
Beberapa menit kemudian mobil berbelok memasuki pelataran parkir sebuah gedung yang menjulang tinggi dan megah.
Beruntung tempat parkir karyawan itu masih lowong. Agak siang sedikit sudah tidak mungkin memarkir di tempat itu. Melainkan harus masuk ke atas gedung. Hal yang kurang menyenangkan bagi Raffa. Sebab ia mungkin hanya sebentar di gedung itu.
Bam ngikk!
Gadis yang bernama Diana terguncang tubuhnya ke depan. Sebab Raffa menghentikan mobil dengan cara yang menghentak. Diana menolehi laki-laki muda itu. Tapi Raffa cuek. Ia mematikan semua perlengkapan kenderaan. Ac dan musik baru mematikan mesin dan mencabut kuncinya.
"Ayo turun! mau nunggu apalagi?"
Raffa melonggok kedalam melihat Diana yang masih duduk di joknya.
"Memangnya sudah sampai ya?"
Tanya gadis itu, berusaha melihat keluar.
"Iya ini perusahaannya, kita sudah sampai kok. Memangnya kau pikir aku akan mengajakmu kemana? ke apartemenku begitu? mana mungkin."
Diana memajukan mulutnya. Kata-kata Raff itu tidak enak terdengar oleh kupingnya. Dia hanya heran kenapa sampainya cepat sekali. Padahal jika naik angkot sangat lama dan membosankan sampai-sampai mengantuk.
Tentu sangat berbeda. Di dalam mobil sangat nyaman. Joknya lembut dan halus. Nyaman oleh AC. Wangi parfum kenderaan yang lembut serta musik yang manis dan disukai. Juga parfum dari tubuh Rafa sangat wangi membuatnya bergairah.
Karena Diana tidak juga turun. Akhirnya Raffa berjalan mengelilingi mobil dan membukakan pintu untuknya. Meskipun dibarengi dengan wajah yang masam. Apa dia sudah merasa menjadi orang yang penting? Senyumnya sinis.
Barulah Diana mengeluarkan kakinya sebelah dan kemudian sebelah lagi. Ia berdiri dan menjauhkan dirinya dari pintu yang langsung digebrak oleh Raffa. Kenapa dia kasar sekali pikir Diana.
"Ayo!"
Rafa berjalan menuju pintu gerbang. Beberapa pegawai juga bergegas memasuki kantor. Mereka langsung menuju ke lift dan menghilang di sana.
Diana mengejar Rafa dan berusaha berjalan di sisinya. Tetapi rupanya laki-laki itu tidak ingin berjalan sejajar dengan Diana. Ia melangkahkan kakinya lebih lebar sehingga Diana tertinggal. Mengertilah Diana kalau laki-laki itu tidak mau berjalan dengannya.
Dengan gondok tiba-tiba ia berlari ke sebuah tempat dan masuk ke dalamnya. Beberapa lama Raffa tidak mendengar langkah gadis itu. Ia menoleh dan terkejut.
"Hei Diana kau di mana? jangan main-main cepat kemari, hello! Diana cepatlah, kenapa kau lama sekali."
Dia berusaha menunggu dan memanggil nama Gadis itu. Raffa terpaksa berjalan balik ke belakang. Ia mencari-cari gadis tersebut dan berteriak.
__ADS_1
"Diana! di mana kau! cepat keluar! aku tidak mau kita terlambat."
Tetapi sepi tidak ada sosok gadis itu melainkan hanya beberapa pegawai yang memandang keheranan. Raffa baru akan meledak ketika Diana muncul dari toilet sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang basah. Raffa menggeleng-gelengkan kepala.
"Bilang dong kalau mau ke toilet, Aku sampai terkejut menyangka kamu kabur tau!"
Raffa menyembur gadis itu saat hampir melewatinya. Diana menghindar sambil menyipitkan matanya dan mengerucutkan bibirnya.
"Bagaimana mau bilang, kamunya aja ninggalin aku untung aku nggak pulang, niat nggak sih membawa aku ke perusahaan ini?"
Keduanya saling ngotot merasa paling benar. Untunglah pintu lift terbuka di hadapan keduanya. Raffa dan Diana bergegas masuk bersam tiga pegawai lain yang memencet nomer lantai yang berbeda.
Tak lama pintu terbuka, Raffa keluar diikuti oleh Diana. Mereka berjalan ke sebelah kiri di mana meja sekretaris yang melingkari mirip meja bar. Perempuan itu sepertinya sedang sibuk bersiap-siap.
"Selamat pagi Bu Anne, maaf saya menggangu pekerjaannya."
Perempuan itu memandang wajah Raffa dan tersenyum.
"Pagi pak Raffa."
"Saya ada janji dengan bu Cindy jam 09.00, apa beliau sudah datang?"
Perempuan itu menjawab Raffa, dan menyilahkannya duduk di ruang tamu.
"Ok, mari Din."
Gadis itu masuk sembari terkagum oleh megah dan artistiknya ruangan tersebut. Barulah ia duduk dengan tegak, menaro tangannya di paha, mengangkat kakinya dan membuatnya bertumpu. Dia sekarang adalah pemilik resep yang telah membuat pemilik perusahaan besar itu tertarik. Dia bukan gadis biasa sebentar lagi.
Diana berusaha tenang. Tetapi sesuatu di dadanya terus saja berdebar sejak ia memasuki ruangan tersebut.
Untungnya seorang perempuan muda datang membawakan minuman untuk mereka. Minuman di dalam gelas yang ramping dan berwarna. Sepertinya itu adalah jus buah.
"Silahkan minumannya."
Dengan ramah perempuan itu menyilahkan keduanya menikmati jus buah. Lantas keluar dari ruangan itu. Diana memandangi jus buah tersebut dan menelan salivanya. Ia lalu mengambil gelas tersebut dan mulai menyeruputnya. Gadis itu langsung tahu bahan dan campuran dari jus tersebut.
"Enak ya?"
__ADS_1
Tanya Raffa sinis.
"Cobain sendiri!"
Jawab Diana. Raffa mengambil minumannya dan menghirup bagiannya. Mereka terdiam cukup lama dan melihat handphone. Sampai terdengar suara sepatu yang mendekat.
"Bu Cindy sudah datang, silahkan pak Raffa di tunggu di tempat meeting "
"Oh, iya terima kasih Bu."
"Ayo Din."
Keduanya bergegas menuju ruang meeting yang berada di lantai itu juga. Bu Anne sekretaris membukakan pintu untuk keduanya. Di sana di meja meeting yang sangat bagus, menempel di dinding layar untuk infocus.
"Hello, selamat pagi, selamat datang,"
Suara ceria menyambut Raffa dan Diana.
Sesaat ruangan itu dipenuhi salam dan saling mengenal. Raffa berbisik di telinga Diana bahwa perempuan muda yang cantik di depan mereka adalah ibu Cindy pimpinan perusahaan.
Hanya saja Raffa tercekat, karena ada laki-laki muda yang berada didekat Cindy. Selain tentunya Pak Deni dan pak Sammy yang ia kenal. Raffa bertanya-tanya pada dirinya siapa laki-laki muda yang di sebelah Cindi.
Cindy sendiri merasakan pertanyaan dari mata Raffa. Dia sering melihat laki-laki disebelahnya.
"Oh iya pak Raffa dan bu Diana, kenalkan dia Muhammad Alfredo, salah satu pemilik Cafe PI. Beliau akan bersama kita di sini untuk mendengarkan tentang kue penutup."
Rafa dan Diana tersenyum serta menganggukkan kepalanya kepada Alfredo. Setelah itu Cindy menyilahkan om Deni memimpin meeting tersebut. Dia memberikan kesempatan pertama kepada Diana untuk menjelaskan bagaimana dan apa saja yang dibutuhkan untuk membuat kue penutup, juga perkiraan biaya hingga harga jualnya.
Semula Diana gugup sebab baru sekali ini ia meeting di sebuah perusahaan besar. Tetapi ia teringat pada nenek dan kedua bibinya. Segera hilang kegugupannya dan ia segera menjelaskan tentang kue penutup tersebut.
Ia memulai dari keinginan Raffa yang ingin menambah menu cafe mereka. Ia lantas menawarkan kue mungil bundar mirip makanan kesukaan anak-anak. Jika makanan anak-anak itu terbuat dari jeli. Sedang kue penutup terbuat dari empat bahan tepung, lalu jagung manis, agar-agar dan beberapa tambahan lain.
Setelah Diana mengungkapkan semua mengenai kue penutup dengan detail hingga lama pembuatannya, segera Cindy, Alfredo serta om Deni dan Sammy bertanya tentang berbagai hal. Sampai akhirnya Cindy berterus terang bahwa perusahaan tertarik untuk memproduksi masal kue tersebut.
Diana menggigit bibirnya. Ia berdebar dan serasa ingin meledak. Cindy menambahkan jika kesepakatan sama-sama disetujui, itu berarti Diana harus berada di perusahaan. Produksi masal kue penutup akan dilakukan dari perusahaan. Kedepannya akan merancang bagaimana kue penutup itu bisa di buat juga di kota-kota jauh.
Tara! apa kabar? jangan lupa dukungannya
__ADS_1
othor sangat berterima kasih.
Bersambung