
Rakasiwi terbangun oleh kicauan burung yang memang banyak sekali di
sekitar apartemen. Sinar kemerahan menembus kamar yang temaram. Ia berguling
dan wajahnya menyentuh lengan yang lembut. Laki-laki itu sedikit terkejut, seorang
perempuan di sisinya. Tertidur amat lelapnya menghadapnya. Rambutnya terserak di bantal yang lembut hingga membentuk cekungan . Rakasiwi menyadari bahwa perempuan itu istrinya Prita
Pujaningrum.
Pelan Rakasiwi membaringkan kembali kepalanya yang tadi
sempat terangkat dan mendapati Prita yang masih terlelap. Semalam gadis itu menangis dan terisak kecil.
Ia merasa kegagalan malam pertama mereka karena dirinya. Tidak seharusnya ia
bilang sakit yang menyebabkan Rakasiwi mengundurkan dirinya. Rakasiwi mengelusnya, bukan sebab dia. Tetapi ia akui sedikti gugup
dan tegang.
“Ssttt, sayangku,” bisik Rakasiwi saat itu menenangkan
Prita. “ Kau sudah melakukan yang terbaik, i-ini yang pertama untuk kita, tidak
selalu berhasil.”
Hampir dini hari hingga akhirnya Rakasiwi bisa meyakinkan
dirinya dan juga Prita. Mereka masih memiliki waktu yang sangat banyak. Prita
memandangnya seolah meminta untuk mengulangi kembali, ia mengecup kening Prita
dan berbisik.
“Seorang pria membutuhkan waktu diantaranya, kita harus
istirahat dan tak bisa memaksakan diri.”
Lama Prita memikirkan hal itu. Apakah benar yang dikatakan
oleh Rakasiwi? Kenapa mereka tak mencobanya lagi baru kemudian tidur. Tetapi Rakasiwi membujuk dengan manis,
menghilangkan rasa kecewa yang sempat bersemayam. Membuktikan kalau Rakasiwi bisa mengontrol dirinya dan tidak
terburu-buru. Lega sekali rasanya mengetahui ada kelemahan dibalik banyak tingkah serta rasa percaya dirinya yang
selalu ia perlihatkan. Prita harus bersabar dan menunggu. Mereka lantas tertidur
oleh rasa lelah.
Rakasiwi menghadapkan wajahnya pada Prita, bibir gadis itu
terbuka dan bernapas dengan teratur. Matanya menjelajah ke sepanjang tubuh
perempuan itu. Ia sedikit bergelung. Sebelah kakinya lurus dan yang sebelahnya
menekuk. Ia tak mengenakan selimut
hingga kakinya yang terbuka terlihat oleh mata Rakasiwi. Kenikmatan tadi malam
bukan yang terbaik, tetapi kini tubuhnya kembali hidup saat melihat keindahan
lekuk tubuh istrinya.
Tak bisa menahan diri ia bangun dan mendekati Prita. Menyentuh
dan membelai pinggulnya, ia merunduk memberikan sentuhan yang bergairah di
pinggang. Perempuan itu bergerak dan
berguling membelakangi Rakasiwi. Prita sama sekali tidak tau telah membuat
Rakasiwi bergairah. Pergerakkannya telah
menyingkap baju tidurnya .
Rakasiwi menghela
napasnya kembali menunduk untuk menyentuh bagian belakang kulit yang terbuka.
Hingga ia menyadari bahwa dirinya telah
mengambil keuntungan dari Prita yang
tertiidur. Namun ia sudah sangat terangsang sehingga rasanya dirinya akan meledak. Rakasiwi menciumi wangi
__ADS_1
mawar. Pertama kalinya tadi malam ia
merasakan setiap jengkal tubuh Prita dengan tubuhnya sendiri. Ia tak bisa
menahan dirinya menciumi Prita di mana-mana. Satu bagian yang paling sangat ia
inginkan, harus menunggu sampai Prita
bangun. Rakasiwi menurunkan baju
tidur Prita yang longgar, menyusuri
tulang punggung, pinggulnya yang padat, paha, bokong dan betisnya yang lembut.
Rakasiwi juga teringat bukit kembar Prita yang kenyal berubah keras. Perempuan itu terbangun ketika Rakasiwi memeluknya dari belakang dan menyentuh dadanya. Ia menahan jemari suaminya yang mendesak . Menarik Prita dan
memandang wajahnya untuk meminta ijin yang tersirat.
Mata Prita yang terkejut bertemu dengan mata yang penuh makna. Prita bisa membaca gairah yang
sangat besar , lebih dari yang ia bayangkan. Gairah yang membuat jantung dan
darah Prita melompat penuh pengharapan dan sensualitas.
“Ra-Raka?”
Prita tergagap, perlahan ia berbalik menghadap pada Rakasiwi yang serta merta memerangkap tubuhnya. Kepala Rakasiwi
bergerak-gerak di dadanya yang telah setengah terbuka. Rupanya saat ia tidur
tadi Rakasiwi sudah membuka bajunya.
Prita terkesiap oleh sesuatu yang lembut dan basah yang hinggap dipuncak bukit kembarnya. Mencecap-cecap dan terasa
kian menarik-narik seluruh darah kea
rah sana. Prita mengelinjang meraup rambut Rakaksiwi.
“Sekarang waktunya Yang, aku ingin tahu semua jengkal
tubuhmu dan membahagiakanmu.”
Rakasiwi menarik tuntas pakaian Prita hingga tidak ada
sehelai benang pun. Begitu juga Rakaswi membuka semua bajunya. Cahaya matahari telah memasuki kamar lebih terang
padanya memberitahu niatnya. Prita gemetar perlahan menyilangkan tangannya di dada. Rakasiwi membenamkan kepalanya
ke pinggulnya berulang kali menjelajahi tubuhnya dengan bibir serta lidahnya
yang sangat mengelikan.
Pada puncaknya Rakasiwi mengatur posisi tubuhnya lebih
telentang dan menggerakkan tungkai kakinya ke tempat yang ia kehendaki. Mulai membuat jejak yang basah di pangkal
atas kakinya. Terdengar bisikkan yang lebih tepatnya erangan agar Prita jangan
melawan. Prita berusaha menutupi dengan tangannya tetapi Rakasiwi menyingkirkan agar menjauh.
“Ra-Raka..”
“Percayalah tidak akan sakit, aku janji.”
Semua pasangan melakukan ini ketika bercinta, mereka
menyukainya dan mencari. Rakasiwi sebelumnya telah membuat Prita mengelinjang,
terengah, dan menggigit bibirnya kuat sebab tak tahan oleh desakkan yang ingin dikeluarkan.
Keduanya hesteris, sesaat terdiam Prita memejamkan matanya. Rakasiwi meraup bukit kembarnya sementara
bagian intinya masih tenggelam di bawah sana. Sulit dipercaya Prita dan Rakasiwi mulai menemukan tempo
gerakkan dan kedua dan ketiga kalinya berteriak menyebut nama
masing-masing. Pengantin itu akhirnya
mencapai klimaks berkali-kali. Rakasiwi terkulai di atas tubuhnya, tak
masalah meski Prita terhempit dan merasa berat. Ia memeluk tubuh Rakasiwi
dan tersenyum Prita merasa telah memiliki kemampuan memuaskan Rakasiwi. Ia
sangat bahagia. Tangan Rakasiwi yang tadi begitu liar tak terkendali, sekarang
__ADS_1
jatuh melemas di atas bahunya. Prita menyelusupkan jemarinya dan meremas lembut
sebagai luapan kepuasan dan rasa bahagia. Rakasiwi membalas genggaman itu kemudian mengulingkan tubuhnya
ke bawah. Ia menolehi Prita dan berteria riang.
“Yes! Berhasil.”
Prita tak bisa menahan kegemasannya ia berguling ke dekat
Rakasiwi dan mengangkat kepalanya.
“Mantap Man, kau sungguh luar biasa, hebat.”
Prita mengerlingkan matanya dan bibirnya tersenyum tersipu.
Sesaat setelahnya Prita bangun dan ia
memegangi bawah punggungnya. Rakasiwi setengah terpejam menikmati pemandangan
itu. Prita berhasil berjalan ke tumpukkan pakaian yang tergeletak di lantai. Ia
membungkuk menahan rasa sakit mengambili pakaiannya dan memberikan pakaian
Rakasiwi.
“Mandilah dengan air hangat, sebentar lagi aku menyusul.
Jangan memikirkan sarapan aku sudah memesannya. “
“Iya, setelah mandi baru aku akan merapikan tempat tidur dan
lainnya.”
Rakasiwi hanya tersenyum. Ia hanya perlu istirahat sebentar,
kemudian bangun untuk membuka tirai. Hari telah benar-benar siang. Menghabiskan
waktu dengan Prita di aparteman mereka. Tentu sangat menyenangkan. Ia akan
menunjukkan ruang demi ruangan, dapur serta taman bunga di bagian belakang.
Kemudian sarapan dan mengajak Prita bercinta lagi. Hemmm Rakasiwi tersenyum
kecil. Tapi tidak, Prita masih kesakitan. Ia tidak sekejam itu.
Rakasiwi sebelumnya merasa ia tak bisa memasuki Prita.
Sebuah dinding tebal menghalangi
miliknya. Semua akibat kegugupan dan ketegangan yang ia alami. Setelah istirahat dan menemukan kepercayaan
diri yang besar, ia bisa membobolnya. Kalian jangan meledek ya, memang tak
semua mulus. Ada juga yang gagal di
malam pertama.
Laki-laki itu meraih selimut untuk melipatnya dan ia melihat
darah di atas spray. Rakasiwi melebarkan
bibirnya.
“Tentu saja ia adalah
perawan ting ting yang tak pernah disentuh oleh satu orang pun laki-laki, darah
itu dan kesulitan yang kualami merupakan buktinya.”
Sementara Prita menikmati kesegaran air mandi, Rakasiwi keluar dari kamar untuk membukai tirai.
Ia juga ke bagian belakang apatemennya, membuka pintu belakang serta jendela.
Berjalan keluar dan menghirup udara yang segar. Ia meregangkan tubuhnya menghadap ke depan. Burung-burung gereja masih beterbangan hilir mudik di atas tali temali listrik.
Bersambung
__ADS_1
Author mengucapkan banyak terima kasih pada sesama Autrhor yang sudah saling mendukung, juga pada pembaca lain yang sudah membantu. Selalu like, komen, vote dan bintang lima. Athor sangat berterima kasih