Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 181.Richi Oh Richi


__ADS_3

"Hemmm, tubuhku rasanya enak setelah pijat dan luluran.  Bahkan  sampai tertidur tadi."


Mardo bangun dari tempat tidur kecil seusai pijat dan lulur. Ia menyelesaikan paket spa dan


selanjutnya meninggalkan tempat tersebut. Ada beberapa barang yang harus ia beli. Mobilnya


berbelok ke sebuah swalayan. Mardo biasa berbelanja di tempat itu. Agak lama juga perempuan


itu di sana, sibuk memilih-milih dan memeriksa barang baru.


Mardo memeriksa jam tangannya dan memutuskan kembali. Ia agak terkejut melihat mobil


Raka ada di teras.


"Kamu dari mana sih Mi? aku telpun susah sekali!"


Raka menyambutnya di depan pintu. Wajahnya tegang dan cemas.


"Ada apa? sesuatu terjadi?"


"Richi sekarat!"


Mardo membesarkan matanya? ia takut salah mendengar.


"Apa yang terjadi?"


"Dia dan Laura bertengkar dan nyaris saling bunuh membunuh!"


"Astaqfirullah!, Laura pulang?"


Raka mengangguk dan bersungut-sungut. "Oh, kenapa mereka bertengkar? mestinya


keduanya saling melepas kerinduan."


"Entahlah, Pipi harus menjemput Mami dan Papi di bandara, Mimi istirahat aja, nanti  menunggu


Papi dan Mami aja kalau mau ke rumah sakit."


"I-iya Pi, hati-hati ya."


Mardo mengantar Raka ke halaman dan menatapi sosok laki-laki cintanya itu memasuki mobil.


Raka membuka pintu dan melambaikan tangan.


Kamu juga hati-hati di rumah, jaga anak-anak."


Mardo mengangguk serta membalas lambaian suaminya. Ia menyetir sendiri karena sudah


dua hari ini pak Yuda cuti, sebab istrinya melahirkan.


"Ya Rabb."


Mardo menggigit bibirnya sembari berjalan ke kamar. Laura mendadak pulang, entah ia harus senang


atau sedih. Mungkinkah Laura menjadi pelampiasan kekesalan Richi terhadapnya. Tak pernah Mardo


merasakan hal yang tidak enak seperti saat ini. Ia berharap Richi selamat, sedikit tadi suaminya Raka


mengatakan penyebab luka parah Richi adalah pukulan benda tumpul di dahi. Sedangkan Laura


mendapat perawatan  psikis akibat ketakutan dan terkejut. Laura belum bisa bercerita.


"Kenapa? kenapa harus berakhir seperti itu Rich?"


Mardo mengenang sosok Richi saat remajanya, yang begitu ceria dan bersemangat. Berbicara


dengan pelan disertai senyum serta kerling mata. Sikapnya santun serta lembut. Jika ia marah


atau kesal paling ia hanya  diam dan tak mau bicara. Anak laki-laki yang cakap, cemerlang serta


menyenangkan. Ia bahkan gemilang memimping sebuah perguruan tinggi.


"Richi! oh Richi!"

__ADS_1


Mardo tak sanggup memikirkan yang telah terjadi. Itu semua adalah kehendak Rabb mereka.


Ada seseorang yang sukses di dalam karier, tetapi gagal di dalam pernikahan. Ada yang


sebaliknya. Tidak ada yang sempurna.


"Bunda!"


Suara si bungsu mengejutkannya dari lamunan mengenang Richi. Mardo  berjalan cepat dan


membuka pintu. Ia melihat Dode mendongak tengah menatapnya.


"Bunda kemana saja? ayah tadi mencari bunda, takut bunda di culik."


Mardo tersenyum, "Bunda ke spa dan belanja, nanti bunda mau buatkan makan malam, ada opa


oma datang."


"Opa dan Oma Bram? horeee, Dode kangen mereka berdua."


Mardo tersenyum melihat Dode  berlari memberitahu kakak-kakaknya. Dulu Opa dan Oma


bersama mereka di rumah besar itu tetapi setelah Richi kembali ke Indonesia, opa dan


oma memilih tinggal bersama Richi di kota yang sangat jauh di ujung Indonesia.


Terburu Mardo berkemas, setelah membersihkan diri ia beranjak ke dapur. Bersiap memasak


menyambut kedatangan orang tuanya. Memang bukan dalam suasana kegembiraan. Semua


mengharapkan Richi selamat dan sembuh seperti semula. Berkali-kali Mardo menghentikan


pekerjaannya sebab terpikir oleh Richi.


Hingga akhirnya ia tak sanggup melanjutkan pekerjaannya dan menyuruh asisten rumah


tangganya mengambil alih, setelah selesai menyiapkan kamar untuk opa dan oma. Mardo


bilang untuk memasak lauk-pauk untuk makan malam. Setelah itu Mardo berdiri di depan


"Cindy! Tria! turun sini Nak!"


Setelah berkali-kali memanggil barulah dua gadis remajanya itu turun menuruni tangga


dan mendatangi Mardo yang sedang duduk di sofa ruang keluarga yang berada di bawah


kamar atau ruangan lantai atas.


"Bunda, ada apa?"


Mardo menoleh pada gadis-gadis putrinya. Keduanya segera duduk di sebelah perempuan


yang terlihat gelisah dan panik. Dode ikut menuruni tangga dan datang ke pangkuan Mardo.


Kakak-kakaknya sering menyewotinya manja padahal sudah besar. Dode senang sekali


bersandar di dada bundanya, memeluk leher dan sesekali menciumi pipi Mardo. Kadang


membuat Raka tak kebagian dan mesti menunggu dengan sabar hingga si bungsu tertidur


di pelukkan bundanya.


"Opa dan Oma Bramantyo datang, tetapi jangan menggangu keduanya ya Nak. Seperlunya


saja. Sebab Uncle Richi sedang mendapat musibah, uncle sedang koma karena


kecelakaan."


"Oh, Uncle kecelakaan Bun?"


Mardo mengangguk-anggukan kepalanya. "Iya sayang, sebab itu jangan membuat Opa dan


Oma susah ya. Bersikap sopan, hormat dan berbicara seperlunya saja, sebaiknya berdoa

__ADS_1


agar uncle Richi siuman dan sembuh.


"Siap bunda, Cindy akan bersikap baik kok, dan mendoakan uncle Richi cepat pulih, Ya


Rabb, kasihan banget uncle Richi."


"Tria juga Bun, Tria sedih bunda, kasihan adik Rachel dan adik Richo, mereja jauh dari


uncle dan aunty hiks hiks hiks."


Tria yang berhati lembut langsung terisak-isak mengingat anak-anak Richi dan Laura, yang


masih kecil-kecil ditinggal jauh dari orang tuannya.


"Kita doakan Uncle Richi ya Nak, sebentar lari magrib yuk kita siap-siap."


Setelah berbincang-bincang dengan anak-anaknya Mardo mengajak bersiap melaksanakan


ibadah sholat magrib. Cindy ijin untuk menelpon Rakasiwi memberitahu tentang musibah


yang terjadi.


Rakasiwi sempat kaget, ia berpesan pada Cindy akan pulang setelah mengurus tugas-tugas


kampusnya. Ia akan secepatnya pulang.


"Ok, hati-hati Kak."


Rakasiwi berusaha memeriksa jadwal serta agenda belajarnya, ada sedikit tugas, Setelah ia


menyelesaikannya bisa pulang melepas kangen. Serta memberi simpatik, dukungan dan


doa untuk uncle Richi.


Rakasiwi teringat Prita, apakah dia sedang sibuk? Barangkali mereka bisa pulang bersama. Meski


ia harus singgah di Semarang. Tak menjadi masalah, ia sangat senang memiliki teman seperjalanan.


Yang jauh terasa dekat jika bersama kekasihnya. Rakasiwi menulis pesan pada Priti tentang rencananya


pulang. Tentu setelah semua tugas selesai.


Priti menerima pesan dari Rakasiwi, sayangnya ia tak bisa pulang. Sebab masih menghadapi


ujian semester, ada yang harus mengulang juga. Gadis itu bertanya ada acara apa? sehingga


pakai pulang? terjadi sesuatu?


"Uncle Richi kecelakaan dan kritis!"


"Oh ya Rabb, semoga dia dilindungi dan segera pulih."


Priti memutuskan tidak bisa menemani Rakasiwi pulang, sebab ia juga sudah menolak Yunna


yang mengharapkan kedatangannya di acara empat bulanan.


"Nda bisa pulang, sedang menghadapi ujian Ka."


"Oh nggak apa-apa, aku pulang sendirian."


Rakasiwi sedikit kecewa, namun bagaimana lagi. Priti belum menyelesaikan tugas-tugas serta


ujian kenaikan tingkatnya. Malah ada yang mesti mengulang, pusing dan lelah.  Segera Rakasiwi


menaro handphonenya. Ia segera duduk di depan laptopnya dan mempercepat  pengerjaan


tugas-tugas.


 


 


 

__ADS_1


 


Bersambung


__ADS_2