Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode146. Membeli Cinta


__ADS_3

"Lantas apa yang akan bapak lakukan padaku dan mama?"


Mata tajam itu kembali menghujam ke wajah ayah Jae, membuat laki-laki memutuskan


dengan segera.


"Emm, aku berjanji tidak akan menyakiti ibu dan dirimu."


Ayah Jae membalas tatapan mata itu.


"Jangan panggil bapak, tetapi Ayah, atau  Ayah Jae."


Prita mengangguk. Tidak berkata apa-apa.


"Aku memiliki bisnis yang besar, maju dan berkembang."


Ayah Jae menatap pada Prita, "Semua yang kuinginkan bisa aku dapatkan dengan mudah."


Prita mendengarkan apa yang dikatakan oleh laki-laki itu.


"Hanya satu yang tidak kumiliki."


Katanya mengakhiri, dengan wajah memelas.


"Apa yang ba, oh Ayah Jae tidak miliki? yahh memang ada juga yang tidak bisa dibeli


dengan uang!"


Prita menyadarkan laki-laki itu.


Ayah Jae kembali menatap gadis itu, cintanya tumbuh demikian hebat di dalam


jiwanya, ia merasakan keinginan memiliki gadis di depannya. Dengan semua


kekayaan dan harta berlimpah, ia mau menyerahkan semuanya asal gadis di depannya


mau menjadi kekasihnya.


"Keluarga! aku tidak memilikinya."


Ayah Jae melemah, ia menatap dan mencari mata Prita. Sementara gadis itu bisa


menangkap kemana arah pembicaraan laki-laki di depannya. Dan ia tak mau berkomentar


melainkan menunggu. Hal yang membuat ayah Jae serba salah dan gelisah.


"Maukah kau dan ibumu tinggal di sini?"


"Rumah ini, dan semuanya menjadi milik kalian."


Prita terkejut, ia mendapatkan pertanyaan yang begitu tiba-tiba. Tentu saja ia menyukai


rumah besar itu yang cantik dan dipenuhi barang-barang mewah. Tetapi di dalam hidupnya


Prita tidak memikirkan hal seperti itu. Ia lebih memerlukan kesuksesannya sendiri, akan


lebih manis di nikmati dan merasakan sendiri perjuangannya.


"Aku dan ibuku tinggal di sini, aku tidak tinggal di Jakarta ayah Jae."


Prita menjawab apa adanya. Ia memang sedang meneruskan pendidikannya dan harus


menetap jauh di luar kota.


"Jika liburan aku baru bisa bersama Mama."


"Oh ya, kau sungguh gadis yang mengagumkan, tidak apa-apa jika berlibur pakai


dan tinggal saja di sini. Kau tau aku memiliki banyak sekali rumah."


"Kenapa Ayah Jae tidak mencari seorang wanita dan menikah?"


Prita tiba-tiba menatap laki-laki itu dan menunggu jawabannya.


"Aku sedang melakukannya, selama ini aku terlena dengan bisnis dan kesibukkanku


hingga aku lupa hal tersebut."


"Bagaimana bisa lupa."

__ADS_1


"Iya, aku memerlukan waktu hingga bisa seperti ini, walhasil aku gagal di sisi yang


lain."


Prita mengangguk-angguk, "Ya ada banyak orang bilang seperti itu. Ada yang sukses


dalam karier dan bisnis, tetapi gagal berkeluarga. dan sebaliknya."


Keduanya setuju hal itu.


Lama Prita dan Ayah Jae mengobrol, keduanya saling mengeluarkan argumen serta


berdiskusi hingga agaknya bahan pembicaraan telah habis. Prita pada akhirnya


berkata pada Ayah Jae, bahwa ia ingin membawa ibunya pergi dari tempat ini. Dan


akan membicarakan tawaran Ayah dengan Ibunya.


Ayah Jae mengangguk lemah. Ia menuruti kemauan Prita membawa ibu pulang


kerumah. Karena mereka perlu membicarakan hal penting tersebut.


"Jadilah keluargaku!"


Pinta Ayah Jae penuh harap. Prita tak menjawab melainkan berdiri dan meninggalkan


Ayah Jae yang terbengong di tepi kolam renang. "Gadis itu kelihatan tidak tertarik dengan


penawaranku."


Ayah Jae, merasakan sakit yang amat sangat di dalam hatinya. Menyadari keadaannya


saat ini. Ia pria berusia lima puluh tahun, sedangkan Prita masih dua puluh tahunan, begitu


banyak perbedaan usia yang mencolok. Sementara Prita bukan wanita yang silau dengan


kemewahan.


"Yah betul, uang tak bisa membeli semuanya! terutama cinta."


Ayah Jae meninggalkan tempat itu dengan kerisauan yang menghempitnya. Sementara ia


Prita juga sudah bilang pada Ayah Jae, ia harus kembali ke Semarang besok pagi, karena


ada tugas yang harus di selesaikan. Ia tak ingin Ayah Jae mengganggunya.


Ia hanya akan datang ke Jakarta saat liburan saja.


Ayah Jae hanya mengangguk dan tersenyum kecil.


"Kapan kau liburan lagi?"


"Masih lama, karena aku baru saja menghabiskan liburanku dua bulan penuh baru-baru


ini."


Kembali ayah Jae mangut-mangut.


Sebelum membalikkan tubuhnya, Prita tiba-tiba mendekat dan menyalami ayah Jae dan


mencium punggung tangannya secara biasa saja. Namun dampaknya luar biasa bagi


Ayah Jae. Jantungnya kembali bergemuruh, dan ia merasakan kasih sayang yang tulus


mengalir kedalam hatinya.


Darto Keling sendiri tak habis mengerti, kenapa ayah Jae bersikap aneh.


"Bos Ayah Jae, kenapa mereka dilepaskan? berhari-hari kami menunggu


kesempatan untuk menculiknya tetapi begitu saja di kembalikan, saya tak


mengerti bos?"


Laki-laki hitam dan botak itu memandang pimpinannya menunggu ayah Jae


memberi penjelasan.


"Kenapa kau ingin tau? aku melakukan hal itu mengikuti hati nuraniku."

__ADS_1


"Oh i-iya Bos, tetapi sangat mengherankan kami, sebab selama ini bos ayah Jae


serta merta mencemplungkan mereka ke rumah hiburan."


Darto Keling masih saja terheran-heran oleh sikap Ayah Jae.


"Jangankan kau? aku juga heran dengan diriku sendiri, aku menyiapkan rumah


ini untuknya, dan aku bisa mengunjunginya kapan saja aku mau. Tetapi     dia


menolak dan lebih mementingkan kuliahnya, aku tak berdaya dan terjatuh kedalam


sesuatu yang tak kumengerti."


"Dia sangat special bagi bos Ayah Jae, sehingga membiarkannya pergi."


"Cinta adalah pengertian, rasa nyaman serta tidak mengekang!"


Ayah Jae melebarkan bibirnya, dan matanya menyipit oleh perasaan


bahagia yang amat sangat. Gantian Darto Keling yang mangut-mangut.


"Meski begitu, aku telah berhasil menjalankan misiku, iya kan Bos ayah Jae?


ja-jadi tempat usaha mana yang akan menjadi milikku?"


"Laki-laki itu menoleh pada Darto Keling dan tersenyum, "Silahkan, ambillah


cafe yang berada di daerah Pasar Rebo, dan kelola bersama keluargamu


dengan cara yang baik,ok."


"Oh, terima kasih Bos!"


Serta merta Darto Keling, memeluk kaki ayah Jae. Menciuminya penuh


rasa terima kasih.


"Saya doakan rejeki bos Ayah Jae kian bertambah banyak."


Aamiin yra.


Keduanya sama bertatatapam dan saling mengaminkan.


"Aku mempercayaka keamanan bisnisku kepadamu, jangan sampai kau


menghianatiku."


"Tentu Bos, saya tidak berani. Bos Ayah Jae sudah mengangkat saya dari


garis kemiskinan. Hidup saya sudah membaik sekarang sejak ayah Jae


membawa saya ketempat ini."


"Kita saling membutuhkan, ingat itu."


"Siap Ayah Jae, boleh saya pulang untuk mengabarkan kabar bahagia ini?"


Silahkan!


Ayah Jae, menyilahkan laki-laki itu pergi. Dan ia juga bergegas ke kamarnya


rasanya hari ini sangat berbeda. Kebaikan hatinya membuatnya ringan


melangkah.


 


Bersambung


Terima kasih pada pembaca setia dan dukungannya, jangan lupa


tetap memberikan like, komen, vote dan jejak.


othor sangat berterima kasih


 


 

__ADS_1


__ADS_2