
Suasana pagi yang ceria. Keluarga Bramantyo memulai hari dengan kemanisan-kemanisan yang indah. Saling menyapa dan memberikan senyum paling indah.
"Jadi putri ayah hari ini akan ke kantor bersama ayah?"
Raka yang telah mengenakan setelan kantor beserta dasi menegur Cindy yang juga telah siap pergi bersama ayahnya yang tampan. Gadis itu yang sedang duduk tegak di ruang keluarga sambil menonton tivi dan berdandan. Ia membawa tas yang berisi perlengkapan perhiasannya. Ia sedang mempertegas alisnya dengan pensil. Cindy menolehi ayah Raka yang berjalan ke dekatnya dan duduk tak jauh darinya.
"Jadi dong Ayah, dari pada bengong di rumah. Mending aku ikut ayah dan belajar bisnis bersama ayah, iya kan?"
"Yups, betul. Harus semangat."
"Ayah! memangnya sudah mau berangkat? aku belum mandi. Tria juga ingin ikut ke kantor bersama kak Cindy."
Tria menuruni tangga dan bergegas mendekati ayahnya dan bergelayut di lehernya. Baju tidurnya yang gedombrangan tak ia perdulikan. Begitu juga rambutnya.
"Ish, ini baju ayah nanti kusut loh."
Tria memajukan bibirnya lima centi karena ayahnya menolak untuk menjadi tempat bergelayutannya. Ia lantas duduk dekat Cindy dan mengamati kakaknya yang sedang berdandan. Kemudian mengambil susu hangat yang setiap pagi disediakan oleh mba Wiwin di meja tempat berkumpul keluarga itu.
"Ayah, minta uang, Tria mau beli kosmetik kayak kak Cindy."
"Nih, kebetulan di dompet ayah sedang ada uangnya."
Raka mengambil dompetnya dan mengeluarkan uang tiga ratus ribu.
"Asyik, aku nanti mau mau ke mall sama teman-teman."
Gadis remaja itu terlihat senang. Cindy menolehinya dan menasehati agar membeli kosmetik yang perlu saja. Dan harus yang sesuai dengan usia. Cindy memberitahu tentang merk kosmetik yang khusus digunakan remaja seusia Tria.
Tak lama turun Dode dan Rama yang mengocek-ngocek mata mereka.
"Hello sini pangeran-pangeran ayah, kalian masih libur ya?"
Raka mengembangkan tangannya untuk Rama di sebelah kanan dan Dode di kirinya. Triia mencebir.
"Pangeran kodok dan pangeran bangau!"
Ledek Tria, membuat adik-adiknya menolehi dan tersenyum smirk.
"Sibungsu ayah, pangeran ayah ini loh, Dode juga yang akur ya anak-anak ayah."
"Itu Yah yang suka nakal."
Sambil menunjuk pada Tria.
"Enak aja, nakal apaan? apaan ayo!"
__ADS_1
Mata Tria dibesar-besarkan sambil mau menyentil adik-adiknya. Ruangan itu menjadi ramai oleh teriakan-teriakkan anak-anak Raka dan Mardo. Sampai Mardo datang melerai keributan itu. Cindy hanya tersenyum melihat keramaian itu. Ternyata dari dulu sampai sekarang suasanannya tak berubah. Dode dan Rama sudah besar tapi masih seperti anak kecil.
"Sarapan dulu Pi, sudah siap, Cindy, Tria, Dode sama Rama juga sekalian sama ayah dan kakak ya. Bunda mau siap-siap juga ke kantor."
Mardo menghalau anak-anak untuk sarapan. Raka segera bergegas, dikejar oleh Dode, Rama dan Tria. Sedangkan Cindy lebih kalem. Ia menyusul di belakang ayah dan adik-adiknya.
***
Selamat Pagi!
Selamat Pagi!
Selamat Pagi!
Raka dan Cindy mendapatkan sapaan selamat pagi dari seluruh karyawan yang mereka lewati. Semua mata memandang laki gagah, tampan dan berkharisma itu, usia dewasa yang memperlihatkan kematangannya. Di sisinya berjalan gadis cantik, modis dan smart. Mereka segera menuju lantai lima tempat Raka berkantor. Di sana juga ada ruangan Deni dan juga Sammy. Serta di pintu ada petugas yang selalu berjaga. Serta sekretaris yang melayani Raka, Deni dan juga Sammy.
"Hello, selamat pagi Bu Anne, semoga harimu menyenangkan."
Raka menyapa perempuan setengah baya yang sudah lama bekerja padanya dan juga Deni dan Sammy.
"Pagi pak Raka, aamiin terima kasih, hello gadis cantik, apa kabarmu? sedang liburan nih?"
Anne menatap pada Cindy dan mengembangkan senyumnya. Setelah memberi salam Raka mengajak masuk ke ruangannya. Deny dan Sammy mendengar suara Raka. Segera mereka keluar dari ruangan mereka dan hampir bersamaan nonggol di ambang pintu.
Keduanya melenggang masuk ke ruangan Raka, dan melihat Cindy yang sudah menjelma menjadi gadis dewasa.
"Hei Den, Sam, apa kabar kalian? tidak kurang sesuatu apa pun?"
"Alhamdulillah Ka, berkat doamu, kami baik-baik dan sehat Bro."
"Syukurlah, kalau begitu, anak-anak tidak ada masalah?"
Kedua laki-laki itu sama menggeleng. Pertanda baik-baik saja.
"Enak Bro, kamu sudah memiliki pengganti, kalau aku dan Sammy masih kecil-kecil he he he."
"Salah sendiri, suruh siapa menikahnya telat."
Raka mengajak ke dua sahabatnya duduk di sofa, sudah lama mereka tak berbincang-bincang akrab. Hari-hari ketiganya sibuk pergi memonitor cafe-cafe yang menjadi mitra Pria Idola. Jumlahnya hampir mencapai 10 ribu di seluruh Indonesia. Tentu saja ketiganya bergantian mengerjakan hal tersebut. Ketiga sahabat itu sibuk dan hanya sekali waktu mereka menyediakan waktu membicarakan hal-hal yang penting.
"Ada yang ingin kubicarakan dengan kalian?"
"Tentang apa nih Bro."
"Tahun baru nanti, aku ingin mengajak istriku bulan madu, bagaimana dengan kalian?"
__ADS_1
Cindy membesarkan matanya mendengar ayahnya ingin pergi bulan madu. Tenyata Deni dan Sammy juga menginginkan hal itu. Mereka ribut berdiskusi akan ke negara mana mereka pergi.
"Sementara waktu aku akan menyerahkan perusahaan pada putriku Cindy."
"Tapi ayah! aku tak mengerti apa-apa."
Cindy kalut. semula ia hanya ingin bermain dan melihat-lihat suasana di perusahaan ayahnya, tetapi tiba-tiba mereka bertiga memiliki rencana yang sama. Memberikan wewenang kepada Cindy. Gadis itu hampir menangis ketakutan sebab tak bisa.
"Tenang saja, ada sekretaris dan juga pak Leo yang membantu."
"Lagi pula masih ada beberapa bulan, ayah, om Deni dan Om Sammy akan mengajarimu ok."
"Ah Ayah, aku kesini untuk bersenang-senang belum saatnya."
"Coba saja dulu, kau gadis yang hebat."
Cindy tak berkutik melawan tiga laki-laki.
"Kita meeting jam berapa?"
Deni memanggil sekretaris Anne untuk memastikan.
"Jam sepuluh pak."
Kata perempuan itu sambil membawa buku agendanya.
"Ok, sebentar lagi. Ayah akan memperkenalkanmu dengan para manager."
Cindy cemberut, tetapi tak bisa mundur lagi. Sekarang atau nanti Cindy akan terjun juga ke perusahaan ayahnya.
"Aku siap Yah. Baiklah aku ikut meeting, semangattt!"
Cindy berteriak sambil mengangkat tangannya.
"Anak siapa dulu?"
Raka tersenyum pada Deni dan Sammy . Dua sahabatnya saling menatap.
"Anak sendiri kok lupa ha ha ha."
Mereka tertawa lepas hingga terdengar ke luar, terutama bu Anne sang sekretaris. Ia menggeleng-gelengkan kepala mendengar kecerian bos-bosnya. Sangat jarang ketiga orang itu muncul di kantor secara barengan. Hari-hari hanya satu orang yang ada di perusahaan.
"Ok, sekarang saatnya."
Raka bangkit dari duduknya mengambil tas di atas meja. Deni dan Sammy juga bergegas ke ruangan masing-masing mengambil tas kerja dan bersama pergi ke ruangan meeting di lantai ke 8. Cindy berada diantara mereka.
__ADS_1
Bersambung