
"Pipi kata dokter aku hamil dan sudah dua minggu hiks-hiks."
Mardo meletakkan tasnya di meja kerja Raka. Beberapa saat tadi ia memeriksakan
diri ke dokter langganan. Dan perasaannya sebagai ibu benar. Pernyataan dokter
lebih meyakinkannya.
"Oh sayangku, aku senang sekali. Akhirnya Cindy memiliki adik baby lagi, alhamdulillah!"
"Tapi Cindy masih dua tahun Pi, aku bahkan belum sempat menyapihnya Pi."
Raka menghentikan pekerjaannya dan menghampiri Mardo, lantas memeluk dan mencium
keningnya, selamat ya Mi.
Tapi Mardo mengerecutkan mulutnya. Ia belum siap menerima kehamilannya yang ketiga ini.
"Pipi sih enak, aku yang kerepotan menjaga dan mesti memomong anak setiap hari, dua
puluh empat jam Pi. Mana Cindy bukan main cengengnya. Kakaknya juga tau sendiri
gimana Pi, semua mesti dituruti, aku sampai nggak bisa fokus mengurusi perusahaanku Pi."
"Husss! Mimi nggak boleh seperti itu, seharusnya Mimi bersyukur diberi kepercayaan
sama Allah Swt telah diberi karunia lagi seorang anak, istiqfar Mi."
Mardo tetap tak bergeming, ia belum menerima kalau dirinya kembali hamil lagi. Semua
gara-gara keinginan Raka.
"Aku carikan pegawai yang membantu di perusahaan bagaimana?"
"Tidak perlu!"
"Atau asisten rumah tangga, untuk memomong Kak Raka dan adek Cindy?"
"Nggak Perlu Pi, masalahnya bukan itu Pi, tapi anak-anak nggak mau sama siapa pun
kecuali denganku!, aku kerepotan karena itu."
"Sayang bersabarlah, anggap semuanya warna-warni indah di dalam rumah tangga
kita, jangan sampai kau mengeluhkan tentang anak-anak sayang, takut terjadi
sesuatu dengan mereka."
Deg!
Mardo teringat dengan seorang teman semasa kuliahnya. Dia selalu mengeluhkan
kenakalan anaknya, hingga suatu hari ia terkejut ketika mendapatkan kenyataan
anaknya jatuh ke kolam renang dan meninggal karena tidak ada yang mengetahuinya.
Temannya itu sangat terluka dan mengalami depresi. Oh! Mardo menutup mulutnya
ia tiba-tiba menyesal dan merasa takut. Cepat-cepat ia beristiqfar dan memohon
ampunan, Ya Rabb, ampunilah Aku yang tiada bersyukur atas semua anugerah dan
karunia luar biasa untukku.
Mardo buru-buru pamit pada Raka, "Iya Pi, a-aku minta maaf. Aku sangat menyayangi
dan mencintai anak-anak, aku pulang dulu Pi. Aku ingin bersama anak-anakku."
Raka tersenyum, "Aku juga ingin pulang Mi, kangen sama kakak Raka dan adek
Cindy, ayo barengan aja ya Mi."
__ADS_1
Mardo hanya mengangguk-anggukan kepalanya, mereka berdua keluar dari dalam
ruangan kantor. Semua mata menatap pada pasangan itu. Betapa serasinya
Raka dan Mardo, ganteng serta cantik. Dan Raka dalam setiap kesempatan
selalu memeluk pinggang atau bahu istrinya.
"Perhatian! perhatian!, hari ini aku baru saja mendengar kabar bahagia bahwa istriku
hamil dua minggu. Karena itu aku membolehkan kalian pulang cepat hari ini, ok?
dan besok aku akan membuat syukuran atas kedatangan anak kami yang ketiga."
"Oh, alhamdulillah selamat pak Raka! bu Mardo."
Semua karyawan gembira sekali atas berita tersebut. Apa lagi mereka boleh
pulang cepat, hanya bekerja setengah hari. Gadis-gadis bermaksud pergi
menghabiskan waktu di cafe Pria Idola tentunya dan mall sekitar kantor.
Setelah menyampaikan kabar bahagia itu, Raka dan Mardo saling
tersenyum dan kemudian beranjak menuju lift untuk segera pulang. Dari jauh
mereka sudah mendengar suara Cindy yang menangis melengking-lenggking
dan juga suara Rakasiwi yang marah-marah dan juga menangis karena melihat
Cindy yang mengamuk.
"Adek Cindy diam dong! nanti suaranya habis!"
Tapi Cindy semakin menjadi-jadi, hingga akhirnya Rakasiwi mulai mengerucut
mulutnyanya ingin menangis.
gendongan pengasuh yang dengan lembut menurukan Cindy dan ikut
berlari di belakang anak-anak itu.
Wajah Cindy serta merta ceria, dan isaknya menghilang. "Yahhhh! yahhhh!"
Raka yang mendengar suara khas Cindy serta merta tersenyum sumringah.
"Putriku yang cantik memanggil ayahnya, bukan bundanya."
Raka mendongakkan wajahnya, "Ayah datang putriku, ratuku."
Mardo mesem, "Tiap hari bersama bunda, tetapi yang diingat ayahnya."
"Yahhhh! ayahhhhh!"
"Ayah pulang princes! hemmm udah kangen sama ayah ya."
Raka berlari-lari kecil menyongsong Cindy yang lari ke halaman dengan melebarkan
tangannya, Raka menyambut dan membawanya ke gendongan dengan pelukkan dan
ciuman sayang. Sementara Rakasiwi memeluk kaki ayahnya dengan tertawa.
Raka merunduk dan juga mengangkat anak laki-laki itu ke pelukkannya.
Cindy tertawa menggapai-gapai tubuh kakak lelakinya itu. Ia menjerit kesenangan.
Mardo berjalan di belakang mereka.
Perempuan itu agak heran sebab Cindy tidak menyambutnya seperti biasanya
melainkan menyambut ayahnya, memeluk erat-erat lehernya. Sepertinya sangat
__ADS_1
rindu sekali. Rakasiwi juga tidak mencarinya melainkan memeluk kaki ayahnya.
Padahal biasanya Rakasiwi setiap bertemu selalu memeluk pinggangnya.
Bahkan Mardo pergi ke dapur mencuci tangan, kemudian masuk kamar dan mengganti
bajunya dengan yang bersih. Keduanya anaknya masih asyik bersama Raka. Mardo
lantas keluar dan mendekati ayah dan anak-anaknya.
"Bunda, tadi kakak suapin adek Cindy makan, juga minum susu."
Raka mendekat pada bundanya dan bercerita, Mardo meraih tubuh anaknya dan
mendengarkan Rakasiwi.
"Wah, keren sekali kakak ya, adik banyak makannya?"
"Banyak Bun, sampe perut adik Cindy buncit he he he."
Cindy hanya melihat sekilas pada bundanya, ia asyik di pelukkan ayah.
Mardo bersyukur saat kehamilannya yang ketiga, tiba-tiba kerewelan
serta kecengengan Rakasiwi dan Cindy menghilang. Cindy tidak melulu
bersamanya tetapi mendadak melekat dengan sang ayah.
Rakasiwi juga sudah tidak ditunggui lagi. Cukup diantar serta dijemput oleh supir dan
selanjutnya dilayani oleh asisten rumah tangga. Rumah tenang dan damai, suara
tangis Cindy hampir tak pernah terdengar justru suara kegembiraan serta jerit hesteris
jika kakaknya mengganggu.
Keadaan itu berlangsung hingga seorang putri yang mungil terlahir ke dunia. Ia
lahir di pagi hari dengan suara tangisan yang manja. Raka mengendongnya penuh
suka cita dan melapazkan azan di telinga putrinya yang berambut hitam dan keriting.
"Terima kasih sayang, aku sangat bahagia. Anak kita sangat cantik seperti ibunya."
Raka sangat bahagia dan gembira. Berkali-kali ia mencium kening dan pipi istrinya
yang telah memberinya tiga anak. Keluarga kecil itu diliputi oleh rasa syukur oleh
semua kemudahan dan kelancaran persalinan.
Papi serta Mami Bramantyo membuat pesta syukuran untuk menyambut cucu terkasih
mereka. Sekaligus pemberian namanya. Raka dan Mardo memberi putri cantik putih
itu dengan gerumbul rambut keriting yang lucu sebuah nama cantik, Triananda.
panggilannya Tria.
Rakasiwi perlahan telah menjadi seorang kakak yang penuh perhatian dan menunjukkan
pada adiknya bahwa dia bisa dan menjadi pelindung bagi adiknya. Cindy juga sangat
menyayangi adik kecilnya, ia tak keberatan berbagi benda-benda miliknya. Cindy
akan tidur di samping adik kecil yang bernama Tria itu saat adiknya tidur. Mengusir
nyamuk dan bersenandung untuk menidurkan adik Tria.
Bersambung
Saling dukung sesama author, beri like,komen
__ADS_1
dan votenya makasih ya.