Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 58.Donny Menginginkan Mardo


__ADS_3

Hingga senja gadis-gadis bersaudara itu bersendau gurau di sungai. Kehadiran laki-laki


muda dan tegap membuat suasana indah. Terdengar mereka telah membuat janji akan


bertemu di sebuah pesta pernikahan, di malam minggu.


Karena hari semakin sore mereka bergegas pulang. Riza juga telah menjemput.


Tak lama-lama lagi, Khairani, Mardo dan Yulia pamit pada uwa tertua mereka.


Ternyata sudah pulang dari ladang. Hanya sekejap berbincang-bincang  karena


waktu telah habis terpakai di tepi sungai.


Setelah membersihkan diri di pemandian berair segar, Mardo dan keluarga Khairani


bercengkrama di ruang keluarga. Yulia menceritakan kegiatan mereka sepanjang


hari itu. Ternyata malam minggu ada band di pesta pernikahan. Khairani dan Yulia


ijin pada ayah pergi kesana. Sayangnya ayah tak mengijinkan. Ayah kedua gadis


itu adalah guru madrasah yang sangat menjaga nama keluarga. Mana boleh


kedua anak gadisnya ketempat itu. Meski dikatakan sepupu mereka juga akan


kesana, ayah tak mengijinkan.


"Paman!"


Tiba-tiba, Mardo menolehi laki-laki yang tinggi kurus itu.


"Kalau paman tak keberatan, aku ingin tahu seperti apa pesta pernikahan


dan band itu? hemmm untuk tulisanku Paman."


Laki-laki itu terdiam, menimbang-nimbang.


"K-kau mau melihat pernikahan dan band itu Do?"


Serta merta gadis itu mengangguk-angguk."


"Baiklah, nanti si Riza akan mengantar kalian kesana."


Horee!


Khairani tersenyum, "Terima kasih ka Do."


Tengah mereka asyik bercengkrama terdengar bunyi mobil berhenti


di depan. Dan tak lama terdengar suara ketukkan di pintu.


Khairani bergegas ke depan membuka pintu. Ternyata Azhar kekasihnya.


Khairani mengajak ke bangku di taman. Ada Donny juga.


"Kalian kemana hari ini? kami beberapa kalai balik ke sini tapi belum pulang."


Azhar memberitahu betapa sibuknya mereka mencari gadis-gadis itu


tadi siang, bahkan mereka pergi ke sebuah kota kecil, karena kata


Riza gadis-gadis itu pergi ke Rokan.


Khairani tertawa karena Riza sudah memperdayai Azhar, pastinya


Riza itu setali tiga uang dengan ayah. Selalu menjadi mata-mata


untuk ayahnya.


Hemmm!


Donny berdehem, memangnya dia kambing congek apa?


Azhar berbisik di telinga Khairani sembari berpegangan tangan dan saling


meremas jari.


"Kak Mardo mana? Bang Donny naksir kak Mardo Pah."


Mereka berbisik-bisik  sambil sesekali melihat pada Donny.

__ADS_1


"Apa kakak Mardo itu sudah punya pacar Khai?"


Azhar berbisik lagi.


Khairani mengingat-ingat, "Rasanya belum, aku tak pernah melihatnya


bersama seorang pria."


"Kalau begitu  dekatin aja sama bang Donny, cocok mereka. Kak Mardo cantik,


sementara Donny juga tampan dan pemilik perusahaan di Medan."


Coba saja,  mereka sepakat.


Khairani lantas masuk ke rumah, ia mencari Mardo. Ternyata ruang keluarga


telah sepi, tinggal Yulia saja yang sedang menonton tivi.


"Kak Mardo!"


Khairana melihat kakak sepupunya itu telah tertidur menghadap tembok.


Agaknya lelap sekali. Khairani engan membangunkannya. Kakaknya


itu kelihatan kelelahan.


"Kak Mardo sudah tidur."


Oh, Azhar dan juga Donny menyayangkannya.


"Besok kalian kemana? biar kami antar."


"Rencananya ke rumah uwa di Labuan batu," Jawab Khairani


"Kami antar ya?"


Azhar membujuk, jemarinya terus saja saling meremas dengan jemari


Khairani, membuat Donny yang melihatnya jadi jelous.


"Mana dibolehkan Ayah, seperti biasa tulang Riza yang akan


Oh, ya sudahlah kami pamit kasihan bang Donny menunggu.


Azhar pamit dan menyusun rencana agar selalu bisa dekat.


Donny di kamarnya berbaring gelisah, sehari ini ia tak melihat Mardo.


Pertama kali melihat gadis itu, ia melengos, namun ia kembali


menoleh dan terkejut. Gadis itu menatapnya dengan bibir tersenyum dan matanya


yang menyipit. Cepat ia mendatangi gadis itu dan berkenalan.


Wajah gadis itu cantik halus dan bibirnya menampakkan senyum tipis.


Pantas saja ia berbeda dengan gadis-gadis kota itu. Mardo memiliki


gaya, serta sebuah pribadi yang menawan. Karena ia besar di kota


Jakarta. Ia gadis yang menyenangkan.


"Mardo aku ingin memiliki dirimu."


Engkau pastilah jodohku, sebab aku tak pernah tertarik datang ke kota ini.


Azhar tiba-tiba ingin cuti dan pulang. Entah kenapa aku ingin ikut. Karena


kepalaku serasa pusing dan suntuk. Donny memutuskan menghilang


sesaat dari kebisingan kerja. Ia berharap saat kembali pikirannya


lebih fresh.


Bahkan  sebenarnya  Ia akan kembali sehari sebelum kedatangan Mardo dan Khairani.


Karena ia merasa bosan dengan alam kota kecil itu yang hanya itu-itu saja. Hingga


senja itu, ia menoleh dua kali pada gadis itu.


Yang pertama ia pikir tidak akan tertarik dengan gadis kota kecil ini. Dan ia acuhkan.

__ADS_1


Namun ia terpaksa menoleh lagi dan segera menghampiri untuk memastikan


keakuratan pandangannya. Di sana berdiri seorang gadis dengan bibir tersenyum dan mata


teduh yang menunggunya. Sikap seorang gadis yang percaya diri akan dirinya, kemampuan


serta penghormatan sesama.


"Hello, senang berkenalan denganmu."


Suaranya lembut tetapi memiliki ketulusan dan keyakinan, bibir ketipisan tersebut


tergantung senyumnya. Dan matanya memandangi dan tak melepaskan hingga


lama.


"Kalau Azhar ini, kakak sering dengar namanya. Si Khairani ini suka mengingau


kalau malam, Azhar! Azhar! Azhar! kemarilah, begitu dia kalau mengigau."


Mardo mengomentari Azhar, saat dikenalkan oleh Khairani.


"Ich kakak ini, jangan buka kartu lah ih, malu awak."


Kwa kwa kwa, mereka tertawa oleh cara Mardo mengatakan hal itu.


Kemudian ia menghadap dan menatap pada Donny.


"Aku lahir di kota ini, tetapi orang tuaku bertugas ke berbagai kota, sehingga


aku besar di jalanan."


Kata Mardo santai dan mengangkat sebelah kakinya untuk ditumpukan.


Di jalanan kak?


Azhar menggodanya, dan ia langsung mendapat  sentilan kecil dari jemari lentik Mardo.


"Bukan seperti itu maksudnya, lima tahun bertugas di Medan, lima tahun di Jakarta, tiga


tahun di Papua, di Aceh, di Pekan baru dan lain-lain."


"Oh, begitu Kak, banyak pengalaman lah kakak ya."


Azhar merasa akrab dengan sepupu Khairani itu, ia paling banyak menanggapi


dan berkomentar. Sementara Donny justru menjadi terdiam. Ada gemuruh rasa


saat berdekatan dengan Mardo. Ia mesti meredakan keributan di dalam hatinya


terlebih dahulu.


"Jelas, kakak punya pengetahuan tentang kota-kota yang pernah ditinggali. Dulu


ketika bertugas di Medan, kami tinggal di daerah Suka Ramai, waktu itu kakak


masih taman kanak-kanak, tak terlalu ingat."


Gadis itu cerewet sekali. Donny tersenyum, menatap langit-langit kamar, ia belum jua


bisa terlelap, teringat terus pada sosok yang mempesona. 'Kurasa dia adalah


perempuan terakhir petualanganku'  Aku akan berhenti setelah dia menjadi


pendamping hidupku, ibu dari anak-anakku, pelabuhan cintaku.


Donny membayangkan masa depannya yang bahagia bersama Mardo serta empat anak-anak


yang cantik, tampan juga lucu. Mereka mirip Mardo dan juga dirinya.


Pria itu membawa senyumnya hingga kedalam tidur.


 


 


 


 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2