Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
177.Hati Yang Hancur Berkeping-Keping


__ADS_3

"Uncle! hello Uncle Richi senang bertemu denganmu!"


Pria itu terkejut mendengar suara seorang anak kecil di belakangnya. Ia serta merta berbalik


dan senyumnya segera melebar.


"Hello, oh Dode! kamu sudah besar."


Om dan keponakkan itu saling berpelukkan dengan erat. Mereka saling memandang dan


tersenyum bahagia.


"Om, baru datang ya? kata bunda di rumah ada  Uncle Richi, dan kami buru-buru kembali."


Dode mengatakannya dengan cepat sembari duduk di sofa masih dengan memandang pria


tampan di dekatnya.


"Iya, Uncle ada sedikit keperluan di Jakarta."


"Oh, urusan pekerjaan ya Uncle, pantas temanku tak diajak, tapi aku bisa vidiocall dengan


mereka he he."


"Wah, rupanya kau sering vidiocall dengan Richo dan Rachel ya?"


"Iya Uncle, lebih seringnya dengan Richo, kalau dengan Rachel jarang."


Keduanya mengobrol ngalur ngidul. Dode putra bungsu Raka dan Mardo memang sangat


suka sekali mengobrol. Sampai-sampai pak satpam menjulukinya ustaz cilik.


Karena bahan obrolannya kadang seperti orang dewasa dan juga mirip ustaz.


"Dode! kamu ganti baju sekolah dulu sana ke kamarmu, cuci tangannya dan kaki juga, terus


makan siang ya Nak."


Mardo berdiri di dekat anaknya dan menyuruhnya mengganti seragamnya, Dode menurut


dan segera beranjak ke kamarnya.


"Ok bundaku yang cantik dan baik hati."


Mardo tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Coba lihat, seperti itu anak-anak sekarang heh."


"Itu lebih baik dari pada membantah, Richo selalu membantah tiap kali ia di suruh mengerjakan


 sesuatu, entar Mom sedikit lagi, bentar lagi Dad tanggung. Begitu selalu."


Richi menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menatap pada Mardo. 'Ya Tuhan, kenapa bukan Mardo

__ADS_1


yang menjadi istriku? seharusnya dia menjadi milikku sehingga aku sebahagia ini.'


Richi menyesali yang terjadi. 'Tuhan apakah aku masih memiliki kesempatan untuk memilikinya?'


"Hei Richi kau memandangiku seperti itu?"


Mardo merasa tak enak hati oleh pandangan Richi padanya, ia beringsut dati hadapan Richi.


"Sebaiknya kau istirahat saja, kamarmu masih yang dulu, Raka bilang biar saja kamar Richi,


sewaktu-waktu ia kembali dan bisa tidur di kamarnya."


"Oh, berarti sebenarya kalian masih mengharapkan aku kembali ke sini?"


"Begitulah, karena ini rumah papi dan mami, rumah kalian."


"Hah, baiklah aku merasa sangat lelah, terima kasih makan siangnya, aku istirahat dulu."


Keduanya saling tersenyum. Lantas Richi beranja ke kamarnya dan Mardo terdiam, ia melihat


senyum Richi yang tipis.


Ada apa dengan Richi, ia kelihatan tidak bahagia dan gembira. Matanya menyiratkan  kesedihan.


Hati Mardo berdebar. Apakah itu ada hubungannya dengan Laura? istrinya yang cantik yang berasal


dari Texas.  Mereka memang jarang sekali bertemu. Tetapi setahun sekali ada momen keluarga yang


Laura, perempuan itu sangat cantik. Tubuhnya tinggi langsing dan berisi. wajah oval dengan senyum


yang manis dan lembut. Siapa saja yang melihatnya pasti setuju dia gadis cantik serta memikat. Dia


cocok sekali dengan Richi yang ramah. Memiliki warna kulit sawo matang yang halus. Menurut Mardo


keduanya pasangan serasi, cantik serta tampan.


Tetapi agaknya keduanya sedang ada masalah. Mardo sempat terbengong sebelum suara Tria yang


tergesa-gesa masuk dan mengharmpaskan dirinya di sofa.


"Bunda lagi melamun ya?"


"Hei, kamu sudah pulang kak? nggak kok, melamun apa? kakak Tria ini ada-ada saja."


"He he he, abis bunda tadi diam aja."


"Bunda lagi nunggu Dode, sudah sana ganti baju, cuci tangan dan kakinya kita makan


bareng-bareng. Bunda mau ke kantor sebentar, ada yang ingin bunda tanda tangan."


"Ok bundaku yang cantik dan baik hati, kakak boleh ikut ya."


Hemmm, Mardo tersenyum pertanda ia tak keberatan. Ia segera ke ruang makan, melihat

__ADS_1


para mba yang sedang menonton tivi sambil berbaringan. Mardo memang membuat ruangan


yang nyaman untuk pelayan-pelayan keluarganya beristirahat. Mereka memiliki kamar sendiri,


kamar mandi, meja makan untuk makan bersama, dan juga tempat bersantai dan beristirahat


menonton tivi atau sekedar membaca majalah di atas karpet empuk.


"Hei mba Mirah dan Winah, apa kalian sudah makan? jangan lupa makan ya, biar jangan


sakit."


Dua perempuan muda itu menolehi Mardo dan bangun dari tiduran mereka, "Sudah kok Bu, ini


tinggal ngantuknya karena kekenyangan he he he."


"Oh, ya sudah tidur, atau istirahat. Ibu sama anak-anak mau makan siang dulu."


"Iya Bu, apakah ada yang kurang?"


Mirah dan Winah bangkit dan bersiap.


"Nggak ada yang kurang kok, udah kalian istirahat saja."


"Oh, baiklah terima kasih Bu."


Mardo tersenyum, dan segera ke meja makan, Ia lihat Tria yang menghampirinya ke meja


makan. Perempuan itu menatap Tria, "Mana Dode? coba lihat di kamar dan ajak makan


siang dulu, baru mainan robot."


"Ok Bun."


Tria berlari kecil ke kamar Dode yang berada di atas. Tak lama Dode muncul sambil nyegir.


"Bun, ini anaknya lagi lihat youtube."


"Iya bun, Dode juga pengen bikin konten youtube seperti teman-teman."


"Iya bikin aja, yang penting sekarang makan dulu."


Mardo menyendokkan nasi ke piring anak-anaknya. Mengambilkan lauk dan masing-masing


satu mangkok sayur. Mardo selalu mengusahakan anak-anak banyak makan sayur. Agar


pertumbuhan anak-anaknya sehat dan segar.


 


Bersambung


Cikidot, hello jangan lupa memberi like, komen, vote ya, othor sangat berterima kasih

__ADS_1


__ADS_2