
Setelah seminggu bersenang-senang di Bandung Cindy dan Tria memutuskan pulang ke Jakarta. Cindy memesan travel langganannya untuk dia dan Tria. Mereka sibuk membersihkan rumah dan menyirami bunga- bungaan di belakang. Cindy mirip seperti Mardo, sangat teliti dan bersih. Sedangkan Tria lebih santai dan membiarkan kamarnya sedikit berantakkan. Tria melihat Cindy memeriksa dengan teliti apakah jendela-jendela sudah terkunci, kran air mati, kompor. Mencopoti kabel yang tersambung ke stop kontak. Pokoknya Cindy memastikan rumah aman selam dia pergi.
Mardo dan Raka senang saat Cindy memutuskan akan magang di kantor ayahnya selama menunggu acara wisuda. Cindy bisa membiasakan dirinya di perusahaan. Belajar tentang pengelolaan keuangan perusahaan. Melihat bagaimana ayah Raka, Om Deni, juga Om Sammy bekerja. Mereka terus mengembangkan perusahaan dengan penemuan varian baru minuman yang menyehatkan dan selanjutnya mendistribusikan ke mitra yang jumlahnya sudah mencapai ribuan.
Cindy nanti bisa melihat bagaimana banyak masalah dan kegagalan yang dialami namun tak membuat mereka menyerah. Diskusi serta meeting panjang hingga menemukan jalan yang terbaik.
"Kamu mau magang di tempat Ayah Nak?"
Raka meyakinkan dirinya bahwa Cindy bersedia magang terlebih dahulu sebelum mengemban tugas yang berat di pundaknya nanti.
"Iya mau Ayah, aku sedang tak ada kegiatan."
"Ok, besok pagi kita berangkat ke kantor bareng-bareng ya."
"Siap Yah, Tria mau ikut?"
Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya, ia bilang belum mengerjakan pekerjaan rumah yang dibebankan ibu guru sebelum libur. Pr bisa menambah nilai pelajaran menjadi lebih baik.
"Kau bisa mengerjakannya di kantor Ayah, pasti ada tempat buat kamu mengerjakan pekerjaan rumahmu."
Gadis remaja itu, berpikir sesaat, lantas menatap ayahnya.
"Ayah aku boleh ikut?"
Sebab Raka hampir tak pernah mengajak anak-anaknya ke perusahaan. Kecuali acara-acara yang penting seperti ulang tahun perusahaan.
"Boleh, setengah hari saja ya Nak, sebaiknya beristirahat di rumah."
"Ok Ayah."
Setelah perbincangan itu Cindy pamit ingin menemui seseorang. Tria cemberut sebab ia tak boleh ikut.
"Jangan ikut sis, mau ketemu kakak iparmu."
Cindy tersenyum manis, ich nyebelin cibir Tria. Dia sendiri belum memiliki seseorang yang cocok di hatinya. Banyak laki-laki muda yang melirik Tria, tapi entahlah dari begitu banyak tak ada satu pun yang menggetarkan hatinya. Atau mungkin Tria masih terlalu muda. Cinta sejati belum ia temukan. Kita tunggu yaa readers.
Cindy membawa mobil bundanya, ia menemui Alfredo di cafe pria Idola. laki-laki muda itu menyambut Cindy dengan tatapan cinta.
"Hei kapan pulang? nggak ngasih tahu sih, kan aku bisa jemput ke Bandung."
Keduanya saling melempar senyum, berangkulan sesaat lantas beranjak ke cafe di lantai atas. Alfredo memang mendapat kepercayaan dari temannya Rakasiwi untuk mengawasi cafe miliknya.
"Bro, lu nggak usah cari kerja dulu lah."
__ADS_1
"Enak aja, terus Gwe kuliah lama-lama buat apaan kalau bukan buat kerja atau menciptakan pekerjaan."
Biasa keduanya pasti bertengkar lebih dahulu sebelum yang satu bisa meyakinkan lainnya.
"Kan sama aja Bro, lu kerja di tempat lain sama di Gwe, itung-itung lu bantuin Gwe dulu gitu Bro."
"Dari pada Lu ngelamar kerja, di tes, wawancara dan ***** bengek lainnya, di cafe idola nggak perlu tes, wawancara, bulan depan udah dapat gaji, asyik nggak tuh."
"Benar juga sih Bro, tapi gajinya Gwe minta yang gede ya. Soalnya buat ngelamar adik Lu Bro. nggak apa-apa deh dari pada tes, training, wawancara, lagi malas banget Bro."
"Iya, gaji dua kali lipat, tapi targetnya tambah 5 lima kali ya, bonus 10 persen jika target terpenuhi."
"Pokoknya Bro, dua kali lipat ya, target lain lain."
Akhirnya saat Rakasiwi melanjutkan study ke Jerman bersama istrinya Prita, Alfredo masuk kerja menggantikan Rakasiwi. Ia mempercayai sahabat dari kecilnya itu. Jadi hampir satu setengah tahun ia mengelola usaha Rakasiwi. Dan Rakasiwi tak mengingkari janjinya. Ia memberikan gajinya sesuai permintaan Alfredo, plus tambahan sepuluh persen.
Kreatifitas Alfredo memang luar biasa. Berbagai program ia buat untuk menarik lebih banyak pengunjung. Kadang program beli satu gratis satu. Datang sepuluh kali gratis yang kesebelas. Ada saja yang ia ciptakan untuk menarik dan mempertahankan pelanggan.
Selain makan dan minum di tempat. Ia juga membuka pelayanan pesan dan diantar gratis. Menyewakan tempat untuk meeting kecil-kecilan gratis dengan hanya memesan makanan dan minuman. Berbagai cara dan gaya yang membuat cafe tersebut selalu ramai tiap harinya. Tentu hal itu membuat lebih banyak pemasukkan bagi Rakasiwi. Alfredo juga senang, sebab ia bisa membeli rumah untuk ditempati bersama Cindy.
"Aku sudah bilang sama Rakasiwi, mau membeli rumah untuk kita. Tempatnya antara Jakarta dan Bogor, udaranya sejuk, besok aku mau mengajakmu ke sana, gimana?"
"Oh, begitu ya? ok sore ini saja kita kesana ya, sebentar, minumlah dulu mau yang hangat atau dingin?"
Alfredo sigap sekali bekerja. Ia memanggil pelayang dan menyuruh membuatkan minuman kesukaan Cindy. Jus buah yang tidak terlalu manis. Tak lama pramusaji mengantarkan pesanan untuk mereka. Alfredo menyilahkan Cindy meminumnya.
"Hem Enak banget."
Alfredo tersenyum dan juga ikut menyeruput minumannya.
"Kami baru saja membeli jus buah varian baru dari pusat. Dan laku keras,"
"Oh ya?"
"Iya, iklannya meraja lela mengalahkan iklannya marketplace yang nomer satu itu."
"wih keren dong."
"Ayank siapa dulu!"
Alfredo seperti biasa bisa membuat Cindy tersenyum, oleh sikap pongahnya.
__ADS_1
"Ayank siapa? lupa ya?"
Cindy bersiap membuka sepatunya untuk memukul kepala Alfredo yang memang suka usil.
"Ayanknya Cindy Prameswari dunk."
Sejenak mereka bercanda-canda hingga akhirnya Alfredo pamit karena ada keperluan dengan kekasihnya. Dua orang pria mengangguk hormat kepadanya.
"Sekarang aku bisa bebas mengantarmu nyonya Muhammad Alfredo."
Alfredo tersenyum menggoda. Cindy menolehinya dan membesarkan mata.
"Aku masih Nona Cindy, enak saja!"
"Aku hanya berlatih Yank."
"Memang begituan pakai latihan, ah lebay."
Cindy menaiki kenderaan Alfredo yang langsung membawa gadis itu pergi meninggalkan cafe pria idola.
Menuju sebuah perumahan yang sedang naik daun sebab konsepnya yang menarik. Kota Legenda, Alfredo membawa Cindy ke sana.
Perjalanan menuju tempat itu sedikit macet, tetapi dengan kesabaran akhirnya mereka mulai memasuki sebuah tempat yang maha luas. Pohon-pohon rindang yang tertata sepanjang jalan memberi kesan teduh dan hijau. Ada beberapa pilihan, Agaknya Alfredo mengambil bangunan yang berada di tengah. Keduanya menoleh pada sebuah rumah tak jauh dari jalan. Rumah bertingkat dua yang cantik dan indah di pandang mata.
"Itu rumah kita nyonya Muhammad Alfredo."
Cindy tersenyum bahagia.
"Cantiknya, aku suka."
"Mari kita masuk."
Alfredo memutar setir dan memasuki jalan menuju rumah tersebut, belum ada pagar yang menutupinya hingga mereka bisa langsung masuk dan berhenti di halaman yang di kiri dan kanan ada bunga-bunga serta rumput segar yang hijau.
Bersambung
__ADS_1