
"Prita, terima kasih ya kamu sudah menemaniku ke acara reuni, apa kamu suka
acaranya?"
Rakasiwi menolehi Prita yang duduk tenang di sebelahnya.
"Oh, ia aku suka, dan ternyata kamu pintar banget main gitar."
Prita membalas menatap pada Rakasiwi.Ia masih teringat bagaimana tadi mereka
berada di acara itu. Pandangan gadis-gadis yang cemburu kepadanya. Sesaat tadi
ia merasa bahagia banget. Rakasiwi memperlakukannya lembut dan seolah-olah
mereka pasangan yang sangat intim. Gadis itu ingin sekali menanyakan kenapa
Rakasiwi memperlakukan dirinya seperti dia adalah kekasihnya.
Gadis itu menundukkan kepalanya. Ia merasa indah sekali bersama pria muda yang
keren dan tampan di sebelahnya. Wangi maskulinnya tercium lembut. Prita mengigit
bibirnya. Perasaan indah ini, belum pernah ia rasakan sebelumnya. Debar-debar
di dalam dadanya begitu banyak dan tak mau berhenti. Serta rasa yang serba salah
sulit diungkapkan.
"He he he, main gitar satu-satunya kebisaan aku, ayah Raka yang mengajariku
bermain gitar sejak kecil."
"Oh, ayah juga pintar main gitar ya?"
"Iya, ayah adalah jagoan bermain gitar ketika mudanya. Bunda Mardo yang
menceritakannya pada kami anak-anaknya. Dan Bunda yang menyuruh
ayah mengajari kami semua bermain gitar."
"Wah, jadi semua bisa main gitar? Cindy, Tria, juga Dode?"
Prita menolehi Rakasiwi, mereka belum lagi sampai. Rakasiwi akan mengantar
Prita hingga ke rumah.
"Iya, bahkan bunda juga bisa bermain gitar, jika ada perayaan ulang tahun
keluarga, kami tampil he he he, dari pada sewa penyanyi kan lebih hemat."
Keduanya tersenyum.
"Kalian keren sekali, a-aku suka dengan pria yang pintar main gitar!"
Prita mengungkapkan perasaannya begitu saja. Dan Rakasiwi serta
merta menoleh, hatinya terkejut sekaligus berbunga-bunga.
Gadis itu baru saja mendekap mulutnya, tersenyum malu-malu serta
jengah. Memang Prita menyukai nada-nada yang keluar dari benda
bernama gitar tersebut. Ia dulu sempat belajar bermain gitar tetapi
kukunya sakit dan akhirnya ia memutuskan memilih ilmu bela diri
untuk berjaga-jaga, mengingat ia hanya mengandalkan dirinya
sendiri selama ini.
"Serius nih? aku pria yang pintar main gitar."
Rakasiwi mengerling, sedikit mendongakkan wajahnya seolah berkata
ini loh pria itu yang kamu sukai.
Prita tersenyum jengah, entahlah menurutnya pria yang pintar bermain
gitar itu keren. Bermain gitar itu memerlukan kecerdasan dan bakat, sudah
bisa dipastikan ia cerdas, serta trampil.
Bisa menenangkan dengan petikkan gitarnya, terlihat sensual saat memainkan
gitarnya. Pria dengan gitar berani menyuarakan setiap hasrat dan keinginan
lewat cara yang unik. Pria yang bisa bermain gitar itu perfeksionis, dia sangat
berhati-hati dalam menjalani kehidupan, serta seorang yang memiliki hati
__ADS_1
sensitif dan lembut.
"Kenapa suka sama pria yang pintar bermain gitar?"
Rakasiwi mengejar, berarti dia sudah selangkah lebih maju, yuhuuuu!!!
"Emmm satria bergitar akan terlihat lebih menantang dan menggoda."
Wauuu! yes!
Rakasiwi berteriak kencang-kencang, "Menantang dan menggoda? jadi
tertantang nih dan tergoda?"
He he he, gitu deh!
Prita menolehkan kepalanya ke luar, sembari bergumam.
Rakasiwi mesem-mesem dan blank, sebab penyakit grogi menyerang mendadak.
Ia garuk-garuk kepala.
"A-aku juga paling suka ama gadis yang mengenderai moge, aura kelembutan
serta kekuatannya terpancar, kapan-kapan ikut touring yuk."
Prita menoleh, ia mendengar tadi Rakasiwi bilang suka sama gadis yang
mengenderai moge, ah yang bener aja. Kan gadis naik moge keliatannya
seperti garang dan macho. Apa Rakasiwi suka sama cewe garang?
"Sebenarnya nggak terlalu suka sih, secara aku kan nggak pernah ikutan
touring gitu, peninggalan ayah aku."
Prita mengatakannya pelan sembari menyentuhi kukunya.
"Oh, dulunya punya ayah? peninggalan? maksudnya beliau sudah tidak ada?"
"I-iya, papa meninggal waktu aku masih kecil."
"Oh maaf banget ya, tak bermaksud membuat kamu sedih."
"Nggak apa-apa kok."
Lalu membisu, lagi pula kediaman Prita sudah semakin dekat, rasanya
"Mobilnya nggak bisa masuk, biar aku turun di pinggir jalan saja."
Prita menunjuk gang tempat ia biasa pergi dan pulang.
"Biar aku antar sampai rumah ya, kenalan sama bunda kamu."
Rakasiwi menghentikan kenderaannya lantas keluar dan memutar
kedepan untuk membukakan pintu buat Prita. Padahal Prita tadi
ingin membuka sendiri pintunya dan keluar, tapi suara Rakasiwi
menghentikan langkahnya, "Tunggu!"
Ah, kalau saja Yunna dan Elsa melihat ini mereka pasti bisa pingsan.
Kedua gadis itu selalu bermimpi ketemu pria idola yang memperlakukan
mereka bak putri.
Rakasiwi dan Prita berjalan bersisian, Prita melangkah lebih cepat
sebab dadanya berdebar bertambah banyak, ingin cepat sampai
ke rumah lalu masuk kamar dan menenangkan dadanya yang
terus saja berdebar dan bergemuruh.
Meski Rakasiwi sudah pernah ke rumah Prita saat mengembalikan
dompet, tetapi ia lupa tempat itu. Karena memang ada pengaspalan
jalan-jalan serta perbaikan di sana sini. Rumah Prita juga berubah
sudah terpasang pagar tinggi serta bagian atasnya juga sudah
tertutup kanopi.
"Assalamualaikum, mama! aku pulang!"
Prita membuka pagar dan mengetuk pintu, Rakasiwi menunggu.
__ADS_1
Tak lama perempuan tinggi besar itu telah membuka pintu, Prita
mengajak Rakasiwi masuk dan ia menghidupkan lampu ruangan
tamu. Perempuan mama Prita menatap pria tinggi serta tampan
berwajah jernih dan tengah tersenyum padanya.
"Mama apa kabar? saya mengantarkan Priti pulang Ma."
Wanita itu yang tadi sempat tertidur, menatapi Rakasiwi dengan
mengerutkan dahi dan matanya, ia mengingat-ingat.
"Alhamdulillah kabar mama baik, seperti pernah ketemu?"
"Iya Ma, kan waktu itu pernah ngantar dompet Prita yang terjatuh
waktu di stasiun."
"Oia, pantas mama seperti udah kenal, minum dulu ya Nak."
"Nggak usah Ma, sudah malam, hanya mengantar Prita, saya pamit
ya Ma, lain waktu ke sini lagi."
Rakasiwi menyalami mama, kemudian menatap Prita yang berdiri
untuk mengantarnya ke teras.
"Aku pulang dulu ya, terima kasih sudah menemaniku tadi."
"Sama-sama, hati-hati ya."
Rakasiwi menganggukkan kepalanya. lalu berbalik dan berjalan
cepat. Suasana belum terlalu malam, masih terdengar dan terlihat
bayangan-bayangan orang bercengkrama di pos ronda yang
terlewati pria muda itu. Dan dia hanya tinggal menganggukan
kepalanya karena tadi sudah menyapa saat bersama Prita.
Orang-orang di pos itu sudah maklum.
Pria muda itu tersenyum bahagia, ia segera pulang ke rumahnya
dan Edo masih mengobrol di ruang keluarga bersama Cindy, Tria
dan Dode, mereka tengah asyik menonton vidio.
"Ya ampun kalian ini! Do elo kok belum pulang sih? ganggu aja!"
Rakasiwi setelah mencuci tangan dan kakinya menghenyakkan
tubuhnya memandangi Alfredo.
"Udah malam! mau jam berapa pulang?"
Edo garuk-garuk kepalanya, malas bergerak.
"Mau nginap ya Ka, gwe malas pulang, bokap ama nyokap
lagi ke luar kota."
"Ohhh mau nginap! tapi awas ya jangan nyelinap ke kamar adik Gwe!"
"Nggak mungkin lah Ka, selama janur kuning belum terpasang aman
terkendali!"
"Hah! bisa aja Loe, buktinya Gwe baru tahu loe udah jadian sama adik
Gwe setahun, dasar!"
"Ya Elo Ka, kagak peka."
Dasar loe ah!
Alfredo mesem-mesem, seperti kebiasaannya.
Bersambung
Hello terima kasih telah mendukung cerita ini
dengan selalu memberikan like, komen, jejak serta vote
__ADS_1
kalian sangat berarti, kudoakan semoga dimudahkan
dan dilancarkan usaha kita semua aamiin yra.