Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 106 Hebohnya Memiliki Dua Anak


__ADS_3

Rakasiwi sedang bermain bersama Opa ketika ayah dan bunda pulang. Mendengar suara Raka .dan Mardo


serta merta anak laki-laki tersebut berlari menyongsong.


"Ayah! bunda! kok lama sekali sih?"


Suara Rakasiwi memenuhi ruangan, ia menatap membesarkan matanya pada Cindy, sepertinya


yang menyebabkan ayah dan bunda lama adalah Cindy.


Raka dan Mardo saling menatap, mereka melihat kejengkelan yang nyata pada Rakasiwi terhadap


Cindy adiknya.


Raka berjongkok dan meraih tubuh anaknya itu dan menggendong mengikuti Mardo ke ruang  makan.


"Mba, tolong mangkok-mangkok, ini ada es kelapa muda dan baso, di taro ke mangkok dan es nya


masukkan ke gelas."


Mardo memberikan bungkusan yang dibawanya pada mba asisten rumah tangganya.


"Buat Bapak, Ibu dan sisanya buat kalian ya."


"Makasih Bu,"


"Kakak Raka mau baso dan es kelapa?"


"Mau!"


"Mba, tolong yang bungkusan satunya taro di mangkoknya kakak Rakasiwi ya."


Raka segera meluncur turun dari gendogan ayahnya dan naik ke kursi maje makan.


Opa dan Oma datang mendengar keramaian di ruang makan.


"Mi, Pi, ada baso, sama es kelapa muda nih, udah disiapin."


"Oh, pantas wanginya enak sekali, tadi Mami dan Papi udah mau mampir tapi itu kakak mau


pub."


"Oh, kakak Rakasiwi pub?"


Anak laki-laki itu mengangguk-angguk kepalanya sambil mengunyah baso, Opa  dan Oma


duduk dekat Raka  dan menikmati jajanan selingan itu. Apa lagi sudah lama sekali tidak


pernah menikmati baso langganan keluarga itu.


"Kakak Rakasiwi, habis makan basonya bobo siang ya Nak. Kan besok sekolah lagi, mesti


bangun pagi-pagi."


"Adik Cindy duluan ya Nak, ini udah ngantuk."


Mardo mengusap rambut Rakasiwi, lalu pamit pada Papi dan Mami yang masih menikmati


baso, sembari menyuapi Rakasiwi.


Keesokkan paginya, Rakasiwi berangkat diantar ayah dan ditunggui.


"Ayah menunggu di ruang tunggu ya Nak."


Raka mengusap rambut anaknya dan mencium keningnya.


"Bunda nggak ngantar kakak Raka?"


Suara Rakasiwi setengah mau menangis, wajahnya terlihat cemberut.


"Nanti bunda nyusul, takut kakak Rakasiwi terlambat  masuk sekolah."


Dan air mata Rakasiwi sudah berlinangan di pipinya. Hingga ibu guru datang


menghampiri karena melihat Rakasiwi sedang merajuk.


"Rakasiwi! wah sudah datang ya, Rakasiwi hebat datangnya duluan, ibu guru

__ADS_1


ada hadiah untuk anak yang tidak terlambat dan juga tidak rewel, ayo kita


ambil hadiahnya."


Anak laki-laki itu menurut, ia mengikuti ibu guru ke dalam kelas. Raka berterima


kasih pada perhatian ibu guru. Raka menghembuskan napasnya. Bagaimana


caranya menghilangkan kecemburuannya pada adiknya Cindy. Sejak bangun


tidur Rakasiwi cemberut dan marah-marah. Ia menghampas-hempaskan kakinya


menahan kekesalan.


Rakasiwi melihat bundanya sedang memandikan adiknya Cindy, menggendong


dan memakaikan baju di karpet. Sementara ia diurus oleh ayahnya.


"Mau mandi sama Bunda."


Ia merajuk, "Sama ayah saja! bunda sedang mandiin adek, kakak Rakasiwi


nggak boleh rewel ya, nanti terlambat kesekolah."


"Kenapa adik Cindy nggak mandi sama ayah aja, aku maunya sama bunda."


"Mi, Raka mau mandi sama Mimi  nih, tinggalin Cindy sama ayah."


Mardo lantas meraih tangan  Rakasiwi dan membawanya ke kamar mandi.


Dengan lembut Mardo memandikan anak laki-laki itu. Terdengar suara


Cindy menjerit-jerit mencari bundanya. Raka segera mengendong Cindy


dan membawanya keluar dari kamar. Berjalan ke ruangan tempat papi dan


mami sedang mendengarkan dakwah di tivi.


Cindy meronta-ronta, tak menghiraukan ayahnya yang membujuk dan


mengayun-ayunkan tubuhnya. Tetap saja Cindy mendorong-dorong


"Sini! Opa gendong!"


Tapi Cindy semakin menjerit-jerit. Untungnya Rakasiwi sudah selesai mandi


dan mengenakan seragam. Raka menurunkan Cindy dari gendongannya yang lantas


berlari kencang dan memeluk kaki Mardo.


Opa dan Oma, menggeleng-gelengkan kepala. Anak dua serasa sepuluh.


Setiap hari ribut sekali.


"Namanya juga masih anak-anak Mi, dulu juga Raka dan Richi sama seperti


Rakasiwi dan Cindy. Mami menggeleng,  "Raka dan Richi  dulu anteng kok


Pi, nggak cengeng. Apa karena Cindy anak perempuan?  Sebenarnya justru


kalau perempuan dan laki-laki itu selalu cocok."


"Mi, cepat ke taman kanak-kanak, takut Rakasiwi nangis, tadi aku bilang


bunda nyusul ke sekolah."


"Iya bentar Pi, Cindy udah tidur, aku ngasih tau ke Mami dulu ya."


Mardo mendatangi mertuanya dan menitipkan Cindy yang sudah tidur. Untungnya


Mami tak pergi kemana-mana. Buru-buru Mardo berangkat ke taman kanak-kanak.Ketika


Mardo sampai, ternyata Raka baik-baik saja. Ia dan teman-temannya sedang belajar


bersama ibu guru.


Akhirnya Mardo dan Raka menunggu berdua di ruang tunggu. Sementara di rumah

__ADS_1


Cindy sudah bangun dan tengah menangis meraung-raung mencari bunda. Oma dan


Opa kewalahan mendiamkan gadis kecil itu. Terpaksa Opa memanggil supir dan


mengantarkan Cindy ke taman kanak-kanak.


Mardo dan Raka terkejut saat sayup-sayup mendengar suara Cindy yang menangis


meraung-raung. Mereka berlarian ke halaman dan melihat Mami yang kewalahan


menggendong Cindy.


"Ya Allah dedek Cindy suaranya! kenapa sih Nak, Mi maaf ya Mami sampai kerepotan


sama Cindy."


"Begitu kamu pergi sekitar lima menit, Cindy sudah bangun dan menangis mencari kamu, Mami


nggak bisa mengatasinya dan minta diantarin Papi ke sini."


"Iya Mi, maaf ya mi."


"Ngga apa-apa kalau Mami sih, takut Cindy muntah dan habis suaranya."


"Beberapa hari ini kerjanya menangis terus."


Baru saja suasana tenang, ketika terdengar suara Rakasiwi yang menangis. Ia ternyata


sudah pulang dan tidak menemukan Raka di halaman. Buru-buru Raka berlari ke dalam


untuk melihat Rakasiwi. Anak laki-laki itu sedang menangis keras dan beberapa temannya


menatapinya keheranan.


"Anak laki-laki cengeng!"


Seorang anak perempuan mungil yang cantik tetapi pemberani mengomentari  Rakasiwi. Begitu


Raka muncul, anak laki-laki itu langsung berlari memeluk kakinya.


"Ayah, meninggalkan Aku!"


Raka terisak-isak, "Udah jangan nangis, kalau masih cengeng begini nggak usah sekolah


lagi lah, coba lihat itu temanmu anak perempuan, pulang sendiri! tidak dijemput dan tidak


diantar, itu lihat!"


Raka menggendong anaknya untuk melihat Prita si anak perempuan mungil yang tengah


berjalan sendirian sambil menggoyang-goyangkan tas kecilnya. Rakasiwi memperhatikan


anak perempuan itu.


Anak laki-laki itu agak tergugah, anak perempuan itu mungil dan cantik tetapi dia berbeda


dengan anak perempuan yang lain. Ia tidak suka berkumpul dengan teman-temannya


ia seperti seekor kupu-kupu yang terbang kesana dan kemari. Ia menyapa teman yang


di sana, lalu pergi dan menyapa anak yang lain, ia juga mendekati ibu guru dan memperhatikan


apa yang sedang dikejakan oleh ibu guru.


Setiap pagi ia datang ke sekolah sendiri sambil membawa bekal dan tas sekolahnya.


Ia menggoyang-goyangkan tasnya dan sesekali berlarian kecil ke sekolah.


Mereka semua tercekat pada anak perempuan mungil itu.


Bersambung


Jangan lupa Like, vote, favorit  dan komen ya


Penulis sangat berterima kasih.


__ADS_1



__ADS_2