
Gadis itu cantik dan mungil, ia sendirian di pojok ruangan. Kadang terlihat ia mendongak lalu kembali menunduk. Boy mengerutkan keningnya. Ada sebuah ketertarikan untuk mendekati gadis di sana. Ia hampir saja berdiri dan berjalan ke meja gadis itu. Tetapi ia mengurungkannya. Bagaimana kalau gadis itu sedang bertengkar dengan kekasihnya? jika ia mendekati gadis itu lalu dia menyukainya. Sesaat indah namun kekasih gadis itu kembali, ia bakal gigit jari lagi.
Ia tengah berpikir-pikir saat gadis itu tiba-tiba menoleh kepadanya. Satu detik mereka bertatapan. Gadis itu turun dari kursinya dan mendatanginya. Boy bertanya-tanya apa mau gadis itu.
"Kamu, aku pernah melihatmu, di cafe pria idola kamu bersama seorang gadis, benar kan?"
Boy menghembuskan napas, rasa penasarannya terjawab dengan cepat. Ia menganggukkan kepala.
"Apa benar kau melihatku di cafe itu?"
Gadis itu membenarkan, ia bercerita seperti kejadian saat itu. Ia dan Rakasiwi yang membantu Boy membawa gadis itu ke rumah sakit.
"Apa kabar gadis itu? apa dia kekasihmu."
Sekarang mereka duduk berhadapan. Boy tersenyum kecil.
"Bukan, hanya teman masa kecil."
"Oh, aku dan Rakasiwi mengira dia kekasihmu."
"Begitu ya?"
Boy meringis, seolah perkataan itu sebuah lelucon.
"Memangnya salah perkiraan kami itu?"
Boy terkekeh, ada nada yang tak bisa dimengerti oleh gadis di depannya.
"Sepertinya ada sesuatu? benarkah?"
Boy mengangkat pandangannya, matanya bertemu dengan milik gadis itu yang bermata bola ping pong. Bulat dan lincah.
"Apa yang kau pikirkan? lalu kau sendiri kenapa duduk sendirian di sana dan keluhanmu terdengar olehku."
Gadis itu membesarkan matanya yang indah, dengan bulu mata yang lentik. Boy menyukai mata gadis itu serta senyumnya yang menimbulkan lekuk kecil di pipinya. Prita juga memiliki lekuk kecil di pipinya, jika ia tersenyum.
"Hem, aku memang sedang stres, sedikit lagi aku akan bertungan dengannya.Tetapi semuanya musnah."
Suaranya tercekat saat ia mengatakan hal itu. Ia mengusapi mata dan pipinya yang berjatuhan air mata. Boy menunduk, jadi hal yang sama terjadi juga padanya. Laki-laki itu tersentuh hatinya. Sejujurnya ia pun ingin menangis oleh kemalangan gadis itu dan dirinya.
"Oh iya, kenalkan namaku Melani. Aku manager marketing di cafe milik Rakasiwi. Aku sedang bekerja bersamanya saat kejadian itu. Kami berdua duduk tak jauh dari meja kalian. Saat kau pergi, gadis itu hesteris dan tersungkur. Rakasiwi langsung mengejarmu dan aku membantu gadis yang bersamamu."
Boy mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Aku Boy Indra."
__ADS_1
Mereka berjabatan tangan dan saling tersenyum.
"Kenapa kau tak membawa minuman dan snackmu ke sini?"
"Iya, betul juga, dari pada aku melamun duduk sendirian, ide bagus."
"Kelinciku melamun sendirian dan tau-tau mati!"
"Itu penyebabnya bukan melamun tapi udah sakit."
"Sok tau."
Begitu saja mereka berdua merasa memerlukan teman untuk bertukar cerita. Boy banyak bertanya tentang Melani dan keluarganya. Sama seperti Prita Melani anak semata wayang orang tuanya. Kalau Prita sudah kehilangan ayah sejak kecil, sebaliknya Melani tak mempunyai ibu. Ada beberapa kesamaan yang dimiliki oleh Prita dan juga Melani. keduanya sama-sama lembut, sama cantik dan juga pintar.
"Siapa kekasih yang meninggalkanmu padahal sebentar lagi kalian bertunangan?"
Boy menyuap makanan sembari melihat pada Melani. Mereka masih berada di tempat itu hingga siang, dan perut keduanya keroncongan. Boy memesan makan siang dan menawari Melani sekaligus. Ketika pesanan makan siang tersaji Boy dan Melani menikmati berdua sembari terus bercengkrama.
"Bosku!"
Boy tercekat, kenapa ceritanya menjadi mirip begini. Ia juga bermasalah dengan bawahannya yakni wakil direkturnya Prita. Dan Melani dengan atasannya. Jangan-jangan!
"Bosmu Rakasiwi?"
"Hemmm, kok tahu?"
"Apa maksudmu? oia jangan mengataiku gadis bodoh, aku lulus sarjana saat usiaku dua puluh satu tahun, dengan cumclaude, lulus dengan pujian!"
Melani memajukan mulutnya sehingga lagi-lagi ia melihat kemiripan cara merajuk yang sama dengan Prita. Hah! kenapa ia terus-menerus membanding-bandingkan gadis ini dengan Prita. Boy memarahi dirinya, Ia mengawasi gadis di depannya. Ia memang mungil dibandingkan Prita yang sedikit lebih tinggi, tetapi gadis ini dewasa dan serius, serta sangat feminim, sedikit sisi homoris yang ia miliki. Sedangkan Prita benar-benar gadis yang polos dan naif, cepat marah dan ngambek, serta tomboy.
"Anehnya perempuan yang bersama Rakasiwi itu juga hampir bertunangan denganku!"
"Up!"
Melani membesarkan matanya, serasa tak percaya.
"Benarkah?"
"Iya, gadis itu wakil direktur, dan aku direkturnya."
Dan keduanya tertawa terbahak-bahak oleh sebuah kenyataan tak terduga. Tertawa sekaligus rasa ngilu yang sakit.
"Bagaimana kalau kita biarkan mereka bahagia? dan kita membuat diri kita juga bahagia."
Keduanya bertatapan.
__ADS_1
"Iya, jangan biarkan diri berduka dan terluka. Dia bukan yang Tuhan kirim untuk kita."
Mereka lantas saling berpegangan tangan. Hati keduanya tertaut. Saat keluar dari restoran itu, tangan Boy dan Melani berpegangan erat. Gadis itu naik ke dalam mobil milik Boy, dan mengantar Melani pulang. Saat itu seorang pria berkharisma menyambut mereka. Sedikit terkejut sebab yang mengantar Melani berbeda.
"Pa, kenalkan mas Boy Indra."
"Oh iya."
Pria itu tersenyum ramah, menyuruh masuk dan mengajak mengobrol. Tetapi Boy tak lama sebab ia harus kembali ke kantor. Pria berkharisma dan anaknya mengantarnya di teras. Boy berjanji akan datang lagi begitu ia memiliki waktu senggang.
"Hati-hati Mas Boy."
Suara lembut Melani serta sikapnya yang perhatian.
"Terima kasih Mel, sampai jumpa ya."
Melani melambaikan tangannya, wajahnya telah berseri-seri. Gadis itu lantas pamit pada papanya untuk beristirahat. Di balik pintu Melani menyandarkan tubuhnya. Ia tersenyum bahagia. Sempat ada keraguan ketika Rakasiwi mendekatinya. Ia tahu laki-laki muda itu memiliki seorang kekasih. Ia beberapa kali melihat pasangan itu mampir di cafe milik Rakasiwi. Lantas ada beberapa bulan tak pernah terdengar lagi berita tentang keduanya. Sementara wajah Rakasiwi murung dan muram.
Melani terkejut ketika suatu hari Rakasiwi mengajaknya makan malam. Seperti mimpi. Tetapi itu kenyataan. Rakasiwi mendekatinya, mengenalkan pada keluarga dan juga ingin mengenal keluarga Melani. Beberapa bulan yang sangat indah.
Memang belum pernah Rakasiwi menyatakan cinta serta impiannya tentang keluarga kecil. Meski Melani sangat mengharapkan hal tersebut. Ia selalu menunggu penuh dengan debaran-debaran hati yang ingin meluap. Hanya saja menjadi sebuah luka dan rasa pedih. Ia melihat sendiri Rakasiwi terlonjak kaget saat mendengar kabar gadis itu sakit. Mamanya menelpon ketika mereka sedang bekerja memeriksa transaksi hari itu di cafe.
"Aku harus pergi! "
"Boleh aku ikut?"
Mereka sempat berpandangan. Tanpa jawaban Raksasiwi setengah berlari meninggalkannya. Melani menggigit bibirnya. Betapa tadi ia begitu bahagia berduan di ruangan kantor. Wangi Rakasiwi tercium hidungnya, sesuatu sensasi menyerbu dirinya. Tetapi bunyi handphone itu merubah suasana.
"Rakasiwi kamu di mana Nak?"
Seperti itu mungkin pertanyaan Bunda Mardo.
"Aku di cafeku Bun, ada apa?"
"Prita di rawat di rumah sakit."
"Apa Bun, Prita di rawat?"
Setelah itu wajah Rakasiwi berubah, ia terlihat cemas dan menjawab bahwa ia segera pulang dan bersama pergi ke rumah sakit. Lalu Melani sendirian menyelesaikan pekerjaannya.
__ADS_1
Bersambung