Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 227. Gaun Pesta Untuk Prita


__ADS_3

Prita menjalani lagi aktivitasnya, pagi berangkat ke kantor dan sore pulang ke rumah.  Tidak lagi ada yang membebani pikirannya saat ini. Hari-hari yang selalu ia impikan di masa lalu telah ia miliki. Bekerja  serta punya karier bagus. Ia tak akan  menyia-nyiakan saat ini. Kegembiraan, bahagia dan rasa syukur yang ia rasakan sekarang. Terungkapkan  oleh sikap ceria, berseri serta bersemangat. Semua melihat Prita gadis yang cantik dengan sejuta kebahagiaan. Wajahnya selalu merona kemerahan, bibir yang menyunggingkan senyum di mana pria-pria muda  di kantor itu menyebut senyum termanis di perusahaan.


Tak memakan waktu lama, gadis itu menjadi pembicaraan para karyawan. Apa lagi baru-baru ini ia membantu pak Boy Indra menggolkan sebuah kerjasama yang bernilai sangat besar. Sebuah proses yang tidak mudah tetapi Prita dengan sabar mendampingi pak Boy Indra berkali-kali mendatangi calon clien. Pasangan Boy dan Prita  bagi clien justru lebih menyenangkan. Keduanya terlihat serasi dan memiliki chemistri yang membuat orang terpesona kepada keduanya. Hal tersebut sesungguhnya yang membuat perusahaan itu akhirnya rela menjadi clien.


"Prita! tunggu."


Dian dan Marlina memanggilnya yang sedang berjalan menuju ruangannya di lantai atas.


"Ih, buru-buru banget sih, ini kan masih lama masuknya. Kita ke kantin dulu yuk."


"Kalian kangen ya? he he he, ayo deh tapi jangan lama-lama ya. Pekerjaanku banyak  nih."


"Duh, yang menjadi kesayangan bos."


"Em, biasa saja, jangan begitu, aku bekerja sesuai  kapasitasku kok."


"Iya-iya tentu saja he he he."


"Bakal ada pesta nih Prita, kita nanti bareng ya."


"Pesta? aku kok belum tau ya."


"Setiap tahun ada acara pesta, perusahaan menyebutnya sebagai tanda bersyukur atas keberlimpahan rejeki,"


"Oh, pak Boy belum membicarakannya."


"Dia sudah merancang dan mencetak undangannya kok, di sebuah hotel bintang lima di pusat kota Jakarta,"


"Kapan waktunya?"


"Akhir bulan ini."


"Oh, dia belum memberitahuku."


"Sebab itu kita janjian pergi bareng, ongkos ke sana lumayan klo patungan bertiga lebih hemat."


"Oh, siap."


"He he he, kami yakin kau pasti mau pergi bareng, dari pada sendirian iya toh."


"Iya lah, masa aku ke pesta naik moge, mending naik taxi online kan bareng kalian."


"Sipp, sudah waktunya kerja."


Dian menatap jam tangannya, mereka segera menghabiskan minuman yang tersisa kemudian bergegas ke ruangan masing-masing. Prita tak habis pikir, ia beberapa hari ini bersama Boy , tapi laki-laki itu sama sekali tak membicarakan tentang pesta syukuran tersebut. Tetapi ia buru-buru menghilangkan pikiran yang tidak-tidak. Bisa jadi pak Boy juga tidak fokus memikirkan acara tersebut. Bukan yang penting menurutnya. Jadi ia tak melibatkan Prita.


Tak lama sesudah hari itu, Boy tiba-tiba mengajaknya pergi ke sebuah mall.


"Prita, ayo temani aku direkturmu."

__ADS_1


"Ketemu clien?"


"Bukan, udah jangan banyak tanya, ikuti saja aku."


Prita memiringkan bibirnya, laki-laki ini senang sekali dengan yang namanya dadakan. Apa-apa dadakan, dan ia harus selalu siap dengan dadakkannya itu, menyebalkan. Tetapi biarlah, bukankah ia diberi gaji yang besar dengan pekerjaan sebagai wakil direktur. Dirinya meski sama sekali tidak berpengalaman sama seperti pak Boy. Tetapi karena ia menguasai seluk beluk tentang perusahaan maka ia bisa mempresentasikannya, meski pada mulanya dengan tersendat dan gugup. Pengalamannya yang hanya beberapa bulan melayani konsumen  bersama Dian dan Marlina ternyata sangat berguna. Mengelola keuangan yang masuk dan keluar serta informasi harga ia pelajari dari kedua temannya.


Tak lama Boy dan Prita sudah berada di sebuah mall besar di kawasan Blok M.


"Loh, kok ke mall sih,"


"Memangnya kalau membeli baju kemana lagi kalau bukan ke Mall?"


Prita menarik garis bibirnya, dia juga tahu hal itu. Maksudnya apakah ke mall juga termasuk dalam pekerjaannya sebagai wakir direktur?


"Sebagai Direktur dan wakil direktur aku mau baju kita terkesan seragam, menambah keyakinan pada semua orang bahwa kita sangat solid. Terlihat dari bajunya."


"O, begitu ya?"


Prita mangut-mangut. Terlihat Boy bertanya sesuatu pada pramuniagawati. Lalu mengajak Prita ke lift menuju ke tempat yang ditunjukkan oleh pramuniagawati. Sebuah galeri gaun pesta untuk pasangan. Wah, Prita takjub sekali memandangi gaun-gaun cantik dan elegan itu.


"Ini kan tempat gaun wanita, memangnya mau membeli gaun? untuk siapa?"


Prita keheranan.


"Akhir bulat ada pesta yang diadakan oleh perusahaan, aku dan kau harus hadir dan tampil dihadapan para tamu mewakili perusahaan, karena itu pakaian pesta kita harus senada!"


Boy Indra menekankan mewakili perusahaan.


"Nggak perlu tahu, kan ada aku yang bakal mengajak ke pesta."


Prita mangut-mangut, pantas saja. Pasti nanti dadakkan lagi.


"Tapi akhir bulan, aku sudah ada janji."


"Batalkan saja!"


"Ya Rabb, kok begitu sih? sudah lebih duluan janji."


"Batalkan!"


Mereka saling menatap. Akhirnya Prita mengalah.


"Ayo pilih gaunmu!"


"Jadi, ke sini untuk membeli gaunku?"


"Pakaianku juga!"


Mereka terus saja bertengkar, hingga seorang  pramuniagawati memanggil keduanya dan memperlihatkan sebuah gaun yang indah.  Prita terpukau oleh modelnya. Keduanya bersamaan menyentuh gaun tersebut.

__ADS_1


"Model terbaru kami, desainernya baru saja mengantarnya tadi pagi untuk di pajang."


"Benarkah, cantik sekali, agaknya dibuat dengan cinta."


"Benar sekali kak, ini adalah toko milik desainer tersebut. Sudah bertahun-tahun ia tidak membuat gaun. Desainar kami itu  mengalami patah hati. Ia kehilangan harapan dan putus asa. Sampai tadi malam ia menelpon saya dan mengatakan bahwa ia ingin mengantar sepasang gaun pesta ini yang merupakan inspirasinya tentang pasangan muda yang akan mengenakan rancangan paling indah langsung dari jemarinya."


"Oh, jadi gaun ini memiliki kisahnya?"


"Begitulah kak, jika kakak berdua membeli gaun indah ini maka menyelamatkan karier desainer tersebut yang baru saja dimulai setelah dia tenggelam dalam kesedihan."


"Jika gaun ini pas dan cocok untuknya dan juga pas untukku, jangan khawatir  aku akan membayari gaun perempuan dan pakaian lelakinya, sekaligus."


"Silahkan kak, dicoba."


Gadis yang ramah dan tulus dalam bekerja itu membantu Prita ke kamar pas. Prita takjub sebab gaun itu melekat pas di tubuhnya. Jahitannya yang rapi serta detail modelnya dan warnanya yang lembut sangat cocok dengan pribadi Prita. Tetapi ia lebih melongo dengan harganya. Sepasang gaun dan baju lelakinya dihargai sebesar 150 juta. Prita mendekap mulutnya. Alasannya bahannya memang terbuat dari jenis kain yang termahal di dunia. Sang desainer telah menjual mobil mewahnya untuk membuat baju ciptaannya itu.


"Kalian adalah yang pertama melihat gaun ini, mungkin ia berjodoh dengan kalian."


"Oh iya kalau tak percaya dengan ceritaku, kalian bisa menelpon desainer kami, ia pasti baru sampai di rumahnya."


Edwing yang memang mengetahui barang-barang berkwalitas tentu saja mempercayainya, sekelebatan saja ia melihat galeri tersebut sudah mengetahui bahwa pemiliknya adalah seseorang yang mengetahui betul selera atas. Ia hanya membuat dari bahan-bahan gaun terbaik dan memberikan detail finishing yang sempurna. Gaun dan bajunya tampak menawan saat mereka memakainya.


"Tapi, mahal sekali."


Prita mengerutkan keningnya, ia baru melihat secara langsung gaun berharga 150 juta.


"Aku yang akan membayarnya, tapi nanti kupotong dari gajimu."


Edwing mengatakannya dengan dingin seperti tak berperasaan, Prita tentu saja menolaknya. Ia bukan gadis yang tergoda dengan kemewahan sebuah gaun.


"Aku tidak mau, terlalu mahal, sayang uangku."


"Ingatlah kita berdua mewakili sebuah perusahaan besar yang sedang berkembang, tampilan dirimu adalah gambaran perusahaan, sudahlah perusahaan yang akan membayarnya untuk kita, tapi tolong aku ingin minta kortingan pada desainernya."


Akhirnya si penjaga menyambungkan dengan desainer gaun tersebut. Edwing bilang bahwa ia ingin membeli gaun tersebut untuk seorang gadis yang istimewa. Dirinya dan gadis tersebut akan menghadiri pesta sebuah perusahaan, ia meminta sedikit potongan harga.


Tetapi si desainer meyakinkan bahwa  gaun tersebut tidak mahal. Ia menciptakannya selama dua tahun, menjahit sendiri dan membayangkan seorang gadis dan pria muda yang akan memakainya. Jika dibandingkan pengorbanannya menciptakan gaun tersebut, harga yang ia tetapkan tidaklah sebanding, gaun tersebut merupakan simbol status bagi seseorang.


Edwing tidak bisa berkata apa pun. Ia akhirnya menyetujui harga dari sang desainer. Hitung-hitung ia membantu membangkitkan galeri si desainer yang nyaris bangkrut. Transaksi pun terjadi. Gaun dan pasangannya segera di bungkus sangat rapi. Prita tidak bisa membayangkan ia akan ke pesta bersama Boy Indra dengan gaun pesta couple seharga 150 juta rupiah.


 



 


 


 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2