
Rakasiwi mengurung diri di kamar. Sejak kepulangannya dari Yogya ia terlihat tak gembira. Berita yang ia baca di media masa tentang Prita sangat menyakiti hatinya. Ia berharap Prita mengejarnya untuk menjelaskan bahwa hal itu adalah kebohongan seperti yang dikatakannya. Tapi Prita justru mendiamkannya. Membiarnya mengambang. Saat ia telah pulang dari Yogya, ia menunggu gadis itu. Lagi-lagi tak ada dan tidak nampak batang hidung Prita. Rakasiwi gelisah dan bingung memikirkan nasib hubungannya.
Ia lalu ke rumah Prita dan terkejut mengetahui kalau mama Risa masuk rumah sakit. Rakasiwi lantas tersenyum, bisa jadi kediaman Prita sebab ia sibuk mengurus mama Risa. Tetangganya bilang mama Risa sudah dua kali masuk dan dirawat. Hanya Prita yang mengurus dan menungguinya di rumah sakit. Rakasiwi bisa mengerti sebab itulah Prita membisu. Ia menyalahkan dirinya yang begitu egois menuduh gadis itu. Rakasiwi merasakan salah yang raya. Ia ke rumah sakit untuk menemui Prita dan menemaninya.
Namun ia terluka kian parah saat melihat keakraban serta kemesraan yang bahkan ia tak pernah mendapatkannya dari Prita. Prita terkejut melihatnya. Tak bisa dipungkiri ia melihat mata yang bahagia saat melihatnya datang. Prita akan menghambur memeluknya tetapi tubuhnya tertahan oleh laki-laki didekatnya. Ia berusaha menahan cemburu dan kemarahan dalam dirinya. Mereka seperti asing. Bahkan Prita tak mengucapkan selamat kepadanya.
"Kau tak mengenalkan tunanganmu kepadanya?"
Teringat lagi perkataan laki-laki itu, bahwa dia tunangannya. Rasanya Rakasiwi ingin melayangkan bogem mentahnya ke wajah lelaki itu. Semua masalah itu ada pada Prita. Mestinya gadis itu datang kepadanya dan menjelaskan. Ia menunggu Prita, tapi hingga dua hari berlalu tidak ada telpon yang masuk. Tidak juga pesan.
Apa yang salah? Rakasiwi mengacak rambutnya, kenapa saat tiba waktunya mereka berdekatan di dalam satu kota justru perpisahan terjadi?
"Kak Raka!"
Suara Cindy di depan kamar.
"Apa?"
"Oh, kakak masih hidup kan? syukurlah dipanggil ayah sama bunda."
Cindy ngeloyor pergi setelah melaksanakan tugas yang di berikan oleh bundanya.
Rakasiwi keluar dari kamarnya, ia menuju ruangan keluarga yang berada di tengah. Ayah, bunda dan adik-adiknya sedang berkumpul setelah aktivitas.
"Ayah, bunda."
Rakasiwi menghenyakkan tubuhnya di sofa, ayah dan bunda melihatnya dengan mata keprihatinan.
"Kau sudah menemui Prita?"
Mardo menanyai putranya, dan mendekat serta duduk di sebelahnya, memeluk bahu Rakasiwi.
"Sudah bun, tapi ada laki-laki yang menurutnya dia adalah tunangan Prita."
"Ya ampun! apakah kalian bertengkar?"
Mardo membesarkan matanya, sepenuhnya menatap wajah putranya yang sedikit dihiasai beberapa jerawat. Rakasiwi mengusap-usap rambutnya, wajahnya cemberut.
"Sedikit bun, aku kesal bun, langsung mutusin hubungan."
__ADS_1
"Ja-jadi kalian Putus?"
Rakasiwi misah-misuh, nampak penyesalan yang dalam dari raut wajahnya.
"Aku sudah memberi waktu padanya, tapi dia tak menggunakannya Bun, sudahlah! aku serahkan semua pada yang di atas saja Bun. Kalau memang jodoh tak akan kemana, iya kan Bun?"
Rakasiwi menghirup susu coklat yang terhidang di meja. Wajahnya lantas menjadi ceria.
"Nah begitu dong. Seperti yang ayah lakukan dulu. Menyerahkan semuanya pada Allah Swt yang memberikan jodoh, rejeki, dan kematian pada manusia. Ternyata bunda kalian jodoh ayah dan dipertemukan kembali."
"Jadi ayah sempat putus sama bunda?"
Tria memeluk leher ayahnya. Rupanya ia mendengarkan percakapan itu.
"Bukan putus lagi, bunda kalian menghilang hampir delapan tahun, ayah mengenal bunda kalian saat bunda masih smp kelas dua. Saat itu opa sedang bertugas di kota Eksotik. Menjelang kelulusan kelas tiga, bunda kembali ke Jakarta dan ayah tak mendapatkan alamatnya."
"Ketemunya lagi di mana Yah?"
"Mau tau aja atau mau tau banget?"
Tria tersenyum masih bermanja-manja dengan ayahnya. Dode yang menyahut.
"Tanya bunda aja noh."
"Ich, pipi yang mulai kok."
Mardo memiringkan bibirnya membuat suasana ruangan keluarga itu semakin hangat.
"Yah, pokoknya tau-tau ketemu begitu saja."
"Pipi lupa tuh, jadi setelah bertahun-tahun berpisah bunda dan teman-teman pergi ke sebuah tempat minum dan makan. Ternyata tempat itu milik ayah kalian, dan saat memeriksa cctv ayah melihat ada bunda dan teman-teman, jadi ayah mulai mencari."
"Dan akhirnya ketemu ya?"
Dode memeluk leher Mardo, menatap wajah bundanya yang lembut dan teduh.
"Iya, ketemu dan terus menikah, lalu lahirlah kita semua."
Cindy muncul entah dari mana. Ia membawa makanan dan tengah mengunyahnya. Tria melepaskan leher ayah dan mendekat ke kakak perempuannya yang tubuhnya sama besarnya bahkan sudah lebih besar dibanding kakaknya. Sampai orang mengira yang kakak adalah Tria, sedang adiknya Cindy.
__ADS_1
Semula Tria akan meminta makanan milik Cindy, tetapi rupanya mba dari belakang membawakan untuk mereka semua. Mba Wiwin sudah membagi-bagi makanan masakkannya kedalam mangkok. Hari ini dia masak steamboat kuah tomyum. Enak, segar, panas di nikmati bersama keluarga.
Pembicaraan mereka terhenti, masing-masing mengambil mangkok berisi kuah dengan campuran lauk dan sayuran. Bisa dinikmati dengan nasi atau begitu saja. Nikmat sekali jenih masakkan yang berasal dari cina tersebut. Mba Wiwin sedang belajar membuatnya. Dan berhasil. Ini sudah ketiga kalinya ia membuat makanan itu.
"Enak mba, mantap rasanya."
"Iya bu, bumbunya sudah pas ya, he he he saya coba-coba terus, baru lumayan rasanya."
Keluarga itu pun asyik menikmati makanan menjelang senja hari. Mereka melupakan sejenak masalah Rakasiwi dan Prita. Apa lagi mereka semua sudah mendengar Rakasiwi berserah diri pada Rabbnya. Kalau memang berjodoh Prita akan kembali kepadanya. Semua setuju dengan pikiran Rakasiwi.
Selintasan Raka menawari anaknya agar meneruskan sekolahnya. Ia boleh memilih salah satu dari negara yang pernah ia datangi.
"Kau boleh pilih, mau di Ausy tempat ayah dulu, atau di Giessen, pilih saja."
"Ok, terima kasih Yah."
"Ayah, aku juga mau ke luar negeri."
Cindy berkesempatan menyampaikan keinginannya.
"Boleh, selesaikan saja kuliahmu dulu Nak."
"Asyik, aku secepatnya akan menyelesaikan kuliahku Yah, dan mengambil art yang kuimpikan."
Raka dan Mardo saling bertatapan, mereka bangga memiliki putri yang bersemangat dan pintar. Setiap anak memiliki bakat serta impian sendiri. Berbeda dengan kakaknya Cindy yang tekun belajar, adiknya Tria punya sikap tersendiri. Ia menyukai baju-baju bagus dengan model-model unik. Tria menyimpan impiannya jika kelak setelah menyelesaikan sekolah atasnya ia ingin langsung ke Paris belajar mode. Ia tak pernah mengungkapkan keinginannya itu, tetapi tersirat dari kesenangannya membuat baju-baju untuk boneka. Saat ia lulus nanti barulah ia katakan pada bunda dan ayah bahwa ia ingin ke negera yang dikenal sebagai pusat mode dunia tersebut. Tria yakin ia akan mengapai cita-citanya tersebut.
Bersambung
__ADS_1