
Hari yang dinantikan telah tiba. Rumah besar Raka dan Mardo ramai oleh keluarga besar mereka. Di ruang tamu terjadilah keramaian serta suasana yang hangat. Pak Bramantyo dan pak Wijaya tak hentinya bercengkarama serta tertawa oleh kebahagian. Menurut pak Wijaya selama ini kedudukan mereka berbeda banyak. Pak Bramantyo kalah banyak.
Tak terima kalah dalah hal apa, ia bertanya.
"Cucu dong ha ha ha, aku sudah punya sembilan cucu, dari putriku Mardo lima, putraku Mangara tiga dan sibungsu Patricia satu, sebentar lagi sepuluh."
Kata pak Wijawa sembari mencomot sepotong kue dan memakannya penuh kemenangan. Pak Bramantyo cemberut. Kedudukkannya memang hanya beda tipis. Ia baru punya cucu tujuh orang. Laura dan Richi belum lagi diberi rejeki.
"Iya lah anakmu wong tiga, aku kan cuman dua, keluarga berencana. Kamu itu gagal dalam kb ha ha ha."
Keduanya bak teman lama jika sudah bertemu. Ada saja yang mereka perdebatkan. Hingga Grace menghentikan keributan itu. Grace dan Deny yang akan mengatur keluarga besar itu. Ia dan Mardo sudah menyiapkan Rakasiwi yang hari itu mendapat sedikit sentuhan riasan. Karena wajahnya memang sudah berseri dan tampan. Ia mengenakan kemeja putih berbalut jas hitam. Rakasiwi akan berada di dalam satu mobil bersama orang tuanya. Di susul keluarga pak Wijawa, Mangara, Richi dan keluarga Patricia. Hanya keluarga inti saja yang pergi melamar. Dua kenderaan di belakang berisi barang seserahan dan makanan serta buah.
Sekitar setengah sembilan iring-iringan keluarga besar itu melaju menuju rumah Prita. Sementara Prita tak kalah sibuk mempersiapkan keluarga besarnya. Elsa tak pulang sejak semalam. Ia mengurus dan mengatur serta membagikan seragam yang akan dipakai oleh keluarga inti. Elsa juga memberitahu bahwa nanti yang menerima keluarga Raka pertama kali adalah paman Abdullah yang merupakan kakak tertua Mama Risa. Semalaman Elsa dan Prita membantu paman Abdullah menghapal kata-kata yang akan ia ucapkan saat keluarga besar Rakasiwi
datang. Affandi yang juga paman Prita akan mendampingi.
Pagi harinya pria kharismatik itu makin yakin bahwa ia bisa melakukan yang terbaik untuk Prita. Apa lagi sekarang ia sudah mengenakan baju serta jas bagus. Membuatnya bersemangat.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarkatuh."
Terdengar paman Prita sedang berlatih di ruang tamu. Yang lain menjawab salamnya sembari senyum-senyum. Suara yang besar dan mantap memenuhi rumah. Ia membaca sholawat lalu ucapan syukur kepada Allah Swt yang telah memberikan nikmat iman,islam serta kesehatan sehingga bisa bertemu di dalam acara lamaran. Lantas bak membayangkan pihak keluarga besar Rakasiwi telah di hadapan mereka, paman Abdullah melanjutkan.
Kami keluarga besar dari Prita Pujaningrum selamat datang di kediaman kami. Tidak panjang dan bertele-tele, intinya adalah keluarga besar mengucapkan selamat datang pada pihak laki-laki. Dan mereka pihak perempuan menyambut dengan senang hati serta mempersilahkan keluarga besar Rakasiwi menempati bangku yang telah di sediakan.
"Sudah keren kok itu Paman!"
Puji Prita memjenguk dari kamarnya. Paman-pamannya terkekeh.
"Keren apa? agak gemetar ini suara paman."
__ADS_1
"Tenang aja Paman, anggap saja sahabat paman yang datang."
"Mungkin secangkir kopi bisa menenangkan paman ha ha ha."
"Alah, bilang saja minta kopi, berbelit-belit abang ini."
Afandi adiknya menceberutinya, tetapi Prita pergi juga ke belakang untuk membuatkan kopi.
"Kurasa, sebentar lagi sudah sampai mereka. Sebaiknya kita bersiap menyambut mereka di halaman."
Elsa yang sudah berpakaian rapi, mengingatkan keluarga yang akan menyambut.
"Nah, betul lima menit lagi mereka sudah sampai."
Elsa menerima telpon dari Grace. Mereka sebagai koodinir memang sudah berjanji untuk saling berhubugnan demi kelancaran acara. Maka keluarga besar Prita segera mengatur diri di halaman untuk menyambut. Paman yang paling tua dan tiga adiknya mendampingi. Di belakang juga berbaris istri serta anak-anak yang meramaikan sambutan itu.
Keluarga besar Rakasiwi berjalan memasuki gang menuju rumah Prita. Rakasiwi di apit Ayah Raka, kedua kakeknya dan di belakang berurutan Bunda dan kedua neneknya, Mangara, Richi, Pat, Cindy dan anak-anak. Mereka membawa kotak-kotak hantaran yang sangat banyak. Hingga akhirnya kedua keluarga besar itu saling berhadapan. Pak Bramantyo mengucapkan salam. Yang dibalas oleh semua keluarga dari Prita. Seperti latihan sebelumnya paman Abdullah memberikan kata-kata sambutan. Pertama agak tersendat tetapi berikutnya lancar mengalir seperti air.
Setelah menanyakan maksud kedatangan dan dijawab, maka diterimalah kedatangan keluarga besar Rakasiwi serta hantaran lamaran. Mereka semua diajak masuk ke dalam rumah yang sudah di tata sedemikian rupa.
Untung saja jauh-jauh hari mama Risa terpikir merenovasi rumah sehingga menjadi rumah yang luas dan terlihat megah. Seminggu sebelum acara lamaran, ia memanggil tukang untuk merampungkan pengecatan dan pasang ubin. Bunga-bunga juga terhampar indah menyambut kedatangan calon mantu. Mama Risa sangat bahagia.
Kemudian setelah sama-sama masuk ke dalam dan menempati karpet lembut berwarna merah. Mulailah pihak pria yang berbicara. Bahwa putra mereka yang bernama Rakasiwi akan melamar gadis putri dari Ibu yang bernama Risa Sukowati, apakah sekiranya pinangan itu diterima?
Raka yang didampingi Papi Bramantyo dan papi Wijaya mengajukan pertanyaan. Mereka semua saling tersenyum. Paman Abdullah mengangguk-angguk, ia sangat senang tetapi ia serta adiknya Mama Risa akan memanggil gadis itu dan bertanya langsung kepadanya apakah ia bersedia menerima lamaran Rakasiwi?.
Elsa lantas membawa Prita dari kamar. Semua menatap gadis itu yang mengenakan kebaya brokat berwarna putih. Ia duduk ditengah-tengah paman dan mama Risa. Setelah itu pamannya menjelaskan bahwa Rakasiwi dan keluarga besar datang untuk melamarnya, apakah diterima?" Prita bersemu merah, ia tersenyum menatap pada Rakasiwi lantas mengangguk.
Alhamdulllah!
__ADS_1
Terdengar suara-suara yang lantang luapan kebahagiaan. Selanjutnya Rakasiwi meminang Prita dan memakaikan sebuah cincin indah bertahta berlian. Resmilah mereka berdua bertunangan. Mereka semua mendoakan kelancaran dan kemudahan hingga sampai ke acara pernikahan. Beberapa jam kedua keluarga besar itu mencari waktu yang baik untuk hari pernikahan. Akhirnya jatuh di bulan september, empat bulan dari saat itu.
Alhamdulillah, Prita mengucapkan syukur yang sedalam-dalamnya. Acara lamaran berjalan lancar dan kedua keluarga besar itu menyatu. Sedikit pun tidak ada sikap yang melukai dari pihak keluarga Rakasiwi. Mereka berhadapan dengan keluarga Prita yang sederhana. Mardo sangat memuji dan menyukai Prita sejak dia masih di taman kanak-kanak. Ia akhirnya berkenalan dengan Mama Risa, perempuan yang sudah melahirkan gadis hebat seperti Prita. Perempuan mama Risa, bersahaja dan sederhana. Ia membesarkan Prita sendirian. Mardo tidak perlu tahu kalau mama Risa pernah jatuh sakit cukup lama. Saat itulah hidup Prita sangat berantakkan. Namun ia dengan keberaniannya berjuang diantara tindasan paman dan sepupunya.
Prita membuktikan bahwa keterpurukkannya di masa kecil telah tergantikan dengan kebahagian. Ia juga memiliki karier yang bagus, jabatannya sebagai wakil direktur merupakan anugerah tak terhingga. Prita memandangi kotak-kotak hantaran yang memuat berbagai barang kebutuhan seorang wanita. Ia dan bunda Mardo serta Cindy, Tria yang berbelanja semua barang-barang hantaran itu.
"Terima kasih saayang, lamarannya berjalan lancar dan menyenangkan. Keluarga besarku memujimu yang menyiapkan segalanya dengan baik."
Rakasiwi mengirim pesan, setelah ia pulang dari acara lamaran tersebut. Rumah masih gaduh oleh tamu-tamu yang tinggal satu hari lagi. Mumpung ketemu mereka semua membicarakan hari pernikahan Rakasiwi. Empat bulan serasa lama. Namun bisa sangat cepat. Dengan perencanaan yang tepat. Mereka bisa menyelenggarkan pesta pernikahan yang sakral dan diliputi kebahagian.
"Untung ada Elsa, ia banyak sekali membantuku. Jadi jika nanti Elsa menikah aku janji gantian akan menjadi seksi repot untuknya."
"Elsa belum juga menikah ya?"
"Iya, dia sibuk mengurus anaknya Yunna. Aku sudah ingatkan agar berusaha lebih keras. Tapi dia percaya jika sudah ada jodoh akan dimudahkan. Keyakinan yang mantap."
Mereka berbincang-bincang ditelpon hingga lama. Tak puasnya mendengar suara masing-masing.
Bersambung
__ADS_1