
Richi terlihat frustasi, sesaat ia gelisaha di tempat tidur. Namun akhirnya ia tertidur oleh obat penenang. Papi mengusapi kening dan rambut laki-laki muda itu.
"Keputusan itu bukanlan keputusanku, tetapi keputusanmu dan Richi."
Mami hanya menunduk dan mengingai saat-saat Richi ingin pergi ke Sydney.
"Aku ingin pergi ke Sydney!"
Saat itu Richi mengatakannya dengan pasti dan tak mau mundur.
"Di sana kita tidak tahu apa yang terjadi dengannya."
Papi menyangka mulai sakitnya Richi terjadi di Sydney. Meski pun selama beberapa tahun ia melihat
putranya baik-baik saja. Terkadang ia melihat Richi seperti linglung. Hanya beberapa menit , ia
lantas kembali normal. Dan sejauh ini tak pernah mengamuk dan menyakiti siapa pun. Laki-laki putranya
normal dan mengerjakan pekerjaannya dengan baik. Ia bahkan tengah mengambil gelar doktor di negara tetangga. Papi benar-benar tak mengerti dengan penyakit yang di idap oleh Richi.
Papi sudah mendatangi dokter yang merawat putranya. Dan dokter itu bilang Richi sakit pneomonia bersamaan dengan sakit kerongkongan. Sakit itu membuatnya lemah serta sakit kepala. Dan yang lebih aneh Richi mengeluh
merasa dicampakkan. Hati yang tenang dan paling berani pun tidak akan bertahan terhadap kekecewaan.
Papi sudah berbicara berdua dengan Mami, hati kehati. Apakah mereka pernah berbuat tidak adil, mengecewakan dan mencampakkannya. Justru kasih sayang mereka kalau bisa dikatakan jauh lebih besar dibandingkan pada
Raka. Mengingat masa bayi Richi yang memprihatinkan. Hingga usia dewasanya Papi dan Mami merasa kalau
Richi masih seorang laki-laki kecil yang harus mereka lindungi.
Mami merasa tidak akan menemukan jawaban akan keadaan putranya. Ia lebih baik mengadu kepada Rabbnya
tentang Richi. Ia memohon dan berdoa untuk mengembalikan Richi seperti dulu. Putranya yang manis dan lembut.
Mami telah mengambil mukenanya setelah berwudhu dan pamit sholat pada suaminya. Laki-laki itu tersenyum
dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Pagi harinya Richi terbangun dengan harapan. Ia merasakan telah menjadi dirinya yang sendiri. Ingatannya
menjadi jernih. Bahkan ia ingat bahwa dia adalah seorang rektor muda yang sesekali turun mengajar. Ia mengingat semuanya. Papi, Mimi dan keluarganya. Seperti seseorang yang baru saja bangun dari tidur panjang. Ia melupakan beberapa hari yang telah ia alami.
"Jadi aku masih berada di kamarku di rumah lama."
Richi menatapi sekelilingnya, dan melihat karpet tebal serta selimut yang terlipat tak jauh dari
tempat tidurnya. Richi sama sekali tak ingat kalau tadi malam ada papi dan mami yang tidur
__ADS_1
tak jauh dari tempat tidurnya.
"Sayang, kau sudah bangun? Mami sudah memasak sop kesukaanmu."
Richi menatap perempuan setengah baya yang sangat perhatian kepadanya. Ia mematung di tempatnya
dan ingin melihat apa yang terjadi selama ia menghilang. Seperti yang sering terjadi ia tak ingat berada
di mana dan apa yang ia lakukan.
Sangat mengherankan saat ada seseorang yang melihatnya di sebuah tempat sedang ia tidak ingat.
Ada yang sangat marah kepadanya dan ia tidak tau penyebab kemarahan orang itu. Sering sekali dan ia tak bisa memecahkan rahasia itu.
"Aku mau mandi dulu Mi."
Mami tertegun, pandangan Richi dan sikapnya terlihat berbeda.
"Terima kasih ya Rabbku, Engkau telah mengembalikan Richiku."
Mata mami berkaca-kaca, bahagia, terharu dan bersyuku.
"Baiklah sayang Mami, kami menunggumu di ruang keluarga."
Terburu-buru Mami menemui suaminya yang sedang berjalan-jalan di taman belakang bersama
"Papi! Papi!."
Mami menunggu tak sabaran. Terlihat laki-laki itu mengatakan sesuatu pada cucu-cucunya.
"Ada apa Mi."
"Richi Pi, alhamdulillah tadi Mami lihat sudah sehat dan kembali seperti biasa."
Seru sekali Mami menceritakan apa yang ia lihat tadi, kebahagiannya, serta rasa terharu karena
Richi telah kembali.
Raka, Mardo serta Laura juga mendekat dan mendengar perkataan Mami. Mereka semua mengucapkan
alhamdulillah. Mami buru-buru pergi ke belakang ia akan menyiapkan makan pagi bersama keluarga.
Sop iga sapi yang terasa ladanya sangat di sukai oleh Ricchi. Ia akan menghirup kuahnya hingga yang lain tak kebagian. Kadang Mami harus mengambil daging itu kembali dan merebusnya sebab kuahnya telah
habis.
Sebenarnya Richi mulai merasakan keanehan itu saat ia berusia 14 belas tahun. Saat amarah, serta kekecewaan
__ADS_1
menerornya. Itu terjadi saat dirinya seperti keluar dari dalam dirinya. Ia menghancurkan kamar Raka. Mematahkan gitar kesayangan kakaknya dan menghamburkan semua yang ada di atas meja.
Setelah melakukan hal itu ia berdiri gemetar melihat hasil perbuatannya. Ia berjanji itu tidak akan terjadi lagi. Ia menyatakan bahwa itu adalah yang terakhir. Ketika di Sydney beberapakali ia mendapatkan teror dan ia menghilang dalam beberapa hari. Richi tak pernah menceritakan hal itu pada siapa pun. Ia memang pernah
berkonsultasi dengan seorang dokter ahli kejiwaan. Hanya kepulangannya ke Indonesia membuat hubungannya dengan dokter itu putus.
Dokternya berpesan agar ia selalu mencatat kegiatannya setiap hari. Menyebutkan tanggal, hari, bulan serta tahun.
Di mana ia pergi dan pulang.
Selama bertahun-tahun ia tidak memiliki teman dekat atau teman sejati. Hanya Teddy. Itu pun disebabkan oleh
perasaan senasib. Sama-sama di perantauan. Teddy menghilang dan meninggalkannya. Seperti sebelumnya
gadis yang ia cintai meninggalkannya.
Richi meregangkan tubuhnya sejenak, menghadap jendela dan laki-laki itu melihat cahaya pagi yang memancar. Ia merapikan kemejanya. Mengancingkan lengan bajunya. Setelah beberapa menit berpakaian. Ia berpikir untuk segera pulang ke rumahnya di Merauke. Selagi ia masih menjadi dirinya sendiri. Suasana kota Merauke yang hangat dan tenang sangat cocok dengannya. Ia bisa memelihara ketenangan dan kedamaian jiwanya. Ia tidak
ingin kena teror yang membuatnya menghilang.
Masih saja Richi tak mengerti dengan keadaan dirinya. Bersikap aneh dan seolah bukan dirinya. Pemarah, tak sabaran. Serta berani. Kebalikkan dari pribadinya yang hangat, ramah, baik hati serta lembut. Dokter yang merawatnya di Sydney sulit dihubungi. Ia ingin melanjutkan perawatan dirinya. Tak ingin ada masalah di suatu saat.
Sebab ketika dia merasa teror itu datang, tak dapat di cegah ia telah berada di dunia yang berbeda. Ia tidak tau tempat itu, keadaannya dan ia tiba-tiba bertemu orang- orang baru. Mereka menjadi teman, tetapi tak jarang
bahkan saling membunuh. Merasa tak aman. Richi yang biasany tak suka lari, saat teror datang ia bisa berlari
kiloan meter, mengecoh musuhnya.
Pernah suatu kali Richi menemukan pola perubahan dirinya itu. Setiap kali ia merasa terdesak, kecewa, marah dan membalas dendam maka teror itu menyerang kepalanya. Ia merasa sakit kepala dan tiba-tiba ia tidak ingat lagi,
Sebab itu Richi selalu berusaha tenang, menjauhkan diri dari perasaan yang menyebabkan kehilangan
pengendalian diri itu.
Bersambung
Hello, terima kasih banyak ya telah membaca kisahnya dari awal.
Jangan membaca di tengah dan akhir saja yaa sahabat Pria Idola. Tetapi dari awal hingga
akhir, sebab itulah yang terbaik. Saya juga pasti melakukan hal yang sama.
__ADS_1