Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 137. Abidin


__ADS_3

Laki-laki itu keluar dari dalam kamarnya setelah seharian meringkuk di ranjangnya. Ia


beranjak ke arah belakang mengambil air minum. Kerongkongannya kering  kehausan


Ia berjalan ke depan dan menghenyakkan tubuhnya di sofa. Ia tak menghidupkan lampu


ruangan itu, tetapi cahaya dari ruangan tengah sampai ke tempat itu juga penerangan


dari teras.


Ia meminum sedikit demi sedikit air dalam botol besar itu. Senyum yang licik terukir


di bibirnya yang hitam dan tebal, dan ia mulai tertawa terbahak-bahak, "Gadis! perbuatanmu


itu sudah cukup alasan untukku membuatmu menderita,hemm."


Ia mengelus-ngelus dagunya, dan kembali tertawa, "Kau dan ibumu adalah keberuntungan


bagiku ha ha ha!  aku bisa membangun rumahku ini dari uang kalian, dan aku masih perlu


uang yang banyak ha ha ha! sertifikat rumah itu dan kontrakkannya sudah ada di tanganku


hua ha ha ha! dasar perempuan bodoh! di rayu sedikit saja langsung mau menikah hemm


dasar, apa dikiranya aku suka dengan tubuh tuanya itu hua ha ha ha! aku jijik tau!"


Laki-laki yang tak lain Abidin adanya mondar-mandir di dalam rumahnya. Ia sempat kesakitan


dan pusing oleh hantaman sepatu Prita tadi siang. Dadanya juga nyeri. Gadis itu membuatnya


tak bisa bekerja dan memutuskan pulang ke rumahnya. Matanya sempat berkunang-kunang


oleh benturan keras yang diakibatkan dorongan keras kaki Prita ke tembok.


Beberapa tukang yang sedang menyelesaikan pembangunan rumahnya, menolehinya


tetapi selanjutnya kembali bekerja. Mereka tak ingin kena semprot Abidin akibat keingin


tauan itu. Tak biasanya Abidin pulang secepat itu. Biasanya selalu malam menjelang


jam sebelas.  Lagi pula Abidin langsung masuk kerumahnya dan tak keluar lagi.


Seorang perempuan tua yang mengurusi keperluan tukang-tukang itu bilang kalau


Abidin sedang tidur, mereka boleh pulang karena sudah sore. Ibu tua itu adalah


orang yang bekerja pada Abidin sejak lama. Rumahnya dan keluarganya tak jauh


dari rumah Abidin. Sejak lama ibu tua yang bernama bi Iroh itu sudah membantu


di keluarga Abidin.


Orang tua Abidin sudah lama meninggal, mereka hanya memiliki dua orang anak, yang


pertama kakak Abidin yang sudah menikah dan tinggal jauh di luar kota. Sejak lama


kakaknya itu jarang berkunjung dan berkirim kabar. Sehingga hanya Abidin saja yang


tinggal di rumah itu.


Bibi Iroh serta tetangga-tetangga mengenal Abidin seorang yang ramah dan baik.


Memang sejak lama ia hidup kesusahan, Rumah sederhana peninggalan orang tuanya


semakin kumuh dan reot setiap harinya, orang-orang juga masih melihat Abidin pergi


dan pulang ke rumah dengan berjalan kaki.


Dua tahun belakangan ini perubahannya meningkat dengan pesat. Abidin pergi dan


pulang dengan naik motor. Ia juga mulai mengukur-ngukut tanah peninggalan


orang tuannya yang cukup luas. Ia bermaksud membangun rumah besar dan mewah


di tanah yang luasnya lima ratus meter itu. Entah dari mana ia mendapatkan uang


sebanyak itu.


Tetapi yang jelas tetangga-tetangganya senang dengan perubahan itu, apa lagi

__ADS_1


Abidin menyumbang kas kampung itu lumayan besar. Uang rupanya telah merubah


seorang Abidin yang polos menjadi serakah dan jahat. Apa lagi ia telah berkenalan


dengan seseorang yang sangat rahasia yakni  ayah Jae.


Ayah Jae mungkin bisa dibilang penjahat kecil-kecilan tingkat lokal, Ia pemilik bisnis


karaoke  serta rumah hiburan malam, usaha-usaha itu sebenarnya hanya kedok belaka


yang sebenarnya ia memilik bisnis sampingan yang hasilnya jauh lebih besar dari bisnis


yang terlihat mata.


Abidin dengan sikapnya yang pandai mengambil hati dan penurut telah membuat


Ayah Jae tertarik dan menjadikan Abidin salah satu yang khusus. Sebab itulah


ia mulai mendapatkan uang banyak dan membangun rumahnya secara perlahan.


Prita telah membuat Abidin ingin bertemu dengan ayah Jae. Ia ingin dibantu untuk


menangkap Prita dan menjadikan gadis itu primadona di rumah madu.


Abidin yakin Ayah Jae akan menyukai gadis seperti Prita. Ayah Jae menyukai perempuan


muda serta pemberontak. Bagaimana pun hebatnya Prita ayah Jae  dengan segala


kelicikkannya  pasti bisa melumpuhkan gadis itu. Prita akan menjadi madu yang istimewa


untuk ayah Jae, laki-laki kurus setengah baya tersebut sangat menyukai perempuan


yang memiliki tubuh indah seperti Prita. Ia bisa mendapat uang yang banyak lagi.


Ha ha ha ha! terdengar lagi tawa Abidin di keremangan ruangan itu.


Mama Risa terlihat kebingungan saat Prita sampai di rumah. Awalnya ia tak mau menceritakan


kekalutannya itu. Prita terus mendesak dan akhirnya  mama Risa bilang kalau sertificat rumah


dan kontrakkan hilang. Ia baru menyadarinya tadi, saat mendapat firasat buruk.


Prita ikut terkejut, "Mama cari dan ingat lagi di mana menyimpannya."


"Mama ingat Prita! semua di dalam tas bekas papa ini! tidak ada satu pun yang


tersisa."


"Ya Allah mama, pasti si Abidin  itu telah mengambilnya, kita bisa tidur di jalanan Ma. ya


Allah!"


Prita menjadi ikut panik, "Besok mama harus laporkan ke polisi Ma, kalau tidak kita


bisa jadi gelandangan Ma."


Mama Risa menangis sejadi-jadinya, "Penyesalan yang menyesakkan dada menguasai


dirinya, semalaman itu ia dan Prita tak bisa tidur. Dan tidak ada yang bisa dimintai pertolongan.


Pagi-pagi sekali mama Risa sudah berangkat ke kantor polisi melaporkan Abidin. Sementara


Prita menunggu Abidin di tempat kerja. Tetapi  laki-laki itu tak berangkat kerja karena sakit.


Prita meminta alamatnya. Tetapi tidak yang tahu karena Abidin merahasiakan alamatnya.


Prita kesal sekali. Ia harus mendapatkan kembali dokumen penting milik ibunya, meski


nyawa taruhannya.


Ternyata Abidin  pagi itu pergi menemui ayah Jae dan menceritakan tentang Prita. Ia akan


mendapatkan uang yang banyak dari ayah Jae sebab telah memberitahukan calon madu


yang istimewa. Gadis luar biasa yang memiliki ilmu bela diri meski bukan tingkat tinggi.


"Ha ha ha, jadi menurutmu dia memiliki ilmu bela diri yang lumayan?"


Pria maskulin itu sangat tertarik. Wanita yang sulit dimiliki semakin membuatnya tertantang

__ADS_1


untuk mendapatkannya. Dia mengangguk-angguk dan tersenyum mengerikan.


"Baiklah, dia akan menjadi maduku! aku pasti akan mendapatkannya, hemmm sudah lama


aku tak menikmati keperawanan perempuan muda."


"Hemmm, Prita tak akan mengecewakan selera ayah Jae."


Abidi mengerling-ngerling dan tersenyum, ayah Jae langsung tau arah Abidin.


"Kau perlu berapa?"


"Dua ratus juta Ayah Jae, aku sedang membangun rumah."


"Baiklah nanti siang akan masuk ke rekeningmu."


"Terima kasih ayah Jae."


Abidin pamit dan telah membayangnya rumahnya yang segera beres, dan ia juga bisa


bersenang-senang dengan perempuan yang ia sukai di rumah hiburan, Ia sudah tahan


untuk menyentuh gadis paling mahal di rumah hiburan itu. Terbayang di benak Abidin


tentang tubuh seorang gadis yang sudah lama ia incar, tetapi harga gadis itu masih


sangat tinggi sebab usia yang muda serta tubuhnya yang mengiurkan.


Ia sangat menginginkan gadis itu sekarang, segera ia mengarahkan motornya ke sebuah


tempat. Dan ia langsung mengatakan pada penjaga bahwa ia menginginkan madu yang


paling manis, segera ia transfer dua puluh lima juta ke rumah madu.


Bergaya seperti seorang bos Abidin masuk ke ruangan khusus dan ia membaringkan


tubuhnya di sana menunggu. Hitungan menit pintu terbuka, Abidin tersenyum melihat


tubuh yang ramping berisi menghampiri dirinya. Gadis itu memulai pekerjaannya


memijit tubuh Abidin dengan jemari yang halus dan lentik. Laki-laki itu memejamkan


matanya menikmati pijatan itu.


Tak lama sebab Abidin mulai dirasuki keinginan untuk meluapkan hasrat yang terpendam


sejak lama, apa lagi ia telah mengeluarkan uang yang sangat besar untuk mendapatkan


madu khusus. Abidin menarik tubuh si madu ke atas pembaringan dan seketika menindih


gadis itu yang hanya membisu dengan senyum tipis. Abidin mengangkat wajahnya dan


saling menatap dengan gadis itu. Laki-laki itu sekarang ingin mengatakan bahwa si madu


jangan lagi sombong, karena sekarang ia berkuasa.


Si madu tersebut tersenyum tipis, Abidin memiringkan kepalanya dan menyambar bibir


ketipisan yang manis itu, ia meluapkan hasratnya, tangannya juga sudah menyentuh


bagian dadanya yang besar mengemaskan. ia Menarik tubuhnya untuk melucuti sang


pakaian madu. Abidin melotot melihat pemandangan indah di depannya. Sepanjang


hari ini ia akan bersama madu.


 


 


Bersambung


Jangan lupa beri like, komen,


dan votenya, sangat berterima kasih


 


 

__ADS_1


__ADS_2