
Beriringan gadis-gadis bersaudara itu memandu perjalanan menuju kampung
di sebrang sungai. Azhar dan Donny mengikuti di belakang menyusuri jalan setapak
menuju ke sungai di bawah perkampungan. Suasana lenggang dan sepi. Karena memang
penduduk sudah pergi ke ladang serta tempat-tempat lain. Mereka melintasi sisi kampung
dan menoleh ke dalam kampung. Banyak anak-anak bermain di halaman. Serta beberapa
perempuan yang menjaga anaknya.
"Aku seperti pernah melintasi jalan-jalan ini? oh aku ingat ini menuju ke sungai iya kan?"
Mardo terlihat senang dan berbinar matanya.
"Iya, ini menuju ke sungai tempat kita makan-makan itu, pemandian mereka berhadapan
dengan pemandian penduduk di sini."
Sementara Donny beberapa kali menatapi sekelilingnya, pemandangan alam serta
perkampungan begitu menyejukkan. Ia dulu memiliki club pecinta alam. Jika liburan
ia dan clubnya pergi ke beberapa tempat untuk menghirup udara yang segar.
Mereka meninggalkan mobil di tempat parkir, kemudian berjalan kaki menyusuri
alam. Donny merasakan kegembiraan yang sama seperti ia dulu bersama teman-
temannya.
Hingga terdengar lamat-lamat bunyi gemericik air di sungai.
"Kita sampai, Az! bang Donny!"
Khairani menolehi dua anak muda yang berjalan di belakang.
"Oh sudah sampai, apa kita mandi dulu?"
"Hah!, memangnya belum mandi Bang?"
Mereka semua tersenyum-senyum membayangkan Donny mandi dan
berenang di sungai.
"Hoiiii, akhirnya kalian muncul!"
Dari sebrang, tiga orang anak muda melambai-lambai ke arah mereka.
"Kalian tunggu di situ!, biar kami jemput."
Pemuda-pemuda sebrang itu segera melepas tali ikutan perahu dan menyebrang.
Terampil sekali mereka mendayung dan gesit. Sebentar saja ujung perahu telah
menaiki pantai dan berhenti dengan sempurna.
"Ayo, naiklah bisa empat atau tiga orang di satu perahu."
Baringin yang ternyata menjemput mereka mempersilahkan.
"Ayo Mardo, Khai, dan Yulia, kalian di sana."
Tania yang berjiwa mengatur serta merta menarik lengan Mardo untuk
naik ke perahu. Gadis itu sembari tersenyum melangkah ke dalam perahu
dan kemudian duduk di atas papan yang di pasang di dalam perahu.
"Begini ya? he he he."
Mardo merasa unik dan lucu, belum pernah ia naik perahu.Dulu sekali
ia teringat pernah boat atau kapal layar. Tapi ini sebuah perahu. Benda
yang kecil dan mungil. Seperti sebuah selancar. Perahu ini mudah sekali
terguling dan tenggelam. Ia harus tenang dan tidak banyak bergerak.
"Ok! kita berangkat!"
Baringin dari ujung perahu, dibantu oleh Azhar yang mendorong perahu dari
tepi sungai. Kemudian mendorong kuat ke depan. Baringin segera mendayung
__ADS_1
sekuat tenaga ke depan. Setelah jauh di depan, barulah perlahan Baringin
berbelok dan menyebrang. Ia tinggal bekerja sedikit agar perahu tidak terhanyut
dan melewati pemandian.
Di belakang mereka, bang Kamal melakukan hal yang sama. Ia menyebrangkan
empat orang gadis.
"Mardo, jangan bergerak! biar tidak terbalik."
Kak Tana, mengingatkan. Membuat Mardo terlihat tegang. Sedangkan gadis-gadis itu
menahan senyum dan tawa melihat mimik Mardo.
"Khairani, kenapa mereka santai dan malah bermain air."
Mardo melihat kakak-kakak sepupunya malah memercikkan air ke wajah masing
masing dan juga bang Kamal. Yang dibalas pula dengan memukulkan dayung
ke air sungai sehingga mereka semua kena cipratan air.
Huahhhh! gimana ini, basah tau!
Bang Kamal hanya tertawa geli.
"Mereka sih sedari bayi sudah naik perahu kak, jadi sambil tidur pun
tak ada masalah."
Mardo memajukan mulutnya membentuk hurup O.
"Sampai!"
Baringin menarik pohon bambu yang terjuntai ke sungai. Menahan perahu agar
tak bergerak. Menunggu hingga gadis-gadis itu keluar dengan aman dari perahu.
Selanjutnya Baringin kembali menyembrang menjemput Azhar dan Donny.
Mardo sempat membuat vidio penyebrangan Azhar dan Donny. Terlihat keren
karena perahu meluncur melawan arus sungai jauh ke depan, lantas mengikuti
Dan mereka semua sekarang mulai mendaki dan meninggalkan pemandian
tersebut. Lumayan panjang pendakian itu, sehingga mereka mulai terengah-engah.
Namun hamparan kebun yang bersih dan rapi di sebelah kanan dan kiri menghilangkan
lelah itu. Mereka asyik memandangi pohon pepaya yang berbaris dari atas hingga ke bawah.
Buah-buahnya hijau bergelentungan dan sudah mulai menua.
Di bawah pohon-pohon pepaya tersebut bertumbuhan pohon berdaun yang kecil dan
rimbun. Itulah pohon cabe. Beberapa terjuntai merah tinggal di petik.
"Ini matang!"
Bang Kamal dan Baringin mendapatkan masing-masing dua buah pepaya yang
ranum. Asyik! gadis-gadis sudah merasakan betapa segar dan nikmatnya buah
pepaya yang baru saja di petik.
"Hei, ayo! cepat!"
Kakak-kakak sepupu ternyata sudah ada di atas. Mardo, Khairani, Azhar dan Donny
keasyikkan menikmati suasana kebun yang bersih dan rapi. Keberadaan pohon
pepaya dan pohon cabai mencegah tanah longsor.
Azhar lalu berancang-ancang. Masih akan lama sampai ke atas jika berjalan pelan-pelan.
Ia mulai bersiap dan hiatttt!!! laki-laki itu berlari sekuat tenaganya ke atas. Khairani, Mardo
serta Donny tercekat melihat tingkah Azhar. Tetapi dia berhasil dan telah berada
bersama kakak sepupu.
"Wah boleh tuh, yuk kita coba. Biar cepat sampai."
__ADS_1
Khairani bersiap meniru apa yang telah dilakukan Azhar.
"Khairani!, hati-hati!"
Mardo dan Donny sama-sama tercekat, mereka berdiri bersisian menatap pada
Khairani yang sedang berlari menuju ke atas. Azhar dan kakak-kakak sepupu
berteriak-teriak, "Ayo! kamu bisa Khairani, kamu bisa!"
Tinggal beberapa langkah lagi, saat Khairani menjejakkan kakinya ke atas. Ketika
bongkahan tanah yang dipijaknya tak biasa. Bongkahan besar yang membuatnya
terpelesat. Aaaaaaaaghh!
Hup! kau kutangkap!
Azhar berhasil menangkap tangan Khairani, sehingga gadis itu selamat dari
jatuh bergulingan ke bawah.
"Tunggu!"
Mardo buru-buru berjalan, di ikuti Donny.
Hingga akhirnya mereka semua telah berada di atas. Selanjutnya menuju
ke perkampungan. Sekarang mereka terkepung kebun tebu yang rapat berbaris.
Batang-batang tebu tersebut telah tinggi melebihi tubuh mereka. Mereka
berlari-lari melewatinya. Tertawa dan bercanda.
Hingga mulai terdengar bunyi kokok ayam barsahut-sahutan. Juga suara anak
kecil yang berteriak-teriak. Itu adalah perkampungan kekasih-kekasih kakak
sepupu. Di persimpangan tiga pria telah menunggu mereka dengan delman.
"Kereta kencana telah datang menjemput."
Baringin tertawa terkekeh, melihat delman yang ditarik oleh kerbau.
"Wahhhhh seru! aku mau naik delman,"
Yulia memekik kesenangan.
"Heh, bukan untuk menjemput kau! tapi kakak-kakak ini tau!"
Khairani memarahi adiknya yang langsung surut kegembiraannya.
"Nggak apa-apa, naik aja Li, ajak kak Mardomu,"
Tania menarik Yulia dan Mardo.
"Asyik, ayo Li."
Mardo menarik tangan gadis itu yang akhirnya tersipu-sipu meninggalkan
Khairani dan yang lain. Herman lantas menghela kerbau. Delman pun
berjalan pelan-pelan menuju rumah yang tidak terlalu jauh. Wajah Tania,
Kana, Mardo dan Yulia berseri-seri diatas delman. Sementara yang lain
berjalan mengikuti sembari tertawa-tawa.
Mimpi apa semalam, pikir Donny? ia bisa berada di perkampungan yang
sangat unik ini. Dan duhai cantik sekali gadis itu yang sedang duduk
sambil sesekali memandang jauh pemandangan.
'Dia pasti jodohku! karena tiba-tiba aku bertemu dengannya di sini, dia
adalah jodohku.'
Donny menatap jauh pada sosok Mardo di atas delman.
__ADS_1
Bersambung