Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 46. Richi Marah


__ADS_3

Mobil yang dikenderai oleh Raka meluncur meninggalkan gedung pertemuan. Ia tidak tau Richi mengejar mereka sesaat tadi. Ia penuh obsesi membawa Mardo dari acara tersebut. Sekarang gadis itu membisu di sampingnya.


"Hei, kenapa diam seperti itu?"


Mardo membalikkan tubuhnya membelakangi pria itu yang telah merengutnya dari teman teman dan acara perpisahan yang belum usai.


Raka malah tertawa melihat tingkah gadis itu.


"Acara itu sudah akan berakhir cantik, untuk apa ditunggu sampai selesai. Aku juga sudah bermain gitar, apa lagi?"


Raka terus membujuk dan mengajak bicara. Ia suka merajuknya Mardo, cara marahnya, apa lagi saat tersenyum dan berdebat. Semua ia sukai.


Raka turun ke area pantai. Dari atas cantik sekali pemandangan di sana. Lampu lampu sepanjang garis pantai. Beberapa kapal yang berlabuh serta restoran dan cafe masih mewarnai tempat tersebut. Raka membawa kenderaannya menjauh dari keramaian. Ia ingin berdua saja dengan Mardo.


Raka menghentikan mobilnya. Sesaat bisu.Hanya terdengar debur ombak serta desau angin dari laut. Bulan bersinar, suasana malam itu memang indah dan ceria. Seolah tau gadis gadis smp sedang mengadakan pesta perpisahan. Di depan terlihat buih buih keputihan diantara kegelapan malam. Bunyi debur ombak sayup sayup.


Raka mematikan mesin mobil, sehingga yang terdengar hanya bunyi ombak dan desau angin. Raka menolehi Mardo yang masih merajuk.


"Aku minta maaf, telah membawa kamu dengan caraku."


Mardo tak bergeming.


"Ada yang ingin kukatakan, apa kamu mau mendengarnya atau kita kembali?"


Raka menunggu, ia tau caranya salah. Tapi ia tak sabar ingin mengutarakan sesuatu.


Mardo memang sangat kesal pada cowo ini. Sikapnya tak bisa diduga.


Hening diantara mereka. Raka lantas membuka mobil dan keluar. Rambut dan bajunya  beterbangan.


Ia berjalan menuju ke pantai, meninggalkan Mardo. Dan gadis itu terkesiap. Ia tak mau sendirian di dalam mobil.


Cepat cepat ia membuka mobil dan memanggil Raka.


"Kak Raka, mari kita pulang!"


Tapi Raka malah duduk di pasir pantai dan bersikap menikmati keindahan di depannya.


Mardo semakin bergegas dan akhirnya berdiri dekat dengan Raka.


"Kak Raka, ayo pulang," Mardo setengah mengeluh. Ia mulai merasa dingin.


"Aku nggak akan pulang sebelum mengatakannya kepadamu."


Mardo tercenung, sedikit banyak ia sudah tau bagaiman sikap dan perangai pria idola. Akhirnya Mardo ikut duduk. Ia tak bisa membohongi dirinya bahwa ia telah suka pada Raka.


"Mau ngomong apa ya? bikin penasaran aja."


Mardo berusaha santai.


"Penasaran nih yaa?" Raka tertawa sembari berdiri.


"Mardo! aku jatuh cinta padamu, Aku ingin kau menjadi gadisku, pacarku, kekasih hatiku."


Raka berteriak keras keras, hingga suaranya parau dan terbawa oleh ombak.


Mardo mendekap mulutnya, ia tak menyangka Raka akan menembaknya di pantai kota Eksotik.

__ADS_1


Raka berbalik menghadap pada Mardo yang masih terkesiap dan menutup mulutnya.


"Aku jatuh cinta yang pertama dalam hidupku, dadaku berdebar hebat setiap kali melihatmu, merindukan setiap waktu, aku seperti gila dan tak mengerti apa yang terjadi denganku. Aku tersiksa oleh perasaan ini."


"Mardo, kau adalah cinta pertama dan terakhirku."


Raka merasa lega setelah mencurahkan perasaannya.


Mardo mundur beberapa langkah. Ia berbalik membelakangi Raka. Gadis itu sangat terkejut.


Ia tidak tau harus mengatakan apa.


Kenapa hanya seperti itu sih? sama sekali tidak seromantis di film-film. Semula Mardo membayangkan Raka akan membawanya ketempat yang sangat indah. Misalnya naik helikopter kesebuah pulau. Membuat pesta untuk berdua. Atau membawanya ke restoran yang mewah dengan lilin yang menyala di sekeliling mereka.


"Tidak perlu menjawabnhya sekarang, nanti saja setelah kamu siap. Tapi yang jelas itulah yang kurasakan. Aku jatuh cinta yang pertama pada kamu Mardo, ka-kamu cinta sejatiku."


"Tidak tidak!"


Mardo gelagapan, ia berbalik menatap pada Raka yang tampan.


"Terima kasih Kak Raka, a-aku sungguh tersanjung. Ta-tapi aku belum memikirkan hal seperti ini. Aku masih anak kecil, masih smp. Orang tuaku ingin aku sekolah yang baik dan tidak pacaran."


Mardo mengucapkannya dengan lancar. Sembari menatap Raka. Suaranya begitu lembut dan merdu.


"Iya , aku tau. Aku janji tidak akan membuat sekolahmu terganggu. Aku juga harus melanjutkan studiku. Mungkin tiga atau empat tahun lagi aku baru akan melamarmu."


"Hah!, saat itu aku baru lulus smu. Aku ingin kuliah seperti teman temanku nanti, aku tak ingin menikah muda."


"Kau bisa kuliah meski sudah menikah."


Mereka berpandangan, Raka meyakinkan gadis itu.


Mardo beranjak menuju mobil, ia cemberut.


'A-aku pikir suatu saat dia akan nembak aku dengan suasana yang keren, hemm, tidak seperti ini, mentang-mentang pelaut.'


Raka mendengar gumaman bernada keluhan, dan ia lihat cara gadis itu berjalan menyeret-nyeret kakinya.


"Ada apa?"


Mardo membuang muka melengos.


"Kita makan malam yuk," Raka setengah berlari meninggalkan gadis itu yang juga ikut lari mengejar Raka.


"Ich, kenapa sih suka banget meninggalkan aku sendirian?  aku takut tahu!"


"He he he, hanya untuk membuatmu bersemangat."


"Tara!'


Raka membawa gadis itu ke sebuah restoran mungil dekat pelabuhan.


Sebuah ruangan yang dihias khusus. Hanya untuk berdua.


"Mari, kita menikmati makan malam tak terlupakan."


Mardo menggaruk-garuk tepi rambutnya, ia tidak siap menghadapi keromantisan ini.

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar bunyi gitar, itu petikkan jemari Raka, sebuah layar terbentang di dinding.


Memperlihatkan Raka yang tengah bermain gitar.


'Cinta pertamaku


kau gadis cinta pertamaku


kumenemukan cinta pertamaku


kau lah gadis cinta pertamaku


"Ayo, kemarilah duduk di dekatku."


Mardo kemalu-maluan melangkah masuk, ternyata ia juga mendapatkan perlakuan istimewa.


Bibir gadis itu tersenyum, sementara Raka menatapnya penuh arti.


"So sweet, hemmm."


"Untukmu cinta pertamaku, ciuman pertamaku."


Keduanya mengangkat gelas dan kemudian sama-sama minum, hoh, segar sekali minuman itu.


Mardo menjilati bibirnya. Raka menatapnya lembut.


Setelah minum, lanjut dengan makan malam yang sangat nikmat.


 


Richi marah sekali malam itu. Ia pulang ke rumah tanpa berkata sepatah katapun.


Ia masuk ke kamar Raka dan menghancurkan barang barang kakaknya.


"Brengksek kau kak Raka! brengsek."


Gitar yang tergantung di  dinding di banting dan dipukulkan ke cermin, meja dan barang barang yang ada di situ.


Sekejap saja kamar itu telah menjadi berantakan dan hancur.


Richi lantas keluar dengan wajah merah padam.


Betapa kecewanya dia, melihat Raka menarik tangan Mardo meninggalkan gedung tempat pesta tengah berlangsung. Padahal ia sudah mempersiapkan sesuatu untuk Mardo. Semua berantakkan karena ulah kak Raka.


Kak Raka!


Richi berteriak berkali-kali sembari meninju tembok. Hingga tangannya sakit dan memar.


Di kamarnya ia masih  meluapkan kemarahannya. Membuang buku dan benda benda dari meja belajarnya. Tangannya mengucur darah karena terkena pecahan kaca. Richi tak perduli.


Kemudian ia membanting dirinya ke tempat tidur. Mematikan lampu dengan kasar dan terisak isak sembari memeluk bantal.


 


Bersambung


 

__ADS_1


 


__ADS_2