinya ada masalah."
Azhar membuka pintu dan menyongsong kekasihnya Khairani.
"Khairani kenapa? mogok ya? pindah ke mobil kami saja."
Semua berpaling dan berteriak hesteris kesenangan, Azhar!
juga hidup.
"Kak, mau kemana kalian, mobilnya sudah hidup."
Ach! bagaimana ini?
Khairani membagi penumpang, kakak sepupu yang telah turun ikut dia naik mobil
bersama Azhar. Sedangkan Mardo dan yang lain tetap di mobil bersama Riza.
Khairani mengajak Mardo ikut dengannya, tapi Yulia menahan tangannya.
"Kami di sini saja,"
Terpaksa Khairani membiarkannya, dan menanyakan Riza apa benar sudah
tidak bakal mogok lagi?
Riza menjawab, ia yakin tidak akan mogok lagi. Ia saling pandang dengan Khairani.
"Ok, kami di belakang. Kita sama-saman ke sana."
"Kakak-kakak, aku bersama Azhar ya."
"Iya, itu mau kamu kan Khairani, he he he."
Gadis-gadis tertawa.
Mereka kembali riang. Melanjutkan perjalanan ke tempat pesta yang lumayan jauh.
Demikian kalau di kota kecil dan terpencil itu. Jika ada sebuah pesta pernikahan apa lagi
dengan menanggap band, maka penduduk terutama yang muda akan datang untuk
meramaikannya. Mereka tak perduli jauhnya, hiburan sangat jarang, hanya orang-orang
__ADS_1
tertentu saja yang bisa menanggap band.
Ada misi juga, yakni mencari jodoh. Karena gadis-gadis akan berdatangan, begitu juga
pria-pria. Mereka berkenalan dan bisa berlanjut hingga ke pernikahan.
Tak begitu lama menyusuri jalan yang tak beraspal, lamat-lamat terdengar suara
musik. Berdebar rasanya, karena akan bertemu dengan pria idaman.
Riza memarkir mobil di sisi lapangan, diikuti oleh Azhar.
Khairani bilang, mereka semua akan memberi selamat pada pengantin. Khairani bersama
Azhar dan Donny berjalan menuju tempat pesta. Agak jauh di lapangan terdengar musik
dangdut, penonton sedikit demi sedikit mulai berdatangan. Namun belum ramai.
"Kak Mardo, sini sama aku di depan."
Khairani menunggu Mardo yang lengannya digenggam erat oleh Yulia.
Mereka sudah di pintu, gadis-gadis cantik menyambut mereka. Musik khas mengalun
menghentak-hentak. Semakin dekat terlihat banyak gadis-gadis menari tor-tor di depan
penganten.
"Kita menortor dulu ya, baru ke mempelainya."
Sippp, kakak sepupu saling mengerling.
Mardo agak mundur bersama Yulia, " Khai, kakak nggak bisa, kalian saja ya."
Dan Donny juga mendekat ke tempat Mardo dan Yulia.
"Aku juga nggak bisa."
"Ich, kakak gimana sih, biar tau bagaimana menortor, mumpung sedang ada tari
tor-tor."
Mardo tersenyum, menarik tangannya. "Ayo menortor."
Mereka bersiap bergiliran masuk kedalam sembari mulai menortor memutar ke kanan
berkeliling. Jari jemari saling bertaut lantas digerak-gerakkan. Khairani dan Azhar menortor berdua, kakak sepupunya juga berpasangan menortor. Dan tiba-tiba Mardo berpasangan dengan Donny.
Ruangan tersebut lumayan besar, beberapa inang-inang memandu tarian tor-tor. Mereka memakai
baju adat yang lengkap, meletakkan kain ulos di jari dan menghentak-hentakkan tangan.
Bunyi suling dan gendang memenuhi ruangan tersebut. Dan suara penyanyi pria yang
meratap-ratap. Mardo tak mengerti apa arti syair-syair karena memakai bahasa daerah
mandailing. Setiap selesai menyanyi, suara suling pun bergantian. Hemmm indah sekali.
Mardo menikmati tarian menortor tersebut. Banyak makna di dalamnya dan doa yang dilantunkan
oleh penyanyinya.
Khairani dan Azhar pandai sekali menortor, mereka sedikit keluar dari barisan dan menortor melakukan
gerakkan yang indah, kakak sepupu juga hebat. Penyanyinya terus meratap-ratap menceritakan
masa kecil hingga dewasa dan menemukan pasangannya.
Pantaslah penyanyinya terkadang meratap, kadang bahagia.
Onang ale onang onang onang...
Pengen dengar ratapannya, liat di youtube aja, menortor.
__ADS_1
Bersambung