Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 256. Malam Pertama Prita Dan Rakasiwi


__ADS_3

Rambut Prita terlepas dari ikatannya. Tadi  banyak sekali  ia menarik jarum pentul dari hijab yang ia pakai.  Tangannya sampai merasa cape. Dandanan pengantinnya sudah terlepas semua. Prita tinggal merapikan gaun pengantin berwarna putih gading dengan detail yang halus dan lembut. Mereka lumayan lelah mencari salon untuk pengantin hingga akhirnya tiba di salon muslimah milik ibu hajjah Sumiati.


Keduanya langsung menyukai program  serta paket yang dijelaskan dengan detail dan ramah oleh pemiliknya langsung. Padahal menurut karyawan yang ada di tempat itu. Bu hajjah  jarang ke salonnya itu. Jika ia datang biasanya pagi jam 9 hingga jam 10. Setelah itu ia tidak pernah ada di salon tersebut. Bu Hajjah memiliki banyak bisnis. Sehingga sulit menemuinya.  Sebuah keberuntungan bagi mereka bisa bertemu langsung.


Prita menyimpan baju pengantin itu sangat hati-hati. Juga jas milik Rakasiwi merupakan pasangan dari gaun pengantin tersebut. Ia dengan lembut membereskan dan menyimpannya di sebuah sudut di dalam kamar tersebut. Ibu Hajjah Sumiati sudah memberikan yang terbaik untuk dekorasi pelaminan, pakaian serta pernak-perniknya. Sebab itu ia sangat menjaga gaun pengantinya. Ia akan mengembalikan dalam keadaan baik.


Setelah mengantungkan gaun pengantin dan jas di sudut ruangan kamar itu, ia juga memasukkan dengan hari-hati perhiasan miliknya. Gelang, kalung serta cincin yang menghiasai jemarinya. Ia menutup box yang berisi perhiasan dari Rakasiwi. Ia juga belum membukai puluhan keranjang hantaran yang memenuhi sebuah kamar lain di apartemen itu.  Sebagian lainnya ada di atas tempat tidurnya di rumah mama Risa. Berbagai barang untuk kebutuhan Prita. Seminggu ini ia tak akan bisa membukai semuanya. Karena ia ingin menghabiskan waktu bersama Rakasiwi selama masa pengantin mereka,


Prita masih belum berhenti dari pekerjaan, hingga terdengar bunyi pintu dibuka. Prita terperangah melihat Rakasiwi di bawah cahaya lampu dari kamar mandi yang berwarna biru. Rambutnya basah dan segar.Tubuhnya terliliti handuk hingga perut.  Rakasiwi jengah oleh pandangan Prita yang tak berkedip. Baru melihat tubuh laki-laki bertelanjang dada  seumur hidup.


"Kimono tidurku mana Yang?"


Tanya Rakasiwi membuyarkan lamunannya.


"Oh, itu, diatas meja Yang."


"Giliranku, aku ingin berendam air hangat  seperti kebiasaanku."


"Hem segar dan wangi, sekarang giliranmu Yang."


Rakasiwi mengepak-ngepakan tangannya dan memutar kepalanya hingga sisa air di rambutnya bertebaran dan mengenai Prita.


"Ich, basah tauuu!"


Prita bangun dari tempat duduknya buru-buru menyambar handuk yang tergeletak di meja rias.


"Jangan lama-lama mandinya Yang."


Prita merasa Rakasiwi  mengatakan hal itu sebab tak sabar untuk malam pertama mereka. Ich membuat  ngeri. Gadis itu mengedikkan bahunya. Pelan-pelan ia membuka kimononya, lalu pakaian dalamnya hingga tidak ada lagi benang yang melekat. Ia mengigit bibirnya tak sanggup membayangkannya.


Ketika Prita keluar dari kamar mandi ia tak melihat Rakasiwi, agaknya ia keluar dari kamar tidur memeriksa apartemen mereka. Prita merasa nyaman saat ia mengenakan baju tidurnya berwarna pink yang lembut mengikuti lekuk tubuh. Ia meremas jemarinya, lantas membuka pintu kamar menoleh ke ruang depan, tetapi suaminya tidak ada di sana.  Agaknya suaminya di belakang.


"Yang!"


Ia melihat Rakasiwi sedang meracik minuman.


"Sudah mandinya? kita minum dulu Yang biar santai."

__ADS_1


"Apa itu Yang?"


"Racikkan untuk menghangatkan tubuh, pokoknya membuat tubuh enak."


Prita tak mau mengomentari, ia tau Rakasiwi bisa meracik  kopi yang enak. Laki-laki itu membawa dua cangkir minuman yang mengepul asap. Rakasiwi menuju sofa baru dan meletakkan cangkir di depannya dan untuk Prita. Ia memberi tempat untuk Prita di sisinya.


"Duduk sini istriku."


Prita tersenyum, terdengar menggelikan tapi tak berani membantah.


"Iya suamiku."


Gumamnya tersipu.


Rakasiwi menghidupkan tivi yang menempel di dinding, mencari chanel yang bagus. Setelah itu menaro remote. Hanya sebentar ia melihat pada tivi. Perhatiannya segera pada minuman yang mengebul, ia mengangkat dan menghirup.


"Hem, enak banget, cobain Yang."


Prita juga menghirup sedikit, sebab masih panas. Rakasiwi mendekatkan tubuhnya hingga menempel dengan istrinya. Ia menghadapkan Prita hingga mereka saling berhadapan. Rakasiwi meneguk sesuatu di dalam dirinya.


"Dirimu siap kan Yang?"


"Alhamdulillah, yuk Yang."


Rakasiwi menarik Prita lebih dekat, mengecup lembut kening, hidung, pipi lalu menarik sedikit wajahnya memiringkan sedikit hingga menemukan posisi yang pas. Prita memejamkan matanya membiarkan Rakasiwi memperlakukan dirinya sangat lembut. Jantung mereka sama berdetak kencang.


"Yuk sayang, ke kamar pengantin kita."


Rakasiwi mematikan tivi kemudian hup, ia mengendong tubuh Prita memasuki kamar pengantin yang romantas. Prita tak mau melepaskan tangannya dari leher.  Rakasiwi jatuh menindih tubuhnya, kembali keduanya berpagutan. Saling mengelus dan membelai, meremas.


Rakasiwi berbisik supaya membuka baju tidurnya biar tak kusut. Mematikan sebagian lampu sehingga ruangan tersebut menjadi remang. Prita membuka piyama Rakasiwi dan melemparnya ke lantai, Raka juga sudah berhasil mengambil bra merah milik Prita dan menjuntaikannya di udara. Keduanya sudah menempel tanpa penghalang. Rakasiwi membuang bra tersebut hingga nyangkut di kursi rias.


Prita menggigit bibir merasakan tubuhnya dan Raka bersentuhan napas keduanya berlomba berebutan keluar. Terasa satu lagi penghalang di bagian bawahnya terlucuti. Prita melakukan hal yang sama. Rakasiwi memperlihatkan celana merah, ia menciumnya penuh perasaan.


Saat keduanya sama-sama mencapai puncaknya, Rakasiwi mengerang keras, ia tercekat. Sekali lagi ia mengulangi tapi lagi ia seperti menghantam pintu yang keras. Keringat membasahi tubuh, Prita meringis dan saat Rakasiwi mengulang dan mengulang ia sangat kesakitan dan air matanya sampai keluar.


"Sakit ya Yang."

__ADS_1


Prita hanya menatap Rakasiwi dengan wajah memelas. Malam itu Rakasiwi tak berhasil mencapai gawang. Ia ingin mencobanya tapi Prita yang kesakitan membuatnya memilih berhenti. Rakasiwi menjatuhkan tubuhnya, ia mengangkat wajahnya dan tersenyum pada Prita.


"Kita bobo dulu Yang, besok kita coba lagi ya."


Tetapi tiba-tiba Prita terisak isak, ia menutupi wajahnya dan membelakangi Rakasiwi.


"Se-seharusnya aku tidak bilang sakit, itu membuatmu takut menyakitiku hiks hiks hiks."


"A-aku sangat kekanakkan, maafkan aku."


Rakasiwi mengangkat kepalanya dan menaro di pundak Prita. Ia menepuk lembut tubuh perempuan yang tengah merajuk itu.


"Bukan sayang, aku dan kau sama-sama ketakutan tak bisa memberikan yang terbaik, terlalu tegang. Heiii ayolah, ini hari pertama kita menikah, malam pertama, tetapi tak selalu baik..kita perlu belajar untuk mengetahui hal itu."


"Jangan menyalahkan dirimu, tidak ada yang salah, lagi pula tak perlu buru-buru, masih banyak waktu  untuk kita."


"Kita akan mencobanya lagi nanti, hemmm. Sekarang tidurlah ini sudah sangat malam."


Perempuan itu mereda tangisnya, bujuk rayu Rakasiwi yang lembut mengobati perasaan kecewanya yang besar. Beberapa kali laki-laki itu menghujamkan miliknya, tetapi tak berhasil. Ia melihat perubahan wajah Rakasiwi sebelum ia akhirnya menyerah. Prita bisa merasakan, sangat sulit bagi Rakasiwi dan ia menjadi kesakitan. Kenapa? apakah ada penghalang sehingga milik Rakasiwi yang keras tegak tak berhasil menembus dinding perawannya. Prita tak bisa tidur oleh kejadian itu. Sementara Rakasiwi telah tertidur. Terdengar napasnya yang teratur.


Prita akhirnya juga tak bisa menahan kantuknya. Ia menghadapkan tubuhnya pada Rakasiwi dan memeluk tubuh Rakasiwi dengan air mata  masih merembes. Perasaan sedih mendera hatinya. Ia tak bisa membuat malam pertama mereka bahagia. Ia tak habis pikir kenapa. Sebenarnya ia ingin mengambil handphone dan mencari tahu. Tetapi ia tak mau mengganggu tidur nyenyak Rakasiwi. Mereka sepakat menyimpan handphone di dalam tas. Keduanya tak ingin ada yang mengganggu hari spesial itu.


Atau memang benar seperti yang dikatakan Rakasiwi keduanya sama-sama tegang, sehingga bagian tubuhnya menolak dan tak mau menerima. Benarkah demikian? tetapi ia menerima dan terbuai oleh cumbuan Rakasiwi. Ia merasa tubuhnya seperti tersengat listrik saat Rakasiwi menyentuhnya. Bagaimana mungkin ia menolaknya ia bahkan sangat mendamba dan mengharapkan  Rakasiwi membawanya melayang tinggi ke langit ke tujuh.


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2