Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 310. Bertugas


__ADS_3

Raka dan Mardo bahagia sekali. Anak-anak mereka membuat keduanya bangga, senang serta merasakan telah menjadi orang tua.


Kelulusan Rakasiwi serta kepulangannya ke Indonesia dengan membawa bayi kembar yang sangat tampan dan menggemaskan. Membuat hari-hari Raka dan Mardo dipenuhi oleh tawa canda serta kegembiraan.


Dua bayi kembar laki-laki itu ramai sekali. suara tangisnya kencang begitu juga jerit tertawa mereka. Jika tak dibantu suster mereka semua kerepotan oleh kelincahan bayi-bayi itu.


Prita bergantian dengan suster menjaga bayi-bayi yang sekarang telah berusia 2 tahun setengah. Mulut-mulut bocah itu ramai bicara entah tentang apa. Sangat lucu dan menggemaskan.


Mardo melihat lagi sosok Rakasiwi pada kedua bocah itu. Senyumnya, tertawanya adalah milik Rakasiwi. Sedangkan mata, hidung dan bibirnya melekat wajah Prita.


Terkadang berhari-hari Prita dan Rakasiwi berada di rumah mama Risa, keduanya memperlakukan masing-masing orang tua dengan adil. Jika Rakasiwi sebulan berada di rumah orang tuanya maka berikutnya sebulan berada di rumah mama Risa.


Raka melihat kesibukan Rakasiwi sudah berkurang. Dia sudah selesai dengan kedutaan Jerman yang mengurus kepulangannya dan Prita.


Barang-barang yang dititipkan serta dokumen semua telah sampai ke tangan Rakasiwi. Bulan-bulan terakhir ia hanya pergi ke Cafe miliknya atau bercengkrama dengan Alan dan Alfredo.


Raka memutuskan akan memberi sebuah peluang untuk putranya. Raka membicarakan hal penting itu suatu malam seusai bersendau gurau dengan anak-anak dan cucu kembarnya.


"Raka sini sebentar Nak, ayah ingin bicara."


Raka menolehi ayahnya dan mengikuti ke ruang kerja.


"Ada yang ingin ayah bicarakan denganku? tentang apa Yah?"


Raka tersenyum dan memberi kode agar putranya duduk di hadapannya.


"Ayah ingin kau menjadi rektor di universitas kita di kota Merauke!"


Todong Raka seketika. Membuat Rakasiwi tercekat.


"Apa aku tidak salah dengar ayah? Itu adalah pekerjaan yang sangat tinggi, apa aku sudah pantas memegang jabatan seperti itu?"


Raka tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Kenapa tidak? Sebelumnya kau sudah berpengalaman memimpin di cafe milikmu. Selain itu kau sudah memiliki bekal yang cukup. Tinggal lagi keberanian, keyakinan, serta kemauan untuk bekerja keras juga bertanggung jawab atas amanah yang diberikan."


Raka melihat kemampuan putranya. untuk memimpin. Sebab itu ia memutuskan akan menjadikan Rakasiwi sebagai rektor di universitas milik keluarga mereka. Pada dasarnya memimpin perusahaan dan universitas sama saja.


Rakasiwi akhirnya menerima keputusan ayahnya. Bersedia pergi ke Merauke untuk memimpin Universitas di sana. Kemudian Rakasiwi membicarakan hal itu dengan Prita. Perempuan itu menyerahkan semua kepada keputusan Rakasiwi. Dirinya dan anak-anak akan ikut kemanapun


Prita hanya mengusulkan agar membawa ibunya ke Merauke. Dengan begitu mama Rissa tidak sendirian. Rakasiwi dengan senang hati mengijinkan Prita membawa ibunya. Anak-anak tentu lebih senang dengan keberadaan neneknya.


Mereka pun mempersiapkan keberangkatan mereka ke kota yang berada di ujung Indonesia. Raka dan Mardo serta anak-anak akan ikut mengantarkan Rakasiwi dan Prita ke Merauke.


Raka dan Mardo menyiapkan sebuah upacara untuk memperkenalkan Rakasiwi sebagai Rektor baru di Universitas.


Sebelum keberangkatan, Rakasiwi dan Prita sowan kepada opa Bramantyo dan Oma. Rakasiwi dan Prita mohon didoakan agar diberi kemudahan dan kelancaran. Juga mengobrol dengan Om Richi yang sudah berpengalaman di sana. Saat ini Richi memegang sebuah usaha di Jakarta, bersama Opa Bramantyo. Belakangan Opa Bramantyo menyerahkan sepenuhnya kepada putranya Richi.


Setelah itu mereka berpamitan ke opa Wijaya dan oma. Kebetulan di sana ada om Mangara dan juga tante bungsu Patricia. Suasana menjadi ramai serta meriah, om Mangara mau ikut ke sana untuk jalan-jalan. Dulu ia tak sempat pergi ke sana, hanya Mardo adiknya yang pernah berlibur ke Merauke.


Rakasiwi senang jika om Mangara mau ikut, ia memastikan dengan meminta ktp omnya. Patricia tak bisa, sebab sedang hamil besar.


"Pipi, ingat nggak dulu waktu di Merauke ngejar-ngejar Mimi he he he."


Mardo tersenyum manja kepada suaminya. Pria itu mengedipkan matanya.


"Oh iya ya, kamu sih dulu acuhin Pipi, pura-pura nggak suka sama Pipi, setelah pipi kejar baru deh."


"Habis Pipi, nakutin sih."


"Masa sih?"


"Kalau sekarang Pipi nakutin nggak?"


Raka memeluk pinggang perempuannya. Mereka sedang bersiap tidur malam itu. Setelah berbincang tentang keberangkatan Rakasiwi ke Merauke.


"Nggak dong Pi, udah jinak."

__ADS_1


"Jinak? memang Pipi binatang buas?"


Raka menyelusupkan tangannya ke bukit kembar istrinya. Setiap malam sebelum tidur ia terbiasa bermain terlebih dulu. Kadang berakhir dengan penyatuan yang saling memuaskan. Kadang hanya sampai di saling remas meremas, kecupan di bibir, saling menyesap kemudian keduanya tertidur.


Mardo adalah candu bagi Raka. Begitu pun sebaliknya. Keduanya tak bisa berpisah sekejappun. Mereka bak dua tubuh satu jiwa.


"Nanti kita naik kuda di pantai lampu satu ya Mi, seperti dulu."


Raka masih belum berhenti mencecapi leher, serta bagian pucuk tubuh Mardo. Perempuan itu. Bertambah umur keduanya masih tetap melakukan kegiatan yang satu itu.


"Kudanya masih ada nggak ya Pi?"


"Udah mati kayaknya Mi, tetapi anak-anak kudanya ada dan bertambah besar, sehingga sudah bisa dinaiki, begitu siklus kehidupan mereka Mi."


"Iya benar Pi, nanti kita naik kuda menyusuri pantai."


"Siap sayangku."


Mereka saling berpelukkan dan menghabiskan malam yang tersisa. Memberikan cinta yang tiada pernah berkurang, bahkan semakin berusia senja cinta keduanya bak anggur, semakin lama disimpan maka kian manis dan enak rasanya.


Keduanya besok akan mengantar Rakasiwi ke sebuah kota. Putra mereka akan bertugas di sebuah universitas. Sebuah tugas yang berat tetapi memiliki maksud yang mulya.


Saat ini kota yang berada di ujung Indonesia itu sudah mengalami kemajuan yang pesat. Jalan-jalan telah menjadi lebar dan bagus. Pertokoan, mall serta pertokoan marak di kota berkembang itu.


Dulu sekali tak begitu. Kota yang juga dikenal dengan nama kota Rusa sekarang berbeda. Kenderaan berlalu lalang tiada henti. Dulu sepi dan lenggang, tak seramai saat ini.


Mulanya Mardo keberatan dengan penugasan Raka ke kota yang jauh itu. Tetapi Raka meyakinkan bahwa suasana kota itu sekarang sangat bagus. Tak seperti kota Jakarta yang dipenuhi polusi serta padat. Kalau saja Raka tak memikirkan rumah pusaka yang mereka tempati saat ini. Ia juga mau tinggal di luar kota Jakarta seperti Merauke.


Banyak hal yang unik dan tak ada di kota besar seperti di Jakarta. Kota Eksotik juga sangat indah dan memiliki pemandangan pantai serta pegunungan yang luar biasa indah.


Besok harinya, beberapa orang berangkat ke bandara. Rakasiwi dan keluarga kecilnya akan tinggal di Merauke. Raka, Mardo, mama Risa, Mangara, Tria, Dode, dan si bungsu Rama ikut meramaikan suasana mengantar Rakasiwi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2