Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 126.Hari Yang Melelahkan.


__ADS_3

Rakasiwi sedang bermain game ketika pak Didin penjaga rumah masuk dan membawa brosur


di tangannya. Ia memberikan brosur itu pada Sarti  asisten rumah tangga yang sedang membersihkan


ruangan.


"Tolong kasih ibu nanti ya Ti."


Kata pak satpam yang bernama Didin, "Apa tuh pak Din?"


Sarti menoleh sesaat, "Brosur."


Oh.


Dan pak Didin bergegas kembali ke depan ketempatnya bertugas. Dan waktu pun berjalan


dengan perlahan. Prita sudah membagikan sepuluh brosur les privat bahasa Inggris dan matematika


Agaknya sudah cukup, hasilnya lumayan, bahkan ia langsung memiliki dua orang murid. Beruntung


sekali saat ia akan membagikan brosur bertemua langsung dengan ibu sang anak. Kebetulan sudah


lama ia mencari guru les untuk mengajari anaknya matematika. Kesal setiap hari harus marah-marah


mengajarinya. Sedang ia memiliki banyak pekerjaan yang penting. Agaknya kedatangan Prita untuk


menawarkan les privat anak-anak bisa menjadi solusi. Prita langsung menyetujui untuk mulai


mengajar nanti sore.


Cukup sudah, Prita memutar motornya untuk kembali ke rumah. Ia akan mempersipakan diri


dan buku-buku untuk mengajar. Prita mencatat nama anak, pelajaran dan alamatnya. Nanti


sore selama dua jam setengah ia akan mengajar Gita pelajaran matematika, ia akan membahas


bab-bab sebelum nanti di pelajari di sekolah, jadi Gita sudah lebih dulu mengetahui tentang


pelajaran tersebut dan bisa cara mengerjakannya.


Lalu besok paginya ia akan mengajari membaca seorang anak kelas dua sekolah dasar


yang belum juga bisa membaca. Sebenarnya ia menawari les privat matematika dan bahasa


Inggris, tetapi si orang tua bertanya apakah anaknya bisa les privat membaca? karena anaknya


sudah kelas dua sekolah dasar tak jua bisa membaca. Tak banyak pikir Prita langsung menerimanya


yang terpenting si orang tua setuju untuk membayar biaya les privat seperti yang tertulis


di brosur.


Orang tua anak itu tak masalah, yang penting anaknya bisa membaca sehingga bisa belajar


pelajaran yang lain. Prita merasa senang sekali, akhirnya ia mendapatkan pekerjaan yang


tepat. Gadis itu segera pulang dan mendapati ibunya yang baru saja selesai memasak.


Masakkan yang menggugah selera, membuatnya lapar.


"Masak apa sih Bu wangi banget jadi lapar inih," katanya sambil membuka tudung saji.


Wah, ia melihat ada sayur lodeh kesukaannya, goreng ayam, tempe tahu serta sambal


lalap terong kecil dan pete.


"Makanlah Prita, ibu masak enak hari ini, ada yang membayar kontrakkan untuk satu


tahun, bisa untuk membayar kuliahmu juga."


"Oh benar begitu ya Bu?, alhamdulillah."


Prita segera mencuci tangannya dan ia bersama ibunya menikmati makan siang yang


lezat, mereka berdua sampai berebut petei yang hanya sepotong.

__ADS_1


"Kenapa kau suka makan pete? biasanya tak mau, untuk ibu aja ini loh."


Prita tersenyum, sejak ia tahu kalau Pete baik untuk kesehatan, meski baunya


yang tak sedap, ia akan menikmatinya jika memang tersedia. Yang penting sehat.


"Bu lelah sekali hari ini, aku mau tidur sebentar, tolong bangunkan aku jam dua siang ya,


aku ada kelas mengajar les privat hari ini jam tiga."


"Memangnya kau bisa mengajar? kau sendiri sedang sekolah kok."


"Mengajar anak kecil Bu, aku tentu saja bisa,"


"Iya baiklah nanti ibu akan membangunkanmu."


"Makasih Bu." Prita masuk ke kamarnya, ia akan mengganti bajunya dan kemudian


tidur siang.


***


Sementara Yunna dan Elsa sudah mulai bekerja di Bar pub, hari itu banyak sekali


yang diajarkan oleh pak Angga, Dari mulai cara membawa minuman hingga menanyakan


pesanan berikutnya. Jangan sampai tamu merasa terabaikan, karena lama tak dilayani.


Begitu seorang tamu memasuki bar, harus ada seseorang yang menyambut dan membawanya


ke kursi . Kemudian menanyakan dengan ramah apa yang ia inginkan? seorang waitress yang


baik mesti luwes dan dinamis dalam pelayanannya, menghapal nama-nama minuman dan


makanan yang akan di tawarkan dan menjelaskan jika tamu ingin tahu bahan dan apa saja


yang dikandung oleh minuman itu, serta manfaatnya.


Sebelum resmi bekerja  besok harinya, Yunna memasuki sebuah ruangan untuk wawancara.


Yunna pikir tidak ada lagi yang proses yang perlu di lalui, ternyata ada sebuah wawancara


sangat riskan bagi mereka yang bekerja di tempat seperti itu bagi seorang perawan. Mereka


harus menandai untuk menjaganya.


Yunna tentu saja menjawab bahwa ia masih virgin, dan jawaban itu membuat si pria


mengangguk-angguk, "Sebenarnya kami lebih senang dengan pekerja yang sudah


tak lagi virgin, kami tidak terbebani, dan lebih nyaman untuk pekerja itu sendiri. Yunna


hanya mendengarkan laki-laki itu. Bekerja di sebuah tempat hiburan menurutnya maka


Yunna harus menerima konsekwensinya, tidak boleh seorang tamu merasa kecewa


karena merasa kurang dilayani, sebuah sentuhan, ciuman sertu pelukkan untuk tamu


yang menyukai dirimu adalah wajar, jangan sampai menolak atau menepiskan tangannya


dari tubuhmu, Yunna mendengar pria itu bicara sambil menatapnya tajam.


Ia menangkap bahwa pekerjaannya ternyata bukan sekedar mengantar minuman, tetapi


agaknya yang lebih penting adalah menemani tamu. Yunna harus berpikir ulang tentang


pekerjaan itu. Saat ia keluar dari ruangan Elsa gantian masuk ke ruangan tersebut.


"Bagaimana?"


Yunna hanya membisu dan membiarkan Elsa masuk.


Tak lama Elsa keluar, Yunna sudah menunggunya dan keduanya merasa sangat lelah.


"Apa kau setuju dan menanda tanganinya?"

__ADS_1


Elsa mengangguk-angguk.


"Aku pikir, kita tak perlu datang meski telah menanda tanganinya."


Yunna tersenyum tipis, dan mengangguk. Ia setuju dengan pemikiran Elsa. Ketika tiba


makan siang, mereka memutuskan keluar dari Bar tersebut dan turun mencari warung


makan keduanya sama-sama merasa lelah memikirkan apa yang akan keduanya


kerjakan? jika terus berarti setiap waktu ada bahaya yang tak terduga-duga, sedangkan


jika stop mereka masih bisa mencari pekerjaan yang aman meski penghasilannya


kecil.


Setelah mengisi perut, pikiran jernih rupanya membuat mereka memutuskan untuk langsung


meninggalkan bar itu. Mereka berdua menganggap sebuah pengalaman yang berharga


bahwa ternyata ditempat seperti itu pun tak mudah mendapatkan pekerjaan dengan kebaikkan


yang masih melekat dalam diri. Kecuali iman itu telah tiada, hati nurani telah gelap


oleh hawa nafsu duniawi.


Yunna dan Elsa mengenderai motornya menuju jalan pulang, sebelum sampai di rumah


Yunna membeli koran untuk melihat lowongan kerja. Mereka tak akan putus asa hingga


mendapatkan sebuah pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan.


"Prita sedang apa ya? kurasa dia mentertawai kita."


Elsa mengingat Prita yang memperlihatkan sikap tak suka sejak awal mereka datang


ke Bar. Ia bahkan langsung memposisikan dirinya hanya sebagai pengantar Yunna dan Elsa


saat ke tempat itu.


"Tenang saja, kita akan mendapatkan pekerjaan dengan segera, tidak perlu memberitahu


kalau kita tidak jadi mengambil pekerjaan itu."


Yunna membuka koran dan membaca lowongan kerja yang bertebaran memenuhi koran.


dan tiba-tiba matanya tertuju pada iklan besar tentang penerimaan karyawan pramusaji


untuk sebuah cabang  cafe baru yang tidak jauh dari daerah mereka, cafe Pria Idola.


"Elsa lihat ini, Cafe Pria Idola membuka cabang baru di daerah sini, bagaimana kalau


kita melihatnya."


Kedua gadis itu seolah mendapatkan harapan yang baru, segera Yunna melipat koran


dan bergegas bersama Elsa ke tempat tersebut. Sekitar sepuluh menit mereka


sampai ke sebuah gedung yang penuh dengan ucapan selamat atas pembukaan


cabang baru Cafe idola, menempati gedungnya sendiri yang megah dan luas. Yunna


dan Elsa yakin pasti masih ada lowongan untuk mereka berdua.


 


Bersambung


 


 


Hello, jangan lupa meninggalkan lika dan komen ya


vote juga, Author sangat berterima kasih.

__ADS_1


 


 


__ADS_2