
Banyak sekali hal menakjubkan dalam hidup Prita. Ia tercekat mengetahui bahwa orang tua Rakasiwi salah satu pengusaha paling sukses serta pemilik perusahaan Pria Idola. Ia baru tau baru-baru ini. Betapa selama ini Prita buta sama sekali. Bertambah lagi ia mengenal Boy Indra dari perusahaan Kesuma Wijawa, Pria muda yang beruntung mewarisi perusahaan orang tuanya.
Prita mengigit bibirnya. Mereka sangat beruntung menjadi anak-anak dari pria yang hebat. Ia mengingat dirinya yang malang. Tak pernah mengenal sosok ayahnya. Ada beberapa foto yang disimpan mama Risa. Samar ia ingat sosok papanya yang tinggi tegap dan dipenuhi senyuman. Kata mama Risa papanya seorang pengajar olah raga di sebuah sekolah atas. Sebab itu papa selalu bugar serta penuh semangat. Kata mama Risa papanya seorang yang ceria. Bibirnya selalu tersungging senyuman. Ada sosok papa di dalam dirinya. Itu kata mama Risa.
Memang tidak bisa dibandingkan dengan ayah Rakasiwi dan juga ayah Boy Indra. Papanya pria yang sederhana tetapi ada sesuatu yang menyamakan mereka yakni kecintaan pada anak. He he he Prita tersenyum kecil, tentu saja. Tidak ada orang tua yang tak menyayangi anak-anaknya. Ingin memberikan yang terbaik, kebahagian serta perjuangan mereka, keringat darah serta peluh bercucuran demi anak-anaknya. Seandainya papa diberi kesempatan hidup, mungkin papa juga bisa meninggalkan sesuatu yang berharga.
"Ma, papa dulu seorang guru olah raga ya?"
Malam itu Priti tiba-tiba membicarakan papanya. Mama Risa mengangkat wajahnya. Menatap ke wajah putrinya yang tengah menunggu jawabannya.
"Iya, mama sudah pernah kasih tau kamu dulu."
Gadis itu tersenyum, "Iya, kadang-kadang aku merindukan papa Ma."
Mama Risa menggigit bibirnya.
"Mama juga, sampai akhirnya sakit karena kehilangan papa kamu."
Prita berdiri dan mendekati mama Risa, ia memeluk tubuh ibunya yang tinggi besar.
"Maaf ya Ma, bikin mama sedih, Prita hanya sedang memikirkan teman Prita yang beruntung."
Mama Risa membalas pelukkan anaknya erat. Dulu Prita juga suka pulang dari sekolah dengan bibir cemberut. Nenek yang menanyakan kenapa bibirnya maju hingga lima senti. Biasanya Prita langsung ke pelukkan nenek dan berdiam diri di pangkuan nenek. Setelah tenang barulah ia bercerita. Setiap pagi ia melihat teman-temannya diantar oleh ayah mereka. Dibonceng di sepeda, motor dan juga mobil. Sedangkan dirinya selalu berangkat dan pulang sendiri.
Nenek tersenyum dan mengatakan bahwa anak-anak yang diantar oleh ayah dan ibunya itu anak yang cengeng dan manja. Sedangkan Prita bukan seperti anak-anak itu. Prita anak yang hebat, tidak cengeng, tak manja. Nenek selalu bisa menguatkan anak itu. Memuji-muji Prita dan menjatuhkan teman-temannya. Itu cara nenek membuat Prita melupakan kecemburuannya pada teman-temannya. Yang membuat Prita kuat dan selalu yakin pada dirinya sendiri. Nenek dengan caranya mendidik Priti menjadi gadis kecil yang tegar, berani serta berkeyakinan kuat.
Malam itu Prita berpikir, benarkah yang ia jalani sekarang. Bekerja dan menjadi karyawan. Kenapa tidak seperti om Raka papanya Rakasiwi? membangun bisnisnya. Menciptakan sendiri perusahaan untuk kelak bisa diberikan pada anak-anak. Tetapi dari mana ia memulainya? Ia tidak memiliki modal untuk memulai sebuah usaha. Prita bergolek gelisah. Namun pada akhirnya ia memutuskan tetap bekerja sambil menunggu usaha yang cocok untuk ia kelola sendiri serta kembangkan.
Jadi pagi itu Prita berangkat penuh kegembiraan. Ternyata Boy Indra sudah menunggu, ia kalah cepat.
"Kenapa lama sekali datangnya, ini sudah jam berapa?"
Prita membesarkan matanya. Ini belum lagi jam kerja. Masih tiga puluh menita lagi.
"Ayo, kita harus meeting dengan client, mudah-mudahan tidak telat."
Boy bergegas dengan langkah-langkah panjang dan cepat. Terpaksa Prita mengikuti pria itu, ia berlari-lari kecil mengimbangi langkah Boy. Beberapa karyawan yang sudah hadir menoleh ke arah mereka. Pemandangan yang tak biasa.
"I-itu pak Boy pewaris pak Kesuma Wijaya kan? kenapa Dia terburu-buru begitu ya? seperti mengejar setoran saja he he he ups."
"Dan gadis di belakangnya, mereka mau kemana sih masih pagi seperti ini."
__ADS_1
"Mau tau aja? atau pengen tau banget?"
Para karyawan bergosip lucu untuk menghilangkan kejenuhan.
"Pak Boy, kenapa nggak bilang kalau mesti pagi-pagi? saya sesak kalau buru-buru begini."
Prita terengah-engah saat telah berada di dalam lift.
"Hem, maaf saya lupa, cara berjalan gadis Indonesia memang payah. Lambat sekali."
Prita menegadah. Seenaknya mengatai seperti itu. Memangnya gadis mana yang jalannya cepat?
"Bertahun-tahun saya tinggal di luar negeri, cara jalan orang-orang di sana cepat, tidak lambat sepertimu."
"Aku juga bisa berjalan cepat!"
"Nah ayo."
Begitu keluar dari lift, Boy berjalan cepat menuju ke parkiran. Prita berlari-lari di belakangnya. Jika ia berjalan maka ia akan tertinggal jauh. Ia tak mau disalahkan nanti. Jadi ia menahan malu dengan berlari hingga lebih cepat sampai ke mobil . Prita berdiri di sisi pintu penumpang.
"Sini di sebelahku, memangnya aku supirmu."
"Loh, menyetir sendiri?"
"Selagi masih bisa, kenapa tak melakukan sendiri!"
"Oh iya betul sekali."
Terpaksa Prita setuju dengan Boy. Pria itu langsung melarikan kenderaannya dengan cepat. Prita buru-buru memasang seat beal.
"Pelan-pelan, aku belum menikmati gaji pertamaku."
Pria muda itu hanya mesem, "Kamu pikir aku sudah? sama saja."
Keduanya saling berpandangan dan melebarkan bibir.
"Kamu berbeda, owner tidak perlu gajian."
"Kata siapa? owner juga manusia."
Ya iya lah, masa orang utan, Prita mencebik. Pria yang aneh pikir Prita.
__ADS_1
"Nanti aku hanya mengenalkan diri dan perusahaan, selanjutnya kamu yang menjelaskan."
"Menjelaskan apa? aku sudah bilang bukan karyawan lama, aku belum tau banyak."
"Sama saja, aku juga baru. Tapi lihat aku pede saja kan?"
Prita mencebik, pede karena hanya mengenalkan diri dan profile perusahaan. Lalu semua dilemparkan
kepadanya. Rasanya ia ingin mengamuk.
Gadis itu tak bisa berbuat apa-apa. Boy memarkirkan mobilnya lantas dengan langkah-langkah panjang ia memasuki sebuah kantor. Mereka menuju lantai empat belas. Di sana sudah menunggu beberapa laki-laki dan perempuan. Boy menyalami mereka satu persatu. Juga mengenalkan Prita. Sesaat keduanya saling memperkenalkan perusahaan. Pria yang mengundang mereka memaparkan maksud dari pertemuan itu. Perusahaan mereka akan meluncurkan produk baru dan mereka membutuhkan media promo yang mudah di diingat dan membekas di pikiran.
Prita bersyukur, ia langsung tanggap pada keinginan perusahaan itu. Setelah Boy menyilahkannya untuk menjawab keinginan calon klien. Prita segera memaparkan apa yang mereka miliki. Ada beberapa media promo yang dimiliki oleh perusahaan Kesuma Wijawa. Mulai dari paket murah, sedang hingga yang ekslusif. Ia dengan detail menjelaskan tentang kelebihan bahan-bahan mereka. Kenapa bahan yang satu lebih murah, tetapi pilihan lainnya mahal. Masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya.
Sempat terjadi tanya jawab, dan Prita berhasil menjawab keingin tahuan calon clien. Sekitar dua jam, barulah meeting itu sekesai. Mereka akan memberikan jawaban seminggu ke depan. Setelah itu Boy mengajaknya kembali ke kantor. Namun di tengah jalan ia membelokkan mobilnya. Masuk ke sebuah rumah makan.
"Aku belum sarapan, kita makan ya sebentar."
Prita hanya menurut. Boy sedikit pun tak mengomentari apa yang telah ia lakukan. Akhinrya gadis itu juga memilih tak menanyakan bagaimana ia tadi menjelaskan produk mereka.
"Semoga minggu depan, mereka sudah memberikan jawaban."
"Aamiin yra."
"Aku tau kamu pasti bisa."
"Yah, untung saja aku ingat."
Keduanya segera menikmati sarapan dan menghirup minuman hangat. Saat membayar Boy kelihatan bingung.
"Ada apa? uangnya kurang."
"Bukan, aku belum hapal uang Indonesia."
Mata Prita membesar, rasanya tak percaya. Gadis itu meminta dompet Boy dan menanyakan berapa harga sarapan mereka. Ia lalu mengambil uang lima puluhan dua. Boy sangat senang. Ia bilang baru menukar uang luar negerinya dengan rupiah. Dan Ia belum terlalu bisa jika berbelanja.
__ADS_1
Bersambung