
Sepatah kata dari Author
Sebelumnya terima kasih banyak atas dukungan teman-teman author, teman-teman guru, keluarga serta readers semua yang membangkitkan lagi semangat yang meredup akibat level yang tak naik-naik.
Yah, author juga menyadari kisahnya bukan kisah mengenai gadis miskin yang punya hutang lalu orang tuanya menjualnya ke Ceo kaya. Atau gadis yatim piatu yang terlunta-lunta lalu bertemu laki-laki tampan. Kebanyakkan pembaca menyukai kisah seperti itu.
Tetapi kisah pria idola adalah kisah yang menempatkan cinta hanya pada satu perempuan saja. 'Jangan meninggalkan jejak dengan menyakiti hati seorang pun wanita' Kata Raka selalu pada sahabat-sahabatnya.
Season satu berkisah tentang Raka yang mengejar-ngejar Mardo untuk menjadi kekasihnya, bersaing dengan Richi adik kandungnya.
Season dua, tentang Rakasiwi dan pertemuannya dengan Prita Pujaningrum.
sempat nyaris kehilangan Prita sebab adanya Boy Indra bos yang banyak dibantu oleh Prita mengenai pekerjaan dan juga banyak hal tentang tata krama di Indonesia. Boy Indra ini lama di luar negeri. Jadi dia tidak tahu apa-apa tentang sekelilingnya dan pekerjaan yang diwariskan orang tuanya.
Pada Season dua juga memuat kisah Cindy Larasati, putri kedua Raka dan Mardo. Kisah percintaannya yang mulus dengan Alfredo sahabat Rakasiwi serta sedikit drama penculikkan oleh putra Donny Devien si Raffaza. Donny Devien ini dulu sempat hampir menikah dengan Mardo sebab kejadian di lembah. Donny pura-pura melakukan pemerkosaan saat Mardo pingsan. Ia memaksa akan bertanggung jawab. Namun keyakinan hatinya bahwa cinta pertama dan terakhirnya adalah Raka, ia melakukan tes keperawanan dan ia masih virgin. Akhirnya ia menikah dengan Raka Bramantyo.
Auhor sebenarnya ingin tamatkan saja, tapi dukungan sudah semakin banyak nih. Sampai kadang tak sempat membalas satu demi satu. Jadi Author putuskan untuk lanjut Season Tiga yaa...semoga Author sehat dan memiliki ide untuk pengembangannya. Juga berharap bisa mendapatkan level sepuluh, aamiin yra.
Dukung Athor terus yaa, dengan baca dari awal hingga akhir, jangan membaca dari tengah dan meninggalkannya, lebih baik jangan sama sekali. Demikian yang disampaikan oleh editor Novelton/mangatoon. Level naik dan kuat seiring pembaca yang membaca dari awal hingga akhir bukan yang membuka/baca ditengah-tengah apa lagi awal, alamat level jalan di tempat.
Season Tiga Pria Idola
Raka Sang pemilik Cafe Pria Idola.
Dua Tahun Kemudian.
Hari itu Raka Bramantyo berulang tahun yang ke 55 Tahun. Dia tampan, kekar dan terlihat muda. Di sisinya Mardo yang cantik dan setia mendampinginya. Setelah acara memotong kue. Raka menyuruh anak-anaknya mendengarkan apa yang akan ia sampaikan.
"Anak-anakku juga istriku, terima kasih karena kalian sudah menjadi bagian dari hidupku. Terima kasih telah memberikan warna yang indah seperti pelangi sehabis hujan. Ayah merasakan kegembiraan saat terbangun dan melihat kalian. Ayah menjadi bersemangat, gembira melanjutkan hari-hari. Pokoknya kalian yang telah menjadikan ayah bisa seperti sekarang. Ayah adalah pemilik perusahaan Pria Idola, yakni perusahaan yang bergerak di bisnis Cafe. Memiliki cabang di seluruh Indonesia serta 15 ribu mitra di berbagai tempat.
Dengan semua itu ayah bisa memberikan apa saja yang kalian inginkan. Membahagiakan dengan cara ayah. Tapi satu hal yang ingin ayah sampaikan bahwa semua itu tidaklah mudah. Tak seperti membalikkan telapak tangan. Kalian bisa bertanya pada Om Deni dan Om Sammy, bagaimana ayah jatuh bangun, merangkak hingga akhirnya bisa seperti sekarang."
Raka terdiam sebentar. Mardo memberikan gelas minumannya.
__ADS_1
Di hadapan Raka ada putra sulungnya, Rakasiwi dan istrinya Prita Pujaningrum, lalu Cindy Larasati bersama Alfredo, Tria si bongsor, Dode yang bertubuh jangkung dan si bungsu Rama yang telah mulai remaja. Wajah-wajah mereka tak luput dari kemiripan Raka dan Mardo.
Beberapa teman dekat keluarga itu telah pulang beberapa saat yang lalu. Tadi ada keluarga Deni, Sammy, Alan serta sahabat dekat Mardo yakni Putri, Sashi dan Grace.
Hanya selamatan kecil. Di kesempatan itu Raka menceritakan sekilas perjalanan hidupnya serta perjuangannya membangun perusahaan dan berkontribusi besar pada negara. Perusahaan Raka adalah salah satu pembayar pajak terbesar untuk negara.
"Kalian tahu bagaimana pada mulanya ayah memulai usaha cafe kecil di kota Eksotik. Cafe itu adalah cafe yang menjadi cikal bakal perusahaan."
Raka melanjutkan ceritanya.
"Bermula dari rumah ini, ayah dan om Richi lahir di sini. Rumah yang kita tempati ini adalah milik kakek Bramantyo yang diberikan kepada ayah. Sejak ayah masih sekolah.
Kakek Bramantyo membangun rumah besar di pinggir pelabuhan di kota Eksotik. Setiap liburan ayah ke Jakarta bersama teman-teman dan menginap di rumah ini. Ayah menjaga dan merawat rumah ini.
Jika liburan selesai ayah kembali ke kota eksotik. Saat itu belum ada satu pun cafe di kota berkembang itu. Ayah lalu memiliki ide untuk mulai membuka cafe yang bebas minuman alkohol. Tadinya ingin membuka bar tetapi kesannya kurang baik. Ayah akhirnya membuka Cafe di mall kota Eksotik.
Saat itu baru itu satu-satunya cafe di kota Eksotik. Ayah memiliki pergaulan anak-anak muda di jakarta, jadi ayah tau model cafe yang disukai remaja. Terus terang saat itu modalnya ayah pinjam dari opa untuk perlengkapan cafe.
Alhamdulillah opa kalian sangat mendukung ayah. Begitu juga teman dekat ayah antusias sekali. Om Deni dan Sammy mendukung sejak awal ayah memulai dan merintis. Cafe itu pun buka di mall terbesar di kota Eksotik.
Itu adalah minuman pertama yang kami kembangkan. Di luar dugaan remaja kota Eksotik menyukainya. Setiap hari cafe dipenuhi oleh remaja-remaja kota eksotik dari mulai yang SMP hingga SMA.
Om Sammy sukses menciptakan minuman cafe rasa buah pala yang unik. Sayangnya ayah harus berangkat ke Ausy dan meninggalkan cafe, begitu juga om Deni dan om Sammy, kita sama-sama sibuk menata masa depan.
Ayah menitipkan cafe kepada seorang bapak penjual minuman es kelapa di sekolah. Bapak itu senang sekali ayah mempercayakan cafe padanya. Ia mengelola dengan baik.
Setelah ayah menyelesaikan sekolah dan kembali ke Indonesia ayah tidak punya pekerjaan. Om Deni dan Om Sammy sudah menjadi pns. Ayah sempat kembali ke kota Eksotik bekerja di pelabuhan bersama Opa Bramantyo.
Tiba-tiba orang yang ayah titipi cafe datang dan memberikan ayah uang hasil cafe. Ayah terkejut sekali tak menyangka kalau laki-laki itu menyimpan penghasilan dari cafe.
Ayah lalu kembali ke Jakarta dan merintis lagi membuka cafe baru. Berbekal modal dari cafe dikota Eksotik. Ternyata cafe ayah yang berada di salah satu mall di jakarta itu mengalami kemajuan. Ayah membuka lagi dua cafe yang juga masih berada di area mall besar. Kali ini ayah membujuk Om Deni dan Om Sammy. Akhirnya mereka bekerja saat pulang kantor.
Kami bertiga bekerja keras bahu membahu untuk mendapatkan pelanggan dan mempertahankan langganan lama. Bahkan om Deni dan Sammy sampai keluar dari departemen sebab fokus untuk mendirikan perusahaan.
__ADS_1
Cafe Pria Idola berkembang menjadi sebuah perusahaan besar. Sekarang memiliki cabang hampir di semua kota di Indonesia. Begitu juga kemitraan mencapai Rp15.000 lebih.
Luar biasa! Ayah sendiri tak percaya dengan apa yang telah Ayah capai Ini semua adalah kemurahan dari Allah kita Allah Subhanahu Wa Ta'ala Terima kasih yang tak terhingga atas rejeki yang berlimpah.
Sekarang ayah sudah berusia 55 saatnya ayah mengundurkan diri dari dunia bisnis dan mempersiapkan diri untuk bekal ke dunia sana. Ayah hanya akan mengurusi hal-hal keagamaan saja.
Ayah dan Bunda sudah berembuk akan memberikan perusahaan Pria Idola pada kalian berlima. Kalian, Rakasiwi, Cindy, Tria, Dode dan Rama adalah owner perusahaan.
Kemudian untuk universitas yang berada di Merauke yang semula dipegang oleh Om Richi, ayah akan beri tanggung jawab pada Rakasiwi. Terserah nanti apakah Rakasiwi mengawasi dari sini atau mau tinggal di sana.
Beberapa cabang perusahaan adalah milik Om Deni dan juga Om Sammy. Ayah hanya memiliki perusahan serta lima cabang dan semuanya ada di Jakarta. Ayah sudah berikan masing-masing satu. Untuk Dode dan Rama karena mereka masih dibawah umur, ayah memberikan tanggung jawab dipundak kalian kakaknya.
Satu hal lagi, kebun luas akan ayah buat cafe yang menghadap ke jalan. Untuk berkegiatan menghabiskan hari- hari. Cafe itu untuk ayah bunda menghilangman kepenatan. Tempat ayah bermain musik, dan membaca buku-buku. Tempat itu merupakan cafe khusus keluarga. Demikian yang ayah bisa sampaikan, hal-hal lain yang luput darì apa yang ayah sampaikan nanti disusulkan, barangkali ada yang mau mengomentari tentang apa yang ayah sampaikan silahkan."
Raka menyelelesaikan kata-katanya. Rakasiwi memandang pada Cindy, gadis itu menyilahkan kakaknya yang mewakili mereka semua.
Rakasiwi sebagai anak yang paling tua pun membalas dengan kata-kata yang baik dan santun.
"Saya sebagai anak ayah yang paling tua mewakili adik-adik mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada ayah dan bunda.
Kami adalah anak-anak yang sangat beruntung memiliki ayah dan bunda yang meskipun adalah orang yang sangat sibuk tetapi kami tidak pernah kehilangan ayah dan bunda. Tidak pernah merasakan kurang perhatian dari ayah dan bunda.
Kami mendapatkan kasih sayang serta perhatian yang sangat besar. Support dan dorongan serta semangat yang tak tiada henti.
"Rasa terima kasih kami tiada terhingga sepenuh bumi dan langit, tapi itu tidaklah cukup. Kami tak akan bisa membalasnya sampai kapanpun.
Hanya Allah sajalah yang akan membalas semua kebaikan yang telah ayah dan bunda berikan kepada kami. Sebagai anak sudah kewajiban kami menuruti dan berbakti kepada orang tua. Apapun yang ayah berikan dan perintahkan adalah titah yang wajib kami terima dan jalankan dengan sebaik-baiknya.
Sekali lagi kami anak-anak ayah dan bunda mengucapkan ribuan terima Kasih. Karena kalianlah maka kami bisa menjadi seperti sekarang ini. Tidak pernah merasakan penderitaan seperti orang lain.
Tapi ayah dan bunda mengajari kami bahwa banyak sekali orang-orang yang menderita di luar sana sehingga kami pun mesti perduli dan diajari perduli pada sesama. Merasakan kesedihan, empati dan penderitaan.
Karena Ayah dan Bunda hati kami menjadi lembut. Terima kasih, sekali lagi terima kasih ayah dan bunda, kami berlima akan menjaga apa yang ayah dan bunda berikan kepada kami dengan sebaik-baiknya."
__ADS_1
Dengan air mata berlinangan Rakasiwi menghambur memeluk ayahnya, ia menciumi pipi ayah dan menaro punggung tangan Raka di pipinya. Demikia juga yang lain, ikut meneteskan air mata. oleh suasana itu.
Bersambung.