Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 258. Rakasiwi Pergi Menuntut Ilmu


__ADS_3

Setelah tiga hari menikmati kehidupan baru yang sangat menakjubkan. Mereka mengunjungi kedua rumah orang tua mereka. Satu malam di rumah Rakasiwi, dan semalam di rumah mama Risa. Selanjutnya mereka bulan madu ke Jerman. Sebenarnya tidak ada rencana bulan madu ke negara tersebut. Tetapi ayah Rakasiwi memberitahu putranya bahwa ada panggilan dari universitas Jerman untuk Master of Engineering. Rakasiwi memang mendambakan sejak lama bisa ke negara tersebut. Begitu ada kesempatan jauh sebelum lamaran dan pernikahannya ia sudah mengurus semuanya. Setiap liburan selama tiga tahun Rakasiwi telah mengambil kursus bahasa Jerman di goethe institut.


Kebetulan kursus tersebut tersedia  secara paruh waktu  dan juga online. Dengan kemauan serta tekat yang keras ia berhasil menyelesaikan kursus bahasa  tersebut. Setelah lulus kesarjanaannya ia menterjemahkan dokumen-dokumen yang diperlukan di goethe Institut, sebuah lembaga kursus atau pusat informasi negera Jerman. Semua persyaratan memang telah dipenuhi.


Karena kesibukkan Rakasiwi tak sempat mengecek email selama persiapan pernikahannya. Untungnya Ia menyertakan juga alamat rumah orang tuanya, juga email ayah Raka. Sehingga pihak universitas bisa mengirim surat ke alamat rumah.


Baru beberapa jam ia dan Prita sampai di apartemen, ayah Raka menelpon dan memberitahu tentang peluang yang tak selalu datang. Ayah Raka menyuruh putranya itu segera berkemas sebab september pertengahan telah dimulai program yang telah dipilih oleh Rakasiwi.


Prita dan Rakasiwi saat itu terkejut, keduanya saling tatap sesaat ketika ayah Raka memberitahu.  Selama dua hingga tiga  tahun Rakasiwi akan berada di Jerman menuntaskan sekolah master di bidang arsitektur dan manajemen desain. Ia harus meninggalkan semua yang ia kerjakan.


"Bagaimana dengan aku?"


Prita menghempaskan dirinya ke sofa.


"Ikut denganku dong sayang."


"Kirim semua dokumenmu, biar temanku membuatkan paspor. Bisa dalam satu hari."


"Baiklah, aku tak bisa membayangkan bisa keluar negeri bersamamu."


Sambil ia mengirimkan foto-foto ktp, kartu keluarga dan buku nikah. Rakasiwi menelpon seseorang yang bekerja di kantor imigrasi. Biasanya untuk kasus-kasus seperti Rakasiwi yang mengejar waktu, bisa diselesaikan dalam sehari atau dua hari paling telat.

__ADS_1


"Bro, tolong bantu ya, nanti saya kirim dokumen yang diperlukan sekalian transfer biayanya."


"Siap Bro, kirim segera ya, mumpung masih pagi mudah-mudahan sore sudah selesai."


"Terima kasih banget Bro."


Tiga hari yang tersisa Rakasiwi dan Prita mempersiapkan kepergian mereka ke Jerman. Prita merasa seperti kejatuhan bulan. Ia sangat bersemangat dan gembira. Semua barang-barang kesayangannya telah ia  masukkan ke koper. Tidak ada yang tertinggal. Mama Risa terlihat sedih. Tetapi Prita bilang ia akan menjemput mama jika keadaan di sana sudah nyaman dan tenang. Ia dan Rakasiwi akan melihat keadaannya terlebih dahulu.


Pada waktunya seluruh keluarga mengantar Rakasiwi dan Prita ke bandara. Mama Risa menangis di pelukkan Prita. Bahkan putri kecilnya yang dulu menderita sekarang dengan mudahnya pergi ke luar negeri. Ia mengucapkan syukur berulang-ulang.


Ayah Raka memeluk putranya dan menepuk bahu laki-laki muda itu dengan senyuman yang bangga dan berkharisma. Mardo menghapus air matanya. Putra sulungnya baru saja menikmati hari-harinya bersama keluarga sekarang harus pergi jauh. Perempuan yang selalu cantik dan lembut itu memeluk putranya dan juga Prita.


"Hati-hati kalian di sana ya? saling menjaga dan memperhatikan, ingat semua yang telah bunda katakan tadi malam hemmm."


Keduanya segera beranjak sebab setengah jam lagi pesawat segera berangkat.


"Prita, putriku!"


Mama Risa tak bisa menahan kehilangannya. Mardo mendekap perempuan itu. Ia bisa mengerti apa yang dirasakan oleh mama Risa. Ia hanya memiliki satu putri, dan sekarang putrinya pergi sangat jauh.


"Mah, sabar ya. Nanti kita lihat dulu dan menunggu kabar. Kalau memungkinkan nanti kita menyusul, ok."

__ADS_1


Mama Risa hanya menundukkan wajahnya, ia akan kesepian. Meski selama ini ia juga suka sendirian tetapi ia tak merasa Prita pergi jauh. Sekali lagi ia melonggokkan wajahnya ke dalam. Menantu dan putrinya sudah tidak terlihat.  Raka  mengajak Mardo dan Mama Risa pulang. Mereka akan menunggu kabar dari Rakasiwi dan Prita.


Boy dan Melani tak bisa berbuat apa-apa ketika Prita resign. Boy hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Ia pikir Prita nanti pasti bertambah besar kepala sebab sekarang tinggal di luar negeri. Dulu Ia bisa berbangga menceritakan kehidupannya di negara empat musim. Ia mengangkat dagunya saat bercerita tentang turunnya salju dan indahnya musim semi. Akhirnya Prita  bisa juga cerita tentang keadaan alam yang tidak terjadi di Indonesia.


Karena Prita resign Boy meminta istrinya Melani  menggantikan posisi Prita. Ia memerlukan seseorang yang teliti, rapi serta membantu dirinya menghadapi pekerjaan diperusahaan. Terpaksa Rakasiwi mengabulkan permintaan Boy. Sebab ia berusaha mencegah kepergian Prita yang mengikuti suami menuntut ilmu.


"Kenapa mesti ikut sih, terus yang membantuku siapa?"


Prita membesarkan matanya, "Ya ikut dong, sebagai istri yang baik kemana suami pergi mesti ikut. Masa mesti ngebelain pekerjaan."


"Maksudnya pekerjaan nggak penting?"


"Ya bukan begitu, keadaan yang membuat mesti begini."


Beberapa menit Prita harus meyakinkan bahwa kerjasama mereka hanya sampai saat itu saja. Ia harus pergi mendampingi suaminya ke luar negeri. Terpaksa Boy menyetujui permintaan Prita. Ia sempat kecewa dan sedih tetapi apa dikata. Prita sudah menjadi milik orang lain.


Sementara Prita dan Rakasiwi berada di luar negeri,  kisah Pria idola sampai pada Cindy Bramantyo. Dia adalah putri kedua Raka Bramantyo dan Mardo Prameswara.  Cindy berbeda usia sekitara tiga tahun dengan kakaknya Rakasiwi.


 


 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2