
Mardo Takjub, gadis-gadis sepupunya lincah dan agak-agak gila kwa kwa kwa.
Bayangin, kakak Mirah dan kak Kana berani memotong ayam berdua. Kak Mirah
yang memegang pisau, dia membaca basmalah lantas mencabut beberapa bulu
di area leher. Lantas menaro pisaunya dan keok! keokkkk! keookk! si ayam jantan
muda menggelepar-ngelepar di sekitar kebun. Mereka memotong dua ekor ayam.
Aduh, Mardo mendekap mulutnya. Seumur hidup Mardo belum pernah melihat
orang memotong ayam. Jadi dia terhenyak, membesarkan mata dan melonggo
lantas menjauh agak ngeri.
Kerja cepat dan smart. Setelah ayamnya tak bergerak lagi segera dibawa ke dapur
disiram air panas dan bulu-bulunya dicabut kemudian dibersihkan. Kakak yang lain
sedang menumbuk bumbu untuk membaluri ayam. Tak lama tercium aroma yang
enak dari ayam yang dipanggang.
"Biar Mardo nanti terkenang dan teringat kakak sepupunya menjamunya seperti ini.
Bukan makan di restoran tapi piknik di sungai kita sungai pasir putih, horeeeee makanan
sudah siap."
"Iih, kakak-kakak ini, aku nggak menyangka sambutannya seperti ini loh, aku
senang. Pasti nggak terlupakan, sini lah kupeluk satu-satu dan cium he he he."
Mardo bergerak memelukki satu demi satu sepupunya, memberi mereka ciuman
di pipi.
Gadis-gadis itu bersorak kegirangan oleh pelukkan dan ciuman sayang sepupu
yang besar di rantau orang.
"Begitulah Mardo ketika kecilnya, suka memeluki pinggang orang dan mencium pipi
terutama opung, berkali-kali diciuminya sampai lecet pipi opung kurasa kwa kwa kwa."
"Ke Inang juga begitu, kalau dia datang ke rumah kami, dipeluknya inang dan diciuminya
terus, yang lucu dia waktu kecil."
Mereka terus mengingat masa kecil Mardo dan tertawa-tawa. Sementara gadis itu
hanya tersipu-sipu.
"Cek cek dulu ya, nasi dah ok, daun rebus singkong ok, sambal balacan,ok, panggang
ayam beserta bumbu kuahnya ok, piring, sendok, mangko, lap tangan? ok semua?"
"Kurasa ok semua itu."
"Cek dulu kak, dari pada ketinggalan."
"Sudah kucek, semua ready, sama buah jeruk, pisang. Siap kita berangkat."
Rombongan gadis-gadis ceria, lucu dan bersemangat itu lantas beranjak
meninggalkan rumah. Mereka memasuki jalan setapak arah belakang.
Pohon-pohon rambutan berbaris di kiri dan kanan. lalu gerumbul-gerumbul
ilalang dan kebun jambu. Banyak kebun-kebun milik penduduk sepanjang
perjalanan ke sungai.
Hingga akhirnya mereka sampai ke tujuan. Wauuu! Mardo terkesiap melihat
bentangan sungai berair jernih kebiruan, mengalir deras memasuki sela-sela bebatuan
dan pohon-pohon air di tepi sungai. Gadis-gadis menuruni undak-undak dan akhirnya
kaki-kaki mereka menginjak pasir putih halus sekaligus ke tepi air sungai. Menciprat-ciprat
kan air.
"Kak Mardo, buka sepatumu dan rasakan air sungai ini segar nian."
Khairani dan Yulia adiknya sesaat bermain air, sedang kakak-kakak yang lain terus
berjalan ke hulu. Hingga ketemu batu-batu hitam yang sebesar-besar gajah.
Mereka mencari batu besar yang pas. Dan di sana di atas batu besar itu makanan
__ADS_1
di letakkan.
"Oh, jadi makannya sambil duduk di atas batu besar itu, memandang sungai yang
mengalir, dengan beratapkan pohon-pohon? so sweet."
Khairani agaknya belum pernah mengalaminya, karena ia juga setamat SMP melanjutkan
sekolahnya di Jakarta hingga selesai kuliah dan lanjut bekerja. Jadi kalau di jakarta dan kota-kota besar
makan siangnya di mall. Kalau di kampung masak sendiri dan di bawa ke tempat-tempat yang indah
seperti sekarang ini. Musik alam mengalun merdu antara sungai dan ranting-ranting pohon.
Sebuah simponi pun tercipta.
"Em, enak sekali masakkannya luar biasa kakak-kakak ini."
Khairani berteriak membuat terkejut orang yang sedang menyuap.
"Iya la, mana ada masakkan kayak begini di kota sana."
"Hemmm, iya benar kamu Khai, kakak baru sekali ini merasakan makan siang
senikmat dan selezat ini."
Mardo juga merasakan masakkan kakak-kakak sepupunya sangat enak dan sedap.
Ayam panggang yang telah dibumbui, ternyata ada kuah santan yang sudah dimasak,
lalu dimasukkan irisan bawang merah segar, serundeng kelapa dan perasan air jeruk.
Wah, sungguh tak terlukiskan rasanya.
"Masakkan ayam panggang kuah santan dengan perasan jeruk ini, sedap kali kak, ngomong-
ngomong boleh nambah lagi?"
"Uli, kulihat udah empat kali kau nambah, jangan malu-maluin kakak kau!, aku pun mau
nambah sekaliiiii aja lagi kak ya."
Khairani lucu sekali polahnya, dari memarahi Yulia adiknya, hingga merendah dan tersipu
sipu mengambil tambahan lagi.
Mardo juga sudah agak lama habis nasi dan lauk ayam panggang dengan kuah santan dengan
perasan jeruk nipis, sudah tiga kali dia menambah, rekor dalam hidupnya mengingat dia
sampai-sampai yang menyuapi dan yang disiapi terkantuk-kantuk, dan makanan di ambil
kucing.
"O, kak! tawari dulu kak Mardo, mau nambah dia tapi malu he he he.'
Khairani melirik piring Mardo yang sudah kosong tapi belum menaronya ada indikasi
seperti mau menambah tapi malu.
"Oh, sini Dek kakak ambilkan, nggak usah lah malu-malu sama kakak-kakaknya sendiri."
Kak Kana, mengambil piring Mardo, dan mengisinya lagi dengan nasi dan ayam panggang.
"He he he, udah kak, jangan banyak-banyak."
Mardo tersipu, memanglah makan ditengah-tengah alam bersama teman, sahabat, saudara bisa
menaikan selera makan. Heran juga, nasi panas, lalap daun singkong, sambal terasi serta
ayam panggang tersebut rasanya segar, lezat pokoknya terlukiskan.
Apa mungkin karena bahan-bahannya yang langsung masak. Seperti daun singkong yang dipetik
langsung di rebus. Cabe,tomat, belimbing waluh, juga ayam diambil dari kandang. Tidak ada
penyimpanan terlebih dahulu seperti yang terjadi di rumah.
Mami belanja dan menyimpan bahan makanan hingga beberapa hari. Memang lebih
efektif dan mudah, namun bisa saja kesegaran dan manisnya makanan itu hilang atau
berkurang. Yang dimakan hanya sisa-sisa dari keasliannya, jadi tak lagi lezat.
Selesai menikmati makan siang yang sedap, selanjutnya gadis-gadis turun ke sungai. Terlebih dahulu
piring dan perlengkapan masak di cuci dan disisihkan. Pelan-pelan para gadis itu masuk ke sungai
dan berenang berkejar-kejaran. Hebat sekali mereka. Air sungai itu jernih hingga menampakkan
batu yang bertebaran. Kakak-kakak sepupunya tiba-tiba telah mendapat udang besar di bawah batu.
__ADS_1
Dan mereka berteriak-teriak kesenangan.
"Kak, ayo berenang! ini airnya segar tak pakai kaporit kayak kolam-kolam renang di Jakarta."
Khairani mengajaknya nyemplung ke sungai. Yulia juga sudah menyelam dan bergerak-gerak
seperti penyelam profesional.
Mardo menyemplungkan kakinya saja, hemmm airnya segar sekali. Lantas terdengar ribut sekali
dan hesteris, ternyata ada ikan besar yang nyasar ke pemandian, dan gadis-gadis berusaha
menangkapnya.
Pegang sebelah sana, aku di sini, Kana kau sebelah sini! kebawah!
Cepat kak, udah tau tau dia mau kita tangkap, lari ikannya, cepat!!!
Mardo terbengong melihat aksi kakak-kakak sepupunya yang memegang kain
dan berusaha menangkap ikan sebesar tangan.
Dapat!!! Uli buka kan panci itu!
Bertiga gadis itu mengangkat kain yang di dalamnya terperangkap ikan belana
besar. Hup, masuk ke panci yang lumayan besar.
"Ya ampun kalian keren banget sih Kak, banyak ikan dan udang ya di sungai ini."
Mardo memandangi ikan besar itu yang mengelepar-gelepar di dalam panci.
Alamat lauk untuk makan malam keluarga, hi hi hi.
Sedang asyik-asyiknya mereka bermain air, tiba-tiba di sebrang berlompatan
ke sungai dari atas tebing lima anak-anak muda. Rupanya mereka tertarik
dengan keributan gadis-gadis. Lantas memutuskan meloncat ke sungai.
Byurrr! Byurrr! Byurrr! Byurrr! Byurrr!
Air sungai memancar oleh tubuh-tubuh yang menimpanya.
"Hoiiii bujing-bujing na Jeges, terdengar suara kalian ke rumah godang kami.
Membuat kami ingin tau." (Hoiii gadis-gadis cantik seperti turun dari langit)
Salah seorang dari lima laki-laki muda dan bertubuh tegap di sana berteriak.
Gadis-gadis agak terkejut, karena sebelumnya belum pernah kejadian anak muda
dari sebrang mau menegur penduduk dari kampung itu. Tapi karena anak-anak
muda di sana santun dan tidak langsung mendatangi, gadis-gadis yang semuanya
belum ada yang menikah merasa tak ada salahnya menyahuti.
"Oh, maaf kan kami abang-abang, rupanya sudah mengganggu kalian. Kami
baru saja makan siang dan lanjut menangkap ikan yang kesasar."
"O, makan siang? masih ada tidak Dek sisa makanannya? kami belum makan Dek."
Anak-anak muda itu saling menatap dan tersenyum, menghiba-iba. Mereka bilang
sedang bekerja menanam kacang kulit sebanyak lima hektar, tidak ada yang
mengantar makanan.
Gadis-gadis itu berembuk, akhirnya merelakan sisa dari makanan yang masih banyak
diberikan kepada anak-anak muda. Segera mereka bersalto dan menyebrang
dengan sigap. Anak-anak muda itu ternyata tampan dan bertubuh tegap. Kakak-kakak
menaro nasi di piring dan membagikannya, sementara Mardo, Khairani dan Yulia
agak menjauh.
Siapa menyangka, karena makan siang di sungai itu kakak-kakak sepupu menemukan
jodoh mereka. Di tepi sungai itu mereka berkenalan dan bertukar nomer telepon.
Selanjutnya terserah anda, he he he.
Cikidot, lanjut yaa
Terima kasih sudah membaca, jangan lupa like dan komen.
__ADS_1
Bersambung