Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 159. Prita Dan Rakasiwi


__ADS_3

Setelah Prita memberitahu pada Rakasiwi bahwa ia akan pulang ke Jakarta di akhir bulan untuk menghadiri pernikahan Yunna. Kontan Rakasiwi juga bilang bahwa ia pulang saat akhir bulan dan dia ingin melakukan perjalanan pulang bersama dengan Prita.


"Puspita, aku akan ke Semarang ingin melihat dan mengenal kota tempatmu tinggalmu Dan kita sama-sama pulang ke Jakarta, aku akan segera memesan tiket ke semarang."


Prita berdebar membaca pesan dari Rakasiwi. Meskipun mereka sudah dekat tetapi itu di handphone saja. Sedangkan kedekatan secara fisik, bertemu dan saling menatap wajah jarang sekali terjadi.


Hal itu sangat berbeda bagi Prita. Apakah dia sanggup bertemu dengan laki-laki yang pertama membuatnya berdebar dan malu. Gadis itu menggigit bibirnya dan berusaha menenangkan debaran di dalam hatinya. Satu sisi ia sangat senang dan ingin sekali bertemu dengan Rakasiwi. Tetapi sekaligus malu. Dan ia heran kenapa harus malu ? tidak ada alasan untuk hal itu. Tetapi entahlah, Rakasiwi adalah laki-laki pertama yang membuatnya selalu menjaga sikap, ingin terlihat sempurna, membuatnya gugup dan malu.


Mungkin itulah yang disebut jatuh cinta. Seseorang menjadi khusus, special dan membuat berubah. Prita yang acuh dan hanya fokus pada studynya sekarang tidak lagi. Bukan serta merta mengabaikan studinya. Justru kehadiran Rakasiwi menjadi sesuatu yang berharga baginya. Membuatnya lebih bersemangat berseri-seri dan merasa kehidupannya sekarang lebih indah dan bergairah. Hidupnya penuh makna. Bibirnya tersenyum dan pipinya merona setiap kali ingat pada Rakasiwi.


"Iya boleh saja, aku sangat senang mendengar kau mau datang ke Semarang. Tetapi jangan sampai merepotkanmu ya. Aku tidak mau kamu kelelahan dan mungkin mengabaikan studi mu, jangan sampai mengganggu kegiatanmu, hanya jika kau bebas, silahkan datang."


"Sama sepertimu, setiap hari Sabtu dan Minggu aku bebas. Dan aku bisa pergi kemana saja. Termasuk menemui Puspita hatiku."


Prita melebarkan bibirnya, Rakasiwi memanggilnya Puspita, lalu dia harus memanggil apa ya pada Rakasiwi. Mbeb? hi hi hi malu ach, atau Yang? idih kok kurang enak yaa? Mas, Abang, Aa. Nggak ah.


Prita bingung, nggak enak juga dia memanggil Ka, Raka, atau Hei. Sebaiknya dia menanyakan hal itu pada Rakasiwi, ingin dipanggil apa?


"Mo, dipanggil apa dirimu?"


Rakasiwi di sebrang tersenyum lebar, "Apa ya? terserah dirimu aja Puspita."


"Justru aku bingung, lalu bertanya padamu, suka dipanggil apa?"


Begitulah dua orang yang sedang kasmaran hampir seharian mereka tiada henti saling mengirim pesan. Hanya berhenti taat ke belakang dan saat tidur.


keduanya menunggu hari itu tiba. Rasanya waktu sangat lambat. Tak sabar merasakan pertemuan pertama mereka berdua, tanpa siapa-siapa. Hanya mereka berdua saja, di kota perantauan.


Empat hari sebelum hari pernikahan Yunna dan Ayah Jae. Rakasiwi melakukan perjalanan ke kota Semarang. Pagi sebelum berangkat Rakasiwi mengirim pesan, ia sudah berada di stasiun, nanti jemput aku ya Puspita, pesannya.


Prita segera menjawab, iya calmanku, dengan emotion senyum.


"Apaan tuh calmam"


Rakasiwi tersenyum sambil memencet hidungnya merasa geli.


Prita tak kalah geli dan menahan senyumnya, ia belum menemukan nama panggilan yang pas untuknya.


"Masa nggak tau cih, itu kan calon imam he he he."


Rakasiwi, tertawa Ha ha ha, tul tul betul.


"Bolehlah daripada tidak ada panggilan sama sekali."

__ADS_1


"Sementara aja, nanti klo dah ketemu yang pas, ganti aja."


"Ok."


Sekitar jam sebelas, Prita sudah sampai di stasiun kota Semarang. Rakasiwi juga menulis pesan. Keretanya sudah dekat. Prita kian gugup dan salah tingkah. Sebentar sebentar ia mengambil kaca melihat wajahnya, mengatupkan bibirnya yang dipulas lipstik tipis agar mempertegas warnanya. Ia juga memeriksa pakaiannya. Baru saja ia bercermin, sudah diambil lagi untuk melihat wajahnya.


Prita tanpa kosmetik pun sudah cantik, apa lagi dengan sedikit kosmetik membuatnya terlihat merona. Kali ini Prita terlihat ceria. Rambutnya yang panjang diikat sedikit di tengah, dan sisanya dibiarkan tergerai. Gadis itu terlihat cantik dan mempesona.


 


Tadi sepanjang di kereta api Rakasiwi membayangkan pertemuannya dengan gadis ini. Apakah dia


menyukai kedatangan Rakasiwi menengoknya di kota itu? Pasti sangat menyenangkan. Prita pernah


cerita, ia mengurus sendiri keperluannya ketika dia melihat pengumuman di terima di perguruan


tinggi negeri. Memang sangat jauh. Tetapi ia memutuskan mengambilnya karena jika masuk perguruan


tinggi swasta atau negeri di Jakarta biayanya sangat mahal.


Ibunya masih dalam tahap penyembuhan depresinya ketika ia dengan berat hati meninggalkan perempuan


itu. Ada nenek dan paman yang mengurusnya. Belakangan Nenek meninggal karena usianya yang lanjut.


ke kota yang asing. Ia naik kereta api kemudian beberapa kali bertanya alamat kampusnya. Untunglah


hanya satu kali naik angkot dari stasiun, selanjutnya naik sekali melewati bukit dan lembah, hingga


akhirnya sampai di perguruan tinggi tempat ia diterima.


Prita berjalan kaki untuk memasuki gedung tempat registrasi mahasiswa baru. Ternyata sudah banyak


orang-orang yang sama dengannya. Ia segera mengantri untuk melakukan registrasi. Ia mendapatkan


satu bundel keperluannya setelah registrasi. Mereka semua juga harus membuka rekening bank


yang ditunjuk, mendengarkan berbagai  pengumaman. Setelah selesai ia harus mencari tempat


kost. Ada beberapa alamat yang ia datangi tetapi kost-kost itu tidak berkenan di hati Prita. Ada


yang sangat mahal sekali, jelek sekali dan tak nyaman meski murah. Dari pada ia sakit tinggal


di kost yang sempit dan lembab, ia lebih baik mencari tempat kost lain yang mengena di hatinya.

__ADS_1


Sembari terus mengamalkan zikirnya tiada putus.


Prita sampai di sebuah bangunan bertingkat dua. Sekitarnya ramai, ada beberapa mini syawalan


restoran dan rumah-rumah penduduk. Halaman tempat kost itu juga luas. Pintu-pintunya


saling berhadapan, dipisahkan oleh teras tempat menaro sepatu sendal serta motor. Tempat


kost yang baru saja selesai dibangun dan sedang ditawarkan dengan harga promo. Prita langsung


jatuh hati dan merasa nyaman. Kost itu besar sekali, di lantai satu sekitar sepuluh kamar dan di lantai


dua sekitar tujuh atau delapan. Kamar mandinya juga banyak dan bersih.


Saat itu juga Prita langsung membayar separoh harganya, saat menempatinya nanti sekitar sebulan


lagi barulah ia melunasi untuk satu tahun. Pemiliknya baik hati, mengikuti saja kemauan Prita.


Mereka saling menyimpan nomernya.


Setelah registrasi serta kedatangan yang pertaman ke kota tersebut. Berikutnya Prita kembali


datang untuk menetap. Ia membawa koper dan barang-barang miliknya. Tidak seorang pun


yang mengantarnya. Rakasiwi sedih sekali saat gadis itu bercerita dengan ceria. Sementara


dirinya diantar seluruh keluarganya. Tak susah payah mencari tempat kost, bahkan rumah


sudah tersedia untuknya.


Kemandirian gadis itu membuatnya kagum dan jatuh kasih serta sayang yang tulus.


'Aku yang akan menjagamu puspita hatiku, jangan merasa sendirian lagi. Ada aku


yang selalu bersamamu mulai saat ini dan selamanya.'


Janji Rakasiwi.


 


 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2