
Sepulang dari mengajar di rumah keluarga Raka Bramantyo. Prita jadi sering melamun.
Ia tak menyangka pria di stasiun yang bertabrakan dengannya adalah teman di taman
kanak-kanaknya. Prita mengambil pigura yang tersimpan di dalam lemari. Di sana
dalam foto ia masih gadis kecil yang imut. Tapi semua orang bilang bahwa dia sangat
cantik saat kecil dan meramal saat besar pun akan menjadi gadis cantik dan menjadi
rebutan pria.
Teman-teman ibunya sering mengunjingkan dirinya jika mereka datang ke rumah.
"Ohh Risa, anakmu masih kecil begini sudah cantik, kulitnya bagus halus dan
langsat, wajahnya seperti bintang pujaan di film. Bagaimana bisa kau memiliki
anak secantik ini."
"Iya Risa, anakmu imut dan cantik, kalau besar nanti dia pasti menjelma menjadi
gadis yang mempesona. Banyak pria yang akan mengejar-ngejarnya."
.
Ibunya hanya tersenyum, dan bangga pada Prita yang imut dan cantik. Kata
bibi-bibi dan pamannya, kecantikkan Prita menurun dari buyutnya, yakni ibu
neneknya. Dia sendiri tidak ingat bagaimana wajah neneknya tersebut. Ia hanya
mendengar seperti itu.
Banyak yang mengatakan seperti itu, sementara Prita sendiri hanya merasa
dirinya biasa-biasa saja. Lagi pula biar cantik tetapi ia tidak memiliki sesuatu
yang dibanggakan. keluarganya hanya kelas menengah yang terbawah.
Mengandalkan warisan kontrakkan dari orang tua saja. Di tambah ibunya
sempat mengalami depresi berkepanjangan sepeninggal anak sulung dan
suaminya. Prita tak mendapatkan kasih sayang ayah dan ibunya saat dia
balita.
Hal tersebut membuat Prita tidak mau membuat dirinya mencolok diantara
teman-temannya. Ia lebih banyak menyimak, serta menjadi pendengar yang
baik. Meski dia adalah seorang gadis yang keras hati dan bukan pemalu.
Setiap ia menginginkan sesuatu ia langsung meminta kepada orang
yang tepat, seperti yang sudah di ceritakan ya, semenjak taman kanak-kanak
Prita langsung bilang ke guru kalau ia ingin sekolah. Tetapi ibunya sakit dan
ayahnya sudah tidak ada.
"Rakasiwi, dia adalah putra seorang konglomerat bernama Raka Bramantyo
dan ibunya yang baik dan juga ramah, Mardo Prameswari. Kenapa hatiku
merasa nyaman saat berada bersama mereka? a-apakah kelak mereka
akan menjadi keluargaku?"
Oh, aku tak mau berkhayal muluk. Lebih baik aku menjalani hari-hariku
seperti biasanya. Prita membalikkan tubuhnya dan memeluk bantal
gulingnya dan tertidur.
***
Ada yang berubah pada Mamanya. Prita merasakan hal tersebut. Mama
sekarang mengenakan bajunya yang bagus. Sepatu dan tas. Ia sering
pergi tapi tidak tau entah kemana.
Setiap kali dia berangkat untuk mengajar, ibunya pun telah bersiap-siap
berdandan. Tak biasanya memakai celak dan bibir yang merah merona.
Prita pernah menegur mamanya itu, sudah tak pantas memakai
kosmetik semenor itu, tapi mamanya tak perduli.
"Mama mau kemana sih, itu bajunya seksi amat dan wajahnya merah
begitu, ingat mam udah usia juga."
"Prita! mama juga mau keluar mencari udara segar, mama suntuk di rumah
__ADS_1
terus, bikin mama jadi jutek dan dan cepat tua."
"Oh ya sudah, terserah mama sajalah."
Ujung-ujungnya suatu hari mama bilang kalau ia akan menikah dengan
seorang laki-laki yang ia sukai. Prita sangat marah, ia tidak mengerti
apa yang mamanya cari. Mereka baru saja merasakan kedekatan
dan kegembiraan berdua. Merasa tenang dan damai kenapa tiba-tiba
mama membicarakan pernikahannya dengan seoran laki-laki.
"Aku tidak setuju mama!"
Prita menghentak pergi dari rumah. Ia mengeluarkan moge dan meninggalkan
rumah dengan hati yang kesal. Sepanjang jalan di balik helm air matanya
mengalir deras.
"Kenapa sih Mama mesti menikah lagi? "
Aku kan baru saja dekat dengan mama, merasakan kebahagian bersama mama
kedekatan yang indah. kegembiraan berdua. Ahh, apakah mama masih kurang
bahagia bersamaku?
Prita tak habis pikir, apa lagi yang dicari oleh mama? oh hal ini membuatku
sangat sedih, terpukul dan bingung. Gadis itu terus bicara di dalam hatinya.
Dia mengenderai mogenya ke luar kota, mengebut dan melewati berbagai
kenderaan, menyalurkan kemarahannya pada mama.
Saat senja ia baru pulang dan kemudian mengurung diri di kamarnya. Mama
memang melihat ketidak sukaan Prita pada calon suaminya. Laki-laki itu
hanya tersenyum dan menyuruh Risa membiarkan anaknya.
"Kenapa Loe Prita? wajah loe nggak biasanya?"
Yunna langsung bisa melihat wajah Prita yang terlihat kesal serta marah.
"Mama Gwe tau-tau mau kawin lagi!"
"Apha? mama loe mau kawin lagi? ya ampun sama siapa Prita?"
dia bukan laki-laki yang baik, aku terus memikirkan hal ini."
"Sebaiknya kau beritahu paman dan bibimu Prita, barangkali terjadi sesuatu,"
"Ah! aku tak bisa berharap pada mereka, dari dulu sikap mereka acuh dan cuek
ibu mau mati saja mereka tak perduli."
Yunna tak bisa berkata apa-apa lagi. Seolah tidak ada jalan untuk mencegah
pernikahan tersebut. Dan hari sabtu depan, Yunna dan ibunya datang menghadiri
pernikahan tersebut. Tidak ramai, hanya orang-orang dekat saja.
Dan malam harinya Prita menutup kupingnya mendengar laki-laki itu dan ibunya
bercumbu di ruang tamu, ruangan menonton tivi dan ruangan makan.
"Risa, ayo sayang kita habiskan malam pengantin kita, sudah nggak sabar nih."
Suara itu seolah-olah sengaja dibesarkan agar ia mendengarnya. Rasanya Prita
ingin menjerit dan pergi dengan mogenya keluar dari rumah itu. Tapi hari telah
malam, terpaksa ia menahan dirinya.
Kamarnya dan kamar mamanya berdekatan, dan ia merasa kesal mendengar
suara mama yang mendesah-desah dan merintih. Serta laki-laki itu yang bernapas
tak beraturan. Memang laki-laki berperut buncit itu tengah memeluk
Risa dengan kuat, bibir yang tebal dan menghitam itu beberapa kali merunduk
menyesapi milik Risa, lantas mengangkat kepalanya beberapa menit untuk
membiarkan dirinya dan Risa menghirup udara, kemudian ia merunduk lagi
menyicipi dan memakan hidangan yang tersaji.
"Ternyata kamu montok dan bahenol sayang, abang suka sekali. Emmm ini
kenapa membengkak begini? besar banget."
Mulut laki-laki itu ribut sekali, juga tangannya bergerilya, tiada hentinya.Terdengar
__ADS_1
ibunya menjerit. Prita terkejut. Apa yang dilakukan laki-laki itu pada ibunya? Prita
tak bisa tidur, ia ingin lari ke kamar mama untuk melihatnya. Tetapi tak lama
ia kembali mendengar suara ibunya tertawa, lalu rintihan dan jerit tertahan.
Arrrgah! Prita menyumpal kupingnya dan akhirnya tertidur saat dini hari. Saat paginya
ketika ia pergi mengajar Anggie, ia beberapa kali mengantuk dan tertidur saat
anak itu membaca buku ceritanya. Anggie tak sampai dua minggu telah pintar
membaca, ibunya sangat gembira, dan ingin anaknya belajar matematika.
"Kak Prita! aku sudah selesai membaca buku Untung dan bangau ajaib."
Anggie menyentuh lengannya beberapa kali hingga Prita terbangun dan terkejut.
"Kakak tertidur ya, he he he."
"Nggak kok, kakak dengar Prita membaca, memang sih suaranya merdu sekali
bikin kakak mengantuk."
"Jadi apa cerita Untung dan bangau ajaib itu?"
"Emmm, tentang anak yang bernama Untung kak. Ibu dan ayahnya meninggal
sehingga ia pergi mengembara. Si Untung menolong seorang nenek tua di hutan
dan balasannya nenek itu memberikan Untung sebuah seruling. Setelah itu
nenek menyuruhnya pergi mencari si burung bangau di sebrang sungai.
Di perjalanan banyak sekali kejadian yang aneh setelah ia memegang seruling.
Untung ingin diterkam harimau, tetapi ketika melihat seruling ditangan anak itu
si harimau merunduk, begitu juga ular, dan buaya semuanya tunduk kepada
anak itu.
"Wah, kau sudah bisa membaca bahkan menceritakan kembali yang telah
dibaca, selamat ya."
Anggie tersenyum senang, "Karena kak Prita aku bisa membaca."
"Karena kerja kerasmu juga cantik."
Prita lalu pamit pulang, kepalanya terasa pusing berputar-putar.
"Kakak pulang dulu ya, sampai jumpa besok."
Prita bergegas, dan ia ambruk ke tempat tidurnya seusai memasukkan mogenya.
Gadis itu lupa menutup pintu kamarnya, laki-laki ayahnya tirinya memeriksa ke depan
ia melihat pintu yang terbuka dan ia mendorong sedikit. Prita tertidur sangat lelap, dan
mata lelaki itu melahap tubuh gadis itu yang menelentang. Ia meneguk liurnya hingga
jakunnya bergerak turun naik melihat Prita dari wajah, leher dan berhenti pada gumpalan besar
di dada gadis itu, kemudian pinggangnya yang berisi serta kakinya yang terbalut jeans.
"Bang Abidin!"
Suara Risa yang memanggilnya dari belakang membuatnya buru-buru meninggalkan
kamar itu dan berpura-pura memeriksa di depan.
"Itu anakmu rupanya pulang, ia tak menutup lagi pintunya."
"Oh, Prita, dia biasa pergi dan pulang."
"Aku sudah selesai masak, kita makan yuk."
"Pergilah duluan, aku habiskan rokokku dulu."
Risa segera ke belakang, laki-laki itu membuang rokoknya dan ,menyempatkan diri
mengintip di pintu kamar Prita. Matanya membesar menatapi pingang yang penuh dan
yang mengumpal sesak di balik kemeja gadis itu. "Aku harus bisa mencicipi tubuh
yang indah dan segar itu, tidak seperti tubuh Risa yang sudah kendor dan tua itu!"
ia membatin.
Bersambung
Jangan lupa, like dan komennya ya gaes
__ADS_1
bintang lima dan vote
author sangat berterima kasih