Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 257. Malam Pertama Prita Dan Rakasiwi2


__ADS_3

Rakasiwi terbangun oleh  kicauan burung yang memang banyak sekali di


sekitar apartemen. Sinar kemerahan menembus kamar yang temaram. Ia berguling


dan wajahnya menyentuh lengan yang lembut. Laki-laki itu sedikit terkejut, seorang


perempuan di sisinya. Tertidur amat lelapnya menghadapnya.  Rambutnya  terserak di bantal yang lembut hingga membentuk cekungan . Rakasiwi  menyadari bahwa perempuan itu istrinya Prita


Pujaningrum.


Pelan Rakasiwi membaringkan kembali kepalanya yang tadi


sempat terangkat dan mendapati Prita yang masih terlelap.  Semalam gadis itu menangis dan terisak kecil.


Ia merasa kegagalan malam pertama mereka karena dirinya. Tidak seharusnya ia


bilang sakit yang menyebabkan Rakasiwi  mengundurkan dirinya. Rakasiwi mengelusnya,  bukan sebab dia. Tetapi ia akui sedikti gugup


dan tegang.


“Ssttt, sayangku,” bisik Rakasiwi saat itu menenangkan


Prita. “ Kau sudah melakukan yang terbaik, i-ini yang pertama untuk kita, tidak


selalu berhasil.”


Hampir dini hari hingga akhirnya Rakasiwi bisa meyakinkan


dirinya dan juga Prita. Mereka masih memiliki waktu yang sangat banyak. Prita


memandangnya seolah meminta untuk mengulangi kembali, ia mengecup kening Prita


dan berbisik.


 “Seorang  pria membutuhkan waktu diantaranya, kita harus


istirahat dan tak bisa memaksakan diri.”


Lama Prita memikirkan hal itu. Apakah benar yang dikatakan


oleh Rakasiwi? Kenapa mereka tak mencobanya lagi baru kemudian tidur.  Tetapi Rakasiwi membujuk dengan manis,


menghilangkan rasa kecewa yang sempat bersemayam. Membuktikan kalau  Rakasiwi bisa mengontrol dirinya dan tidak


terburu-buru. Lega sekali rasanya mengetahui  ada kelemahan dibalik banyak tingkah serta rasa percaya dirinya yang


selalu ia perlihatkan. Prita harus bersabar dan menunggu. Mereka lantas tertidur


oleh rasa lelah.


Rakasiwi menghadapkan wajahnya pada Prita, bibir gadis itu


terbuka dan bernapas dengan teratur. Matanya menjelajah ke sepanjang tubuh


perempuan itu. Ia sedikit bergelung. Sebelah kakinya lurus dan yang sebelahnya


menekuk.  Ia tak mengenakan selimut


hingga kakinya yang terbuka terlihat oleh mata Rakasiwi. Kenikmatan tadi malam


bukan yang terbaik, tetapi kini tubuhnya kembali hidup saat melihat keindahan


lekuk tubuh istrinya.


Tak bisa menahan diri ia bangun dan mendekati Prita. Menyentuh


dan membelai pinggulnya, ia merunduk memberikan sentuhan yang bergairah di


pinggang.  Perempuan itu bergerak dan


berguling membelakangi Rakasiwi. Prita sama sekali tidak tau telah membuat


Rakasiwi bergairah.  Pergerakkannya telah


menyingkap  baju tidurnya .


Rakasiwi  menghela


napasnya kembali menunduk untuk menyentuh bagian belakang kulit yang terbuka.


Hingga ia menyadari bahwa  dirinya telah


mengambil keuntungan dari  Prita yang


tertiidur. Namun ia sudah sangat terangsang sehingga rasanya dirinya  akan meledak. Rakasiwi menciumi wangi

__ADS_1


mawar.  Pertama kalinya tadi malam ia


merasakan setiap jengkal tubuh Prita dengan tubuhnya sendiri. Ia tak bisa


menahan dirinya menciumi Prita di mana-mana. Satu bagian yang paling sangat ia


inginkan, harus menunggu  sampai Prita


bangun.  Rakasiwi menurunkan baju


tidur  Prita yang longgar, menyusuri


tulang punggung, pinggulnya yang padat, paha, bokong dan betisnya yang lembut.


Rakasiwi juga teringat bukit kembar Prita yang kenyal  berubah keras.  Perempuan itu terbangun  ketika Rakasiwi memeluknya dari belakang  dan menyentuh dadanya. Ia menahan jemari  suaminya yang mendesak . Menarik Prita dan


memandang wajahnya untuk meminta ijin yang tersirat.


Mata Prita yang terkejut  bertemu  dengan mata yang  penuh makna. Prita bisa membaca gairah yang


sangat besar , lebih dari yang ia bayangkan.  Gairah yang  membuat jantung dan


darah Prita melompat penuh pengharapan dan sensualitas.


“Ra-Raka?”


Prita tergagap, perlahan ia  berbalik menghadap pada Rakasiwi yang serta merta  memerangkap tubuhnya. Kepala Rakasiwi


bergerak-gerak di dadanya yang telah setengah terbuka. Rupanya saat ia tidur


tadi  Rakasiwi sudah membuka bajunya.


Prita terkesiap oleh sesuatu yang lembut dan basah yang hinggap dipuncak  bukit kembarnya. Mencecap-cecap dan terasa


kian menarik-narik  seluruh darah kea


rah  sana. Prita mengelinjang  meraup rambut Rakaksiwi.


“Sekarang waktunya Yang, aku ingin tahu semua jengkal


tubuhmu dan membahagiakanmu.”


Rakasiwi menarik tuntas pakaian Prita hingga tidak ada


sehelai benang pun. Begitu juga Rakaswi  membuka semua bajunya. Cahaya matahari telah memasuki kamar lebih terang


padanya memberitahu niatnya. Prita gemetar  perlahan menyilangkan tangannya di dada. Rakasiwi membenamkan kepalanya


ke pinggulnya berulang kali menjelajahi tubuhnya dengan bibir serta lidahnya


yang sangat mengelikan.


Pada puncaknya Rakasiwi mengatur posisi tubuhnya lebih


telentang dan menggerakkan tungkai kakinya ke tempat yang ia kehendaki.  Mulai membuat jejak yang basah di pangkal


atas kakinya. Terdengar bisikkan yang lebih tepatnya erangan agar Prita jangan


melawan. Prita berusaha menutupi dengan tangannya tetapi Rakasiwi  menyingkirkan agar menjauh.


“Ra-Raka..”


“Percayalah tidak akan sakit, aku janji.”


Semua pasangan melakukan ini ketika bercinta, mereka


menyukainya dan mencari. Rakasiwi sebelumnya telah membuat Prita mengelinjang,


terengah, dan menggigit bibirnya kuat sebab tak tahan oleh desakkan yang  ingin dikeluarkan.


Keduanya hesteris, sesaat terdiam  Prita memejamkan matanya.  Rakasiwi meraup bukit kembarnya sementara


bagian intinya masih tenggelam di bawah sana. Sulit dipercaya  Prita dan Rakasiwi mulai menemukan tempo


gerakkan dan kedua dan ketiga kalinya berteriak menyebut nama


masing-masing.  Pengantin itu akhirnya


mencapai klimaks berkali-kali. Rakasiwi terkulai di atas tubuhnya, tak


masalah  meski Prita terhempit  dan merasa berat. Ia memeluk tubuh Rakasiwi


dan tersenyum Prita merasa telah memiliki kemampuan memuaskan Rakasiwi. Ia


sangat bahagia. Tangan Rakasiwi yang tadi begitu liar tak terkendali, sekarang

__ADS_1


jatuh melemas di atas bahunya. Prita menyelusupkan jemarinya dan meremas lembut


sebagai luapan kepuasan dan rasa bahagia. Rakasiwi membalas  genggaman itu kemudian mengulingkan tubuhnya


ke bawah. Ia menolehi Prita dan berteria riang.


“Yes! Berhasil.”


Prita tak bisa menahan kegemasannya ia berguling ke dekat


Rakasiwi dan mengangkat kepalanya.


“Mantap Man, kau sungguh luar biasa, hebat.”


Prita mengerlingkan matanya dan bibirnya tersenyum tersipu.


Sesaat setelahnya Prita  bangun dan ia


memegangi bawah punggungnya. Rakasiwi setengah terpejam menikmati pemandangan


itu. Prita berhasil berjalan ke tumpukkan pakaian yang tergeletak di lantai. Ia


membungkuk menahan rasa sakit mengambili pakaiannya dan memberikan pakaian


Rakasiwi.


“Mandilah dengan air hangat, sebentar lagi aku menyusul.


Jangan memikirkan sarapan aku sudah memesannya. “


 


“Iya, setelah mandi baru aku akan merapikan tempat tidur dan


lainnya.”


Rakasiwi hanya tersenyum. Ia hanya perlu istirahat sebentar,


kemudian bangun untuk membuka tirai. Hari telah benar-benar siang. Menghabiskan


waktu dengan Prita di aparteman mereka. Tentu sangat menyenangkan. Ia akan


menunjukkan ruang demi ruangan, dapur serta taman bunga di bagian belakang.


Kemudian sarapan dan mengajak Prita bercinta lagi. Hemmm Rakasiwi tersenyum


kecil. Tapi tidak, Prita masih kesakitan. Ia tidak sekejam itu.


Rakasiwi sebelumnya merasa ia tak bisa memasuki Prita.


Sebuah dinding tebal  menghalangi


miliknya. Semua akibat kegugupan dan ketegangan yang ia alami.  Setelah istirahat dan menemukan kepercayaan


diri yang besar, ia bisa membobolnya. Kalian jangan meledek ya, memang tak


semua mulus.  Ada juga yang gagal di


malam pertama.


Laki-laki itu meraih selimut untuk melipatnya dan ia melihat


darah  di atas spray. Rakasiwi melebarkan


bibirnya.


 “Tentu saja ia adalah


perawan ting ting yang tak pernah disentuh oleh satu orang pun laki-laki, darah


itu dan kesulitan yang kualami merupakan buktinya.”


Sementara  Prita menikmati kesegaran air mandi, Rakasiwi keluar dari kamar untuk membukai tirai.


Ia juga ke bagian belakang apatemennya, membuka pintu belakang serta jendela.


Berjalan keluar dan menghirup udara yang segar. Ia meregangkan tubuhnya menghadap ke depan. Burung-burung gereja masih beterbangan hilir mudik di atas tali temali listrik.


 


 


Bersambung


 

__ADS_1


Author mengucapkan banyak  terima kasih pada sesama Autrhor yang sudah saling mendukung, juga pada pembaca lain yang sudah membantu. Selalu like, komen, vote dan bintang lima. Athor sangat berterima kasih


__ADS_2