
Hello pembaca, terima kasih sudah mampir dan memberikan like, komen, serta dukungannya pada Pria Idola.
masih terus berlanjut ya.
Hari itu seperti hari-hari yang lain. Rumah besar dengan sekelilingnya halaman yang luas tidak ada perubahan apa-apa. Setiap pagi nyonya rumah yakni Mardo sudah bangun pagi-pagi. Ia menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anaknya. Membangunkan si bungsu Rama yang manja dan mendominasi dirinya. Tak boleh ada yang lebih dekat dengan Mardo kecuali dirinya. Baik itu kakak lelakinya Dode juga ayah Raka.
"Bunda."
Rajuknya dengan mengucek mata yang masih mengantuk.
"Bangunnya sebentar lagi boleh ya Bun."
Pintanya dengan wajah memelas, tapi Mardo menggeleng, itu bujukkan setan agar bermalasan dan meninggalkan sholat shubuh, katanya pada Rama. Ia menarik tubuh anaknya dari tempat tidur dan membopongnya ke kamar mandi. Menurunkan dengan pelan-pelan dan membasuh kakinya.
"Ayo Wudhu sayangku, setelah sholat subuh usahakan segera mandi ya Nak, pasti segar dan sehat."
Rama sadar sudah tidak bisa merayu perempuan itu lagi. Ia pun melakukan apa yang diperintahkan bundanya. Lagi pula udara dari luar sudah menerobos masuk. Jendela-jendela di kuakkan bersama tirainya, bunda juga sudah merapikan tempat tidurnya. Percuma merayu dan merajuk, tak mempan. Lebih baik ia bergabung untuk sholat shubuh berjamaah yang diimami oleh ayah Raka.
Setelah selesai sholat shubuh dan berdoa kemudian mencium tangan ayah, bunda dan kakak-kakaknya barulah Rama dan yang lain duduk bersantai di sofa panjang. Tak lama bunda membawakan minuman hangat dan camilan yang baru saja masak. Cindy berdiskusi dengan ayah Raka tentang kue penutup. Raka bilang, kue itu bukan hanya untuk penutup. Tapi bisa juga menjadi kue pembuka sebab kue itu mungil tak mengenyangkan. Bisa untuk semua suasana.
Cindy mangut-mangut, ia kembali bertanya pada Raka, apakah perlu memberi nama lain kue tersebut. Sebab mereka sudah memiliki kue-kue lain yang cukup laris saat pelanggan datang ke cafe. Semula Cindy bermaksud memberi nama kue penutup untuk mengkhususkan kue tersebut. Tetapi ayah Raka yang sudah malang melintang mengelola cafe sejak ia muda berpikiran lain. Ia dan Cindy berdiskusi cukup lama.
Sekitar jam sembilan, rumah telah sepi. Anak-anak berangkat ke sekolah. Cindy dan ayah Raka berangkat ke kantor. Paling terakhir keluar dari rumah adalah Mardo. Setelah semua beres barulah perempuan itu berangkat ke kantornya. Pak Junaidi yang menutup pagar terakhir kali melihat bunda.
Semua berpikir Mardo berangkat ke kantornya. Ketika hari beranjak malam perempuan itu tak muncul. Tak biasanya sebab Mardo membiasakan dirinya pulang lebih dulu sebelum anggota keluarga. Jarang sekali ia pulang terlambat, selalu sudah di rumah saat suami dan anak-anak pulang.
__ADS_1
"Mba bunda kok belum pulang, sudah mau magrib."
Rama ke belakang menanyakan bundanya pada mba Wiwin. Perempuan itu menatap pada Rama, ia juga heran kok sudah menjelang magrib nyonyanya belum juga pulang.
"Nggak tau Mas, coba tanya mba Tria, suruh telpon bunda ada di mana?"
Anak laki-laki itu segera membalikkan badannya pergi, terdengar suaranya memanggil-manggil Tria.
"Apa Dek, kakak mau mandi dulu ini, sebentar lagi sholat magrib."
Tria mencari-cari alasan, ia paling malas mengurusi adik-adiknya jika tak terlalu penting.
"Telpon bunda kak, ada di mana? udah mau malam kok belum pulang."
"Tenang aja Dek, barangkali bunda sedang belanja tunggu sebentar lagi."
Rama menurut, ia duduk di sofa dengan mengangkat sebelah kakinya, dan menaro dagunya di atas lutut. Ia kembali menonton tivi. Terdengar Dode masuk sambil melemparkan bola basket ke atas kamarnya.
Dode menegur adiknya itu. Bibirnya terlihat manyun membuat Dode gemes melihatnya.
"Itu mulut panjang amat Dek, manyun ada apa?"
"Bunda belum pulang?"
"Masa sih, ada di kamar kali biasanya kan bunda udah di rumah."
"Nggak ada! mobilnya juga nggak ada!"
__ADS_1
Rama marah, sebab tidak ada yang menghiraukan dirinya dari tadi. Lagi pula jika bunda sudah pulang masa berada dalam kamar terus. Anak kecil itu meradang.
"Tenang-tenang bos jangan marah. Coba sekarang kita telpon dan tanya ada di mana ya Bunda?"
Dode berusaha menenangkan adik bungsu yang memang cengeng. Ia duduk di sebelah adiknya dan mengelus pundak anak itu dengan lembut. Ia memutar-mutar nomer Mardo. Beberapa kali tapi tidak ada jawaban. Handphone Mardo tak aktif.
"Tak bisa ditelpon Dek, tunggu sebentar lagi ya. Mungkin bunda masih di jalan, mas mau mandi dulu."
Dode melepaskan tangannya dari bahu Rama dan lantas berlari menuju anak tangga. Waktu terus berlalu sementara mereka semua menunggu Mardo.
Bersambung
__ADS_1