
Tiada terasa sudah seminggu Prita bekerja perusahaan tersebut. Dia selalu datang pagi-pagi sekali dengan penampilan yang tomboy dan segera ke toilet untuk merubah penampilannya.
Untuk sementara waktu Prita harus menjalani rutinitas berangkat dan pulang dengan motor besarnya.
Prita menyukai hal tersebut. Dia tidak memiliki keinginan untuk membeli atau menukar tambah motor besar tersebut dengan motor biasa. Ia menikmatinya penuh kebahagian dan ceria.
Dan pagi itu seperti hari-hari kemarin Prita berangkat ke kantor dengan motor besarnya dan dengan penampilan yang tomboy. Setelah sampai di sana dan memarkirkan si moge dengan aman dan baik. Seperti biasa ia terlebih dulu ke toilet.
Kemudian Prita segera naik ke lantai 7 dan memasuki ruangan tempat dia bekerja. Belum ada siapa-siapa disana Dan akhirnya dia pun duduk sendirian menghidupkan laptopnya dan berselancar lincah di akun pribadinya.
Dia begitu tenggelam dengan dunianya. Sementara Kantornya masih sepi. Prita menikmati ruangannya yang wangi dan segar. Ia menselonjorkan kakinya ke bangku di dekatnya. Lantas melipat tangannya di dada, sejenak memejamkan mata. Sebuah pemandangan cantik dan unik bagi seorang petugas keamanan. Ia mengambil handphonenya dan terdengar klik, klik dan klik. Banyak sekali dia mengambil foto gadis itu.
"Hello, pagi neng Prita."
Gadis itu membuka matanya dan menatap laki-laki yang tengah memandanginya terkagum-kagum.
"Oh pagi pak."
Prita menurunkan kakinya. Sejenak laki-laki itu memeriksa segenap ruangan kantor itu. Tak lama ia beranjak keluar dan melakukan hal yang sama. Setiap pagi dan sore, pria itu menyapa setiap orang dan memeriksa seluruh ruangan di kantor itu. Ia lumayan populer di kalangan karyawan.
"Pagi Pak!"
"Pagi pak!"
"Pagi! Pagi!"
Terdengar suara-suara dari karyawan yang seperti menyapa seseorang. Prita bangun dari duduknya dan melonggok keluar. Ia melihat rombongan laki-laki yang sedang mendatangi divisi demi divisi. Mereka agaknya para pimpinan
sebab semua karyawan bersikap hormat.
Prita buru-buru menempati tempatnya, tak lama lagi rombongan itu akan sampai ke ruangannya. Ia mengharap teman seruangannya datang menemaninya. Tapi agaknya percuma sebab Dian dan Marlina belum kelihatan ujung hidungnya. Mereka sepertinya datang saat jam kerja telah dimulai. Agak berdebar, karena dia belum banyak mengetahui tentang pekerjaan di divisinya. Yang lebih mengetahui tentu saja Dian atau Marlina yang sudah bekerja selama beberapa tahun. Tapi disaat yang penting seperti ini keduanya tidak hadir. Rasanya ingin mencubit kedua teman seruangan itu hem.
Akhirnya rombongan itu pun memasuki ruangan tempat Prita. Gadis itu buru-buru mengucapkan selamat pagi sembari menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Seorang pria setengah baya yang berkharisma di dampingi beberapa pria lain dan... Priti terkesiap laki-laki yang pernah bertemu dengannya ada bersama rombongan itu. Si pria muda itu juga tak kalah kaget, tampak dari mimik wajahnya. Ia mengamati Prita dari atas kebawah dan dari bawah ke atas. Keheranan sebab gadis yang ini feminim sekali.
"Pagi, bagaimana pekerjaanmu? apakah ada kendala yang berarti?"
Sepasang mata bersorot kuat namun penuh pengertian serta perhatian. Ia lamat-lamat menatapi wajah Prita. Gadis itu terlihat gugup. Ia menjawab apa adanya.
"Sejauh ini baik-baik saja pak, belum ada kendala yang berarti."
"Bagus sekali, saya suka karyawan yang optimis, siapa namamu Nak? sudah lama bekerja di sini?"
"Saya Prita Pujaningrum pak, baru sebulan pak."
"Oh, jadi kamu karyawan baru?"
Satu-satunya pria yang ia kenal adalah pak Amir yang mengurusi dirinya saat ia diterima di perusahaan itu.
"Iya Pak, Prita baru masuk sebulan ini, dan pekerjaannya cukup bagus. Prita yang menghandle klien-klien percetakkan."
Pria itu mendengarkan penuturan anak buahnya. Selanjutnya ia mengenalkan putranya yang bernama Boy Indra, kelak perusahaan itu akan dipegang oleh putranya. Sedangkan dirinya akan mundur pelan-pelan dari jabatannya yang sekarang. Ia berharap dukungan serta kerjasama untuk putranya.
"Sama seperti anda nona, putra saya juga baru memasuki perusahaan ini sebulan yang lalu. Ia baru menyelesaikan study bisnisnya di luar negeri. Dan ini adalah pekerjaan pertamanya, semoga kalian bisa bekerjasama memajukan perusahaan ini."
Prita mengangguk-angguk dan tersenyum, "Siap pak!"
"Ok, baiklah selamat bekerja."
Pria itu dan rombongannya bergegas meninggalkan Prita. Boy menolehi Prita dan tersenyum jahil. Matanya menatap rok Prita. Seperti berkata, " Itu rok yang dibeli di mall kan?"
Prita memandang rok bawahannya tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Tapi kenapa mata putra si pemilik perusahaan itu menatap begitu jahil kepada roknya? Memang ada yang aneh? ah ada-ada saja. Kenapa ya bisa bertemu dengan pria aneh itu.
Tak lama Dian dan Marlina memasuki ruangan sembari tertawa cekikikan seolah-olah ada yang lucu. Prita menegur mereka, kenapa lama sekali datangnya, mereka sudah melewatkan kan saat yang sangat penting. Hal yang membuat Dian dan Marlina penasaran. Hal penting apa? memang sih sepertinya ada sesuatu, beberapa karyawan juga berbisik-bisik mengenai hal yang diketahui Prita. Jadi mereka memaksa Prita untuk bercerita.
"Ada hal penting apa sih say? kasih tau kita dong."
__ADS_1
"One piro?"
Dian dan Marlina saling pandang, sebegitu pengennya mereka tau tentang berita baru hari itu, hingga sepakat mentraktir Prita makan siang.
"Asyik, benar ya, rejeki anah sholeha."
"Apa boleh buat."
Dian dan Marlina bersungut-sungut.
"Perusahaan ini akan dipimpin oleh putra pemiliknya, dan beliau mengharapkan dukungan, kerjasama serta kebersamaan untuk memperbesar dan memajukan perusahaan ini."
"Oh hanya itu toh."
"Perusahaan sudah sebesar ini mau di besaran lagi?"
Ketiga gadis itu saling tersenyum.
"Namanya juga pengusaha, ya suka-suka mereka dong."
"Iya juga sih, semoga kita juga bisa besar di sini he he he."
"Maksud kamu apa Cing? besar apanya?"
"Kariernya lah masa perutnya he he, yuk ah kerja."
Ketiga gadis itu lantas mulai membuka komputer mereka dan bekerja. Hingga jam istirahat tiba. Prita langsung menagih janji kedua temannya.
"Hem, ayolah memang rejeki si Prita."
Mereka beranjak meninggalkan ruangan dan bergegas ke kantin kantor. Sekitar kantor tersebut juga banyak rumah makan bertebaran. Tetapi harus meninggalkan kantor. Jika kantin terlalu padat barulah para karyawan terpaksa bertebaran mencari makanan di luar.
Boy Indra mematikan komputernya, waktunya makan siang. Ia melirik di atas meja kiriman maminya. Perempuan ibunya setiap hari telah menyediakan makanan untuknya. Tetapi hari ini ia teringat seseorang yang unik. Gadis pengendara motor besar itu. Ia ingin mengajaknya makan siang. Serta merta Boy meninggalkan ruangannya.
__ADS_1
Sayangnya ruangan Prita Pujaningrum sudah kosong. Kemana mencari gadis yang menarik perhatiannya itu.
Bersambung