
Raka menelpon putri kesayangannya yang berada di luar kota.
"Hello Nak, rencananya ayah dan bunda akan menengokmu lusa, kau sedang tidak sibuk bukan?"
Cindy yang masih bermalasan di tempat tidurnya menikmati suara ayah yang sangat menyayanginya.
"Menengokku Yah? wah asyik, pasti bunda bawain masakkan kesukaanku, aku nggak sibuk Yah."
"Ok, tunggu kami yaa Nak."
Dan telpun antara ayah dan putrinya putus. Cindy tercenung di tempata tidurnya. Ada apa ya Ayah dan bunda menengoknya? atau memang hanya jalan-jalan dengan adik-adik? Cindy tak bisa memprediksi maksud kedatangan ayah dan bundanya.
Lantas ia melihat kamarnya yang agak berantakkan. Segera ia bangun dan berencana membersihkan rumah minimalis di pinggiran kota itu. Raka membelikannya mengingat masih ada tiga anak yang berminat melanjutkan sekolah di kota yang sama dengan Cindy. Tak lama lagi Tria juga menamatkan smanya dan ingin meneruskan di perguruan tinggi yang sama dengan kakaknya Cindy.
Hitung-hitung investasi, begitu selalu Raka berpikir. Jika kelak rumah itu tak dipergunakan lagi bisa di jual. Pria itu memang sangat sibuk dan memiliki waktu luang yang sedikit. Tetapi setiap kali ia ada waktu pasti mengajak keluarganya jalan-jalan keluar kota.
Dulu saat Rakasiwi di Yokya, acapkali Raka, Mardo dan anak-anak menginap sambil bepergian ke berbagai pantai yang ada di kota itu. Jalan-jalan hingga tengah malam, dan menikmati kuliner serta suasana daerahnya yang kental. Rumah itu belum lagi di jual. Ada penjaga yang menunggui dan setiap hari membersihkannya. Raka berharap Dode mengikuti jejak kakaknya Rakasiwi bersekolah di kota tersebut.
"Aku menelpon Cindy barusan, ia sedang tidak sibuk dan menunggu kedatangan kita."
Raka memberitahu istrinya tentang rencana mereka ke Bandung dan menginap di sana hingga senin. Anak-anak yang mendengar hal tersebut berlarian dan duduk di meja makan. Tria seperti bias sebelum duduk di kursinya, bermanja memeluk leher ayahnya.
"Kita ke Bandung Yah?"
"Iya, adik-adikmu sudah libur, bagaimana denganmu?"
"Sama, aku juga sudah libur kok Yah."
"Ayah, liburanku lama, aku bisa tinggal bersama kak Cindy ya."
__ADS_1
"Kita lihat saja nanti, sini duduk dekat Ayah. Jadi setelah tamat smu anak gadis ayah mau melanjutkan ke mana?"
"Aku pengen ke Paris Yah, pengen belajar mode di sana."
Raka menelan liurnya, bukannya ia tak setuju. Tetapi Tria masih sangat muda. Dia belum bisa menghadapi banyaknya problema dan masalah.Yang Ia pikirkan hanya sekolahnya dan mode-mode kelas dunia. Laki-laki itu belum bisa membiarkan Tria hidup sendirian di negeri asing. Raka tak menjawab.
"Ayah! aku ingin ke Paris, belajar tentang segala hal mengenai mode."
"Iya, ayah mendukungmu Nak, tetapi di sini pun dunia mode telah berkambang dengan baik dan bagus. Jika kelak kau sudah mendapatkan tempat di hati pelangganmu, kau bisa memperdalamnya di sana. Harus sudah sangat dewasa, baru ayah mengijinkanmu."
Seketika wajah gadis manis itu cemberut. Gadis itu sangat mengerti dengan sifat ayahnya. Jika ia bilang tidak boleh maka itu tidak akan berubah. Jadi ia harus menunggu hingga sudah sangat dewasa.
"Aku ingin cepat dewasa, bagaimana caranya?"
Raka dan Mardo saling pandang. Keduanya saling mengandalkan. Akhirnya Mardo yang bicara dengan gadis yang sedang menanjak menjadi dewasa itu.
"Ya caranya, tidak lagi manja. Mesti bertanggung jawab, tidak mudah terpengaruh. Dengan bertambahnya usia maka kepandaian dan kedewasaan itu akan kita miliki sendiri. "
Raka dan Mardo mengangguk-angguk.
"Pokoknya sudah sangat dewasa!"
"Iya, sudah sangat dewasa tau!"
Dode mengikuti kata-kata ayahnya sambil menunjuk-nunjuk wajah Tria. Gadis itu menepiskan tangan adiknya yang usil.
"Bersabarlah, ada masanya, putri ayah akan menjadi wanita dewasa."
"Kalau Cindy, apakah dia sudah dewasa Yah?"
__ADS_1
Tema perbincangan di meja makan kali ini agaknya tentang kedewasaan. Tria terobsesi untuk cepat menjadi dewasa agar bebas bepergian ke mana yang diinginkan. Raka menjawab, dewasa itu bukan sekedar umur melainkan sebuah proses panjang dan bertahap. Bukan proses rekayasa melainkan hasil pencapaian dari rentetan tahapan. Tidak bisa berdiri sendiri melainkan sifat kedewasaan itu adalah kematangan emosional yang tercermin dalam setiap perbuatannya.
"Cindy juga sedang proses ke pendewasaannya Nak."
"Mi, Pipi berangkat, jangan lupa persiapan ke Bandung nanti malam."
Raka memutus perbincangan mengenai dewasa itu. Ia yakin pertanyaan Tria tentang hal itu akan berlanjut dan membuat pusing. Lebih baik ia menyerahkan hal tersebut pada Mardo.
"Anak-anak Ayah berangkat ya, ayah harus memimpin rapat hari ini."
"Ok Ayah, hati-hati di jalan."
Mereka semua mendapat ciuman di kening serta usapan lembut di kepala. Mardo keluar dari bangkunya mengantar Raka ke depan, keduanya berpelukkan dan berciuman mesra.
"Jangan ngebut Pi."
Raka mengangguk, lantas menuju kenderaannya yang sudah terparkir di halaman. Hari ini ia mengenderai sendiri mobilnya, menyuruh pak supir istirahat agar nanti malam tak mengantuk perjalanan ke Bandung. Mardo segera beranjak ke belakang setelah Raka berangkat. Anak-anak menghabiskan waktu di ruang keluarga.
Tria, menyiapkan beberapa bajunya serta barang-barang yang harus selalu bersamanya. Ia berencana bersama Cindy selama seminggu, kemudian kembali ke rumah dan sekolah lagi. satu setengah tahun lagi ia lulus sma dan memulai kehidupan yang mandiri seperti Cindy.
Terlihat enak dan menakjubkan. Tidak selalu diatur begini dan begitu. Kena marah bunda kalau bangun kesiangan atau bermalasan di kamar. Pokoknya Tria merasa bahwa ia nanti juga harus sekolah di luar kota seperti kedua kakaknya Rakasiwi dan Cindy.
__ADS_1
Bersambung