
"Hemmm, tubuhku rasanya enak setelah pijat dan luluran. Bahkan sampai tertidur tadi."
Mardo bangun dari tempat tidur kecil seusai pijat dan lulur. Ia menyelesaikan paket spa dan
selanjutnya meninggalkan tempat tersebut. Ada beberapa barang yang harus ia beli. Mobilnya
berbelok ke sebuah swalayan. Mardo biasa berbelanja di tempat itu. Agak lama juga perempuan
itu di sana, sibuk memilih-milih dan memeriksa barang baru.
Mardo memeriksa jam tangannya dan memutuskan kembali. Ia agak terkejut melihat mobil
Raka ada di teras.
"Kamu dari mana sih Mi? aku telpun susah sekali!"
Raka menyambutnya di depan pintu. Wajahnya tegang dan cemas.
"Ada apa? sesuatu terjadi?"
"Richi sekarat!"
Mardo membesarkan matanya? ia takut salah mendengar.
"Apa yang terjadi?"
"Dia dan Laura bertengkar dan nyaris saling bunuh membunuh!"
"Astaqfirullah!, Laura pulang?"
Raka mengangguk dan bersungut-sungut. "Oh, kenapa mereka bertengkar? mestinya
keduanya saling melepas kerinduan."
"Entahlah, Pipi harus menjemput Mami dan Papi di bandara, Mimi istirahat aja, nanti menunggu
Papi dan Mami aja kalau mau ke rumah sakit."
"I-iya Pi, hati-hati ya."
Mardo mengantar Raka ke halaman dan menatapi sosok laki-laki cintanya itu memasuki mobil.
Raka membuka pintu dan melambaikan tangan.
Kamu juga hati-hati di rumah, jaga anak-anak."
Mardo mengangguk serta membalas lambaian suaminya. Ia menyetir sendiri karena sudah
dua hari ini pak Yuda cuti, sebab istrinya melahirkan.
"Ya Rabb."
Mardo menggigit bibirnya sembari berjalan ke kamar. Laura mendadak pulang, entah ia harus senang
atau sedih. Mungkinkah Laura menjadi pelampiasan kekesalan Richi terhadapnya. Tak pernah Mardo
merasakan hal yang tidak enak seperti saat ini. Ia berharap Richi selamat, sedikit tadi suaminya Raka
mengatakan penyebab luka parah Richi adalah pukulan benda tumpul di dahi. Sedangkan Laura
mendapat perawatan psikis akibat ketakutan dan terkejut. Laura belum bisa bercerita.
"Kenapa? kenapa harus berakhir seperti itu Rich?"
Mardo mengenang sosok Richi saat remajanya, yang begitu ceria dan bersemangat. Berbicara
dengan pelan disertai senyum serta kerling mata. Sikapnya santun serta lembut. Jika ia marah
atau kesal paling ia hanya diam dan tak mau bicara. Anak laki-laki yang cakap, cemerlang serta
menyenangkan. Ia bahkan gemilang memimping sebuah perguruan tinggi.
"Richi! oh Richi!"
__ADS_1
Mardo tak sanggup memikirkan yang telah terjadi. Itu semua adalah kehendak Rabb mereka.
Ada seseorang yang sukses di dalam karier, tetapi gagal di dalam pernikahan. Ada yang
sebaliknya. Tidak ada yang sempurna.
"Bunda!"
Suara si bungsu mengejutkannya dari lamunan mengenang Richi. Mardo berjalan cepat dan
membuka pintu. Ia melihat Dode mendongak tengah menatapnya.
"Bunda kemana saja? ayah tadi mencari bunda, takut bunda di culik."
Mardo tersenyum, "Bunda ke spa dan belanja, nanti bunda mau buatkan makan malam, ada opa
oma datang."
"Opa dan Oma Bram? horeee, Dode kangen mereka berdua."
Mardo tersenyum melihat Dode berlari memberitahu kakak-kakaknya. Dulu Opa dan Oma
bersama mereka di rumah besar itu tetapi setelah Richi kembali ke Indonesia, opa dan
oma memilih tinggal bersama Richi di kota yang sangat jauh di ujung Indonesia.
Terburu Mardo berkemas, setelah membersihkan diri ia beranjak ke dapur. Bersiap memasak
menyambut kedatangan orang tuanya. Memang bukan dalam suasana kegembiraan. Semua
mengharapkan Richi selamat dan sembuh seperti semula. Berkali-kali Mardo menghentikan
pekerjaannya sebab terpikir oleh Richi.
Hingga akhirnya ia tak sanggup melanjutkan pekerjaannya dan menyuruh asisten rumah
tangganya mengambil alih, setelah selesai menyiapkan kamar untuk opa dan oma. Mardo
bilang untuk memasak lauk-pauk untuk makan malam. Setelah itu Mardo berdiri di depan
"Cindy! Tria! turun sini Nak!"
Setelah berkali-kali memanggil barulah dua gadis remajanya itu turun menuruni tangga
dan mendatangi Mardo yang sedang duduk di sofa ruang keluarga yang berada di bawah
kamar atau ruangan lantai atas.
"Bunda, ada apa?"
Mardo menoleh pada gadis-gadis putrinya. Keduanya segera duduk di sebelah perempuan
yang terlihat gelisah dan panik. Dode ikut menuruni tangga dan datang ke pangkuan Mardo.
Kakak-kakaknya sering menyewotinya manja padahal sudah besar. Dode senang sekali
bersandar di dada bundanya, memeluk leher dan sesekali menciumi pipi Mardo. Kadang
membuat Raka tak kebagian dan mesti menunggu dengan sabar hingga si bungsu tertidur
di pelukkan bundanya.
"Opa dan Oma Bramantyo datang, tetapi jangan menggangu keduanya ya Nak. Seperlunya
saja. Sebab Uncle Richi sedang mendapat musibah, uncle sedang koma karena
kecelakaan."
"Oh, Uncle kecelakaan Bun?"
Mardo mengangguk-anggukan kepalanya. "Iya sayang, sebab itu jangan membuat Opa dan
Oma susah ya. Bersikap sopan, hormat dan berbicara seperlunya saja, sebaiknya berdoa
__ADS_1
agar uncle Richi siuman dan sembuh.
"Siap bunda, Cindy akan bersikap baik kok, dan mendoakan uncle Richi cepat pulih, Ya
Rabb, kasihan banget uncle Richi."
"Tria juga Bun, Tria sedih bunda, kasihan adik Rachel dan adik Richo, mereja jauh dari
uncle dan aunty hiks hiks hiks."
Tria yang berhati lembut langsung terisak-isak mengingat anak-anak Richi dan Laura, yang
masih kecil-kecil ditinggal jauh dari orang tuannya.
"Kita doakan Uncle Richi ya Nak, sebentar lari magrib yuk kita siap-siap."
Setelah berbincang-bincang dengan anak-anaknya Mardo mengajak bersiap melaksanakan
ibadah sholat magrib. Cindy ijin untuk menelpon Rakasiwi memberitahu tentang musibah
yang terjadi.
Rakasiwi sempat kaget, ia berpesan pada Cindy akan pulang setelah mengurus tugas-tugas
kampusnya. Ia akan secepatnya pulang.
"Ok, hati-hati Kak."
Rakasiwi berusaha memeriksa jadwal serta agenda belajarnya, ada sedikit tugas, Setelah ia
menyelesaikannya bisa pulang melepas kangen. Serta memberi simpatik, dukungan dan
doa untuk uncle Richi.
Rakasiwi teringat Prita, apakah dia sedang sibuk? Barangkali mereka bisa pulang bersama. Meski
ia harus singgah di Semarang. Tak menjadi masalah, ia sangat senang memiliki teman seperjalanan.
Yang jauh terasa dekat jika bersama kekasihnya. Rakasiwi menulis pesan pada Priti tentang rencananya
pulang. Tentu setelah semua tugas selesai.
Priti menerima pesan dari Rakasiwi, sayangnya ia tak bisa pulang. Sebab masih menghadapi
ujian semester, ada yang harus mengulang juga. Gadis itu bertanya ada acara apa? sehingga
pakai pulang? terjadi sesuatu?
"Uncle Richi kecelakaan dan kritis!"
"Oh ya Rabb, semoga dia dilindungi dan segera pulih."
Priti memutuskan tidak bisa menemani Rakasiwi pulang, sebab ia juga sudah menolak Yunna
yang mengharapkan kedatangannya di acara empat bulanan.
"Nda bisa pulang, sedang menghadapi ujian Ka."
"Oh nggak apa-apa, aku pulang sendirian."
Rakasiwi sedikit kecewa, namun bagaimana lagi. Priti belum menyelesaikan tugas-tugas serta
ujian kenaikan tingkatnya. Malah ada yang mesti mengulang, pusing dan lelah. Segera Rakasiwi
menaro handphonenya. Ia segera duduk di depan laptopnya dan mempercepat pengerjaan
tugas-tugas.
__ADS_1
Bersambung