
Rakasiwi sedang bermain game ketika pak Didin penjaga rumah masuk dan membawa brosur
di tangannya. Ia memberikan brosur itu pada Sarti asisten rumah tangga yang sedang membersihkan
ruangan.
"Tolong kasih ibu nanti ya Ti."
Kata pak satpam yang bernama Didin, "Apa tuh pak Din?"
Sarti menoleh sesaat, "Brosur."
Oh.
Dan pak Didin bergegas kembali ke depan ketempatnya bertugas. Dan waktu pun berjalan
dengan perlahan. Prita sudah membagikan sepuluh brosur les privat bahasa Inggris dan matematika
Agaknya sudah cukup, hasilnya lumayan, bahkan ia langsung memiliki dua orang murid. Beruntung
sekali saat ia akan membagikan brosur bertemua langsung dengan ibu sang anak. Kebetulan sudah
lama ia mencari guru les untuk mengajari anaknya matematika. Kesal setiap hari harus marah-marah
mengajarinya. Sedang ia memiliki banyak pekerjaan yang penting. Agaknya kedatangan Prita untuk
menawarkan les privat anak-anak bisa menjadi solusi. Prita langsung menyetujui untuk mulai
mengajar nanti sore.
Cukup sudah, Prita memutar motornya untuk kembali ke rumah. Ia akan mempersipakan diri
dan buku-buku untuk mengajar. Prita mencatat nama anak, pelajaran dan alamatnya. Nanti
sore selama dua jam setengah ia akan mengajar Gita pelajaran matematika, ia akan membahas
bab-bab sebelum nanti di pelajari di sekolah, jadi Gita sudah lebih dulu mengetahui tentang
pelajaran tersebut dan bisa cara mengerjakannya.
Lalu besok paginya ia akan mengajari membaca seorang anak kelas dua sekolah dasar
yang belum juga bisa membaca. Sebenarnya ia menawari les privat matematika dan bahasa
Inggris, tetapi si orang tua bertanya apakah anaknya bisa les privat membaca? karena anaknya
sudah kelas dua sekolah dasar tak jua bisa membaca. Tak banyak pikir Prita langsung menerimanya
yang terpenting si orang tua setuju untuk membayar biaya les privat seperti yang tertulis
di brosur.
Orang tua anak itu tak masalah, yang penting anaknya bisa membaca sehingga bisa belajar
pelajaran yang lain. Prita merasa senang sekali, akhirnya ia mendapatkan pekerjaan yang
tepat. Gadis itu segera pulang dan mendapati ibunya yang baru saja selesai memasak.
Masakkan yang menggugah selera, membuatnya lapar.
"Masak apa sih Bu wangi banget jadi lapar inih," katanya sambil membuka tudung saji.
Wah, ia melihat ada sayur lodeh kesukaannya, goreng ayam, tempe tahu serta sambal
lalap terong kecil dan pete.
"Makanlah Prita, ibu masak enak hari ini, ada yang membayar kontrakkan untuk satu
tahun, bisa untuk membayar kuliahmu juga."
"Oh benar begitu ya Bu?, alhamdulillah."
Prita segera mencuci tangannya dan ia bersama ibunya menikmati makan siang yang
lezat, mereka berdua sampai berebut petei yang hanya sepotong.
__ADS_1
"Kenapa kau suka makan pete? biasanya tak mau, untuk ibu aja ini loh."
Prita tersenyum, sejak ia tahu kalau Pete baik untuk kesehatan, meski baunya
yang tak sedap, ia akan menikmatinya jika memang tersedia. Yang penting sehat.
"Bu lelah sekali hari ini, aku mau tidur sebentar, tolong bangunkan aku jam dua siang ya,
aku ada kelas mengajar les privat hari ini jam tiga."
"Memangnya kau bisa mengajar? kau sendiri sedang sekolah kok."
"Mengajar anak kecil Bu, aku tentu saja bisa,"
"Iya baiklah nanti ibu akan membangunkanmu."
"Makasih Bu." Prita masuk ke kamarnya, ia akan mengganti bajunya dan kemudian
tidur siang.
***
Sementara Yunna dan Elsa sudah mulai bekerja di Bar pub, hari itu banyak sekali
yang diajarkan oleh pak Angga, Dari mulai cara membawa minuman hingga menanyakan
pesanan berikutnya. Jangan sampai tamu merasa terabaikan, karena lama tak dilayani.
Begitu seorang tamu memasuki bar, harus ada seseorang yang menyambut dan membawanya
ke kursi . Kemudian menanyakan dengan ramah apa yang ia inginkan? seorang waitress yang
baik mesti luwes dan dinamis dalam pelayanannya, menghapal nama-nama minuman dan
makanan yang akan di tawarkan dan menjelaskan jika tamu ingin tahu bahan dan apa saja
yang dikandung oleh minuman itu, serta manfaatnya.
Sebelum resmi bekerja besok harinya, Yunna memasuki sebuah ruangan untuk wawancara.
Yunna pikir tidak ada lagi yang proses yang perlu di lalui, ternyata ada sebuah wawancara
sangat riskan bagi mereka yang bekerja di tempat seperti itu bagi seorang perawan. Mereka
harus menandai untuk menjaganya.
Yunna tentu saja menjawab bahwa ia masih virgin, dan jawaban itu membuat si pria
mengangguk-angguk, "Sebenarnya kami lebih senang dengan pekerja yang sudah
tak lagi virgin, kami tidak terbebani, dan lebih nyaman untuk pekerja itu sendiri. Yunna
hanya mendengarkan laki-laki itu. Bekerja di sebuah tempat hiburan menurutnya maka
Yunna harus menerima konsekwensinya, tidak boleh seorang tamu merasa kecewa
karena merasa kurang dilayani, sebuah sentuhan, ciuman sertu pelukkan untuk tamu
yang menyukai dirimu adalah wajar, jangan sampai menolak atau menepiskan tangannya
dari tubuhmu, Yunna mendengar pria itu bicara sambil menatapnya tajam.
Ia menangkap bahwa pekerjaannya ternyata bukan sekedar mengantar minuman, tetapi
agaknya yang lebih penting adalah menemani tamu. Yunna harus berpikir ulang tentang
pekerjaan itu. Saat ia keluar dari ruangan Elsa gantian masuk ke ruangan tersebut.
"Bagaimana?"
Yunna hanya membisu dan membiarkan Elsa masuk.
Tak lama Elsa keluar, Yunna sudah menunggunya dan keduanya merasa sangat lelah.
"Apa kau setuju dan menanda tanganinya?"
__ADS_1
Elsa mengangguk-angguk.
"Aku pikir, kita tak perlu datang meski telah menanda tanganinya."
Yunna tersenyum tipis, dan mengangguk. Ia setuju dengan pemikiran Elsa. Ketika tiba
makan siang, mereka memutuskan keluar dari Bar tersebut dan turun mencari warung
makan keduanya sama-sama merasa lelah memikirkan apa yang akan keduanya
kerjakan? jika terus berarti setiap waktu ada bahaya yang tak terduga-duga, sedangkan
jika stop mereka masih bisa mencari pekerjaan yang aman meski penghasilannya
kecil.
Setelah mengisi perut, pikiran jernih rupanya membuat mereka memutuskan untuk langsung
meninggalkan bar itu. Mereka berdua menganggap sebuah pengalaman yang berharga
bahwa ternyata ditempat seperti itu pun tak mudah mendapatkan pekerjaan dengan kebaikkan
yang masih melekat dalam diri. Kecuali iman itu telah tiada, hati nurani telah gelap
oleh hawa nafsu duniawi.
Yunna dan Elsa mengenderai motornya menuju jalan pulang, sebelum sampai di rumah
Yunna membeli koran untuk melihat lowongan kerja. Mereka tak akan putus asa hingga
mendapatkan sebuah pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan.
"Prita sedang apa ya? kurasa dia mentertawai kita."
Elsa mengingat Prita yang memperlihatkan sikap tak suka sejak awal mereka datang
ke Bar. Ia bahkan langsung memposisikan dirinya hanya sebagai pengantar Yunna dan Elsa
saat ke tempat itu.
"Tenang saja, kita akan mendapatkan pekerjaan dengan segera, tidak perlu memberitahu
kalau kita tidak jadi mengambil pekerjaan itu."
Yunna membuka koran dan membaca lowongan kerja yang bertebaran memenuhi koran.
dan tiba-tiba matanya tertuju pada iklan besar tentang penerimaan karyawan pramusaji
untuk sebuah cabang cafe baru yang tidak jauh dari daerah mereka, cafe Pria Idola.
"Elsa lihat ini, Cafe Pria Idola membuka cabang baru di daerah sini, bagaimana kalau
kita melihatnya."
Kedua gadis itu seolah mendapatkan harapan yang baru, segera Yunna melipat koran
dan bergegas bersama Elsa ke tempat tersebut. Sekitar sepuluh menit mereka
sampai ke sebuah gedung yang penuh dengan ucapan selamat atas pembukaan
cabang baru Cafe idola, menempati gedungnya sendiri yang megah dan luas. Yunna
dan Elsa yakin pasti masih ada lowongan untuk mereka berdua.
Bersambung
Hello, jangan lupa meninggalkan lika dan komen ya
vote juga, Author sangat berterima kasih.
__ADS_1