Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode. 297.Nasehat Papa Untuk Alfredo


__ADS_3

Setelah drama pura-pura tidak mendengar  dari papa Alfredo terlewati sekarang laki-laki itu menarik tubuhnya dari sandaran kursi. Laki-laki itu menatap Alfredo lantas melebarkan senyumnya.


"Papa siap melamarkan gadis yang kau inginkan itu. Tapi apa mamas sudah membicarakannya dengan gadis itu? sudah siap menikah? dan menjadi kepala keluarga? banyak hal-hal yang harus dimengerti jika  seorang laki-laki sudah siap menikah."


"Aku sudah siap Pa, Cindy juga."


"Bagus, kalau begitu, yakin siap mental, jiwa, raga dan juga uang,"


"Papa tahu aku sudah bekerja, memiliki rumah, mobil meski masih mencicil. Kami justru  ingin memulainya bersama dari susah Pa. Jadi kami nanti tahu pahit dan getirnya merintis usaha. Akan terasa manis."


Laki-laki itu dan anak lakinya mengobrol mengenai rencana lamaran tersebut. Laki-laki ayahnya menanyakan kesiapan menjadi seorang suami. Karena banyak hal yang harus dimengerti. Bahwa menikahi seorang perempuan maka ia akan bertanggung jawab sepenuhnya atas perempuan tersebut. Setelah laki-laki menyandang statusnya menjadi suami maka ia diberi tanggung jawab yang besar. Bukan hanya  memberikan nafkah lahir dan batin, tetapi juga hal-hal lain.


Bahwa nanti setelah ia menjadi  suami mestilah bergaul serta bertutur kata yang lembut kepada istrinya, untuk menjaga hubungan suami istri.  Menunjukkan kasih sayang, meski dalam keadaan marah. Rahasia kesuksesan laki-laki di dalam perkawinannya adalah ungkapan cintanya kepada istrinya. Jika seorang suami kerampas kebaikan seorang maka istri akan kehilangan minat pada rumahnya serta anak-anaknya. Rumahnya dingin sebab dia tidak tertarik melakukan upaya apa pun untuk orang yang tidak mencintainya.


Bersifat lapang dada saat sendiri. Suami harus mandiri sehingga saat istri tidak di rumah bisa melayani diri sendiri dan tidak mengeluh. Kemudian sifat memaafkan istri bila berbuat salah, tetap berkomunikasi dengan baik saat menyelesaikan problem. Suami tidak banyak berdebat, sebaiknya seorang suami lebih mengalah dan menghargai pendapat istri meski ia kurang setuju.


Ternyata berbincang dengan papanya ia banyak mendapat pengetahuan seputar kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai suami. Seorang suami juga harus menjaga harta istrinya. Mahar yang sudah diberikan kepada istri tidak boleh diminta atau diambil tanpa seijinnya sebab hal itu dilarang dan sifat yang tidak terpuji. Memulikan keluarga istri termasuk kewajiban suami juga.  Seorang istri memiliki hubungan emosional yang kuat dengan keluarganya. Suami harus bersikap baik, hormat terhadap keluarga istri.


Seorang suami juga tak boleh pelit terhadap istrinya. Suami berkewajiban memenuhi kebutuhan finansial istrinya. Suami tidak boleh pelit sebab akan berdampak pada keharmonisan rumah tangga. Suami sebaiknya bersikap longgar terhadap istrinya serta membantunya ketika menghadapi masalah keuangan, baik karena kesalahannya atau orang lain. Suami tak boleh membiarkan istri terjerat masalahnya.


"Menikah dengan seorang perempuan bukanlah mempekerjakan seorang pembantu. Istri adalah pasangan dan teman yang akan hidup bersamanya selama sisa hidup seseorang. Suami adalah pemelihara perempuan karena ia diberi keunggulan dan kelebihan dibanding perempuan. Itulah sebabnya ia bertanggung jawab lebih besar dan banyak serta sanggup  melewati kesulitan dalam menghidupi keluarganya."


"Laki-laki  yang menyiapkan dasar kebahagian pernikahan, dia yang mengubah rumah menjadi surga bagi istrinya. Rahasia keharmonisan  rumah tangga adalah cara merawat istri , harus belajar memperlakukan istri sehingga laki-laki berubah menjadi malaikat bagi istri dan keluarganya."


"Siap Pa, keren banget nasehatnya he he he."


"Kalau di depan orang banyak Papa tak bisa memberikan nasehat ini kepadamu, jadi papa mendahului penasehat pernikahan memberikanmu bekal kehidupan. Semoga bermanfaat."


"Jadi nanti apa yang papa dan mama siapkan? bagaimana dengan cincinya? sudah tersedia?"


"Besok aku dan Cindy akan mencari Pa, aku sudah tahu tempatnya."

__ADS_1


Keluarga kecil itu tampak bahagia. Mereka lantas meninggalkan tempat itu pergi makan siang yang sedikit terlambat.


Di sebuah tempat, seorang laki-laki muda tengah berusaha memahami cerita ibunya. Ia mengigit bibir dan matanya tajam menatap pada kejauhan.


"Hem, jadi papaku dulu jatuh cinta pada perempuan itu. Tapi dia menolak Papa. Rasa sakit itu di lampiaskannya pada mama."


"Kenapa cerita itu terulang pada diriku? aku jatuh cinta pada Cindy yang sudah memiliki kekasih."


"Hah! menyebalkan!"


Laki-laki muda yang tak lain adalah Raffaza mengepalkan tangannya, perasaannya berkecamuk campur aduk. Ia berusaha menghilangkan perasaan itu dalam dirinya tapi, semakin ia berusaha mengabaikan itu makin bayangan Cindy menguasai dirinya.


"Cindy Larasati, aku jatuh cinta padamu!"


Ia berteriak-teriak di dalam apartemennya. Berjalan mondar-mandir di ruangan tersebut. Ia menyesal kenapa baru bertemu dengan Cindy. Kenapa bukan dia yang lebih duluan mengenal dan mencintai gadis itu.


"A-aku tidak mau mengalami rasa terluka seperti papa. Aku harus berpikir sesuatu."


Baru saja ia hendak beranjak setelah segar dan wangi, tiba-tiba ada yang mengetuk pintunya. Laki-laki itu memutar kunci dan membuka pintu. Ia terkejut sebab di hadapannya berdiri gadis yang sedikit pun tidak ada dalam pikirannya.


"Kau!"


"Mau apa kau kesini?"


"Aku sengaja ke tempatmu untuk mengantar makan malam, bibiku ulang tahun dan kami merayakannya dengan memasak banyak makanan, sekalian merayakan keberhasilanku juga."


Raffaza terbengong tapi ia tak bisa mengusir gadis itu. Ia membiarkan Diana masuk dan meletakkan makanan yang di bawanya di atas meja makan.  Ia menatanya dalam piring dan mangkok.


"Cepatlah! karena aku mau pergi!"


Diana menoleh, Raffaza memang ingin keluar tadi saat ia datang. Mungkin ada keperluan.

__ADS_1


"Sebentar lagi magrib, kenapa kau tak pergi setelah magrib, dan mencicipi makanan dan kue ulang tahunnya."


Raffaza memandang gadis itu sengit, beraninya dia mengatur hidupku. Memang dia siapa?


"Oh maaf kan aku, baiklah. Aku hanya mengantar makanannya."


Gadis itu setengah berlari menuju ke pintu yang telah dikuakkan oleh Raffaza. Laki-laki itu mengucapkan terima kasih. Ia menyusul Diana memasuki lift dan turun. Keduanya saling membisu.


"Ayo kuantar, kau sudah repot-repot mengantar makanan itu ke tempatku."


Diana menatap Raffaza, "Memangnya kau tak buru-buru?"


"Tidak! hanya mau menemui temanku sebentar saja kok."


Melihat Raffaza tersenyum, akhirnya Diana mengikuti laki-laki itu dan naik ke mobil. Kemudian mereka meluncur menuju rumah Diana. Sepanjang jalan keduanya lebih banyak membisu. Sesekali Diana melirik pada Raffaza. Tapi laki-laki itu fokus mengenderai mobilnya.


 


 


 


 


Hello, teman-teman ternyata menulis di Mangatoon/Noveltoon tidak mendapatkan penghasilan ya, terus terang merasa lelah. Sebab itu kemungkinan Pria Idola akan saya pindah season lanjutannya di platfrom lain. Sedang mencari  dan nanti  diinfokan. Makasih dukungannya selama ini ya.


 


 


 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2