
Hello, terima kasih telah berkenan mampir di kisah Pria Idola.
Jangan lupa dukung terus ya sob, dengan like, komen, vote dan komentarnya. Othor sangat berterima kasih.
Elsa dan Prita meninggalkan rumah Jaelany dengan perasaan yang sulit diungkapklan. Rasanya aneh, tanpa kehadiran Yunna di sana. Biasanya Ada Yunna yang dengan ceria menyambut dan menjamu mereka dengan banyak sekali makanan. Yunna juga akan mengajak mereka melihat kamarnya yang dipenuhi barang-barang belanjaan. Sekarang Yunna tak ada. Rumah itu sangat sepi.
Sesaat tadi ada kesedihan yang menyergap. Sepi yang sendu. Kelopak mata Prita dipenuhi butiran air mata. Ia dan Yunna sudah lama sekali tak bertemu. Prita tak bisa pulang saat Yunna syukuran empat dan tujuh bulan. Prita sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya. Setahun lebih mereka tak bertemu.
Dada Prita menyesak oleh sebuah perasaan kehilangan. Terbayang keceriaan Yunna saat hari ia menjadi ratu sehari. Ia bahagia sekali. Itu adalah hari terakhir ia bersama Yunna. Usai pesta pernikahan Prita kembali ke Semarang. Ia ingin sekali menyelesaikan studynya dan tinggal berdua dengan Mama Risa.
Dengan perasaan yang sukar dilukiskan Prita memandang rumah itu. Dan Deg! ia melihat sosok Yunna di depan pintu gerbang. Sosok itu menatapnya dengan kesedihan yang dalam.
"Yunna!"
Prita hampir saja kehilangan keseimbangan saat ia akan menaiki mogenya.
"Ada apa Prita?"
Elsa ikut kaget dan menahan motor besar itu agar tak jatuh. Prita menatap ke pintu gerbang. Sudah tidak ada apa-apa di sana. Prita mengosok-gosok matanya. Apakah ia melamun? tetapi sosok Yunna yang menatapnya itu sangat jelas. Ia sangat sedih.
"A-aku melihat Yunna."
Gumamnya. Elsa mengikuti pandangan Prita.
"Jangan menakutiku, Yunna sudah tenang di alamnya."
Prita membenarkan perkataan Elsa. Mereka lantas pergi dan Prita mengantar Elsa ke tempat kerjanya. Kedunya membisu sepanjang perjalanan. Hingga akhirnya mereka sampai. Elsa segera melompat.
"Ayo turunlah, kita minum dan makan siang, aku ingin nitip juga untuk tante Risa."
Semula Prita tak semangat dan engan namun karena Elsa menyebut mamanya ia akhirnya membawa motor besarnya ke tempat parkir. Prita mengikuti Elsa naik ke lantai dua dan gadis temannya itu memilihkan meja untuk mereka berdua. Elsa belum lagi memulai waktunya bekerja. Ia masih ada waktu menemani dan mengobrol dengan Prita.
Keduanya memesan minuman kesukaan mereka. Serta makanan ringan. Mereka belum bisa melepaskan pikiran dari Yunna.
__ADS_1
"Saat aku melihatnya tadi, matanya sangat sedih seolah berkata jangan pergi!"
"Tentu saja Yunna sangat sedih. Ia baru saja melahirkan. Perjuangan seorang ibu yang sangat berat. Sekaligus ia telah merasakan bagaimana melahirkan. Ia sangat bahagia dan ingin mengendong serta menyusui putranya."
Keduanya saling bertatapan.
"Bagaimana kalau Yunna mati penasaran?"
"Astaqfirullahaladzim!"
Elsa menutup mulutnya dan memandang Prita tak percaya.
"Karena beberapa kali aku melihat sosoknya Sa, dan kau juga iya kan? oh! tadi malam seseorang mengetuk pintu rumahnyaku, tetapi anehnya begitu pintu dibuka, tidak ada siapa-siapa. Namun saat aku menoleh di kegelapan aku melihat sosok Yunna, Demi Allah aku nggak bohong!"
Elsa menyeruput minumannya. Hatinya berdebar. Ia ingat lagi kalau kematian Yunna sebab perampokkan. Yunna meninggal karena pembunuhnan. Bisa jadi jiwa Yunna memberontak. Ia sedang menikmati kehidupannya sebagi ibu muda yang memiliki segalanya. Dan tiba-tiba ia direngut dari dunia indahnya. Bisa jadi hsl itu yang membuatnya tak mau meninggalkan dunia. Apa lagi ia harus menyusui bayinya.
Bayi Yunna? di mana bayi itu. Jaelany bilang ia sedang menunggu kabar berapa besar uang yang harus keluarkan untuk menebus bayi itu? Kenapa belum ada yang menghubungi pria itu? apakah memang itu murni penculikkan. Kenapa Jaelany yang memiliki kekuasaan besar dan kuat itu hanya berdiam saja.
Banyak pertanyaan dalam diri Elsa dan Prita. Tetapi mereka tak bisa melakukan apa pun. Mereka hanya sekedar sahabat dekat saja.
"Baiklah, aku masih masuk siang."
Lalu Prita pamit dan pulang ke rumahnya. Ia merasa sangat lelah, apa lagi Elsa menyuruhnya membawakan makanan kesukaan Mama Risa. Jadi Prita tidak memiliki pikiran untuk kemana-mana lagi.
"Ma, ini ada makanan dari Elsa, katanya Mama suka nasi bakar peda. Tapi Elsa juga beliin ayam bakar dan lalapnya."
"Dawetnya ada kan Ta? Mama suka ke cafe itu makan-makan dan minum bareng teman Mama."
"Periksa saja Ma, banyak tuh, Prita mau tidur ya Ma mumpung liburan, kalau di kost kurang tidur. Ngerjain tugas terus."
Tetapi ia teringat sesuatu dan memandang mamanya.
"Ma, kok Mama nggak bilang tentang Yunna? Prita sangat terkejut saat di rumah Elsa dapat berita mengejutkan."
__ADS_1
Mama Risa tercekat, ia sempat terbengong beberapa saat sebelum akhirnya menjelaskan kalau Dia sebenarnya sudah akan memberitahu hal tersebut. Namun Prita yang datang saat hari telah malam membuatnya menunda. Tetapi pagi-paginya malah kelupaan. Prita hanya tersenyum.
"Apa yang terjadi? kamu mendapatkan cerita lengkapnya?"
"Perampokkan Ma, kata mereka Yunna dan keluarganya di serang di tempat parkir."
"Ya Allah, kasihan sekali Yunna. Benarkah itu perampokan?"
Mama Risa setengah bergumam. Mengingat betapa liciknya Jaelany. Ia pernah berurusan dengan lelaki itu. Wajahnya memang tenang, dan senyum selalu terukir di bibirnya. Tetapi dibalik itu ada misteri menakutkan setiap kali memandang matanya. Ada kejahatan mengerikan di sana.
"Apa maksud mama?"
"Ah nggak, barangkali saja bukan perampokkan."
Prita hanya menghela napas lantas beranjak ke kamarnya. Ia ingin melupakan masalah Yunna. Tetapi ketika sendirian ia terpikir kata-kata Mama. Apa mungkin bukan perampokkan biasa? melainkan rencana licik Jaelany. Tetapi kenapa? Yunna sudah memberikan seorang baby padanya. Dan baby mereka memerlukan asi di hari-hari pertama kehidupannya. Tidak mungkin, Elsa bilang mereka sangat bahagia. Jaelany terlihat sumringah ketika Elsa menjenguk keduanya di rumah sakit.
Prita membalikkan tubuhnya dan memeluk bantal guling yang membuatnya nyaman. Perut yang kenyang serta udara dingin kamarnya membuatnya langsung terlelap. Sementara Elsa sibuk melayani pelanggan yang datang silih berganti. Ia beristirahat sejenak di tempat pramusaji. Ia menyeka keringat di keningnya sembari matanya menatap ke sudut. Ia terkejut melihat sosok Yunna sedang duduk menyendiri di sana. Seketika Elsa beristiqfar dan sekedipan sosok Yunna menghilang.
"Yunna! oh, kenapa sosoknya bisa muncul? tidak mungkin, hanya perasaan dan penghlihatanku saja."
Elsa menggeleng-gelengkan kepalanya, ia terlalu memikirkan sahabatnya itu. Tiba-tiba handphone yang tergantung di lehernya berbunyi. Kembali jantungnya bak putus melihat Yunna call. Panggilan itu tak jua berhenti membuat Elsa berpikir bahwa itu adalah orang lain yang memegang handphone Yunna. Ia segera mengangkatnya dan dari seberang sana terdengar suara Jaelany.
"Elsa, bisakah kau dan Prita besok pagi datang ke rumahku? penculik itu telah menghubungiku, temani aku mengambil baby Yunna ok."
"Oh, ja-jadi penculiknya sudah menghubungi ya, a-aku bicara dulu sama Prita ya Yah."
"Aku mohon, Yunna pasti senang, kalian menyelamatkan babynya. Aku tunggu besok pagi ya,"
Elsa menyanggupi. Semua sebab Yunna sahabatnya. Prita juga pasti tak akan menolak.
__ADS_1
Bersambung