Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 57. Suatu Hari Di Tepi Sungai


__ADS_3

Mardo Takjub, gadis-gadis sepupunya lincah dan agak-agak gila kwa kwa kwa.


Bayangin, kakak Mirah dan kak Kana berani memotong ayam berdua. Kak Mirah


yang memegang pisau, dia membaca basmalah lantas mencabut beberapa bulu


di area leher. Lantas menaro pisaunya dan keok! keokkkk! keookk! si ayam jantan


muda menggelepar-ngelepar di sekitar kebun. Mereka memotong dua ekor ayam.


Aduh, Mardo mendekap mulutnya. Seumur hidup Mardo belum pernah melihat


orang memotong ayam. Jadi dia terhenyak, membesarkan mata dan melonggo


lantas menjauh agak ngeri.


Kerja cepat dan smart. Setelah ayamnya tak bergerak lagi segera dibawa ke dapur


disiram air panas dan bulu-bulunya dicabut kemudian dibersihkan. Kakak yang lain


sedang menumbuk bumbu untuk membaluri ayam. Tak lama tercium aroma yang


enak dari ayam yang dipanggang.


"Biar Mardo nanti terkenang dan teringat kakak sepupunya menjamunya seperti ini.


Bukan makan di restoran tapi piknik di sungai kita sungai pasir putih, horeeeee makanan


sudah siap."


"Iih, kakak-kakak ini, aku nggak menyangka sambutannya seperti ini loh, aku


senang. Pasti nggak terlupakan, sini lah kupeluk satu-satu dan cium he he he."


Mardo bergerak memelukki satu demi satu sepupunya, memberi mereka ciuman


di pipi.


Gadis-gadis itu bersorak kegirangan oleh pelukkan dan ciuman sayang sepupu


yang besar di rantau orang.


"Begitulah Mardo ketika kecilnya, suka memeluki pinggang orang dan mencium pipi


terutama opung, berkali-kali diciuminya sampai lecet pipi opung kurasa kwa kwa kwa."


"Ke Inang juga begitu, kalau dia datang ke rumah kami, dipeluknya inang dan diciuminya


terus, yang lucu dia waktu kecil."


Mereka terus mengingat masa kecil Mardo dan tertawa-tawa. Sementara gadis itu


hanya tersipu-sipu.


"Cek cek dulu ya, nasi dah ok, daun rebus singkong ok, sambal balacan,ok, panggang


ayam beserta bumbu kuahnya ok, piring, sendok, mangko, lap tangan? ok semua?"


"Kurasa ok semua itu."


"Cek dulu kak, dari pada ketinggalan."


"Sudah kucek, semua ready, sama buah jeruk, pisang. Siap kita berangkat."


Rombongan gadis-gadis ceria, lucu dan bersemangat itu lantas beranjak


meninggalkan rumah. Mereka memasuki jalan setapak arah belakang.


Pohon-pohon rambutan berbaris di kiri dan kanan. lalu gerumbul-gerumbul


ilalang dan kebun jambu. Banyak kebun-kebun milik penduduk sepanjang


perjalanan ke sungai.


Hingga akhirnya mereka sampai ke tujuan. Wauuu! Mardo terkesiap melihat


bentangan sungai berair jernih kebiruan, mengalir deras memasuki sela-sela bebatuan


dan pohon-pohon air di tepi sungai. Gadis-gadis menuruni undak-undak dan akhirnya


kaki-kaki mereka menginjak pasir putih halus sekaligus ke tepi air sungai. Menciprat-ciprat


kan air.


"Kak Mardo, buka sepatumu dan rasakan air sungai ini segar nian."


Khairani dan Yulia adiknya sesaat bermain air, sedang kakak-kakak yang lain terus


berjalan ke hulu. Hingga ketemu batu-batu hitam yang sebesar-besar gajah.


Mereka mencari batu besar yang pas. Dan di sana di atas batu besar itu makanan

__ADS_1


di letakkan.


"Oh, jadi makannya sambil duduk di atas batu besar itu, memandang sungai yang


mengalir, dengan beratapkan pohon-pohon? so sweet."


Khairani agaknya belum pernah mengalaminya, karena ia juga setamat SMP melanjutkan


sekolahnya di Jakarta hingga selesai kuliah dan lanjut bekerja. Jadi kalau di jakarta dan kota-kota besar


makan siangnya di mall. Kalau di kampung masak sendiri dan di bawa ke tempat-tempat yang indah


seperti sekarang ini. Musik alam mengalun merdu antara sungai dan ranting-ranting pohon.


Sebuah simponi pun tercipta.


"Em, enak sekali masakkannya luar biasa kakak-kakak ini."


Khairani berteriak membuat terkejut orang yang sedang menyuap.


"Iya la, mana ada masakkan kayak begini di kota sana."


"Hemmm, iya benar kamu Khai, kakak baru sekali ini merasakan makan siang


senikmat dan selezat ini."


Mardo juga merasakan masakkan kakak-kakak sepupunya sangat enak dan sedap.


Ayam panggang yang telah dibumbui, ternyata ada kuah santan yang sudah dimasak,


lalu dimasukkan irisan bawang merah segar, serundeng kelapa dan perasan air jeruk.


Wah, sungguh tak terlukiskan rasanya.


"Masakkan ayam panggang kuah santan dengan perasan jeruk ini, sedap kali kak, ngomong-


ngomong boleh nambah lagi?"


"Uli, kulihat udah empat kali kau nambah, jangan malu-maluin kakak kau!, aku pun mau


nambah sekaliiiii aja lagi kak ya."


Khairani lucu sekali polahnya, dari memarahi Yulia adiknya, hingga merendah dan tersipu


sipu mengambil tambahan lagi.


Mardo juga sudah agak lama habis nasi dan lauk ayam panggang dengan kuah santan dengan


perasan jeruk nipis, sudah tiga kali dia menambah, rekor dalam hidupnya mengingat dia


sampai-sampai yang menyuapi dan yang disiapi terkantuk-kantuk, dan makanan di ambil


kucing.


"O, kak! tawari dulu kak Mardo, mau nambah dia tapi malu he he he.'


Khairani melirik piring Mardo yang sudah kosong tapi belum menaronya ada indikasi


seperti mau menambah tapi malu.


"Oh, sini Dek kakak ambilkan, nggak usah lah malu-malu sama kakak-kakaknya sendiri."


Kak Kana, mengambil  piring Mardo, dan mengisinya lagi dengan nasi dan ayam panggang.


"He he he, udah kak, jangan banyak-banyak."


Mardo tersipu, memanglah makan ditengah-tengah alam bersama teman, sahabat, saudara bisa


menaikan selera makan. Heran juga, nasi panas, lalap daun singkong, sambal terasi serta


ayam panggang tersebut rasanya segar, lezat pokoknya terlukiskan.


Apa mungkin karena bahan-bahannya yang langsung masak. Seperti daun singkong yang dipetik


langsung di rebus. Cabe,tomat, belimbing waluh, juga ayam diambil dari kandang. Tidak ada


penyimpanan terlebih dahulu seperti yang terjadi di rumah.


Mami belanja dan menyimpan bahan makanan hingga beberapa hari. Memang lebih


efektif dan mudah, namun bisa saja kesegaran dan manisnya makanan itu hilang atau


berkurang. Yang dimakan hanya sisa-sisa dari keasliannya, jadi tak lagi lezat.


Selesai menikmati makan siang yang sedap, selanjutnya gadis-gadis turun ke sungai. Terlebih dahulu


piring dan perlengkapan masak di cuci dan disisihkan. Pelan-pelan para gadis itu masuk ke sungai


dan berenang berkejar-kejaran. Hebat sekali mereka. Air sungai itu jernih hingga menampakkan


batu yang bertebaran. Kakak-kakak sepupunya tiba-tiba telah mendapat udang besar di bawah batu.

__ADS_1


Dan mereka berteriak-teriak kesenangan.


"Kak, ayo berenang! ini airnya segar tak pakai kaporit kayak kolam-kolam renang di Jakarta."


Khairani mengajaknya nyemplung ke sungai. Yulia juga sudah menyelam dan bergerak-gerak


seperti penyelam profesional.


Mardo menyemplungkan kakinya saja, hemmm airnya segar sekali. Lantas terdengar ribut sekali


dan hesteris, ternyata ada ikan besar yang nyasar ke pemandian, dan gadis-gadis berusaha


menangkapnya.


Pegang sebelah sana, aku di sini, Kana kau sebelah sini! kebawah!


Cepat kak, udah tau tau dia mau kita tangkap, lari ikannya, cepat!!!


Mardo terbengong melihat aksi kakak-kakak sepupunya yang memegang kain


dan berusaha menangkap ikan sebesar tangan.


Dapat!!!  Uli buka kan panci itu!


Bertiga gadis itu mengangkat kain yang di dalamnya terperangkap ikan belana


besar. Hup, masuk ke panci yang lumayan besar.


"Ya ampun kalian keren banget sih Kak, banyak ikan dan udang ya di sungai ini."


Mardo memandangi ikan besar itu yang mengelepar-gelepar di dalam panci.


Alamat lauk untuk makan malam keluarga, hi hi  hi.


Sedang asyik-asyiknya mereka bermain air, tiba-tiba di sebrang berlompatan


ke sungai dari atas tebing lima anak-anak muda. Rupanya mereka tertarik


dengan keributan gadis-gadis. Lantas memutuskan meloncat ke sungai.


Byurrr!  Byurrr!  Byurrr! Byurrr! Byurrr!


Air sungai memancar oleh tubuh-tubuh yang menimpanya.


"Hoiiii bujing-bujing na Jeges, terdengar suara kalian ke rumah godang kami.


Membuat kami ingin tau." (Hoiii gadis-gadis cantik seperti turun dari langit)


Salah seorang dari lima laki-laki muda dan bertubuh tegap di sana berteriak.


Gadis-gadis agak terkejut, karena sebelumnya belum pernah kejadian anak muda


dari sebrang mau menegur penduduk dari kampung itu. Tapi karena anak-anak


muda di sana santun dan tidak langsung mendatangi, gadis-gadis yang semuanya


belum ada yang menikah merasa tak ada salahnya menyahuti.


"Oh, maaf kan kami abang-abang, rupanya sudah mengganggu kalian. Kami


baru saja makan siang dan lanjut menangkap ikan yang kesasar."


"O, makan siang? masih ada tidak Dek sisa makanannya? kami belum makan Dek."


Anak-anak muda itu saling menatap dan tersenyum, menghiba-iba. Mereka bilang


sedang bekerja menanam kacang kulit sebanyak lima hektar, tidak ada yang


mengantar makanan.


Gadis-gadis itu berembuk, akhirnya merelakan sisa dari makanan yang masih banyak


diberikan kepada anak-anak muda. Segera mereka bersalto dan menyebrang


dengan sigap. Anak-anak muda itu ternyata tampan dan bertubuh tegap. Kakak-kakak


menaro nasi di piring dan membagikannya, sementara Mardo, Khairani dan Yulia


agak menjauh.


Siapa menyangka, karena makan siang di sungai itu kakak-kakak sepupu menemukan


jodoh mereka. Di tepi sungai itu mereka berkenalan dan bertukar nomer telepon.


Selanjutnya terserah anda, he he he.


 


Cikidot, lanjut yaa


Terima kasih sudah membaca, jangan lupa like dan komen.

__ADS_1


 


Bersambung


__ADS_2