
Sementara Prita yang telah menggantikan Boy memimpin rapat mencatat beberapa hal. Ia akan memberikan catatan tersebut pada pak direktur. Selanjutnya ia kembali ke ruangannya. Dian dan Marlina mengajaknya ke kantin tapi kali ini Prita menolak. Gadis itu memiliki rencana sendiri. Ia harus pergi ke sebuah tempat. Menemui seseorang yang sangat penting.
Gadis itu bergegas turun meninggalkan gedung perkantorannya. Ia langsung mengambil motor. Setelah mengenakan jaket dan helmnya Prita melajukan motor kesayangannya tersebut. Seperti biasa jalanan kota Jakarta tak pernah sepi. Prita bergabung bersama ratusan pengendara lain. Terkadang ia harus berhenti oleh kemacetan, lalu nyelip diantara mobil-mobil. Sering juga gadis itu meluncur bak kilat. Prita yang tampak lembut kadang sikapnya bisa sangat agresif serta serius.
Atas usahanya yang berbahaya di jalan raya tadi, akhirnya Prita sampai di kantor orang yang akan ditemuinya. Gadis itu bergegas memasuki gedung perkantoran tersebut. Pak satpam yang ramah menanyai keperluannya. Ia langsung dipersilahkan masuk ke sebuah ruangan. Prita sedikit berdebar. Baru sekali ini ia ke kantor dan bertemu perempuan itu. Entah apa yang akan mereka bicarakan.
"Assalamualaikum."
Prita mengucapkan salam dengan lembut.
"Masuklah Prita."
Suara yang dia kenal. Keduanya saling bertatapan. Perempuan itu terlebih dahulu mengembangkan senyumnya dan mengajak gadis yang berdiri di depan pintu untuk masuk.
"Hello Prita apa kabar?"
"Alhamdulillah baik. Prita harap Bunda dan keluarga juga semua sehat."
Aamiin.
Prita menundukkan kepalanya mencium tangan perempuan itu. Keduanya berpelukkan dan mencium pipi.
"Sudah lama rasanya tak ketemu kamu Prita, sekarang sibuk karena sudah bekerja ya."
Prita hanya tersenyum. Baru saja mereka duduk saat perempuan itu seperti teringat sesuatu.
"Ini waktunya makan siang, bagaiman kalau kita makan di luar aja yuk. Nggak buru-buru kan?"
Mereka kembali berpandangan, Prita menggeleng. Ia memiliki waktu satu jam lagi untuk kembali ke kantor. Keduanya segera meninggalkan tempat itu.
"Pak antar kami ke rumah makan strawberry ya."
Perempuan itu dan Prita memasuki mobil mewah yang dikenderai seorang supir.
"Ok siap Bu."
Kembali Prita merasakan suasana jalanan yang macet serta diselingi banyaknya lampu merah. Untungnya tempat itu tak terlalu jauh. Mereka memasuki rumah makan bernuansa strawberry. Merah dan banyak gambar buah tersebut di berbagai tempat.
"Sudah lama Bunda tak makan di luar seperti ini."
"Lebih enak masakkan rumah Bun."
__ADS_1
"Iya sih, tetapi sesekali tak mengapakan Prita."
Prita mengangguk, ia belum juga tau apa maksud bunda Mardo mengajaknya ketemuan dan makan siang. Apa mungkin mau membicarakan hubungannya dengan Rakasiwi? gadis itu juga memutuskan akan menceritakan semuanya pada Mardo. Bahwa persangkaan Rakasiwi terhadapnya salah.
Keduanya memilih menu, Prita memilih nasi liwet lengkap. Perempuan di sebelahnyanya nasi dengan daging lada hitam bercampur sayuran, juga dua minuman hangat. Sesaat bisu dan keduanya seperti kehilangan kata-kata.
"Bunda."
Prita mencairkan suasana beku tersebut. Ia memanggil Mardo dan menatap matanya.
"Aku mau menjelaskan sesuatu pada Bunda, sebenarnya aku juga memikirkan pertemuan dengan bunda tetapi kesibukkan membuatku menunda."
Mardo tersenyum, ia menyentuh jemari Prita dengan lembut.
"Sudah, nggak apa-apa, kita semua bisa mengerti, kalau memang kalian berjodoh pasti tidak akan kemana-mana."
Prita mengangkat wajahnya menatap mata Mardo. Di sana tidak ada kemarahan serta rasa kecewa. Melainkan pengertian yang tiada batas untuk Prita. Rasanya Prita ingin merangkul dan memeluk perempuan di depannya. Ia tak yakin dengan pendengarannya. Tetapi Mardo mengulangi bahwa keluarganya tidak menuduh begitu saja. Sebab pasti ada alasannya.
"Iya bunda ada alasannya, ini yang akan Prita ungkapkan, mumpung ketemu bunda."
"Kalau hal itu membuat Prita merasa lebih baik, bunda senang sekali."
Mereka berhenti sesaat ketika pesanan datang. Mardo mendekatkan pesanan pada Prita.
Prita tersenyum. Ia senang oleh sikap Mardo yang lembut dan perhatian kepadanya.
"Ayo makan, selamat menikmati makan siang Prita."
"Makasih bunda Mardo, Prita senang oleh makan siang bersama ini, kapan-kapan gantian Prita yang ajak bunda makan siang ya."
"Wah, boleh-boleh, bunda menunggu ya."
Keduanya menikmati makan siang di tempat tersebut. Sesekali bercerita hal-hal yang ringan. Mardo bilang ia tak pernah melupakan sosok kecil Prita saat di taman kanak-kanak. Prita gadis kecil yang sangat berani dan pede. Ia selalu menyebut Prita setiap kali Rakasiwi cengeng dan ngambek.
"Bunda selalu menyebut Prita jika Rakasiwi rewel. Bahwa Prita saja berani dan tidak takut apa pun, masa kamu yang anak laki takut, cengeng dan manja, malu dong."
" Ha ha ha, terus gimana Bun? apakah Rakasiwi menjadi berani dan tidak cengeng?"
"Ha ha ha, cuman sebentar selanjutnya rewel dan cengeng lagi."
Mardo menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Untungnya itu saat masih kecil yang Bun, setelah besar tidak lagi ya."
"Iya Alhamdulillah, Rakasiwi tak pernah lagi bertingkah dan merepotkan. Ia menjadi pria idola junior."
"Pria idola junior?"
"He he he, iya. Sebab ayahnya dijuluki gadis-gadis sebagai pria Idola. Makanya Rakasiwi menjadi pria Idola junior.
"Oh, Prita baru tahu bun."
Mardo tersenyum. Ia mengingat saat remajanya bersaing dengan banyak gadis. Untungnya Raka mengabaikan dan sama sekali tak pernah menanggapi kelakuan gadis-gadis. Ia hanya fokus pada cinta pertamanya yakni Mardo. Sejak mulai menjadi remaja Raka telah menjaga dirinya dari pergaulan tak baik. Ia hanya memiliki tiga teman dekat sedangkan yang lain teman biasa.
"Ayah Raka selalu berpesan pada teman dekatnya agar mereka jangan pernah meninggalkan jejak menyakiti hati seorang pun wanita."
"Ayah Raka bagi bunda memang terbukti merupakan pria idola, hanya satu cinta, dan satu perempuan yang menempati relung hatinya. Ia menumpahkan semua pikirannya hanya pada kebahagian istri dan anak-anaknya."
"Wah, so sweet bun, Prita senang sekali mendengarnya."
"Alhamdulillah, ayah Raka seorang pria Idola. Dan Pria idola menjadi dambaan setiap perempuan. Perempuan ingin dirinya menjadi satu-satunya di hati seorang pria. Dicintai, memanjakan, membuat nyaman serta aman. Bunda sangat bahagia menjadi satu-satunya cinta bagi seorang pria idola."
Prita terkagum-kagum dengan semua yang dikatakan oleh Mardo. Gadis itu melihat sendiri betapa ayah Raka dan bunda Mardo sangat bahagia. Keduanya saling mencintai, percaya satu sama lain dan membuat masing-masing nyaman di sisi mereka.
"Bukan maksud bunda pamer, sekedar berbagi kesesama perempuan. Yang lebih penting bunda sangat berharap
Rakasiwi juga adalah pria idola."
"Aamiin yra."
"Oia, bunda juga terkejut saat mengetahui cara kalian bertemu. Tak berbeda dengan apa yang bunda alami. Bunda dan ayah Raka bertemu dan berkenalan setelah acara bertabrakan di bandara. Sedangkan kalian bertabrakan di stasiun iya kan?"
"Oh, iya benar! itu benar Bun ha ha ha."
Kedua perempuan yang berbeda usia itu saling tertawa geli. Mereka lebih terlihat seperti teman yang akrab. Dari pada calon mantu dan calon mertua.
__ADS_1
Bersambung