Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 271. Pembicaraan di Ranjang


__ADS_3

Mardo merebahkan tubuhnya di sebelah Raka. Laki-laki pria idola itu menyambut sang istri dengan pelukkan di pinggang, ia mengendusi tubuh istrinya yang baru saju membalur sekujur tubuhnya dengan cream pelembab yang wanginya  samar.


"Bagaimana anak-anak?"


Selama menikah setiap kali menjelang tidur, mereka membicarakan anak-anak. Mardo menghembuskan napasnya. Ia mendekap dan membalas pelukkan Raka.


"Rakasiwi tadi menelpon Pi, dia bilang Prita sudah isi."


"Oh! benarkah itu Mi? berarti kita akan menjadi Opa dan Oma Mi he he he."


"Iya Pi, kita sudah tua ya he he he."


"Pantasan Mi, lututku mulai sakit, setiap kali menekuk sakit Mi."


"Pipi udah ke rumah sakit?"


"Belum Mi, kadang-kadang hilang, jadi kau melupakannya."


"Besok saja ya Pi, jangan dianggap remeh, aku antar pria idolaku ke dokter."


"Siap Mi. Jadi gimana kabar Rakasiwi selanjutnya?"


Mardo menceritakan tentang bagaimana bahagianya mereka di negeri asing. Prita sempat tak selera makan, lemes dan sering mengantuk. Saat mereka ke klinik bersalin, dokter bilang kalau Prita hamil. Rakasiwi memohon doa dari kedua orang tuanya serta adik-adik supaya kandungan Prita sehat hingga kelahiran.

__ADS_1


"Aku tak sabar Mi mengendong cucu."


Lalu pembicaraan mereka sampai pada Cindy. Mardo bilang kalau tadi siang Alfredo menemuinya di kantor. Laki-laki muda itu ingin melamar Cindy. Raka sedikit terkejut. Sebab putri kecilnya itu belum lagi menyelesaikan belajarnya.


"Aku belum memberikan jawaban Pi, tetapi berjanji pada Alfredo  segera mengabarinya."


"Bagaimana dengan Cindy? dia harus menyelesaikan kesarjanaannya dulu."


Raka tak setuju putrinya buru-buru menikah, Mardo harus memberikan pengertian pada suaminya itu bahwa, Cindy dan Alfredo hanya bertunangan. Tahun depan baru mereka menikah, dan artinya Cindy sudah menyelesaikan kesarjanaannya.


"Suruh Cindy pulang Mi, pipi mau bicara dengannya."


Mardo menyanggupi. Ia juga sudah rindu pada Cindy.  Raka lantas menanyakan anak mereka yang lain. Tria, Dode dan sibungsu Rama.


"Aku mencintai mereka Mi, aku merindukan kebersamaan bersama mereka."


"Ya Pipi jangan terlalu sibuk-sibuk, tinggal menikmati saja Pi. Memperbanyak ibadah."


"Tentu sayang."


Raka memiringkan tubuhnya dan memandangi wajah Mardo yang manis dan tetap cantik, sedikit garis-garis di wajahnya tak membuatnya tak menarik. Sebaliknya Mardo bagai  bunga mawar yang kian hari semakin merah, wangi dan mengairahkan.  Seperti anggur yang semakin lama disimpan kian manis.


Begitu juga Raka, tak berkurang pesona dan kharisma. Sedikit rambut-rambut putih menyembul di kepalanya. Membuat pria itu terlihat matang serta dewasa. Terlebih sifat kasih sayang yang ia miliki kental terlihat dalam dirinya.

__ADS_1


Setiap pagi sebelum berangkat, ia menyempatkan dirinya bercengkrama dengan anak-anaknya. Yang paling manja saat ini adalah Tria. Selalu memeluk leher ayahnya dari belakang dan mencium pipi ayahnya. Mardo sudah menegur jangan seperti itu, sebab Tria bukan anak kecil lagi.


Tapi Raka malah membela putrinya yang  berkulit sawo mateng  itu.Menyamai  kulit ayahnya, sementara mata dan bibirnya mirip Mardo.


"Ayah, Tria mau sekolah ke London boleh ya Yah?"


"Tamatkan dulu smanya, itu mah gampang."


"Siap ayahku yang ganteng, tampan, pria  idola gadis-gadis."


"Hus, hanya pria idola bunda kamu saja."


Mardo tersenyum jika mengingat hari-harinya bersama anak-anak dan suami tercintanya. Pria itu sudah tidur padahal ia belum selesai bercerita. Perempuan itu mencium pipi Raka, merapikan selimutnya dan ia sendiri menempelkan pipinya dekat dada Raka suaminya.


 


 


 


 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2