
"Lantas apa yang akan bapak lakukan padaku dan mama?"
Mata tajam itu kembali menghujam ke wajah ayah Jae, membuat laki-laki memutuskan
dengan segera.
"Emm, aku berjanji tidak akan menyakiti ibu dan dirimu."
Ayah Jae membalas tatapan mata itu.
"Jangan panggil bapak, tetapi Ayah, atau Ayah Jae."
Prita mengangguk. Tidak berkata apa-apa.
"Aku memiliki bisnis yang besar, maju dan berkembang."
Ayah Jae menatap pada Prita, "Semua yang kuinginkan bisa aku dapatkan dengan mudah."
Prita mendengarkan apa yang dikatakan oleh laki-laki itu.
"Hanya satu yang tidak kumiliki."
Katanya mengakhiri, dengan wajah memelas.
"Apa yang ba, oh Ayah Jae tidak miliki? yahh memang ada juga yang tidak bisa dibeli
dengan uang!"
Prita menyadarkan laki-laki itu.
Ayah Jae kembali menatap gadis itu, cintanya tumbuh demikian hebat di dalam
jiwanya, ia merasakan keinginan memiliki gadis di depannya. Dengan semua
kekayaan dan harta berlimpah, ia mau menyerahkan semuanya asal gadis di depannya
mau menjadi kekasihnya.
"Keluarga! aku tidak memilikinya."
Ayah Jae melemah, ia menatap dan mencari mata Prita. Sementara gadis itu bisa
menangkap kemana arah pembicaraan laki-laki di depannya. Dan ia tak mau berkomentar
melainkan menunggu. Hal yang membuat ayah Jae serba salah dan gelisah.
"Maukah kau dan ibumu tinggal di sini?"
"Rumah ini, dan semuanya menjadi milik kalian."
Prita terkejut, ia mendapatkan pertanyaan yang begitu tiba-tiba. Tentu saja ia menyukai
rumah besar itu yang cantik dan dipenuhi barang-barang mewah. Tetapi di dalam hidupnya
Prita tidak memikirkan hal seperti itu. Ia lebih memerlukan kesuksesannya sendiri, akan
lebih manis di nikmati dan merasakan sendiri perjuangannya.
"Aku dan ibuku tinggal di sini, aku tidak tinggal di Jakarta ayah Jae."
Prita menjawab apa adanya. Ia memang sedang meneruskan pendidikannya dan harus
menetap jauh di luar kota.
"Jika liburan aku baru bisa bersama Mama."
"Oh ya, kau sungguh gadis yang mengagumkan, tidak apa-apa jika berlibur pakai
dan tinggal saja di sini. Kau tau aku memiliki banyak sekali rumah."
"Kenapa Ayah Jae tidak mencari seorang wanita dan menikah?"
Prita tiba-tiba menatap laki-laki itu dan menunggu jawabannya.
"Aku sedang melakukannya, selama ini aku terlena dengan bisnis dan kesibukkanku
hingga aku lupa hal tersebut."
"Bagaimana bisa lupa."
__ADS_1
"Iya, aku memerlukan waktu hingga bisa seperti ini, walhasil aku gagal di sisi yang
lain."
Prita mengangguk-angguk, "Ya ada banyak orang bilang seperti itu. Ada yang sukses
dalam karier dan bisnis, tetapi gagal berkeluarga. dan sebaliknya."
Keduanya setuju hal itu.
Lama Prita dan Ayah Jae mengobrol, keduanya saling mengeluarkan argumen serta
berdiskusi hingga agaknya bahan pembicaraan telah habis. Prita pada akhirnya
berkata pada Ayah Jae, bahwa ia ingin membawa ibunya pergi dari tempat ini. Dan
akan membicarakan tawaran Ayah dengan Ibunya.
Ayah Jae mengangguk lemah. Ia menuruti kemauan Prita membawa ibu pulang
kerumah. Karena mereka perlu membicarakan hal penting tersebut.
"Jadilah keluargaku!"
Pinta Ayah Jae penuh harap. Prita tak menjawab melainkan berdiri dan meninggalkan
Ayah Jae yang terbengong di tepi kolam renang. "Gadis itu kelihatan tidak tertarik dengan
penawaranku."
Ayah Jae, merasakan sakit yang amat sangat di dalam hatinya. Menyadari keadaannya
saat ini. Ia pria berusia lima puluh tahun, sedangkan Prita masih dua puluh tahunan, begitu
banyak perbedaan usia yang mencolok. Sementara Prita bukan wanita yang silau dengan
kemewahan.
"Yah betul, uang tak bisa membeli semuanya! terutama cinta."
Ayah Jae meninggalkan tempat itu dengan kerisauan yang menghempitnya. Sementara ia
Prita juga sudah bilang pada Ayah Jae, ia harus kembali ke Semarang besok pagi, karena
ada tugas yang harus di selesaikan. Ia tak ingin Ayah Jae mengganggunya.
Ia hanya akan datang ke Jakarta saat liburan saja.
Ayah Jae hanya mengangguk dan tersenyum kecil.
"Kapan kau liburan lagi?"
"Masih lama, karena aku baru saja menghabiskan liburanku dua bulan penuh baru-baru
ini."
Kembali ayah Jae mangut-mangut.
Sebelum membalikkan tubuhnya, Prita tiba-tiba mendekat dan menyalami ayah Jae dan
mencium punggung tangannya secara biasa saja. Namun dampaknya luar biasa bagi
Ayah Jae. Jantungnya kembali bergemuruh, dan ia merasakan kasih sayang yang tulus
mengalir kedalam hatinya.
Darto Keling sendiri tak habis mengerti, kenapa ayah Jae bersikap aneh.
"Bos Ayah Jae, kenapa mereka dilepaskan? berhari-hari kami menunggu
kesempatan untuk menculiknya tetapi begitu saja di kembalikan, saya tak
mengerti bos?"
Laki-laki hitam dan botak itu memandang pimpinannya menunggu ayah Jae
memberi penjelasan.
"Kenapa kau ingin tau? aku melakukan hal itu mengikuti hati nuraniku."
__ADS_1
"Oh i-iya Bos, tetapi sangat mengherankan kami, sebab selama ini bos ayah Jae
serta merta mencemplungkan mereka ke rumah hiburan."
Darto Keling masih saja terheran-heran oleh sikap Ayah Jae.
"Jangankan kau? aku juga heran dengan diriku sendiri, aku menyiapkan rumah
ini untuknya, dan aku bisa mengunjunginya kapan saja aku mau. Tetapi dia
menolak dan lebih mementingkan kuliahnya, aku tak berdaya dan terjatuh kedalam
sesuatu yang tak kumengerti."
"Dia sangat special bagi bos Ayah Jae, sehingga membiarkannya pergi."
"Cinta adalah pengertian, rasa nyaman serta tidak mengekang!"
Ayah Jae melebarkan bibirnya, dan matanya menyipit oleh perasaan
bahagia yang amat sangat. Gantian Darto Keling yang mangut-mangut.
"Meski begitu, aku telah berhasil menjalankan misiku, iya kan Bos ayah Jae?
ja-jadi tempat usaha mana yang akan menjadi milikku?"
"Laki-laki itu menoleh pada Darto Keling dan tersenyum, "Silahkan, ambillah
cafe yang berada di daerah Pasar Rebo, dan kelola bersama keluargamu
dengan cara yang baik,ok."
"Oh, terima kasih Bos!"
Serta merta Darto Keling, memeluk kaki ayah Jae. Menciuminya penuh
rasa terima kasih.
"Saya doakan rejeki bos Ayah Jae kian bertambah banyak."
Aamiin yra.
Keduanya sama bertatatapam dan saling mengaminkan.
"Aku mempercayaka keamanan bisnisku kepadamu, jangan sampai kau
menghianatiku."
"Tentu Bos, saya tidak berani. Bos Ayah Jae sudah mengangkat saya dari
garis kemiskinan. Hidup saya sudah membaik sekarang sejak ayah Jae
membawa saya ketempat ini."
"Kita saling membutuhkan, ingat itu."
"Siap Ayah Jae, boleh saya pulang untuk mengabarkan kabar bahagia ini?"
Silahkan!
Ayah Jae, menyilahkan laki-laki itu pergi. Dan ia juga bergegas ke kamarnya
rasanya hari ini sangat berbeda. Kebaikan hatinya membuatnya ringan
melangkah.
Bersambung
Terima kasih pada pembaca setia dan dukungannya, jangan lupa
tetap memberikan like, komen, vote dan jejak.
othor sangat berterima kasih
__ADS_1