
Sudah beberapa hari, tapi agaknya tanda-tanda baikan lagi antara Cindy dan Fani tak kunjung kelihatan. Sebagai teman diantara keduanya Ara sedikit galau dan serba salah. Jika dia dekat sama Cindy yang ada Fani melotot.Terus kalau ia dekat sama Fani, kontan mulut Cindy maju sekitar 5 sampai 7 inci.
Ara sampai pusing bagaimana caranya agar Cindy dan Fani berbaikan. Apa masing-masing dikasih sogokan segepok rupiah yaa? soalnya yang satu doyan sekali sama uang, sampai-sampai memiliki buku nota untuk membayar contekkan. Sedang yang satu lagi amat ambisius mendapat uang dari hobinya merancang baju. Uang jajannya selalu kurang untuk memburu baju-baju cantik di mall.
Alasannya mau meniru pernak-pernik tehnik menjahit baju yang keren. Kadang sampai-sampai baju di badan orang pun dipelototi dengan sinar mata meminta, ohh give me...give me, gituh tuh ratapnya kalau sedang jatuh cinta sama potongan atau model baju.
"Hello Ra, good morning honey.."
Suara cempreng Cindy di telinga Ara. Saking seriusnya memikirkan persahabatan sampai tidak menyadari kalau Cindy sudah di kelas dan berbisik menyakitkan telinga.
"Morning too honey,"
Sembari menggeser pantatnya.
"Cin, Cintahhh"
"Apa sih, wajah loe itu kayak belum mendapat uang saku."
"Ich si Cintah mah, serius nih. I think that's enough!"
" Maksud Loe?"
Ara menelan ludah, rasanya pengen ketawa, soalnya Loe Cindy itu kental banget.
"Serius, aku udah nggak tahan dengan tingkah kalian berdua, aku mesti berbuat apa supaya kalian berbaikan?."
"Nothing..."
Cindy cuek. Uhhh, Ara sungguh sebel, lantas ia berdiri dan beranjak meninggalkan temannya itu yang tetap tak perduli, tidak meriah jemarinya atau menahannya agar mereka bicara.
"Hah, terserah kalian aja lah."
"Winai, kita ke kantin yuk, cari sarapan."
Beberapa hari ini Ara lebih dekat dengan Wina. Itu adalah caranya menjaga perasaan Cindy dan Fani.
"Mau sampai kapan mereka seperti itu ya?"
" Entahlah, Gwe bingung banget Win."
"Sabar aja Ra, pasti nanti mereka baikan lagi."
"Hemm, satu-satunya cara adalah menunggu hingga mereka bosan."
"Yups betul. " Thank's ya Win."
" Buat apa?"
"Kamu selalu nemanin aku, saat sendirian tanpa Cindy dan Fani, padahal aku tidak begitu saat kamu sendirian, kamu baik banget win, Suer."
Ara menunjukkan dua jarinya pertanda itu benar.
"Hem hem, biasa aja lagi Ra.." Keduanya saling senyum.
Fani murung, tadi ia lihat Cindy ada diantara genx anak enam, Ara dan Wina...oh! apakah nanti mereka akan merubah nama menjadi genx anak delapan, dengan masuknya Ara dan Cindy. Wina sendiri meski dekat dengan mereka adalah anggota genx anak enam. Ohhh, apa harus meminta maaf pada Cindy? oh tidakkk! aku juga bisa punya genx lain, memangnya apa?
Panas bercampur kesal, di pintu ia berpapasan dengan Ara.
"Fan, masih marah sama Cindy? cobalah mengalah dan mulai bicara, Maybe, she feels bad today."
__ADS_1
" Dia jelas-jelas banget marah sama Gwe Ra, bahkan benci."
Uch mana mungkin. Untunglah terputus karena pak Si Umbrella sudah masuk dan menutup pintu.
"Anak-anak buka bab sembilan dan sepuluh!"
"Oh, bakalan panas nik otak diajak mikir dan ngitung."
Ara yang tak menyukai matematika mulai resah gelisah. Untungnya guru matematika mereka yang satu itu memiliki satu kelebihan dalam memberikan penilaian. Yang rajin mengerjakan pr dan rapi bisa juga dapat nilai bagus. Dan Ara paling rajin mengerjakan pr yang ada di dalam buku.
Sepulang sekolah.
"Cindy tunggu!!"
Ohh, jantung Cindy berdetak keras, soalnya di sana berjalan cepat sembari menahan senyum, Deni si manusia ikan ups Deni Wisnu Prabowo deg.
"Kok jalannya cepat banget sih Cin, kayak mau mengejar kereta api."
Deni tersenyum meski sedikit ngos-ngosan akibat mengejar Cindy.
"Lapar nich Den, waktunya makan siang, you know?"
"Sama, kalau gituh kutraktir makan baso yuk."
"Serius?"
"Dua rius."
" Oh, aku mimpi apa semalam yaa?"
"Tapi aku nggak sendiri Den, tuh Ara dan Wina, kita janjian di sini."
"Hello Den, tumben sendirian?"
"Iya Ra, ditinggal Erik dan Danang, untung ada kalian, yuk ngebaso."
Kedua gadis itu berbinar-binar matanya.
"Bmm apa bak?"
"Bak sih apa?"
Deni mesem. Kalau Bmm sih dia sudah tau, bayar masing-masing.
"Bayarin ama kamu!"
"He he he, gampanglah mari cabut."
Tak lama Deni sudah dikeliling oleh gadis-gadis cantik teman sejak kelas satu smp. Sekolah mereka berada di pusat kota. Jadi tinggal menyebrang ke sebuah mall. Di sana lengkap. Tempat belanja berbagai keperluan. Di salah satu lantai tersedia pusat jajan. Tinggal pilih saja. Paling ramai dan tempat remaja jajan bareng pastinya baso sidodadi. Selain luas dan leluasa untuk jajan, harganya terjangkau sama dengan warung baso yang mangkal di pinggir jalan.
Empat mangkok panas berisi baso yang tergolek menantang di mangkok di hidangkan. Wanginya mengugah selera. Mereka bergantian menambahkan saus, kecap dan cuka kemudian mengaduk-aduk.
"Ayo makan!"
Deni memandang berputar teman-teman baiknya.
"Siap Dan Den."
"Apa lagi tuh."
__ADS_1
"Komandan Deni he he he."
Mereka hanya tersenyum oleh istilah-istilah Ara. Tak lama minuman segar menyusul dan ditaro di depan masing-masing.
"Yummy asyik nih."
Begitulah salah satu kesukaan masa remaja, jajan bareng teman-teman. Kadang pergi nonton bareng, ke ulang tahun atau hanya jalan-jalan ke tempat unik dan lucu. Akan sangat sepi dan hampa jika tak memiliki teman atau sahabat.
"Cin, mana Fani? nggak bareng?"
Huk!
Cindy tersedak oleh pertanyaan Deni.
"Kamu juga nggak sama Erik dan Danang, kemana mereka?"
"Mereka ada bimbingan, sering bolos sih, tadi dipanggil guru bp. Sudah mau uan masih suka bolos."
"Oh, untung kamu nggak ketularan sering bolos Den."
"Nggak dong."
Sembari Deni merogoh kantongnya, tetapi wajahnya tiba-tiba berubah. Ia meyakinkan dirinya dan merogoh lagi. Tapi memang kantongnya kosong. Ia meraih tas sandangnya dan merogoh ke sana kemari. Wajah Deni pucat pasi. Tongkrongannya yang tadi gagah penuh percaya diri tiba-tiba menjadi loyo.
Cindy merasa pasti ada masalah.
"Napa loe Den."
"He he he, Cin, maaf banget he he he, dompet Gwe hilang."
Wajahnya merah padam menahan malu. Gayanya tadi mengajak Cindy dan teman-temannya jajan. Ia terpaksa menahan malu sekaligus gebukkan tiga anak perempuan di punggungnya.
"Auuu! auuu! maaf kapan-kapan traktir balik lagi ya."
Terpaksa Cindy membayar semuanya, sembari mengomel panjang pendek di depan Deni dan temannya.
"Sebel, uang yang dihemat-hemat dari kapan langsung ludes! dasarrr Deni manusia ikan!"
Cindy misah-misuh, Deni berkali-kali meminta maaf, senyumnya sangat malu.
Ara dan Wina tak bisa menahan senyum, mereka tahu bangat Cindy mengumpulkan uang dari mengutip teman-temannya yang menconterk pr. Uang panas kayaknya he he he.
__ADS_1
Bersambung