Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 69.Kejadian Di Lembah Biru


__ADS_3

Beriringan gadis-gadis bersaudara itu memandu perjalanan menuju kampung


di sebrang sungai. Azhar dan Donny mengikuti di belakang menyusuri  jalan setapak


menuju ke sungai di bawah perkampungan. Suasana lenggang dan sepi. Karena memang


penduduk sudah pergi ke ladang serta tempat-tempat lain. Mereka melintasi sisi kampung


dan menoleh ke dalam kampung. Banyak anak-anak bermain di halaman. Serta beberapa


perempuan yang menjaga anaknya.


"Aku seperti pernah melintasi jalan-jalan ini? oh aku ingat ini menuju ke sungai iya kan?"


Mardo terlihat senang dan berbinar matanya.


"Iya, ini menuju ke sungai tempat kita makan-makan itu, pemandian mereka berhadapan


dengan pemandian penduduk di sini."


Sementara Donny beberapa kali menatapi sekelilingnya, pemandangan alam serta


perkampungan begitu menyejukkan. Ia dulu memiliki club pecinta alam. Jika liburan


ia dan clubnya pergi ke beberapa tempat untuk menghirup udara yang segar.


Mereka meninggalkan mobil di tempat parkir, kemudian berjalan kaki menyusuri


alam. Donny merasakan kegembiraan yang sama seperti ia dulu bersama teman-


temannya.


Hingga terdengar lamat-lamat bunyi gemericik air di sungai.


"Kita sampai, Az! bang Donny!"


Khairani menolehi dua anak muda yang berjalan di belakang.


"Oh sudah sampai, apa kita mandi dulu?"


"Hah!, memangnya belum mandi Bang?"


Mereka semua tersenyum-senyum membayangkan Donny  mandi dan


berenang di sungai.


"Hoiiii, akhirnya kalian muncul!"


Dari sebrang, tiga orang anak muda melambai-lambai ke arah mereka.


"Kalian tunggu di situ!, biar kami jemput."


Pemuda-pemuda sebrang itu segera melepas tali ikutan perahu dan menyebrang.


Terampil sekali mereka mendayung dan gesit. Sebentar saja ujung perahu telah


menaiki pantai dan berhenti dengan sempurna.


"Ayo, naiklah bisa empat atau tiga orang di satu perahu."


Baringin yang ternyata menjemput mereka mempersilahkan.


"Ayo Mardo, Khai, dan Yulia, kalian di sana."


Tania yang berjiwa mengatur serta merta menarik lengan Mardo untuk


naik ke perahu. Gadis itu sembari tersenyum melangkah ke dalam perahu


dan kemudian duduk di atas papan yang di pasang di dalam perahu.


"Begini ya? he he he."


Mardo merasa unik dan lucu, belum pernah ia naik perahu.Dulu sekali


ia teringat pernah boat atau kapal layar. Tapi ini sebuah perahu. Benda


yang kecil dan mungil. Seperti sebuah selancar. Perahu ini mudah sekali


terguling dan tenggelam. Ia harus tenang dan tidak banyak bergerak.


"Ok! kita berangkat!"


Baringin dari ujung perahu, dibantu oleh Azhar yang mendorong perahu dari


tepi sungai. Kemudian mendorong kuat ke depan. Baringin segera mendayung

__ADS_1


sekuat tenaga ke depan. Setelah jauh di depan, barulah perlahan Baringin


berbelok dan menyebrang. Ia tinggal bekerja sedikit agar perahu tidak terhanyut


dan melewati pemandian.


Di belakang mereka, bang Kamal melakukan  hal yang sama. Ia menyebrangkan


empat orang gadis.


"Mardo, jangan bergerak! biar tidak terbalik."


Kak Tana, mengingatkan. Membuat Mardo terlihat tegang. Sedangkan gadis-gadis itu


menahan senyum dan tawa melihat mimik Mardo.


"Khairani, kenapa mereka santai dan malah bermain air."


Mardo melihat kakak-kakak sepupunya malah memercikkan air ke wajah masing


masing dan juga bang Kamal. Yang dibalas pula dengan memukulkan dayung


ke air sungai sehingga mereka semua kena cipratan air.


Huahhhh! gimana ini, basah tau!


Bang Kamal hanya tertawa geli.


"Mereka sih sedari bayi sudah naik perahu kak, jadi sambil tidur pun


tak ada masalah."


Mardo memajukan  mulutnya membentuk hurup O.


"Sampai!"


Baringin menarik pohon bambu yang terjuntai ke sungai. Menahan perahu agar


tak bergerak. Menunggu hingga gadis-gadis itu keluar dengan aman dari perahu.


Selanjutnya Baringin kembali menyembrang menjemput Azhar dan Donny.


Mardo sempat membuat vidio penyebrangan Azhar dan Donny. Terlihat keren


karena perahu meluncur melawan arus sungai jauh ke depan, lantas mengikuti


Dan mereka semua sekarang mulai mendaki dan meninggalkan pemandian


tersebut.  Lumayan panjang pendakian itu, sehingga mereka mulai terengah-engah.


Namun hamparan kebun yang bersih dan rapi di sebelah kanan dan kiri menghilangkan


lelah itu. Mereka asyik memandangi pohon pepaya yang berbaris dari atas hingga ke bawah.


Buah-buahnya  hijau bergelentungan dan sudah mulai menua.


Di bawah pohon-pohon pepaya tersebut bertumbuhan pohon berdaun yang kecil dan


rimbun. Itulah pohon cabe. Beberapa terjuntai merah tinggal di petik.


"Ini matang!"


Bang Kamal dan Baringin mendapatkan masing-masing dua buah pepaya yang


ranum. Asyik! gadis-gadis sudah merasakan betapa segar dan nikmatnya buah


pepaya yang baru saja di petik.


"Hei, ayo! cepat!"


Kakak-kakak sepupu ternyata sudah ada di atas. Mardo, Khairani, Azhar dan Donny


keasyikkan menikmati suasana kebun yang bersih dan rapi. Keberadaan pohon


pepaya dan pohon cabai mencegah tanah longsor.


Azhar lalu berancang-ancang. Masih akan lama sampai ke atas jika berjalan pelan-pelan.


Ia mulai bersiap dan hiatttt!!! laki-laki itu berlari sekuat tenaganya ke atas. Khairani, Mardo


serta Donny tercekat melihat tingkah Azhar. Tetapi dia berhasil dan telah berada


bersama kakak sepupu.


"Wah boleh tuh, yuk kita coba. Biar cepat sampai."

__ADS_1


Khairani bersiap meniru apa yang telah dilakukan Azhar.


"Khairani!, hati-hati!"


Mardo dan Donny sama-sama tercekat, mereka berdiri bersisian menatap pada


Khairani yang sedang berlari menuju ke atas. Azhar dan kakak-kakak sepupu


berteriak-teriak, "Ayo! kamu bisa Khairani, kamu bisa!"


Tinggal beberapa langkah lagi, saat Khairani menjejakkan kakinya ke atas. Ketika


bongkahan tanah yang dipijaknya tak biasa. Bongkahan besar yang membuatnya


terpelesat. Aaaaaaaaghh!


Hup! kau kutangkap!


Azhar berhasil menangkap tangan Khairani, sehingga gadis itu selamat dari


jatuh bergulingan ke bawah.


"Tunggu!"


Mardo buru-buru berjalan, di ikuti Donny.


Hingga akhirnya mereka semua telah berada di atas. Selanjutnya menuju


ke perkampungan.  Sekarang mereka terkepung kebun tebu yang rapat berbaris.


Batang-batang tebu tersebut telah tinggi melebihi tubuh mereka. Mereka


berlari-lari melewatinya. Tertawa dan bercanda.


Hingga mulai terdengar bunyi kokok ayam barsahut-sahutan. Juga suara anak


kecil yang berteriak-teriak. Itu adalah perkampungan kekasih-kekasih kakak


sepupu.  Di persimpangan tiga pria telah menunggu mereka dengan delman.


"Kereta kencana telah datang menjemput."


Baringin tertawa terkekeh, melihat delman yang ditarik oleh kerbau.


"Wahhhhh seru! aku mau naik delman,"


Yulia memekik kesenangan.


"Heh, bukan untuk menjemput kau! tapi kakak-kakak ini tau!"


Khairani memarahi adiknya yang langsung surut kegembiraannya.


"Nggak apa-apa, naik aja Li, ajak kak Mardomu,"


Tania menarik Yulia dan Mardo.


"Asyik, ayo Li."


Mardo menarik tangan gadis itu yang akhirnya tersipu-sipu meninggalkan


Khairani dan yang lain. Herman lantas menghela kerbau. Delman pun


berjalan pelan-pelan menuju rumah yang tidak terlalu jauh. Wajah Tania,


Kana, Mardo dan Yulia berseri-seri diatas delman. Sementara yang lain


berjalan mengikuti  sembari tertawa-tawa.


Mimpi apa semalam, pikir Donny? ia bisa berada di perkampungan yang


sangat unik ini. Dan duhai cantik sekali gadis itu yang sedang duduk


sambil sesekali memandang jauh pemandangan.


'Dia pasti jodohku! karena tiba-tiba aku bertemu dengannya di sini, dia


adalah jodohku.'


Donny menatap jauh pada sosok Mardo di atas delman.


 


 


 

__ADS_1


 


Bersambung


__ADS_2