Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 146.Pria Bergitar Dan Gadis Moge


__ADS_3

"Prita, terima kasih ya kamu sudah menemaniku ke acara reuni, apa kamu suka


acaranya?"


Rakasiwi menolehi Prita yang duduk tenang di sebelahnya.


"Oh, ia aku suka, dan ternyata kamu pintar banget main gitar."


Prita membalas menatap pada Rakasiwi.Ia masih teringat bagaimana tadi mereka


berada di acara itu. Pandangan gadis-gadis yang cemburu kepadanya. Sesaat tadi


ia merasa bahagia banget. Rakasiwi memperlakukannya lembut dan seolah-olah


mereka pasangan yang sangat intim. Gadis itu ingin sekali menanyakan kenapa


Rakasiwi memperlakukan dirinya seperti dia adalah kekasihnya.


Gadis itu menundukkan kepalanya. Ia merasa indah sekali bersama pria muda yang


keren dan tampan di sebelahnya. Wangi maskulinnya tercium lembut. Prita mengigit


bibirnya. Perasaan indah ini, belum pernah ia rasakan sebelumnya. Debar-debar


di dalam dadanya begitu banyak dan tak mau berhenti. Serta rasa yang serba salah


sulit diungkapkan.


"He he he, main gitar satu-satunya kebisaan aku, ayah Raka yang mengajariku


bermain gitar sejak kecil."


"Oh, ayah juga pintar main gitar ya?"


"Iya, ayah adalah jagoan bermain gitar ketika mudanya. Bunda Mardo yang


menceritakannya pada kami anak-anaknya. Dan Bunda yang menyuruh


ayah mengajari kami semua bermain gitar."


"Wah, jadi semua bisa main gitar? Cindy, Tria, juga Dode?"


Prita menolehi Rakasiwi, mereka belum lagi sampai. Rakasiwi akan mengantar


Prita hingga ke rumah.


"Iya, bahkan bunda juga bisa bermain gitar, jika ada perayaan ulang tahun


keluarga, kami tampil  he he he, dari pada sewa penyanyi kan lebih hemat."


Keduanya tersenyum.


"Kalian keren sekali, a-aku suka dengan pria yang pintar main gitar!"


Prita mengungkapkan perasaannya begitu saja. Dan Rakasiwi serta


merta menoleh, hatinya terkejut sekaligus berbunga-bunga.


Gadis itu baru saja mendekap mulutnya, tersenyum malu-malu serta


jengah. Memang Prita menyukai nada-nada yang keluar dari benda


bernama gitar tersebut. Ia dulu sempat belajar bermain gitar tetapi


kukunya sakit dan akhirnya ia memutuskan memilih ilmu bela diri


untuk berjaga-jaga, mengingat ia hanya mengandalkan dirinya


sendiri selama ini.


"Serius nih? aku pria yang pintar main gitar."


Rakasiwi mengerling, sedikit mendongakkan wajahnya seolah berkata


ini loh pria itu yang kamu sukai.


Prita tersenyum jengah, entahlah menurutnya pria yang pintar bermain


gitar itu keren. Bermain gitar itu memerlukan kecerdasan dan bakat, sudah


bisa dipastikan ia cerdas, serta trampil.


Bisa menenangkan dengan petikkan gitarnya, terlihat sensual saat memainkan


gitarnya. Pria dengan gitar berani menyuarakan setiap hasrat dan keinginan


lewat cara yang unik. Pria yang bisa bermain gitar itu perfeksionis, dia sangat


berhati-hati dalam menjalani kehidupan, serta seorang yang memiliki hati

__ADS_1


sensitif dan lembut.


"Kenapa suka sama pria yang pintar bermain gitar?"


Rakasiwi mengejar, berarti dia sudah selangkah lebih maju, yuhuuuu!!!


"Emmm satria bergitar akan terlihat lebih menantang dan menggoda."


Wauuu! yes!


Rakasiwi berteriak kencang-kencang, "Menantang dan menggoda? jadi


tertantang nih dan tergoda?"


He he he, gitu deh!


Prita menolehkan kepalanya ke luar, sembari bergumam.


Rakasiwi mesem-mesem dan blank, sebab penyakit grogi menyerang mendadak.


Ia garuk-garuk kepala.


"A-aku juga paling suka ama gadis yang mengenderai moge, aura kelembutan


serta kekuatannya terpancar, kapan-kapan ikut touring yuk."


Prita menoleh, ia mendengar tadi Rakasiwi  bilang suka sama gadis yang


mengenderai moge, ah yang bener aja. Kan gadis naik moge keliatannya


seperti garang dan macho. Apa Rakasiwi suka sama cewe garang?


"Sebenarnya nggak terlalu suka sih, secara aku kan nggak pernah ikutan


touring gitu, peninggalan ayah aku."


Prita mengatakannya pelan sembari menyentuhi kukunya.


"Oh, dulunya punya ayah? peninggalan? maksudnya beliau sudah tidak ada?"


"I-iya, papa meninggal waktu aku masih kecil."


"Oh maaf banget ya, tak bermaksud  membuat kamu sedih."


"Nggak apa-apa kok."


Lalu membisu, lagi pula kediaman Prita sudah semakin dekat, rasanya


"Mobilnya nggak bisa masuk, biar aku turun di pinggir jalan saja."


Prita menunjuk gang tempat ia biasa pergi dan pulang.


"Biar aku antar sampai rumah ya, kenalan sama bunda kamu."


Rakasiwi menghentikan kenderaannya lantas keluar dan memutar


kedepan untuk membukakan pintu buat Prita. Padahal Prita tadi


ingin membuka sendiri pintunya dan keluar, tapi suara Rakasiwi


menghentikan langkahnya, "Tunggu!"


Ah, kalau saja Yunna dan Elsa melihat ini mereka pasti bisa pingsan.


Kedua gadis itu selalu bermimpi ketemu pria idola yang memperlakukan


mereka bak putri.


Rakasiwi dan Prita berjalan bersisian, Prita melangkah lebih cepat


sebab dadanya berdebar bertambah banyak, ingin cepat sampai


ke rumah lalu masuk kamar dan menenangkan dadanya yang


terus saja berdebar dan bergemuruh.


Meski Rakasiwi sudah pernah ke rumah Prita saat mengembalikan


dompet, tetapi ia lupa tempat itu. Karena memang ada pengaspalan


jalan-jalan serta perbaikan di sana sini. Rumah Prita juga berubah


sudah terpasang pagar tinggi serta bagian atasnya juga sudah


tertutup kanopi.


"Assalamualaikum, mama! aku pulang!"


Prita membuka pagar dan mengetuk pintu, Rakasiwi menunggu.

__ADS_1


Tak lama perempuan tinggi besar itu telah membuka pintu, Prita


mengajak Rakasiwi masuk dan ia menghidupkan lampu ruangan


tamu. Perempuan mama Prita menatap pria tinggi serta tampan


berwajah jernih dan tengah tersenyum padanya.


"Mama apa kabar? saya mengantarkan Priti pulang Ma."


Wanita itu yang tadi sempat tertidur, menatapi Rakasiwi dengan


mengerutkan dahi dan matanya, ia mengingat-ingat.


"Alhamdulillah kabar mama baik, seperti pernah ketemu?"


"Iya Ma, kan waktu itu pernah ngantar dompet Prita yang terjatuh


waktu di stasiun."


"Oia, pantas mama seperti udah kenal, minum dulu ya Nak."


"Nggak usah Ma, sudah malam, hanya mengantar Prita, saya pamit


ya Ma, lain waktu ke sini lagi."


Rakasiwi menyalami mama, kemudian menatap Prita yang berdiri


untuk mengantarnya ke teras.


"Aku pulang dulu ya, terima kasih sudah menemaniku tadi."


"Sama-sama, hati-hati ya."


Rakasiwi menganggukkan kepalanya. lalu berbalik dan berjalan


cepat. Suasana belum terlalu malam, masih terdengar dan terlihat


bayangan-bayangan orang bercengkrama di pos ronda yang


terlewati pria muda itu. Dan dia hanya tinggal menganggukan


kepalanya karena tadi sudah menyapa saat bersama Prita.


Orang-orang di pos itu sudah maklum.


Pria muda itu tersenyum bahagia, ia segera pulang ke rumahnya


dan Edo masih mengobrol di ruang keluarga bersama Cindy, Tria


dan Dode, mereka tengah asyik menonton vidio.


"Ya ampun kalian ini! Do elo kok belum pulang sih? ganggu aja!"


Rakasiwi setelah mencuci tangan dan kakinya menghenyakkan


tubuhnya memandangi Alfredo.


"Udah malam! mau jam berapa pulang?"


Edo garuk-garuk kepalanya, malas bergerak.


"Mau nginap ya Ka, gwe malas pulang, bokap ama nyokap


lagi ke luar kota."


"Ohhh mau nginap! tapi awas ya jangan nyelinap ke kamar adik Gwe!"


"Nggak mungkin lah Ka, selama janur kuning belum terpasang aman


terkendali!"


"Hah! bisa aja Loe, buktinya Gwe baru tahu loe udah jadian sama adik


Gwe setahun, dasar!"


"Ya Elo Ka, kagak peka."


Dasar loe ah!


Alfredo mesem-mesem, seperti kebiasaannya.



Bersambung


Hello terima kasih telah mendukung cerita ini


dengan selalu memberikan like, komen, jejak serta vote

__ADS_1


kalian sangat berarti, kudoakan semoga dimudahkan


dan dilancarkan usaha kita semua aamiin yra.


__ADS_2