
Suasana bahagia terlihat di wajah setiap orang yang memasuki gedung yang diperuntukkan untuk wisuda. Gedung aula yang merupakan bagian dari kampus tersebut. Taman serta halaman mengelilingi gedung tersebut. Setiap sudutnya telah ditempati mahasiswa dan mahasiswi yang telah menggunakan jubah dan toga kelulusan. Mereka berdatangan dari sebuah jalan dan kemudian menyebar memenuhi tempat.
Raka dan Mardo berpegangan tangan menatap Cindy yang pergi ke tengah-tengah temannya. Mereka semua menyambut gadis itu, menyalami dan ada yang memeluk penuh kerinduan. Lantas diantara mereka ada yang berinisiatif membuat foto-foto. Semua segera bergaya menampilkan yang tergaya dan terheboh. Lalu ada yang minta di foto berduaan, ada yang bertiga serta berempat.
Congratulation!
Ucapan selamat terus berdatangan dari teman-teman mereka sendiri, adik tingkat serta kenalan di kampus tersebut. Taman bunga berbaur dengan jubah kebanggaan yang dikenakan. Hingga pintu gerbang terbuka. Para mahasiswa dan mahasiswi masuk teratur sesuai jurusannya. Orang tua serta tamu undangan juga di persilahkan menempati bangku yang sudah disediakan. Para orang tua duduk mengelilingi anak-anak mereka yang hari itu mengikuti acara wisuda.
Pengaturan oleh panitia yang bekerja sigap membuat acara tersebut rapi dan dimulai dengan cepat. Hingga sampai pada nama anak-anak yang mendapatkan nilai kelulusan dengan pujian atau cumclaude. Tepuk tangan bergemuruh tiap kali nama seorang mahasiswa-mahasiswi. Terdengar nama Cindy Larasati dikumandangkan, nilai kelulusannya 4.00, sempurna. Ia sekarang telah menjadi sarjana ekonomi. Cindy memimpin teman-temannya mengucapkan terima kasih kepada dosen-dosen mereka yang telah membimbing. Setelah itu Cindy dan teman-temannya yang lulus dengan pujian menyanyikan sebuah lagu khusus untuk ibunda. Mereka menyanyikan penuh penghayatan dan sepenuh hati. Banyak orang tua yang menangis mendengar lagu tersebut.
Pemberian piagam wisudawan-wisudawati terbaik berlangsung hikmat. Cindy dan teman-temannya selesai lebih dahulu. Cindy bergegas ke tempat Raka dan Mardo.
"Bunda! Ayah!"
Gadis itu mendatangi orang tuanya dan memberikan piagam penghargaan yang diberikan kepadanya. Mardo memeluk Cindy dan mengucapkan selamat. Ia sangat bangga pada putri kecilnya yang sekarang telah menjadi gadis yang pintar dan cantik.
"Selamat sayang, bunda bangga padamu."
Ia menciumi Cindy, Raka juga melakukan hal yang sama, selanjutnya Tria, Dode dan Rama. Di ujung sekali Alfredo tersenyum, hingga akhirnya Cindy sampai di depannya. Laki-laki muda itu memberikan buket bunga yang indah, boneka berwarna putih serta ciuman selamat untuk tunangannya.
"Congratulation yank, kamu hebat!"
"Terima kasih Yank, berkat kamu aku menjadi yang terbaik."
Keduanya saling berpandangan dan tersenyum. Setelah saling mengucapkan selamat, Alfedo mengajak keluarga itu membuat foto-foto kenangan. Cindy berfoto bersama ayah Raka, lalu bunda Mardo. Juga Dengan Alfredo, Tria dan adik-adik yang kecil.
Setelah membuat foto yang banyak barulah Raka mengajak keluarganya ke restoran. Mereka ingin merayakan keberhasikan Cindy sambil makan siang. Di sana mereka menikmati hidangan restoran sambil berbincang-bincang. Ayah Raka bilang pada Tria bahwa kakaknya Cindy memiliki kunci keberhasilan sehingga sejak kelas satu sekolah dasar hingga ia menjadi mahasiswi selalu menjadi juara nomer satu. Raka meminta Cindy mengatakan rahasia suksesnya agar Tria, Dode dan juga Rama meneladaninya.
Gadis cantik itu bilang pada adik-adiknya bahwa sejak kecil ia memang sudah rajin belajar. Yang ia lakukan rajin membuat catatan serta ringkasan. Ia juga memperhatikan saat guru menjelaskan pelajaran. Cindy bilang bahwa ia tidak pernah belajar sekali kebut. Teman-temannya banyak melakukan belajar menjelang ujian, Cindy tidak seperti itu melainkan ia belajar sedikit demi sedikit. Menjelang ujian ia justru beristirahat dan menunggu dengan tenang.
__ADS_1
"Tria juga belajar seperti itu, tidak menumpuk-numpuk tugas."
Raka mengelus kepala Tria dan mengangguk-angguk. Meski tidak menjadi juara pertama tetapi Tria selalu berhasil masuk menjadi sepuluh besar di sekolahnya. Ia dan Mardo tidak pernah menekan anak-anak untuk belajar serta harus menjadi juara. Menjadi anak yang baik serta perduli sudah membuat keduanya senang. Sebagai orang tua mereka mendukung serta memberikan fasilitas belajar yang dibutuhkan.
"Aku juga selalu jadi juara kok."
Dode bergumam pelan. Bunda Mardo mendengarnya dan ia membenarkan kata-kata Dode.
"Di sekolah Dode, kebanyakkan yang menjadi juara sekolah adalah perempuan, hanya Dode anak laki-laki yang menjadi juara. Bunda selalu mengambil rapor Dode dan maju ke depan untuk menerima penghargaan."
Raka bangga sekali pada anak-anak. Ia berpesan bahwa selalulah berusaha menjadi yang terbaik.
Di sebuah tempat dua laki-laki tak dikenal sejak lama mengikuti kegiatan Cindy. Dari jauh mereka mengawasi gadis itu dan keluarganya. Tidak ada sedikit pun kesempatan mendekati gadis itu. Terpaksa mereka berlaku sebagai orang tua yang juga mengantar anaknya wisuda. Setelah makan siang keluarga itu terlihat pulang ke rumah dan beberapa jam beristirahat. Menjelang malam Raka dan Mardo memutuskan menginap di hotel langganan mereka di Lembang. Sekalian pulang.
Cindy harus mengikuti pesta perpisahan bersama teman-temannya di sebuah restoran. Jadi mereka berpisah di persimpangan jalan. Raka dan Mardo mengambil jalan lurus menuju ke Lembang sementara Alfredo dan Cindy harus memutar balik ke arah kota.
"Mereka kemana lagi itu?"
"Kita ikuti saja gadis yang bernama Cindy itu. Apa sih maunya si Bos? kenapa nggak gentle ya? kalau mau
"Udah jangan bawel, kan udah kerjaan kita!"
"Iya sih, tetapi rasanya aku nggak yakin berhasil malam ini. Entahlah."
"Kau ini jangan begitu! atau keluargamu mau makan batu."
"Habis terlalu riskan, gadis itu terus-menerus bersama keluarganya atau pacarnya yang mirip Salman Khan itu."
"Pokoknya kita tetap berusaha membawa gadis itu pada Bos, masa bodo dengan si Salman Khan!"
"Iya! Iya! aku akan berusaha melakukannya."
__ADS_1
Barulah mereka berdua diam. Apa lagi kenderaan Cindy dan Alfredo sudah terparkir rapi. Keduanya mencari tempat yang bisa mengawasi kenderaan itu dari jauh. Untungnya tidak ada tukang parkir yang berjaga-jaga di sana. Salah seorang melakukan sesuatu pada mobil yang tadi dikenderai oleh Alfredo.
"Bagaimana? kau sudah melakukan tugasmu?"
"Sudah, aku harap mereka segera keluar dan pergi dari sini. Terlalu lama bisa ketauan."
"Mudah-mudahan tak lama lagi mereka keluar dari restoran dan pergi. Aku bosan menuggu."
Kedua orang yang bertubuh kekar dan tegap itu menguap berkali-kali akibat kelamaan menunggu. Mereka tidak tau sedang apa Cindy dan tunanganya itu di restoran. Mereka berdua menjalankan tugas dari seseorang. Keduanya bahkan sempat pergi sebentar untuk membeli nasi bungkus padang dan teh. Kemudian kembali mengawasi kenderan milik gadis itu. Belum ada-ada tanda-tanda Cindy dan Alfredo keluar dari restoran.
"Apa sih yang mereka kerjakan di dalam sana, kita saja sudah selesai makan."
"Di sana pastinya banyak makanan yang datang bergilirian, memangnya seperti makanan kita."
"Iya juga sih."
Salah seorang dari mereka menyetel jok sehingga ia bisa merebahkan tubuhnya yang sangat kelelahan. Sementara yang satu lagi tetap bertugas mengawasi kenderan milik Cindy.
Bersambung.
__ADS_1