Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 108 Triananda


__ADS_3

"Pipi kata dokter aku hamil dan sudah dua minggu hiks-hiks."


Mardo meletakkan tasnya di meja kerja  Raka. Beberapa saat tadi ia memeriksakan


diri ke dokter langganan. Dan perasaannya sebagai ibu benar. Pernyataan dokter


lebih meyakinkannya.


"Oh sayangku, aku senang sekali. Akhirnya Cindy memiliki adik baby lagi, alhamdulillah!"


"Tapi Cindy masih dua tahun Pi, aku bahkan belum sempat menyapihnya Pi."


Raka menghentikan pekerjaannya dan menghampiri Mardo, lantas memeluk dan mencium


keningnya, selamat ya Mi.


Tapi Mardo mengerecutkan mulutnya. Ia belum siap menerima kehamilannya yang ketiga ini.


"Pipi sih enak, aku yang kerepotan menjaga dan mesti memomong anak setiap hari, dua


puluh empat jam Pi. Mana Cindy bukan main cengengnya. Kakaknya juga tau sendiri


gimana Pi, semua mesti dituruti, aku sampai nggak bisa fokus mengurusi perusahaanku Pi."


"Husss! Mimi nggak boleh seperti itu, seharusnya Mimi bersyukur diberi kepercayaan


sama Allah Swt telah diberi karunia lagi seorang anak, istiqfar Mi."


Mardo tetap tak bergeming, ia belum menerima kalau dirinya kembali hamil lagi. Semua


gara-gara keinginan Raka.


"Aku carikan pegawai yang membantu di perusahaan bagaimana?"


"Tidak perlu!"


"Atau asisten rumah tangga, untuk memomong Kak Raka dan adek Cindy?"


"Nggak Perlu Pi, masalahnya bukan itu Pi, tapi anak-anak nggak mau sama siapa pun


kecuali denganku!, aku kerepotan karena itu."


"Sayang bersabarlah, anggap semuanya warna-warni indah di dalam rumah tangga


kita, jangan sampai kau mengeluhkan tentang anak-anak sayang, takut terjadi


sesuatu dengan mereka."


Deg!


Mardo teringat dengan seorang teman semasa kuliahnya. Dia selalu mengeluhkan


kenakalan anaknya, hingga suatu hari ia terkejut ketika mendapatkan kenyataan


anaknya jatuh ke kolam renang dan meninggal karena tidak ada yang mengetahuinya.


Temannya itu sangat terluka dan mengalami depresi. Oh! Mardo menutup mulutnya


ia tiba-tiba menyesal dan merasa takut. Cepat-cepat ia beristiqfar dan memohon


ampunan, Ya Rabb, ampunilah Aku yang tiada bersyukur atas semua anugerah dan


karunia luar biasa untukku.


Mardo buru-buru pamit pada Raka, "Iya Pi, a-aku minta maaf. Aku sangat menyayangi


dan mencintai anak-anak, aku pulang dulu Pi. Aku ingin bersama anak-anakku."


Raka tersenyum, "Aku juga ingin pulang Mi, kangen sama kakak Raka dan adek


Cindy, ayo barengan aja ya Mi."

__ADS_1


Mardo hanya mengangguk-anggukan kepalanya, mereka berdua keluar dari dalam


ruangan kantor. Semua mata menatap pada pasangan itu. Betapa serasinya


Raka dan Mardo, ganteng serta cantik. Dan Raka dalam setiap kesempatan


selalu memeluk pinggang atau bahu istrinya.


"Perhatian! perhatian!, hari ini aku baru saja mendengar kabar bahagia bahwa istriku


hamil dua minggu. Karena itu aku membolehkan kalian pulang cepat hari ini, ok?


dan besok aku akan membuat syukuran atas kedatangan anak kami yang ketiga."


"Oh, alhamdulillah selamat pak Raka! bu Mardo."


Semua karyawan gembira sekali atas berita tersebut. Apa lagi mereka boleh


pulang cepat, hanya bekerja setengah hari. Gadis-gadis bermaksud pergi


menghabiskan waktu di cafe Pria Idola tentunya dan mall sekitar kantor.


Setelah menyampaikan kabar bahagia itu, Raka dan Mardo saling


tersenyum dan kemudian beranjak menuju lift untuk segera pulang. Dari jauh


mereka sudah mendengar suara Cindy yang menangis melengking-lenggking


dan juga suara Rakasiwi yang marah-marah dan juga menangis karena melihat


Cindy yang mengamuk.


"Adek Cindy diam dong! nanti suaranya habis!"


Tapi Cindy semakin menjadi-jadi, hingga akhirnya Rakasiwi mulai mengerucut


mulutnyanya ingin menangis.


gendongan pengasuh yang dengan lembut menurukan Cindy dan ikut


berlari di belakang anak-anak itu.


Wajah Cindy serta merta ceria, dan isaknya menghilang. "Yahhhh! yahhhh!"


Raka yang mendengar suara khas Cindy serta merta tersenyum sumringah.


"Putriku yang cantik memanggil ayahnya, bukan bundanya."


Raka mendongakkan wajahnya, "Ayah datang putriku, ratuku."


Mardo mesem, "Tiap hari bersama bunda, tetapi yang diingat ayahnya."


"Yahhhh! ayahhhhh!"


"Ayah pulang princes! hemmm udah kangen sama ayah ya."


Raka berlari-lari kecil menyongsong Cindy yang lari ke halaman dengan melebarkan


tangannya, Raka menyambut dan membawanya ke gendongan dengan pelukkan dan


ciuman sayang. Sementara Rakasiwi memeluk kaki ayahnya dengan tertawa.


Raka merunduk dan juga mengangkat anak laki-laki itu ke pelukkannya.


Cindy tertawa menggapai-gapai tubuh kakak lelakinya itu. Ia menjerit kesenangan.


Mardo berjalan di belakang mereka.


Perempuan itu agak heran sebab Cindy tidak menyambutnya seperti biasanya


melainkan menyambut ayahnya, memeluk erat-erat lehernya. Sepertinya sangat

__ADS_1


rindu sekali. Rakasiwi  juga tidak mencarinya melainkan memeluk kaki ayahnya.


Padahal biasanya Rakasiwi setiap bertemu selalu memeluk pinggangnya.


Bahkan Mardo pergi ke dapur mencuci tangan, kemudian masuk kamar dan mengganti


bajunya dengan yang bersih. Keduanya anaknya masih asyik bersama Raka. Mardo


lantas keluar dan mendekati ayah dan anak-anaknya.


"Bunda, tadi kakak suapin adek Cindy makan, juga minum susu."


Raka mendekat pada bundanya dan bercerita, Mardo meraih tubuh anaknya dan


mendengarkan Rakasiwi.


"Wah, keren sekali kakak ya, adik banyak makannya?"


"Banyak Bun, sampe perut adik Cindy buncit he he he."


Cindy hanya melihat sekilas pada bundanya, ia asyik di pelukkan ayah.


Mardo bersyukur saat kehamilannya yang ketiga, tiba-tiba kerewelan


serta kecengengan Rakasiwi dan Cindy menghilang. Cindy tidak melulu


bersamanya tetapi mendadak melekat dengan sang ayah.


Rakasiwi  juga sudah tidak ditunggui lagi. Cukup diantar serta dijemput oleh  supir dan


selanjutnya dilayani oleh asisten rumah tangga. Rumah tenang dan damai, suara


tangis Cindy hampir tak pernah terdengar justru suara kegembiraan serta jerit hesteris


jika kakaknya mengganggu.


Keadaan itu berlangsung hingga seorang putri yang mungil  terlahir ke dunia. Ia


lahir di pagi hari dengan suara tangisan yang manja. Raka mengendongnya penuh


suka cita dan melapazkan azan di telinga putrinya yang berambut hitam dan keriting.


"Terima kasih sayang, aku sangat bahagia. Anak kita sangat cantik seperti ibunya."


Raka sangat bahagia dan gembira. Berkali-kali ia mencium kening dan pipi istrinya


yang telah memberinya tiga anak. Keluarga kecil itu diliputi oleh rasa syukur oleh


semua kemudahan dan kelancaran persalinan.


Papi serta Mami Bramantyo membuat pesta syukuran untuk menyambut cucu terkasih


mereka. Sekaligus pemberian namanya. Raka dan Mardo memberi putri cantik putih


itu dengan gerumbul rambut keriting yang lucu sebuah nama cantik, Triananda.


panggilannya Tria.


Rakasiwi perlahan telah menjadi seorang kakak yang penuh perhatian dan menunjukkan


pada adiknya bahwa dia bisa dan menjadi pelindung bagi adiknya. Cindy juga sangat


menyayangi adik kecilnya, ia tak keberatan berbagi benda-benda miliknya. Cindy


akan tidur di samping adik kecil yang bernama Tria itu saat adiknya tidur. Mengusir


nyamuk dan bersenandung untuk menidurkan adik Tria.


Bersambung


Saling dukung sesama author, beri like,komen

__ADS_1


dan votenya makasih ya.


__ADS_2