
Waktu berjalan dengan cepat. Tiba tiba saja undangan pesta perpisahan sekolah telah dibagikan.
Sebelumnya banyak kejadian yang terlalui. Salah satunya kedatangan beberapa polisi ke sekolah.
Masalah penculikkan Mardo ternyata sempat berlanjut. Theo tak terima telah dibohongi. Ia mengadukan seorang siswa di sekolah itu. Memang tidak ada siswa yang tahu siapa dalang penculikkan itu. Polisi dan kepala sekolah mengurus dengan baik kejadian itu. Mardo yang memutuskan apakah orang itu dimaafkan atau dihukum. Mardo dan dia dipertemukan. Keduanya saling tatap dan sama terkejut.
"Mardo, aku minta maaf."
Gadis itu yang telah ketakutan sejak ia dibawa ke kantor pemeriksaan, setengah menangis.
"Ka-kamu? kenapa Mi?"
Mardo menatap keheranan. Ia tidak pernah ada masalah dengan Mimi.
"A-awalnya hanya kesal, pokoknya aku menyesal Do, tolong maafiin aku Do. Aku janji tidak akan melakukan hal yang tidak baik. Tolong maafkan aku ya Do. Sebentar lagi kita ujian."
Mimi bersimbah air mata. Sedangkan Mardo terdiam.
"Kamu tau apa yang akan Theo lakukan padaku Mi? ia mau memberiku pelajaran yang akan kuingat seumur hidupku. Jika saja Halima tak datang."
Mardo tak meneruskan kata katanya. Ia yakin Mimi tau kelanjutannya.
"Apa yang telah aku lakukan hingga kamu kesal padaku?"
Mardo menatap dalam ke wajah gadis cantik itu.
Mimi mengangkat wajahnya, " Ka-kamu mengambil Richi."
Mimi mengatakannya tanpa tedeng aling aling.
"Oh, jadi itu alasannya. Biar kamu tau Mi, aku dan Richi hanya berteman."
Lantas terdiam lumayan lama. Akhirnya Mardo mengulurkan tangannya dan memaafkan Mimi.
Mereka berpelukkan dan menangis. Theo, orang tua Mimi, Papi serta pihak polisi menyaksikan kejadian itu.
Semua orang di ruangan itu akan melupakan yang terjadi, menjadi pelajaran yang tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Sampai akhirnya tiba pesta perpisahan. Senang sekaligus sedih. Senang karena satu tahap telah terlalui lagi. Berikutnya mereka semua akan melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi. Untuk menggapai cita-cita.
Mardo mengenakan gaun warna pink. Ia, Betty, Zamzam, Rose, juga Halima dan Sarah Lee telah bergerilya di pertokoan untuk baju pesta perpisahan tersebut. Modelnya cantik sesuai sekali dengan tubuh Mardo. Mami menyanggul rambutnya dan memberi jepitan pemanis. Malam itu Mardo cantik sekali, dan elegan.
Gadis gadis itu semua berkumpul di rumah Mardo. Mami mendandani satu persatu. Semua gadis gadis itu cantik dan mempesona. Halima Haremba nampak berbeda. Ia lebih tenang, kebahagian terpancar di wajahnya.
Pada saatnya mereka berangkat ke gedung pertemuan, bercengkrama dan saling tersenyum. Saling melambai pada teman teman yang berdatangan dan mengisi bangku yang tersedia.
Musik dan tarian ceria yang dibawakan bergantian oleh adik adik kelas membuat suasana di liputi kegembiraan.
__ADS_1
Tamu tamu undangan telah menempati kursinya. Mereka berwajah riang dan bahagia. Host mulai membuka acara. Ia menginfokan tentang susunan acara malam itu. Tentu saja bapak kepala sekolah menjadi orang yang pertama maju ke depan untuk mengucapkan selamat. Kemudian pemberian penghargaan kepada siswa berprestasi. Kisah perjalanan selama tiga tahun yang dibacakan oleh ketua osis. Banyak yang tertawa oleh rekaman jahilnya anak anak. Keusilan, juga ada yang mengantuk saat belajar. Pintar sekali adik adik kelas membuat vidio tentang kakak kakak yang akan meninggalkan sekolah.Vidio yang membuat semua tertawa, tersenyum dan menitikkan air mata. Besok mereka tak lagi datang ke sekolah. Hanya tinggal kenangan.
Richi malam itu menjadi sosok yang mengagumkan. Ia merupakan siswa peraih nilai tertinggi. Bapak kepala sekolah langsung memberikan penghargaan padanya. Tentu saja seusai itu, Mardo dan teman temannya menyongsong untuk mengucapkan selamat. Richi tersipu sipu. Beberapa kali ia menatap pada Mardo.
"Do, selamat ya, kalian juga semuanya semoga sukses."
Mereka saling bersalaman, lantas menikmati acara yang dirancang oleh adik adik kelas.
Juga makan malam bersama, menikmati kue kue dan acara hiburan yang menyenangkan..
Mardo dikejutkan oleh Mimi. Gadis itu tiba-tiba datang menyongsongnya. Mereka saling menatap
"Mardo, selamat ya, juga terima kasih dan perasaan bersalahku."
Mimi ingin menangis.
Mardo buru buru menggenggam tangan Mimi dan tersenyum, "Kita sudah saling memaafkan waktu itu, tidak perlu mengingatnya lagi.
"Iya Do, aku hanya ingin mengucapkan selamat untukmu, semoga sukses selalu ya Do."
Mereka berpelukkan, "Kamu juga sukses dan semangat ya, jalan kita masih panjang."
Lalu Mimi pergi, ia juga saling memeluk dengan Betty, Zamzam, Rose, Sarah Lee dan Halima.
Mereka bahagia sekali malam itu, melupakan masa lalu.
"Mardo, setelah acara ini maukah kau ke rumahku?"
"Hemmm, apakah aku sendiri atau dengan teman teman juga.?
Richi gugup, sejujurnya ia hanya ingin berdua dengan Mardo. Namun ia melihat Betty, Zamzam, Rose yang tengah menatapnya. Ia menjadi tak enak hati.
"Dengan teman teman juga nggak apa apa."
Ok, sahut Mardo.
Ketika tamu tamu undangan telah pulang dan acara pesta akan berakhir. Di luar terdengar riuh. Ternyata pria idola datang ke gedung tersebut. Gadis gadis remaja kembali hesteris. " Ada kak Raka! ada pria idola!"
"Ya ampun, kak Raka ada di sini."
"Apakah ia akan memainkan gitar di pesta perpisahan kita?"
Ternyata benar, Kak Raka menjadi tamu di acara pesta perpisahan itu. Sebuah bank telah tersedia di panggung.
Tepuk tangan dan suara riuh rendah menyambut kedatangan Raka bersama teman temannya.
Mardo tertegun menoleh ke pintu gedung, semua memandang ke arah Raka yang di apit teman temannya.
__ADS_1
"Selamat datang kak Raka dan kakak kakak semua. Terima kasih sudah sudi datang ke pesta perpisahan kami."
Host menyambut ceria.
Raka berjalan ke panggung. Melambai lambaikan tangan pada semua adik adik kelasnya.
Kak Raka sangat tampan dan keren. Semua mata terpana oleh ketampanannya. Juga kemudian suaranya yang berwibawa.
"Beberapa tahun yang lalu, kakak juga seperti kalian. Bahagia dan senang telah lulus dari sekolah menengah pertama. Jalan masih panjang adik adik. Tetap semangat dan pantang menyerah. Selamat lulus untuk adikku Richi Bramantyo, dan kalian semua."
Selanjutnya Kak Raka mulai memainkan gitarnya. Menyanyi dengan suara emas. Memukai dan membuat semua senang.
Setelah dua lagu, kak Raka pamit dan menyerahkan kepada teman temannya untuk melanjutkan.
Tiba tiba ia mendatangi Mardo dan menarik lengan gadis itu agar mengikutinya.
"Kak, kak lepaskan! aku belum mau pulang."
Tapi Raka justru semakin kuat menggenggam lengannya. Beberapa gadis gadis melihat hal itu. Betty, Rosse dan Zamzam hanya terbengong..
Raka terus menarik lengan Mardo menuju tempat parkir.
"Mardo!"
Terdengar suara Richi, setengah mengejar.
"Kak Raka, sepatuku lepas."
Saking terburu burunya hingga sepatu berwarna putih milik Mardo terlepas sebelah. Dan Richi melihat sepatu putih tersebut dan memungutnya sembari melihat mobil mewah kakaknya bergerak meninggalkan gedung.
Richi mengepalkan jari jemarinya. Mengigit bibirnya kuat, hingga terasa sakit.
Bersambung.
__ADS_1