
Mardo mengigit bibir dan meremas-remas jemarinya. Ia sangat senang ketemu dengan kak Raka. Kenangan yang pernah terjalin diantara mereka seperti berputar lagi satu demi satu. Cinta masa remajanya yang manis, ciuman pertama serta tautan hati yang dalam tak akan pernah bisa hilang dari bagian hidupnya. Mardo menyimpannya rapi di relung hatinya. Berharap suatu ketika tersambung kembali.
Tujun tahun, sebentar saja. Begitu banyak kejadian yang dialami tak terelakkan.
Kesibukkan sekolah, berbagai kursus dan hal lainnya, membuat Mardo bisa melupakan kak Raka dan juga
teman-teman di kota eksotik. Kota Jakarta dengan segala kemegahan dan kemeriahannya sungguh melenakan
setiap orang. Banyak permainan, kegembiraan, hura-hura serta pesta.
Raka menunggu di kantor, namun Mardo tak kembali. Pria itu melangkah dengan lesu menuju ke mobilnya.
Ia memutuskan ke rumah Mardo di area Sunter.
Mami terkejut saat Raka datang sendirian, padahal mereka tadi pergi berbarengan.
"Mardo belum pulang, bu-bukannya bersama Nak Raka?"
Raka mengercitkan keningnya, ada sesuatu yang ingin ia tanyakan. Tapi tak jadi.
Mami kelihatannya tidak tau apa-apa. Raka memilih pulang.
*****
Mardo berlari ke sebuah rumah kecil. Ia sudah menelpun Khairani sepupunya mau datang.
Begitu Mardo muncul, Khai membukakan pintu.
"Ada apa Kak? bukankah semuanya baik-baik saja?"
Mardo mengeleng-gelengkan kepalanya.
"A-aku tidak mencintai Donny Khai, aku tidak bisa!"
Khairani terdiam, ia ikut andil dalam masalah Mardo dan Donny.
Seandainya ia tak mengajak Mardo pulang ke kampung halaman ketika itu.
Semua tidak akan terjadi.
"Kakak, sudah makan? aku masak tumis bunga pepaya kesukaan kakak."
Mardo, menggelengkan kepala, "Aku mau tidur Khai, rasanya mengantuk."
"Oh, kakak ke kamar aja, aku baru menganti sprai dan bantalnya."
Mardo pergi dan masuk ke kamar yang kosong.
Gadis itu membaringkan tubuhnya dan memejamkan mata. Saat ia sudah pasrah
pada cinta masa remajanya yang hilang. Dan bertemu tiba-tiba dengan Donny.
Dan hal itu baru saja terjadi. Gadis itu memejamkan mata, mengulangi kembali semua hal
mengenai Donny Devien.
Entah kenapa sore itu Mardo mampir mengunjungi sepupunya Khairani.
Dulu Khairani tinggal bersama mereka. Setelah bekerja di sebuah perusahaan besar ia
memutuskan pindah ke sebuah rumah cicilan. Agak sedikit di pojok kota. Tapi masih
bisa dicapai dengan mudah.
Dan Khairani mengajaknya cuti beberapa hari menghilangkan kepala yang suntuk.
"Aku kangen Inang dan Amang kak, sudah empat tahun aku tak pernah pulang."
Mardo ketika itu hanya mendengarkan saja. Ingatan pada kampung halaman hanya samar.
Mereka pindah ke Aceh ketika Mangara dan dia masih sangat kecil. Tidak sesuatu yang ia rindukan
di sana.
__ADS_1
"Kakak memang tidak ingat siapa pun, tapi mbou kita, tulang, nantulang selalu menanyakan kakak."
Mereka merindukan gadis kecil yang cengeng dan pemalu.
Khairani terus merayu agar sepupunya itu mau pulang menemaninya.
Dan singkatnya ia tertarik ikut. Papi dan Mami mengijinkan. Dengan syarat Khairani harus
menjaga Mardo jangan sampai sesuatu terjadi padanya.
Khai memenuhi persyaratan itu. Ia janji akan menjaga kakak sepupunya dengan sebaik-baiknya.
Papi mempercayai gadis itu. Khai juga harus merubah rencananya yang semula pulang dengan menggunakan bis Sampagul menjadi pesawat garuda. Papi yang membayar tiketnya.
Sehari saja mereka telah sampai di kampung halaman.
Ayah Khairani telah menunggu mereka di tepi jalan, di warung kopi.
"Kak, kita sampai! aku mengenali tempat itu, siap-siap kita Kak!"
Khairani memberitahu supir agar berhenti di persimpangan, di warung-warung kopi yang bertebaran
di perhentian bernama simpang itu.
"Ayah! aku pulang!"
Khairani hesteris melihat pria setengah baya yang tinggi langsing memakai kopiah.
Mereka berpelukkan.
Heboh sekali keluarga Khairani, mereka semua menumpahkan kerinduan.
Mardo tersenyum dan ikut bahagia.
Sore harinya, Khairani terlihat tersipu-sipu dan jengah.
Pacarnya akan datang. Khairani sudah berhubungan dengan pria itu sejak SMA hingga mereka
Khairani tidak tahu kalau pacarnya membawa temannya, kata Azhar, temannya ingin
melihat perkampungan.
Tak lama setelah menemui Azhar di halaman, di sana ada tempat duduk untuk menikmati
sunset. Khairani masuk dan mengajak Mardo keluar.
"Kak, yuk aku kenalin Az dan temannya, ganteng banget kak."
Agak kemalasan Mardo mengikuti Khai ke taman. Ia melihat dua pria di sana.
Yang satu langsung menyambutnya dengan sopan. Sedangkan yang tinggi dan berisi badannya
lagi asyik memandangi pemandangan jauh di depan. Pria itu memang mendengar Khairani akan
memanggil kakaknya. Ia tidak antusias, karena menurutnya pasti gadis kampung desa itu tidak cantik
seperti kreterianya. Ia kemalasan menoleh.
"Kak Donny! ini kak Mardo sepupuku."
Oh iya! lelaki itu menoleh sekejap dan kembali melihat pemandangan, ia menoleh lagi
seolah meyakinkan matanya.
"Kak Donny sayangnya besok sudah mau pulang ke Medan, bilangnya bosan he he."
Donny mendekat dan mengulurkan tangannya pada Mardo.
Mereka berjabat tangan. Donny tak melepaskan pandangannya, ia tak percaya tapi
gadis di depannya langsung mempesonanya.
Pria muda itu terpukau oleh kehalusan dan lembut tubuh yang tertangkap matanya.
__ADS_1
Gerak-geriknya yang luwes dan lentuk.
'Ya Tuhan, dia lebih cantik dan nyata dari Barbie.'
Sepupu Khairani, kok nggak bilang-bilang secantik itu?
Donny menyalahkan Azhar yang mengajaknya jalan-jalan ke kampung halaman.
Sesekali turun gunung, kata Azhar.
Pertemuan yang sekejap itu telah merubah rencana Donny. Semula ia akan pulang
besok pagi, tapi tiba-tiba ia bilang pada Azhar, tidak jadi pulang. Ada sesuatu yang
menahanya. Azhar sempat bingung. Apa yang menahan pemilik perusahaan tempat
Azhar bekerja itu? dan terjawab sendiri ketika Donny menanyakan tentang Mardo.
"Mardo itu sepupu pacarmu Az?"
Azhar langsung mengerti, laki-laki ini memang sedang mencari-cari calon
pendamping hidup.
Azhar sering melihat ia berganti-ganti kekasih. Hanya bertahan sebentar kemudian
sudah berganti lagi. Terkadang hanya karena perempuan itu mengoleskan lipstick
di bibirnya saat bersamanya langsung ia putuskan. Atau bersendawa di depannya
maka terdengar di telpun, "Maaf kan aku, bukan salahmu, tetapi salahku."
Itu adalah kata-kata yang sudah dihapal Azhar, karena terlalu sering diucapak terhadap
perempuan dikehidupannya.
'Agaknya dia mencari wanita yang sempurna, aku khawatir.'
Azhar memikirkan Donny yang agaknya menyukai sepupu Khairani.
Apakah ia senang atau malah sebaliknya cemas.
Azhar gelisah. Ia tidak ingin terlibat jika sesuatu terjadi. Atau sebaiknya ia menyuruh
Donny pulang seperti rencananya.
Ia keluar dari kamarnya, kebetulan Donny juga.
"Loh dikira sudah tidur."
"Mau kemana? kok kelihatannya mau pergi.
Donny menatapi Azhar yang memegang kunci motor.
"Hem anu, mau ketemu Khairani sebentar."
"Boleh aku ikut? sepertinya di luar adem?"
Terpaksa Azhar mengangguk-anggukkan kepala.
'Semoga gadis itu juga keluar bersama Khairani'.
'Mardo Aku ingin ketemu kamu lagi.'
Donny berharap di dalam hati.
Bersambung
__ADS_1