Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 291. Orang Asing


__ADS_3

Malam yang gelap serta perjalanan yang jauh akhirnya membuat Mardo tertidur.  Seharian ini kenderaan yang membawa perempuan itu terus berjalan menyusuri berbagia  tempat. Mardo sempat tercekat saat mereka menyebrang dengan kapal. Mardo seperti pernah mengenal tempat tersebut. Beberapa tahun yang lalu ia juga pernah pulang ke kampung halaman orang tuanya. Dan ia menggunakan kapal laut untuk menyebrang.


Setelah itu Mardo tertidur. Jalanan juga sudah bagus dan mulus meski berliku-liku. Sementara di rumahnya di Jakarta terjadi kecemasan yang luar biasa. Sudah jauh malam tapi Mardo tidak diketahui ada di mana. Rama  menangis dan memanggil-manggil. Air matanya mengalir deras tak ingin bersama siapa pun kecuali Mardo.


Dari kantor milik Mardo diketahui bahwa perempuan itu tidak datang ke kantor. Juga tidak ada pesan apa pun. Dua orang datang ke rumah untuk menyatakan rasa prihatin dan menunggu kabar.  Begitu juga Deni dan Sammy, Alfredo serta Cindy. Mereka terbengong-bengong oleh kejadian ini.


"Bunda di mana? ya Rabb tolong lindungi bunda kami."


Cindy sejak pulang dari kantor tak bisa diam mencari Mardo. Ia menelpon teman-teman ibunya itu Kenalan serta semua saudara. Sedang Raka seperti kehilangan semua kekuatannya. Terlihat terpuruk, melemah dan sangat mencemaskan keselamatan istrinya.


Alfredo dan Deni sudah melaporkan kejadian itu kepada polisi  dan sudah menerima dan membuatkan laporannya. Tidak ada seorang pun yang menduga kejadian ini. Bahkan tidak ada tanda-tanda bahwa hal ini akan terjadi. Tadi pagi Mardo masih bersikap seperti biasa.


Cindy merasa sangat aneh. Bundanya tidak pernah bersikap seperti ini. Ia pasti bilang jika akan pergi kemana saja. Kecuali ibunya itu diculik. Yah, Cindy yakin ada yang menculik ibunya. Tapi kenapa dan mengapa? Apakah penculik itu akan meminta tebusan? ia menunggu dugaan tersebut.


"Bunda diculik Om."


"Kenap Cindy bilang begitu?"


"Sebab Bunda pasti mengabari jika ia pergi ke sebuah tempat."


Deni, Sammy, dan juga Raka saling pandang.


"Apakah penculiknya akan meminta tebusan?"


Tidak ada yang bisa menjawabnya. Rama sudah tidur di kamarnya bersama Tria. Isaknya masih terdengar satu-satu. Sebab malam yang telah larut akhirnya anak-anak tertidur.


"Turun, kita telah sampai!"


Mardo membuka matanya dan menyipitkan matanya. Ia mengeser tubuhnya dan melihat tempat itu. Sebuah cahaya dari sebuah rumah yang tak jauh dari mobil itu. Sekitarnya dikelilingi oleh kebun.


"Ya Rabb aku berada di mana?"

__ADS_1


Mardo gemetar, ia memohon pada Rabb agar melindunginya. Ia mengingat-ingat bahwa rasanya ia tidak pernah melakukan kesalahan pada orang lain. Pintu terbuka dan terlihat dua perempuan di sana. Hal itu membuat Hati perempuan itu sedikit lega. Setidaknya ada kaummya di tempat yang asing itu.


"Datang kami Mak Cik."


"Bersama siapa kalian?"


"Nyonya Mardo Mak Cik."


Kedua perempuan itu saling berpandangan, lalu menepi memberikan jalan pada ketiga orang yang datang malam-malam. Mardo menyapa perempuan itu, ia menatap apakah ia mengenali keduanya. Tapi Mardo yakin ia tak pernah bertemu kedua perempuan itu.


Parrr!


Tiba-tiba salah satu dari perempuan itu menampar pipinya. Perempuan itu terkejut dan ia terdorong beberapa langkah. Ia mengusap pipinya dan memandang perempuan itu keheranan.  Sedangkan perempuan yang satunya menyentuh tangan perempuan yang menamparnya.


"Jangan ia baru saja sampai."


"Terserah kau."


"A-aku di mana? ka-kalian siapa?"


"Besok saja kita bicara, ini sudah malam pergilah tidur."


Mardo memasuki sebuah kamar yang terbuat dari papan. Rumah itu keseluruhannya terbuah dari kayu. Dan atapnya dari rotan. Ubinnya sudah memakai keramik. Sebuah perpaduan bangunan yang unik. Perempuan itu duduk di atas tempat tidur. Pintunya terdengar terkunci dari luar.


Perempuan itu mengelus-ngelus pipinya yang terasa perih oleh tamparan perempuan yang kelihatan sangat membencinya. Sementara dia sedikit pun tidak mengenal siapa mereka. Kenapa perempuan itu marah dan menyemburatkan sinar benci kepadanya.


"Pi, pipi oh, tolong aku Pi."


Mardo teringat suaminya.  Laki-laki itu pasti sedang kebingungan mencarinya.  Mereka selalu bersama dan tak pernah tidur terpisah. Sekarang ia entah berada di mana? tetapi ini sangat jauh, sebab hampir larut malam barulah mereka sampai ke tempat itu. Bahkan mereka menggunakan kapal laut untuk menyebrang.


Beberapa saat Mardo berjalan mondar-mandir di kamar yang untungnya meski sederhana tetapi bersih. Ia ingin menyibakkan tirai di jendela tetapi ia tak berani. Ia tadi melihat rumah itu dikelilingi pohon-pohon besar serta kebun kelapa sawit.

__ADS_1


Sadar ia jauh dari  Raka, dan keluarganya perempuan itu memejamkan mata dan berdoa. Ia tak putusnya membaca serta komat-kamit membaca ayat untuk dihilangkan kesusahan. Hingga perempuan itu akhirnya jatuh ke tidur yang lelap.


Dia tidak tau suaminya sangat terkejut mendengar dia hilang. Hingga ia limbung dan hampir jatuh. Untungnya Cindy sedang dekat dengan dirinya. Ia cepat menyambar ayanya dan memapah ke sofa. Tria berlari mengambilkan minuman untuk Raka. Mimik pria itu cemas sekaligus tak berdaya.


Rama si bungsu menjadi menangis kembali setelah tadi ia berhenti menangis sebab kelelahan.


"Cindy, sudah hubungi teman-teman bunda, tante Putri, Sashi dan Grace. Juga tante Patricia?"


Gadis itu mengangguk-anggukkan kepalanya, ia sudah menghubungi semua keluarga, teman-teman serta orang kepercayaan bunda di kantor. Tapi semua tak tahu dan tidak melihat Mardo seharian itu.


"Oh,Mi Mimi, kamu ada di mana? ya Rabb, jagalah perempuan itu jika ia mendapatkan masalah. Jaga istriku itu, lindungi dia ya Rabb."


Raka komat-kamit  memohon keselamatan pada Rabbnya. Ia ingin tidak ada sesuatu yang menyakiti dan membuat Mardo menderita. Laki-laki itu menghubungi beberapa teman-temannya di kepolisian. Ia menceritakan kalau istrinya menghilang sejak siang.


Ada apa ya Rabb, kenapa keadaan kami yang bahagia, damai dan tenang ini terusik. Kemana kau Mardo? kemana kau Mi. Kamu pasti tidak meninggalkan aku dan anak-anak kan? tidak mungkin kau pergi begitu saja meninggalkan aku dan anak-anak kita. Ada yang menculikmu Mi. Ya Rabb, lindungilah istriku, kekasihku, ibu anak-anakku. Lindungi dan tolong dia ya Rabb.


Raka terus memohon kepada Rabbnya agar Mardo diberi keselamatan dan kembali kepadanya.  Ia berjanji jika nanti istrinya itu kembali akan lebih memperhatikannya. Dia tidak akan sibuk dengan kegiatan sosialnya. Ia akan lebih banyak mendampingi Mardo, menemaninya dan membantu istrinya itu.  Ia menyesali hari-hari di mana mereka jarang bertemu, tak saling menemani telah lama tak pergi liburan.


Laki-laki itu berjanji dalam hatinya jika Mardo telah kembali ia akan mengajak perempuan cinta pertama dan terakhirnya itu bulan madu. Mereka bisa mengenang masa-masa lalu yang indah dan manis. Mengecap berdua cinta mereka.


 


 


 


 


 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2